NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 16 — Kebingungan

Hujan turun cukup deras malam itu, membasahi kaca jendela apartemen Benjamin dan menciptakan suara berulang yang terasa seperti ketukan gelisah di dada. Ruangan itu remang, hanya lampu meja yang menyala dan memantulkan bayangan panjang di dinding. 

Meja makan di tengah ruangan kini dipenuhi foto-foto dan berkas, berubah fungsi menjadi ruang diskusi darurat yang dipenuhi ketegangan.

Benjamin berdiri di ujung meja, menatap tiga sahabatnya yang duduk mengelilingi bukti-bukti kematian Jean. Isaac bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada, wajahnya kaku dan sulit ditebak. Ernest duduk paling dekat dengan map tebal yang ia bawa, sorot matanya fokus namun berat. Sementara Chad duduk sedikit terpisah, kakinya bergerak gelisah tanpa henti, seolah ada sesuatu yang terus menghantui pikirannya.

“Kita tidak bisa menutup mata dan telinga pada kematian Jean begitu saja,” ujar Benjamin akhirnya, suaranya tenang tetapi mengandung tekanan yang jelas. “Karena menurutku, kematian Jean sangat tidak masuk akal.”

Tak seorang pun membantah. Mereka sama-sama terkejut dan tak percaya dengan kabar kematian sahabatnya itu. 

Kemudian, Benjamin membuka map coklat dan mengeluarkan beberapa foto. Ia menyebarkannya perlahan di atas meja. Gambar lokasi kejadian, tubuh Jean yang tergeletak, pistol di dekat tangannya, dan bercak darah yang sudah mengering. Semua tampak seperti bukti standar sebuah insiden penyerangan yang bersih, tertata, bahkan terlalu rapi.

“Aku berhasil mengambil semua foto barang bukti dari ayahku,” lanjut Benjamin pelan. “Sekilas, tidak ada yang aneh secara kasat mata. Riwayat panggilan di ponselnya juga bersih. Tidak ada nomor asing ataupun pesan yang mencurigakan.”

Ernest menghela napas berat. “Justru itu yang terasa aneh, kan? Terlebih lagi dengan lokasi kematiannya. Untuk apa Jean mendatangi gudang tua malam-malam?”

Ia lalu membuka berkas laporan pemeriksaan jenazah yang berhasil ia dapatkan. Suasana ruangan semakin sunyi ketika Ernest mulai membacakan hasilnya. Di tubuh Jean ditemukan luka memar di sekitar pergelangan tangan, perut, dan wajah, jejak benturan yang tidak mungkin terjadi begitu saja. Selain itu, terdapat tiga luka tembak yang menjadi penyebab kematian.

“Memar di kedua tangan seperti ini biasanya menunjukkan perlawanan,” jelas Ernest dengan suara lebih rendah. “Atau … seseorang menahannya dengan paksa.”

Isaac memijat pelipisnya. “Jadi ini bukan serangan spontan.”

Benjamin merasakan tenggorokannya mengering. Memar di tangan. Memar di wajah. Itu bukan gambaran seseorang yang diserang secara tiba-tiba tanpa sempat bereaksi. Itu gambaran pertarungan.

Isaac kemudian mengambil salah satu foto pistol yang ditemukan di lokasi. Ia menatapnya cukup lama sebelum berbicara lagi. “Aku kenal model ini. Pistol ini tampaknya ilegal. Bagaimana Jean bisa memilikinya?” 

Ketiga pria lainnya langsung menoleh padanya. “Aku pernah lihat kasus dengan senjata yang sama,” lanjut Isaac. “Ini bukan senjata yang bisa dibeli secara sembarangan.”

Kalimat itu menggantung berat di udara. Jika pistol itu ilegal, maka keberadaannya di sana bukan kebetulan.

“Bagaimana jika,” ujar Isaac perlahan, “Awalnya Jean yang ingin menghabisi seseorang?”

Chad mendadak menegakkan tubuhnya, napasnya terdengar lebih berat. Benjamin menangkap perubahan itu dengan cepat. Ia menatap Chad lebih lama, mencoba membaca sesuatu di balik ekspresinya yang pucat.

Isaac melanjutkan, “Mungkin Jean datang membawa pistol itu. Mungkin ada konfrontasi. Tapi sesuatu terjadi … lal semuanya berbalik padanya.”

“Mu-mungkin ini adalah ulah orang yang dendam terhadap Jean,” kata Chad tiba-tiba yang membuat semua tatapan tertuju kepadanya. 

Kemungkinan itu terasa seperti pisau yang membelah ruang diskusi mereka. Jika benar Jean membawa senjata ilegal, ataupun ada orang yang membunuhnya dengan motif dendam, maka pasti ada rahasia besar yang tak pernah mereka ketahui. 

Namun Benjamin menggeleng pelan. “Tapi dalam kasus ini, Jean tetap saja korban,” katanya tegas. “Lihat luka-lukanya. Itu bukan sekadar mempertahankan diri. Itu seperti, pelampiasan.”

“Seseorang telah memukulinya secara brutal. Mungkin juga menyiksanya. Lalu menembaknya dari jarak dekat. Sudah jelas, ini bukan kecelakaan ataupun sekadar serangan acak seperti yang dinyatakan polisi.” Benjamin berkata pelan. 

“Astaga, sangat mengerikan,” gumam Ernest. “Tapi, orang seperti apa yang dendam padanya hingga tanpa ragu membunuh Jean dengan cara seperti itu?”

“Aku juga memikirkan hal yang sama,” tambah Isaac. “Siapa kira-kira? Kita mengenal semua teman dan bahkan kenalan Jean. Siapa di antara mereka yang menaruh dendam? Ini benar-benar sulit dipercaya.”

Benjamin kembali menoleh pada Chad. Pria itu menghindari tatapan matanya, jemarinya mengepal di atas paha. Ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Bukan hanya duka, tetapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap.

“Chad,” panggil Benjamin pelan, “Apa ada sesuatu hal yang ingin kau katakan? Kau sejak tadi tampak gelisah.”

Chad menelan ludah dan menggeleng cepat. “Tidak, aku hanya merasa cemas saja,” katanya lirih. 

Benjamin tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamatinya, menyadari bahwa ketegangan malam ini tidak hanya berasal dari misteri kematian Jean, tetapi juga dari sesuatu yang tak terucap di antara mereka.

Hujan di luar semakin deras, seolah menutup dunia mereka dalam ruang sempit yang penuh teka-teki. Semakin banyak fakta yang mereka temukan, semakin dalam kebingungan itu terasa. Pistol ilegal yang dibawa Jean, hasil otopsi yang tampak mengerikan serta riwayat panggilan yang terlalu bersih. 

Semua potongan itu tidak membentuk satu jawaban yang jelas, justru menghadirkan pertanyaan yang lebih besar.

Jika Jean datang membawa senjata, siapa yang ingin ia temui? Dan mengapa pertemuan itu berubah menjadi pertarungan brutal yang merenggut nyawanya?

Benjamin menyandarkan tubuhnya perlahan, menatap foto sahabatnya yang kini hanya tinggal kenangan. Ia merasa sesuatu sedang bergerak di balik layar, sebuah rahasia yang sengaja dikubur dengan rapi.

***

Elizabeth berdiri di depan jendela rumahnya, menatap lampu-lampu jalan yang menyala samar disertai hujan yang turun cukup deras. Ia tersenyum samar. 

“Apakah itu harga yang pantas?” gumamnya, teringat sekantong uang yang diberikan Chad padanya.

Uang dari Chad bahkan masih tersimpan rapi di dalam laci lemarinya. Ia belum sempat menghitungnya satu per satu. Tapi itu tidak penting, yang membuatnya puas bukan nominalnya, melainkan ekspresi ketakutan di wajah pria itu.

Ia menyentuh bibirnya sendiri, mengingat bagaimana ia tertawa pelan ketika Chad bersujud di hadapannya. Sensasi lama itu kembali, rasa kuasa, rasa dipuja, rasa menjadi seseorang yang ditakuti. Dunia terasa lebih masuk akal ketika orang-orang memohon seperti itu.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Pertanda sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.

“Kau menikmatinya, bukan?”

Elizabeth terpaku selama beberapa saat, menatap layar ponselnya selama beberapa lama dengan bingung. 

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
HK: Silakan 😇😇😇
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!