NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Toko saingan dan bisikan politik

Hujan turun tanpa jeda di Kota Sagara malam itu, membasahi gedung Hotel Grand Sagara yang berdiri megah di jantung kota. Dari luar, bangunan itu tampak seperti simbol kemewahan dan kehormatan. Namun di balik dinding marmer dan lampu kristal, kesepakatan-kesepakatan kotor tengah dirajut rapi.

Di ruang pertemuan lantai tujuh, Aditya Pranowo duduk di ujung meja panjang, dikelilingi beberapa pejabat dinas, pemilik media lokal, dan dua pengusaha besar. Rangga Pradipta duduk sedikit terpisah, dengan sikap waspada.

“Kasus BOBA sudah berjalan sesuai rencana,” ucap Aditya sambil mengetuk meja pelan. “Namun, anak Surya mulai bergerak. Kita tidak boleh lengah.”

Seorang pria berkacamata dari dinas kesehatan menimpali, “Kami bisa memperpanjang penyelidikan. Bahkan, kalau perlu, mencabut izin usaha mereka selamanya.”

Aditya mengangguk. “Bagus. Publik harus diyakinkan bahwa BOBA memang bersalah.”

“Media siap membantu,” ujar pemilik salah satu portal berita terbesar di kota. “Kami akan terus menggiring opini.”

Rangga menyimak tanpa bicara. Di dalam dadanya, ada getar tak nyaman. Ia tahu, begitu mesin kekuasaan ini bergerak, segalanya bisa melampaui kendali.

“Bagaimana dengan toko Permata Rasa?” tanya Aditya sambil menoleh ke arahnya.

Rangga menarik napas. “Kami mulai bangkit. Tapi saya khawatir, kalau Bima menemukan bukti, semua ini bisa runtuh.”

Aditya tersenyum tipis. “Itulah mengapa kita harus memastikan dia tidak mendapat apa pun.”

Di sudut lain kota, Bima berdiri di depan etalase Permata Rasa yang kini kembali dipadati pelanggan. Lampu neon baru menyala terang, diskon besar-besaran terpampang di kaca. Aroma manisan menguar, namun baginya, semua itu terasa pahit.

Ia melihat Rangga keluar dari mobil mewah, disambut hormat oleh para pegawai.

“Begitu cepat bangkit,” gumam Bima.

Asha berdiri di sampingnya, menyamar sebagai pengunjung biasa. “Suntikan dana besar. Sumbernya masih kami telusuri, tapi aku yakin berhubungan dengan Aditya.”

Bima mengangguk. “Ini bukan lagi soal bisnis.”

“Ini politik,” sambung Asha.

Mereka masuk ke dalam toko. Bima memperhatikan detail: mesin baru, kemasan modern, bahan baku impor. Semua terlalu cepat untuk sekadar kebetulan.

Di sudut ruangan, seorang karyawan berbisik kepada rekannya, “Bos sekarang dekat dengan pejabat. Makanya bisa semewah ini.”

Bima menahan diri agar tidak bereaksi.

Malam itu, Asha mengatur pertemuan rahasia dengan seorang staf dinas bernama Yuni. Perempuan muda itu tampak gugup, matanya terus melirik sekitar.

“Mereka memalsukan banyak dokumen,” kata Yuni dengan suara bergetar. “Sertifikat, hasil lab, semuanya bisa diatur.”

“Siapa yang memerintahkan?” tanya Bima.

“Langsung dari atasan. Katanya, ini perintah orang besar.”

Asha merekam pengakuan itu dengan alat kecil di sakunya.

“Tapi aku tidak bisa jadi saksi,” lanjut Yuni. “Aku masih punya keluarga.”

“Kami mengerti,” ujar Asha lembut.

Dalam perjalanan pulang, Bima merasakan ada yang mengikuti. Bayangan gelap bergerak di antara kerumunan. Nalurinya berteriak bahaya.

Ia mempercepat langkah. Sosok itu ikut mempercepat.

Di sebuah gang sempit, tiga pria menghadangnya.

“Anak Surya Wijaya,” kata salah satu dengan senyum sinis. “Bos kami menyuruhmu berhenti main detektif.”

Bima menelan ludah. “Kalau aku tidak berhenti?”

Pria itu mengangkat tongkat besi. “Kami yang akan menghentikanmu.”

Tanpa berpikir panjang, Bima berlari. Langkah kaki mengejarnya. Nafasnya memburu, dadanya serasa terbakar.

Ia berbelok tajam, meloncat melewati tumpukan sampah, dan masuk ke halaman belakang sebuah toko. Saat salah satu pria hampir meraihnya, sirene polisi terdengar.

Mereka berhenti sejenak, lalu kabur ke arah berlawanan.

Bima terhuyung, bersandar di dinding. Tangannya gemetar.

Beberapa menit kemudian, Asha tiba dengan wajah panik. “Kamu tidak apa-apa?”

Bima mengangguk, meski lututnya masih lemas. “Mereka mulai bermain kasar.”

“Artinya, kita di jalur yang benar,” ucap Asha.

Namun jauh di dalam hatinya, Bima tahu: jalur ini bisa berujung kematian.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Rangga menerima laporan kegagalan anak buahnya.

“Maaf, Bos. Dia lolos.”

Rangga membanting gelas ke lantai. Pecahannya berhamburan.

“Anak itu terlalu berani,” geramnya.

Ponselnya bergetar. Nama Aditya muncul di layar.

“Masalah?” tanya suara dingin di seberang.

“Dia lolos.”

“Kalau begitu, naikkan levelnya,” balas Aditya tenang. “Fitnah baru. Skandal. Apa pun yang bisa menghancurkannya.”

Rangga terdiam.

“Ada satu cara lagi,” lanjut Aditya. “Buat keluarganya menderita lebih dalam.”

Wajah Rangga menegang. Ia tahu apa arti kalimat itu.

Namun, demi menyelamatkan dirinya dan usahanya, ia mengangguk.

“Baik.”

Malam itu, Bima duduk di kamar rumah sakit, menatap ayahnya yang tertidur gelisah. Mesin monitor berbunyi pelan.

Ia menggenggam tangan Surya.

“Aku akan melawan, Yah,” bisiknya. “Apa pun risikonya.”

Di luar, hujan kembali turun.

Dan di antara tetes-tetes air itu, bisikan politik bergerak tanpa suara—merencanakan langkah berikutnya dalam permainan kotor yang semakin mematikan.

Malam semakin larut ketika hujan reda, meninggalkan genangan air di sepanjang jalan Kota Sagara. Lampu-lampu kendaraan memantul di permukaan basah, menciptakan kilau yang tampak indah, namun menyimpan kesan dingin. Di sebuah rumah besar bergaya kolonial di kawasan elit, Aditya Pranowo duduk di ruang kerjanya yang sunyi.

Di hadapannya, layar laptop menampilkan grafik elektabilitas. Angkanya naik perlahan, stabil, nyaris sempurna. Kasus BOBA, yang semula dianggap kecil, justru menjadi momentum untuk membangun citra dirinya sebagai pemimpin tegas yang “berani membersihkan pelanggaran”.

“Opini publik memang mudah diarahkan,” gumamnya.

Ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang.

“Kita perlu mempercepat fase kedua,” katanya tanpa basa-basi.

Di seberang, suara pria paruh baya menjawab, “Apa targetnya?”

“Bima Wijaya. Tekan mentalnya. Hancurkan reputasinya. Buat dia terlihat sebagai anak bermasalah.”

“Siap.”

Panggilan ditutup. Aditya bersandar di kursinya, menatap langit-langit. Dalam dunia politik, kebenaran hanyalah alat, bukan tujuan. Yang terpenting adalah kekuasaan, dan kekuasaan harus diamankan dengan cara apa pun.

Keesokan harinya, Kota Sagara digemparkan oleh sebuah berita baru.

ANAK PEMILIK TOKO BOBA DIDUGA TERLIBAT KASUS PENGGELAPAN DANA DAN KEKERASAN

Nama Bima terpampang jelas di judul artikel. Foto dirinya diambil secara diam-diam, tampak buram namun cukup dikenali.

Ratna hampir pingsan saat membaca berita itu.

“Apa maksudnya ini, Bima?” suaranya gemetar.

Bima membaca isi artikel dengan wajah pucat. Ia dituduh mencuri dana donasi dari sebuah yayasan sosial dan terlibat perkelahian di gang sempit. Semua dilengkapi dengan foto dan kesaksian anonim.

“Ini bohong, Bu,” katanya tegas. “Fitnah lagi.”

Namun fitnah, sekali dilempar, akan selalu meninggalkan noda.

Di kedai kopi tempatnya bekerja, suasana berubah canggung. Beberapa rekan menjauh. Tatapan curiga mengikutinya ke mana pun ia melangkah.

Bosnya memanggil ke ruangan belakang.

“Bima, aku percaya kamu. Tapi pelanggan resah. Untuk sementara, kamu libur dulu.”

Bima mengangguk tanpa protes. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

Di luar, Asha menunggunya dengan wajah muram.

“Mereka bergerak cepat,” kata gadis itu. “Aku sedang melacak sumber berita ini. Semua mengarah ke media yang dekat dengan Aditya.”

Bima tertawa pahit. “Sekarang aku bukan hanya anak penjual manisan bangkrut, tapi juga kriminal.”

Asha menatapnya penuh empati. “Ini yang mereka inginkan. Kamu putus asa.”

“Tapi mereka salah,” jawab Bima pelan. “Justru sekarang aku makin yakin.”

Sore itu, Bima mengunjungi Pak Arman lagi. Rumah kayu itu tampak lebih sepi dari sebelumnya. Pintu tertutup, jendela gelap.

Ia mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban.

Perasaan tak enak menyelinap di dadanya.

Ia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.

“Pak Arman?”

Sunyi.

Di ruang tamu, kursi terguling, meja bergeser, dan cangkir pecah di lantai. Jejak perkelahian jelas terlihat.

Bima berdiri terpaku.

“Tidak…” bisiknya.

Ia segera menghubungi Asha dan polisi. Namun, nalurinya sudah memberi satu kesimpulan pahit: Pak Arman telah diculik.

Di sebuah gudang kosong di pinggiran kota, Pak Arman terduduk terikat di kursi. Wajahnya lebam, bibirnya pecah.

Seorang pria bertubuh besar berdiri di depannya.

“Bilang ke siapa pun, kau mati,” ancamnya.

Pak Arman terbatuk, darah mengalir di sudut bibirnya. Namun, di balik rasa sakit, ada tekad yang perlahan tumbuh.

Ia teringat mata Bima, mata seorang anak yang kehilangan segalanya namun tetap berdiri.

“Aku tidak akan diam,” gumamnya pelan.

Tamparan keras mendarat di wajahnya.

Malam itu, Bima duduk di atap rumah kontrakan, menatap langit tanpa bintang. Kepalanya dipenuhi kegelisahan.

“Aku menarikmu ke dalam semua ini,” ucap Asha yang duduk di sampingnya.

“Tidak,” balas Bima. “Kalau bukan kamu, aku mungkin sudah menyerah.”

Mereka terdiam sejenak, hanya suara jangkrik yang menemani.

“Asha,” kata Bima tiba-tiba, “kalau sesuatu terjadi padaku…”

“Jangan,” potong Asha cepat. “Kita akan melewati ini bersama.”

Bima tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kamu tahu, apa pun yang terjadi, kebenaran harus keluar.”

Asha menatapnya lama. “Aku janji.”

Di kantor Permata Rasa, Rangga menerima laporan tentang penculikan Pak Arman. Ia memejamkan mata sesaat.

“Sudah keterlaluan,” gumamnya.

Namun sebelum rasa bersalah sempat menguat, ponselnya bergetar.

Aditya: Ini baru permulaan. Kalau mau bertahan, jangan ragu.

Rangga menghela napas panjang.

Ia sadar, permainan ini telah berubah menjadi perang tanpa aturan. Dan begitu masuk, tak ada lagi jalan kembali.

Keesokan paginya, Bima menerima sebuah amplop cokelat tanpa nama di depan rumahnya.

Di dalamnya, terdapat foto Pak Arman dalam kondisi terikat dan memar, disertai secarik kertas:

BERHENTI MENCARI, ATAU DIA MATI.

Tangan Bima gemetar.

Asha yang berdiri di sampingnya memucat.

“Mereka sudah kelewat batas,” ucap Bima lirih, matanya berkaca-kaca.

Ia mengepalkan tangan.

“Kalau mereka pikir ancaman ini akan menghentikanku, mereka salah.”

Di tengah ketakutan dan kemarahan, tekadnya justru semakin membara.

Karena kini, yang dipertaruhkan bukan hanya kehormatan keluarganya, tetapi juga nyawa orang-orang tak bersalah.

Dan dari titik inilah, perjalanan Bima memasuki fase paling berbahaya—fase di mana kebenaran harus dibayar dengan darah, air mata, dan pengorbanan yang tak terbayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!