Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 2) Chapter 26
Pagi itu udara di pemakaman umum terasa dingin, meskipun matahari sudah mulai naik perlahan di balik pepohonan tinggi. Embun masih menempel di rumput, dan suasananya begitu sunyi sampai suara langkah kaki terasa terlalu jelas.
Tiga orang berjalan perlahan di antara barisan nisan.
Seorang wanita tua berjalan paling belakang dengan langkah tenang. Di depannya, seorang gadis membawa sebuket bunga yang dibungkus rapi. Di samping gadis itu berjalan seorang pria dengan tangan di saku jaketnya, sesekali melirik ke sekitar dengan ekspresi datar.
Mereka berhenti di depan sebuah nisan sederhana.
Batu itu terdapat sebuah nama yang berbunyi:
Mason Ryan Davis
Amayah berdiri diam beberapa detik. Tangannya yang memegang bunga sedikit gemetar, meskipun wajahnya mencoba tetap tenang.
Brian berdiri di sebelahnya, memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
Sementara Betty berdiri di belakang mereka, tersenyum lembut.
Amayah kemudian berlutut perlahan di depan nisan itu.
Ia meletakkan sebuket bunga cantik di atas tanah yang tertata rapi.
Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan rambut panjang Amayah sedikit.
Amayah menarik napas kecil.
Lalu ia berbicara.
“Pagi, Ayah…”
Suaranya lembut.
Seolah benar-benar sedang menyapa seseorang yang berdiri di depannya.
“Ayah kelihatan baik-baik saja di sini, kan? Tempatnya tenang… rumputnya juga dirawat rapi. Nenek masih sering datang membersihkannya.”
Ia tersenyum kecil.
“Maaf aku jarang datang akhir-akhir ini. Aku hanya bisa mampir sesekali saat pulang kampung..."
Amayah menunduk sedikit.
“Tapi bukan berarti aku lupa kok.”
Ia menyentuh tanah di depan nisan itu perlahan.
“Ayah pasti tahu itu…”
Brian memperhatikan dari samping. Wajahnya biasanya santai, tapi kali ini ia tidak menyela.
Amayah melanjutkan.
“Banyak hal sudah berubah sejak terakhir kali kita bicara.”
Ia tertawa kecil, namun terdengar sedikit bergetar.
“Aku sekarang lebih mandiri. Aku sudah bisa mengurus banyak hal sendiri… meskipun kadang masih ceroboh.”
Ia menghela napas pelan.
“Tapi jangan khawatir ya, Ayah. Aku baik-baik saja. Nenek juga sehat.”
Betty tersenyum hangat mendengar itu.
Amayah kembali menatap nama di batu nisan.
“Ayah dulu pernah bilang sesuatu, ingat?”
Ia menyipitkan mata sedikit seolah sedang mengingat.
“Ayah pernah bilang… suatu hari nanti aku akan bertemu seseorang.”
“Seseorang yang akan berjalan bersamaku.”
“Seseorang yang akan membuatku tidak merasa sendirian lagi.”
Amayah terdiam sebentar.
Kemudian perlahan…
Ia melirik ke samping.
Ke arah Brian.
Brian yang tiba-tiba menyadari tatapan itu mengangkat alisnya.
“Ada apa?” tanyanya bingung.
Amayah langsung memalingkan wajahnya dengan cepat.
“Tidak ada.”
Brian mengerutkan dahi.
“Tadi jelas kau menatap ke arahku.”
“Tidak.”
“Jelas.”
“Tidak.”
Brian menatapnya curiga.
“Kau barusan bicara tentang ‘seseorang’ lalu menatapku.”
Amayah menutup wajahnya sebentar dengan tangan.
Pipinya mulai merah.
“Itu cuma kebetulan!”
Brian memiringkan kepala.
“Kebetulan yang mencurigakan.”
Amayah mendengus.
“Kalau kau penasaran, tanya saja sama Ayahku.”
Brian menatap nisan itu.
Lalu kembali ke Amayah.
“…Kau serius menyuruh aku untuk interogasi batu?”
Amayah menyeringai kecil.
“Coba saja.”
Brian menghela napas.
“Wanita aneh.”
Amayah langsung menoleh tajam.
“Siapa yang aneh?!”
Betty tertawa kecil di belakang mereka.
Amayah kembali menatap nisan ayahnya.
Kali ini senyumnya jauh lebih lembut.
“Pokoknya… Ayah tidak perlu khawatir.”
“Aku sudah menemukan orang yang Ayah maksud.”
Ia berkata pelan.
“Dia memang agak menyebalkan… suka mengejek… dan kadang tidak peka.”
Brian mengangkat alis.
“Tapi dia orang baik.”
Amayah melanjutkan sebelum Brian menyela.
“Dia jujur… dia selalu bilang apa yang dia pikirkan… bahkan kalau kata-katanya kadang menyakitkan.”
Ia tertawa kecil.
“Dan entah kenapa… dia selalu ada ketika aku butuh.”
Angin pagi kembali berhembus.
“Jadi Ayah boleh tenang sekarang.”
“Karena aku tidak sendirian.”
Brian terdiam beberapa detik.
Lalu ia menghela napas pelan.
“Kalau begitu… giliran aku.”
Amayah menoleh cepat.
“Hah?”
Brian berjalan mendekati nisan itu.
Ia berdiri tegak di depan tulisan Mason Ryan Davis.
Kemudian berkata dengan nada santai seperti biasa.
“Pagi, Pak. Saya Brian, pacar Amayah."
Ia memasukkan tangan ke saku jaketnya.
“Mungkin Anda sudah dengar dari Amayah barusan.”
Brian melanjutkan dengan wajah tenang.
“Sejujurnya, Amayah memang agak merepotkan.”
“Kadang keras kepala.”
“Sering pura-pura kuat padahal sebenarnya tidak.”
Amayah langsung memukul lengannya.
“HEI!”
Brian tetap santai.
“Tapi dia juga orang yang sangat baik.”
Ia berhenti sebentar.
Kemudian menatap nama di nisan itu.
“Saya tidak tahu apakah saya orang yang Anda maksud.”
“Tapi kalau memang iya…”
Suaranya tetap santai.
Namun kali ini lebih hangat.
“Saya akan menjaga dia.”
Amayah membeku.
Brian melanjutkan,
“Saya tidak janji jadi orang sempurna.”
“Tapi saya janji tidak akan membiarkan dia sendirian.”
Pipi Amayah sekarang benar-benar merah.
Ia langsung menarik kerah jaket Brian pelan.
“Kau—kau ngomong apa sih di depan Ayahku..."
Brian menoleh santai.
“Memberikan laporan.”
“Siapa yang minta laporan?!" tanya Amayah kesal sekaligus malu.
Betty tertawa kecil.
Ia berjalan mendekat lalu menepuk bahu mereka berdua.
“Sudah, sudah… kalian berdua.”
Amayah masih cemberut.
Brian mengangkat bahu.
Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang.
Brian menatap nisan itu lagi.
Lalu bertanya dengan nada lebih serius.
“Kalau boleh tahu…”
Ia menoleh ke Betty.
“Bagaimana sebenarnya beliau meninggal? Karena tuberkulosis kan?"
Betty terdiam sejenak.
Wajahnya masih lembut, tapi matanya terlihat sedikit jauh.
“Ya, itu benar.”
Brian mengangguk pelan.
Betty melanjutkan perlahan.
“Penyakitnya datang tiba-tiba.”
“Awalnya hanya batuk biasa… lalu semakin parah.”
Ia menghela napas pelan.
“Banyak hal yang terasa aneh waktu itu.”
Brian mengangkat alis.
“Aneh?”
Betty mengangguk kecil.
“Gejalanya berkembang terlalu cepat.”
“Dan sebelum semuanya terjadi… ada beberapa kejadian yang terasa janggal.”
Amayah menunduk.
Tangannya mengepal sedikit.
Kenangan lama kembali muncul.
Suara batuk ayahnya.
Rumah sakit.
Dan malam ketika semuanya berakhir.
Brian memperhatikan perubahan ekspresi Amayah.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya meletakkan tangannya di pundak Amayah dengan lembut.
Amayah terkejut sedikit.
"Kau baik-baik saja?"
“Aku baik-baik saja..."
"Jangan menutupi rasa sedihmu..."
Amayah langsung menoleh.
"Siapa yang sedih?"
Amayah melipat tangan.
“Aku kuat.”
Brian tersenyum tipis.
“Ya. Aku tahu.”
Ia menepuk pundaknya sekali lagi.
“Tapi kalau suatu hari kau tidak kuat…”
Brian menatapnya dengan tenang.
“Aku ada di sini.”
Amayah langsung memalingkan wajahnya.
“…Sok pahlawan.”
Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Betty memperhatikan mereka dengan senyum hangat.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga mulai berjalan keluar dari area pemakaman.
Matahari sudah lebih tinggi sekarang.
Udara tidak sedingin tadi.
Betty berkata pelan,
“Ayo pulang.”
“Kalian juga harus bersiap kembali ke New York.”
Brian mengangguk.
Amayah menoleh sekali lagi ke arah nisan ayahnya.
Ia tersenyum kecil.
“Ayah… aku pergi dulu ya.”
Angin pagi kembali berhembus pelan.
Seolah menjawab.
Lalu mereka bertiga berjalan pulang bersama.
---
Mobil sudah menunggu di depan rumah kecil milik Betty.
Pagi yang tadi terasa dingin kini berubah menjadi hangat. Matahari sudah naik tinggi, menerangi halaman rumah yang sederhana namun terasa nyaman.
Di teras rumah, Amayah masih berdiri di hadapan Betty, sedangkan Brian berdiri di sampingnya.
Ketiganya belum bergerak.
Seolah waktu sengaja melambat hanya untuk memberi mereka sedikit kesempatan lebih lama.
Betty memegang kedua tangan cucunya dengan lembut.
“Jadi kalian benar-benar kembali hari ini ya..."
Amayah mengangguk kecil.
“Iya, Nek. Kita sudah membicarakannya tadi malam kan?"
Betty tersenyum tipis.
“Itu benar... kalian harus kembali sekolah..."
Amayah tertawa kecil.
“Nenek jangan khawatir, aku akan kembali seperti biasa saat libur. Jadi pastikan nenek tidak lupa dengan wajahku ya."
“Kamu tetap saja sama.”
“Apanya?”
“Suka bercanda padahal nenekmu sedang khawatir.”
Amayah langsung tersenyum canggung.
“Aku tidak mau Nenek khawatir.”
Betty menatap wajah cucunya dengan penuh kasih.
“Kamu selalu bilang begitu.”
Amayah menunduk sedikit.
“Aku baik-baik saja kok.”
“Amayah…”
Betty memanggilnya lembut.
“Kamu tidak perlu selalu terlihat kuat.”
Amayah mengangkat bahu kecil.
“Kalau aku tidak kuat, siapa yang kuat?”
Betty tersenyum kecil.
“Kamu masih anak-anak.”
“Sudah bukan.”
“Masih.”
“Tidak.”
Betty tertawa pelan.
“Lihat? Kamu bahkan masih suka berdebat dengan nenekmu.”
Amayah tersenyum tipis.
Beberapa detik mereka hanya berdiri saling menatap.
Lalu Betty berkata pelan,
“Apakah kamu makan dengan baik di sana?”
Amayah langsung mengangguk.
“Sering.”
“Kamu tidak melewatkan sarapan?”
“Kadang...”
Betty menghela napas.
“Itu artinya sering.”
Amayah tersenyum malu.
“Aku sibuk, Nek.”
Brian yang mendengarnya langsung memotong.
"Kau bohong."
Amayah pun kesal.
"Berisik."
Betty yang mendengarnya tersenyum santai.
“Kamu juga harus menjaga kesehatan.”
“Iya.”
“Dan jangan begadang ya.”
“…Iya.”
“Dan jangan lupa menelepon nenek.”
“Iya.”
Betty menyipitkan mata.
“Kamu menjawab ‘iya’ terlalu cepat.”
Amayah tertawa kecil.
“Aku akan menelepon, janji.”
Betty mengusap rambut Amayah perlahan.
“Rumah ini selalu terbuka untukmu.”
Amayah menunduk sedikit.
“Aku tahu.”
Suaranya menjadi lebih pelan.
“Kadang aku hanya… tidak ingin Nenek merasa kesepian kalau aku pulang lalu pergi lagi.”
Betty tersenyum hangat.
“Rumah yang sepi tidak selalu berarti sedih.”
Amayah menatapnya bingung.
“Maksudnya?”
Betty melihat ke halaman.
“Selama aku tahu kamu baik-baik saja di luar sana… rumah yang sepi ini terasa damai.”
Amayah terdiam.
Pipinya sedikit memerah.
“Kamu terlalu baik, Nek.”
Betty tersenyum kecil.
“Tentu saja. Karena aku nenekmu.”
Brian yang berdiri di samping Amayah pun kembali bersuara.
“Percakapan kalian panjang sekali ya."
Amayah menoleh.
“Tidak sabar?”
Brian mengangkat bahu.
“Aku cuma memastikan kita tidak membuat Tante Emilia menunggu.”
Betty lalu menoleh ke Brian.
“Brian.”
Brian langsung berdiri lebih tegak sedikit.
“Iya, Nek?”
Betty berkata dengan lembut,
“Aku ingin menitipkan Amayah padamu.”
Brian berkedip sekali.
Kemudian wajahnya berubah serius.
Ia berdiri tegap seperti seorang prajurit yang menerima perintah.
“Tugas diterima.”
Amayah langsung menatapnya.
“…Kenapa kau tiba-tiba seperti tentara?”
Brian tidak menghiraukannya.
Ia berkata dengan nada serius namun santai,
“Saya akan menjaganya.”
Betty tersenyum.
Brian melanjutkan,
“Mungkin saya tidak selalu tahu cara membuatnya bahagia.”
Amayah melipat tangan.
“Ya, jelas.”
“Tapi saya akan selalu berada di sisinya.”
Amayah mulai memerah.
Brian menambahkan,
“Selama saya masih berdiri, tidak ada yang akan membuatnya sendirian.”
Amayah langsung mencubit telinga Brian.
“BERHENTI BICARA SEPERTI ITU DI DEPAN NENEKKU!”
“Aduh—”
Brian langsung meringis.
“Sakit!”
“Bagus!”
“Amayah—ampun—ampun!”
Betty tertawa kecil melihat mereka.
Brian akhirnya mengangkat tangan menyerah.
“Oke oke! Aku berhenti!”
Amayah baru melepaskan telinganya.
Brian mengusap telinganya yang memerah.
“Kejam sekali.”
Amayah mendengus.
“Siapa suruh bicara seperti pahlawan drama.”
Brian menatapnya sebentar.
Lalu berkata dengan nada lebih lembut,
“Meski begitu…”
Amayah menatapnya curiga.
Brian melanjutkan,
“Aku serius.”
“Aku akan menjagamu.”
Amayah membeku sebentar.
Pipinya kembali merah.
Ia langsung memalingkan wajah.
“…Tidak perlu dijaga.”
Brian tersenyum tipis.
“Ya, ya.”
Betty memandang mereka dengan hangat.
“Aku senang kalian saling menjaga.”
Ia berkata lembut,
“Jangan terlalu sering bertengkar.”
Amayah langsung menunjuk Brian.
“Dia yang mulai!”
Brian menunjuk balik.
“Dia yang mencubit.”
“Kau yang memancing emosi!”
“Refleks.”
“Kau menyebalkan!”
Brian mengangkat bahu, merasa heran.
“HEI!”
Dari kejauhan terdengar suara memanggil.
“Brian! Amayah! Kita harus berangkat sekarang!”
Seorang wanita berdiri di dekat mobil sambil melambaikan tangan.
Itu adalah Emilia, tante Brian.
Brian menghela napas.
“Sepertinya waktu kita habis.”
Amayah menatap Betty.
Beberapa detik mereka tidak mengatakan apa-apa.
Lalu Amayah tiba-tiba memeluk neneknya.
Pelukan itu hangat.
Dan sedikit lebih lama dari biasanya.
“Jaga diri, Nek.”
Betty memeluknya kembali.
“Kamu juga.”
Amayah perlahan melepaskan pelukannya.
Brian memberi hormat kecil pada Betty dengan santai.
“Kami pergi dulu.”
Betty tersenyum.
“Hati-hati di perjalanan.”
Brian dan Amayah berjalan menuju mobil.
Betty berdiri di teras rumah memperhatikan mereka sampai mobil itu benar-benar pergi dari jalan kecil di depan rumah.
Setelah itu…
Rumah kembali sunyi.
Betty perlahan masuk ke dalam rumah.
Ia berjalan menuju ruang tamu.
Di sana, sebuah bingkai foto berdiri di atas meja.
Foto seorang pria tersenyum.
Ryan.
Betty mengambil foto itu dan menatapnya.
Lalu tersenyum lembut.
“Dia menemukan orang yang baik.”
Ia berkata pelan.
“Anakmu tumbuh dengan baik.”
Betty meletakkan kembali foto itu.
Rumah memang kembali sepi.
Namun kali ini…
Sepinya terasa hangat.
---
Mobil melaju tenang di jalan raya yang panjang.
Pepohonan di sisi jalan berganti menjadi bangunan-bangunan kecil, lalu perlahan berubah lagi menjadi jalan antar kota yang sepi.
Di kursi depan, Emilia menyetir dengan santai.
Sementara di kursi belakang, Brian dan Amayah duduk berdampingan.
Namun suasananya… aneh.
Beberapa menit yang lalu mereka masih bertengkar kecil tentang siapa yang lupa menutup pagar rumah Betty.
Sekarang?
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Brian menatap keluar jendela mobil dengan ekspresi datar seperti biasa.
Amayah juga menatap jendela di sisi lain.
Keduanya seperti dua orang asing yang kebetulan duduk berdampingan.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Tidak ada yang bicara.
Emilia melirik ke kaca spion.
Lalu tersenyum.
Lucu sekali.
Pasangan yang tadi ribut seperti kucing dan anjing sekarang mendadak seperti patung.
“Hmm…”
Emilia akhirnya membuka suara.
“Kalian berdua sedang lomba diam?”
Brian tidak menoleh.
“Tidak.”
Amayah juga menjawab tanpa melihat siapa pun.
“Tidak juga.”
Emilia menahan tawa.
“Menarik.”
Sunyi lagi.
Emilia menghela napas pelan lalu berkata dengan nada santai,
“Oh ya, soal sekolah kalian.”
Kedua kepala di kursi belakang langsung sedikit bergerak.
Emilia melanjutkan,
“Aku sudah menghubungi pihak sekolah kalian.”
Amayah langsung menoleh.
“Benarkah?”
“Iya. Mereka sudah tahu kalian izin beberapa hari.”
Brian mengangguk kecil.
“Baguslah kalau begitu...”
Emilia tersenyum.
“Jadi kalian tidak perlu khawatir soal kehadiran.”
Brian melirik Amayah.
“Ini gara-gara kau.”
Amayah menyipitkan mata.
“Apa maksudmu?”
Brian menjawab santai,
“Tingkat kehadiranku pasti turun gara-gara ini.”
Amayah langsung mendengus.
“Siapa yang membuat itu terjadi?”
Brian mengangkat alis.
“Aku?”
Amayah menunjuknya.
“IYA! Kalau seandainya saja kau tidak membuatku marah waktu itu, aku tidak akan kabur ke sini!”
Brian menatapnya datar.
“Kabur adalah keputusanmu sendiri.”
Amayah kesal.
“Karena kau menyebalkan!”
Brian menjawab tenang,
“Objektif.”
Amayah hampir berdiri dari kursinya.
Emilia tertawa kecil.
“Kalian tahu sesuatu?”
Keduanya menoleh ke depan.
Emilia berkata dengan nada menggoda,
“Kalau kalian tidak bertengkar waktu itu…”
Ia tersenyum lebar.
“Kalian tidak akan berpacaran sekarang.”
Hening.
Benar-benar hening.
Brian tiba-tiba melihat ke luar jendela lagi.
Amayah juga memalingkan wajah.
Pipi mereka… sedikit merah.
Emilia tersenyum puas.
“Lucu sekali.”
Tidak ada yang menjawab.
Emilia kemudian berkata dengan lembut,
“Hubungan itu memang aneh.”
Ia menatap jalan di depan.
“Terkadang dua orang bisa bertemu dengan cara yang tidak sempurna.”
“Kadang ada pertengkaran.”
“Ada kesalahpahaman.”
“Ada pengorbanan.”
Emilia melirik ke kaca spion lagi.
“Tapi kalau dua orang tetap memilih untuk berjalan bersama setelah semua itu…”
“Itu berarti hubungan itu berharga.”
Brian tidak berkata apa-apa.
Namun Amayah diam-diam mendengarkan.
Beberapa detik kemudian…
Emilia tiba-tiba berubah nada.
“Ngomong-ngomong!”
Suaranya tiba-tiba penuh energi.
“Bagaimana kalian merayakan hubungan kalian?”
Brian dan Amayah langsung menoleh bersamaan.
“…Merayakan?” kata Amayah.
Emilia tersenyum cerah.
“Tentu saja! Kalian baru saja mulai pacaran.”
“Biasanya pasangan melakukan sesuatu untuk merayakannya.”
Amayah berkedip.
“Seperti apa?”
Emilia berpikir sebentar.
“Misalnya kencan.”
Amayah langsung berpikir keras.
“Kencan…”
Ia menoleh ke Brian.
“Kita harus melakukan sesuatu.”
Brian bersandar santai.
“Apa?”
Amayah berpikir keras.
“Misalnya… kita makan bersama?”
Brian menatapnya.
“Itu yang biasa kita lakukan.”
“Oh.”
Amayah berpikir lagi.
“Bagaimana kalau… pergi ke perpustakaan bersama?”
Brian menatapnya lagi.
“Itu juga yang biasa kita lakukan.”
Amayah cemberut.
“Kenapa semua yang kita lakukan terasa seperti aktivitas biasa?”
Brian menjawab santai,
“Karena memang sudah biasa. Kita sudah bersama tiga tahun terakhir bukan?"
Amayah kesal.
“Pacaran seharusnya berbeda!”
Brian mengangkat bahu.
“Kenapa?”
Amayah berpikir keras lagi.
“Hmm… mungkin kita harus pergi ke taman hiburan?”
Brian menjawab datar.
“Kau benci roller coaster.”
"Tahu dari mana?"
"Ibumu."
“…Oh.”
Emilia tertawa kecil mendengar percakapan mereka.
Amayah kemudian berkata lagi,
“Bagaimana kalau kita menonton film romantis?”
Brian menatapnya.
“Kau tahu kan, aku akan mengkritik alurnya sepanjang film.”
Amayah terdiam.
“…Kau memang sering melakukan itu.”
Brian mengangguk.
“Iya.”
Amayah mulai kesal.
“Lalu menurutmu apa yang harus kita lakukan?”
Brian menjawab santai,
“Tidak tahu.”
Amayah menatapnya tajam.
“Kau benar-benar tidak bisa romantis.”
Brian menoleh sedikit.
“Kenapa aku harus romantis?”
Amayah membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Perdebatan kecil itu berlangsung beberapa menit.
Namun akhirnya…
Brian menghela napas panjang.
“Diskusi ini bisa kita lanjutkan lain kali.”
Amayah menatapnya.
“Kenapa?”
Brian menutup mata sebentar.
“Aku ingin istirahat.”
Amayah langsung mengerutkan dahi.
“Oh.”
Nada suaranya berubah sedikit dingin.
“Jadi kau tidak serius memikirkan hubungan ini?”
Brian membuka satu mata.
“Apa?”
Amayah melipat tangan.
“Tidak apa-apa kalau kau tidak serius.”
Brian menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata tegas,
“Aku serius.”
Amayah terdiam.
Brian melanjutkan,
“Aku hanya ingin tidur.”
Amayah berkedip.
“…”
Brian bersandar di kursi.
“Perjalanan masih lama.”
Amayah akhirnya mengangguk kecil.
“…Baiklah.”
Beberapa menit kemudian…
Brian mulai benar-benar mengantuk.
Matanya setengah tertutup.
Kepalanya sedikit miring.
Amayah memperhatikannya.
Diam-diam.
Kemudian…
Ia menunduk.
Menatap ke arah pahanya sendiri.
Sebuah pikiran muncul di kepalanya.
"Kalau dia tidur…"
"Dia bisa menaruh kepalanya di sini…"
Pipi Amayah langsung memerah.
"Apa yang aku pikirkan?!"
Ia langsung menggeleng kecil.
"Tidak tidak tidak."
"Itu terlalu memalukan."
Namun…
Ia melirik Brian lagi.
Brian terlihat benar-benar lelah.
Kepalanya hampir terjatuh ke samping.
Amayah kembali melihat pahanya.
"Kalau aku hanya bilang…"
"Kau bisa tidur di sini."
"Itu tidak aneh… kan?"
Hatinya mulai berdebat sendiri.
"Tidak boleh."
"Tapi dia terlihat tidak nyaman."
"Biarkan saja."
"Tapi dia pacarku…"
"Justru itu yang membuatnya memalukan!"
Amayah menggigit bibirnya sedikit.
"Ucapkan saja…"
"Tidak."
"Ucapkan saja."
"Tidak."
Perdebatan itu berlangsung cukup lama.
Sampai akhirnya…
Brian benar-benar tertidur begitu saja di kursinya.
Kepalanya bersandar ke jendela.
Amayah menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu perlahan menunduk.
“…Aku gagal.”
Ia bergumam sangat pelan.
Pipinya merah.
Dan entah kenapa…
Sedikit menyesal.
---
Mobil masih melaju tenang di jalan panjang.
Suara mesin mobil berpadu dengan desiran angin dari luar jendela. Matahari siang mulai condong sedikit, menciptakan cahaya hangat yang masuk dari kaca mobil.
Di kursi belakang, Brian sudah benar-benar tertidur.
Kepalanya bersandar ke jendela dengan posisi yang sedikit tidak nyaman.
Amayah meliriknya beberapa kali.
Namun ia tidak berani melakukan apa-apa.
Sementara itu, Emilia yang sedang menyetir melirik ke kaca spion.
Ia melihat Brian yang tertidur.
Lalu tersenyum kecil.
Kemudian ia berbicara pelan.
“Brian berubah banyak ya.”
Amayah sedikit terkejut.
“Maksudnya?”
Emilia masih menatap jalan di depan.
“Terakhir kali aku bertemu Brian… saat dia masih sekolah dasar.”
Amayah sedikit terkejut.
“Sekolah dasar?”
Emilia mengangguk pelan.
“Iya.”
Ia tertawa kecil mengenang masa lalu.
“Dia sudah pintar sejak kecil.”
Amayah langsung mengangguk cepat.
“Itu benar.”
Emilia melanjutkan,
“Dia juga sangat dewasa untuk anak seusianya.”
“Terlalu dewasa, bahkan.”
Amayah mendengarkan dengan serius.
Emilia tersenyum tipis.
“Tapi… dia sangat pendiam.”
Amayah sedikit memiringkan kepala.
“Lebih pendiam dari sekarang?”
Emilia tertawa kecil.
“Jauh lebih pendiam.”
Ia berpikir sebentar.
“Kadang aku bahkan bertanya-tanya apakah dia benar-benar anak kecil.”
Amayah tersenyum sedikit.
Emilia melanjutkan dengan suara lembut.
“Dia jarang tersenyum.”
“Jarang bercanda.”
“Dan hampir tidak pernah berbicara kalau tidak perlu.”
Amayah melirik Brian.
Brian masih tertidur.
Tiba-tiba…
Kepala Brian perlahan bergerak.
Mobil sedikit berbelok.
Dan…
thump.
Kepalanya jatuh pelan ke pundak Amayah.
Amayah langsung membeku.
“…Eh?”
Wajahnya langsung merah.
Ia menatap Brian yang tertidur di pundaknya.
Brian terlihat benar-benar pulas.
Amayah menelan ludah.
Ia tidak berani bergerak.
Di depan, Emilia melihat semuanya lewat kaca spion.
Ia tersenyum diam-diam.
Namun ia pura-pura tidak mengatakan apa-apa.
Ia melanjutkan ceritanya.
“Dulu… ada masa yang cukup berat untuk Brian.”
Amayah kembali fokus mendengarkan.
Emilia berkata pelan,
“Dia sering dibully di sekolah.”
Amayah langsung menegang.
“…Dibully?”
Emilia mengangguk kecil.
“Iya.”
“Sangat sering.”
Ia menghela napas pelan.
“Anak-anak lain menganggapnya aneh.”
“Karena dia terlalu pintar.”
“Dan terlalu pendiam.”
Amayah menatap Brian lagi.
Emilia melanjutkan,
“Mereka mengucilkannya.”
“Kadang mengejeknya.”
“Bahkan… pernah beberapa kali mengeroyoknya.”
Amayah menggigit bibirnya pelan.
Tangannya tanpa sadar mengepal sedikit.
Emilia berkata dengan nada pelan,
“Waktu itu aku sangat khawatir.”
“Karena setelah itu… Brian menjadi jauh lebih diam.”
“Dia hampir tidak pernah bicara tentang apa yang terjadi.”
Amayah menunduk sedikit.
Emilia tersenyum kecil.
“Tapi sekarang berbeda.”
Ia melihat ke kaca spion lagi.
“Dia sering tersenyum.”
“Dia sering bercanda.”
“Bahkan mengejek orang.”
Amayah tersenyum kecil.
“Dia memang suka mengejek.”
Emilia tertawa lembut.
“Itu tanda dia sudah lebih nyaman dengan dunia.”
Ia menambahkan,
“Dan menurutku… itu semua karena kamu.”
Amayah langsung menggeleng cepat.
“Tidak.”
Emilia sedikit heran.
Amayah berkata pelan,
“Bukan hanya aku.”
“Dia juga punya teman-teman baik.”
“Orang-orang yang peduli padanya.”
Ia tersenyum kecil.
“Jadi… perubahan itu bukan karena aku saja.”
Emilia menatapnya lewat kaca spion.
Lalu tersenyum hangat.
“Kamu gadis yang baik.”
Beberapa detik mobil kembali sunyi.
Kemudian Emilia berkata dengan nada lembut,
“Amayah.”
“Iya?”
“Tolong jaga Brian.”
Amayah sedikit terkejut.
Emilia melanjutkan,
“Dia terlihat kuat.”
“Dia pintar.”
“Dia dewasa.”
“Tapi sebenarnya… dia juga manusia biasa.”
Amayah menatap Brian yang masih tertidur di pundaknya.
Emilia berkata lagi,
“Dan Brian juga harus menjaga kamu.”
“Hubungan itu bukan soal siapa yang lebih kuat.”
“Tapi soal berjalan bersama.”
Amayah mendengarkan dengan serius.
Emilia melanjutkan,
“Jangan menutupi perasaan kalian.”
“Jujurlah satu sama lain.”
“Kejujuran itu mahal.”
“Tapi itu juga yang membuat hubungan bisa bertahan lama.”
Ia tersenyum kecil.
“Bahkan… sampai ke tahap yang lebih serius.”
Amayah menunduk pelan.
Ia menatap Brian lagi.
Brian masih tertidur dengan tenang.
Amayah perlahan menggeser tubuhnya sedikit.
Dengan sangat hati-hati…
Ia memindahkan kepala Brian dari pundaknya.
Lalu…
Dengan gerakan yang lembut…
Ia menaruh kepala Brian di atas pahanya.
Brian tetap tertidur.
Amayah menatap wajahnya.
Beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan,
“Aku akan menjaganya.”
Emilia melihat lewat kaca spion.
Namun ia tidak berkata apa-apa.
Amayah mengusap rambut Brian perlahan.
“Dia mungkin menyebalkan.”
“Kadang ucapannya tajam.”
“Dan dia sering membuatku kesal.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi dia juga orang yang sangat baik.”
Amayah menatap wajah Brian yang tertidur.
“Dia selalu jujur.”
“Dia tidak pernah berpura-pura.”
“Dan dia selalu ada.”
Suaranya menjadi sedikit lebih lembut.
“Jadi… aku juga akan ada untuknya.”
Ia mengusap rambut Brian sekali lagi.
“Kalau dia lelah… aku akan menemaninya.”
“Kalau dia sedih… aku akan mendengarkannya.”
Amayah tersenyum kecil.
“Lagipula…”
Ia berkata pelan.
“Dia pacarku.”
Emilia tersenyum hangat di kursi depan.
Mobil terus melaju di jalan panjang.
Dan untuk pertama kalinya hari itu…
Suasana di dalam mobil terasa benar-benar hangat.
Bersambung.
Namun, masih ada beberapa sifat karakter yang terasa tidak konsisten. Namun, secara keseluruhan, cukup baik.
semangat terus bang!!!