Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JEJAK SUSU DI BALIK SELENDANG
BAB 6: JEJAK SUSU DI BALIK SELENDANG
Matahari pagi di Kota Simla menyelinap di sela-sela tenda biru Arlan, membawa hawa hangat yang sedikit mengurangi rasa nyeri di punggungnya. Arlan baru saja selesai memerah susu sapinya. Meskipun tubuhnya lelah karena harus berjaga semalaman di depan gerbang musuhnya, sorot matanya tetap tajam. Ia tidak akan membiarkan Hendra melihatnya lemah.
Namun, Arlan segera menyadari ada sesuatu yang salah. Biasanya, jam segini para pelanggannya sudah mengantre. Tapi pagi ini, jalanan di depan rumah Hendra terasa sepi yang mencekam. Ia melihat beberapa pelanggannya melintas di kejauhan, namun mereka memalingkan muka dan mempercepat langkah.
"Ada apa, Arlan? Kenapa mereka lewat begitu saja?" tanya Sujati dengan nada cemas sambil mengatur tungku kecil mereka.
Arlan menatap ke arah balkon rumah mewah di depannya. Di sana, Hendra berdiri dengan angkuh, memegang cerutu dan menatap ke bawah dengan senyum kemenangan. Arlan langsung paham: Hendra telah menggunakan kekuasaannya untuk mengancam siapa pun di Simla agar tidak membeli susu darinya.
"Jangan khawatir, Ibu. Mungkin mereka hanya sedang terburu-buru," ucap Arlan menenangkan, meski hatinya mendidih.
Di dalam rumah, Vanya terjebak dalam dilema yang hebat. Dari balik jendela, ia melihat Arlan yang kebingungan karena tidak ada satu pun liter susu yang terjual. Ia mendengar pembicaraan ayahnya dengan Gani tadi subuh tentang rencana memboikot Arlan secara ekonomi.
"Jika dia tidak bisa makan, dia akan merangkak pergi dari sini," itulah kata-kata kejam ayahnya.
Vanya mengepalkan tangan. Ia tidak bisa diam saja. Gadis lembut yang biasanya patuh itu mulai merencanakan sesuatu yang nekat. Ia pergi ke dapur, mengambil sebuah selendang katun yang kusam milik salah satu asisten rumah tangganya, dan menukar gaun mahalnya dengan pakaian yang paling sederhana yang ia miliki.
"Vanya, kau mau ke mana?" tanya Gita, adiknya, yang memergokinya di pintu belakang.
"Sstt... Jangan beri tahu Ayah. Aku hanya ingin melakukan apa yang benar," bisik Vanya, lalu ia menyelinap keluar lewat pintu kecil yang jarang dijaga.
Arlan memutuskan untuk membawa jeriken susunya ke pasar Simla, berharap di sana ada orang yang berani membeli. Namun, hasilnya sama saja. Setiap kedai yang ia datangi mendadak "tutup" atau "sudah punya pemasok lain". Arlan berdiri di tengah pasar yang riuh, merasa terisolasi di tanah kelahirannya sendiri.
Tiba-tiba, seorang gadis dengan selendang yang menutupi wajahnya mendekat. Ia tidak bicara, hanya mengambil salah satu jeriken kecil dari tangan Arlan dan mulai berteriak ke arah kerumunan.
"Susu segar! Susu terbaik di Simla! Hanya hari ini, susu ini diberkati dengan kejujuran! Siapa yang berani meminum kesehatan?"
Arlan tertegun. Suara itu... ia sangat mengenalnya. "Vanya? Apa yang kau lakukan di sini?" bisik Arlan dengan nada panik, mencoba menarik kembali jerikennya. "Kau gila? Jika ayahmu atau Gani melihatmu, kau akan tamat!"
Vanya tidak berhenti. Ia menatap Arlan dari balik selendangnya dengan mata yang penuh tekad. "Biarkan saja mereka melihat. Jika mereka bisa memutus jalur rezekimu, maka aku akan menjadi jalan barumu. Diamlah, Arlan. Biarkan aku membantumu."
Keberanian Vanya yang polos itu mulai menarik perhatian. Seorang ibu rumah tangga mendekat, merasa iba melihat gadis muda itu berteriak begitu keras. "Berikan aku dua liter, Nak."
Satu pembeli menjadi dua, lalu sepuluh. Kehadiran Vanya seolah memberi keberanian pada orang-orang pasar untuk mengabaikan ancaman Hendra. Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh susu Arlan habis terjual.
Setelah pasar mulai sepi, Arlan menarik Vanya ke bawah pohon pinus yang rimbun di tepi sungai kecil, jauh dari keramaian pasar.
Arlan menatap Vanya dengan campur aduk antara marah, cemas, dan kagum yang luar biasa. Ia mengambil selendang yang menutupi wajah Vanya. Pipi gadis itu memerah karena panas matahari dan keringat kecil menghiasi keningnya.
"Kenapa kau melakukannya, Vanya? Kau mempertaruhkan segalanya hanya untuk beberapa liter susu," ucap Arlan, suaranya melembut.
Vanya mengatur napasnya yang terengah-engah. "Karena aku tidak tahan melihatmu dihina seperti itu, Arlan. Ayahku menganggap uang bisa mengendalikan perut semua orang di Simla. Aku ingin membuktikan padanya bahwa dia salah."
Arlan terdiam. Ia duduk di atas batu besar, lalu meringis saat lukanya bergesekan dengan kemejanya. Vanya segera mendekat, tangannya yang halus menyentuh bahu Arlan dengan sangat hati-hati.
"Biarkan aku melihat lukamu," bisik Vanya.
Vanya membuka sedikit kancing kemeja Arlan dari belakang. Ia tersentak melihat bekas cambukan semalam yang mulai membiru. Tanpa sadar, air mata Vanya jatuh mengenai kulit Arlan.
"Maafkan aku... ini semua karena aku datang ke rumahmu waktu itu," isak Vanya.
Arlan berbalik perlahan, memegang tangan Vanya yang masih gemetar di bahunya. "Jangan minta maaf. Luka ini tidak ada artinya dibandingkan dengan caramu membelaku di pasar tadi. Kau tahu, Vanya? Di duniaku, wanita tidak pernah melakukan hal senekat itu demi seorang pria. Kau benar-benar berbeda."
Mereka duduk berdekatan, mendengarkan suara aliran sungai Simla yang jernih. Untuk beberapa saat, tidak ada kasta, tidak ada Hendra, tidak ada ketakutan. Hanya ada dua jiwa yang mulai saling terpaut. Arlan mengambil setangkai bunga liar kecil di dekat kakinya, lalu memberikannya pada Vanya.
"Bunga ini tidak mahal, tapi ia tumbuh di tanah yang keras, sama seperti perasaanku," ucap Arlan dengan tatapan yang sangat dalam.
Vanya menerima bunga itu dengan senyum yang paling cantik yang pernah dilihat Arlan. "Aku akan menjaganya, Arlan. Sebagaimana aku akan menjaga rahasia kita."
Namun, kedamaian itu pecah saat suara motor Gani terdengar dari arah jalan raya. Gani dan anak buahnya sedang menyisir pasar mencari Vanya yang menghilang dari rumah.
"Kau harus kembali sekarang," ucap Arlan waspada. "Gunakan jalan setapak di balik bukit itu. Aku akan memancing mereka ke arah lain."
Vanya mengangguk, ia mengenakan kembali selendangnya. Sebelum pergi, ia membisikkan sesuatu. "Besok... aku akan membawakanmu obat yang lebih baik. Tunggu aku di jendela belakang jam sepuluh malam."