NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Yang Tak Terlihat

Langit sore itu berwarna kelabu, seperti abu yang belum sempat jatuh sepenuhnya. Awan menggantung rendah, menekan suasana, seolah dunia ikut menahan sesuatu yang tak bisa diucapkan.

Senja berdiri di depan jendela kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.

Rambutnya sedikit berantakan, matanya tampak lelah. Ia mencoba tersenyum—sekadar refleks—tapi yang muncul justru wajah asing.

Wajahnya terlihat sama.

Tapi hatinya tidak.

Ada sesuatu yang berubah sejak malam itu. Sejak percakapan-percakapan kecil yang terasa biasa, tapi meninggalkan bekas. Sejak ia mulai sering diam tanpa tahu alasan pastinya. Sejak pikirannya lebih ramai daripada dunia di sekitarnya.

Seperti retakan di kaca.

Awalnya kecil. Hampir tak terlihat.

Lalu perlahan melebar.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Raka.

Nama itu muncul lagi. Selalu muncul.

Senja menatap layar itu beberapa detik, lalu memalingkan pandangan. Ia tahu, cepat atau lambat ia harus membuka pesan itu. Tapi ada rasa berat yang aneh, seperti membaca pesan itu berarti menghadapi sesuatu yang belum siap ia hadapi.

Akhirnya, ia membuka.

“Kamu kenapa makin menjauh, Sen?”

Satu kalimat. Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sempit.

Ia mengetik balasan.

“Aku nggak apa-apa kok.”

Lalu menghapus.

Mengetik lagi.

“Aku cuma lagi banyak pikiran.”

Menghapus lagi.

Jarinya gemetar kecil, bukan karena takut, tapi karena bingung. Ia ingin jujur, tapi tak tahu harus jujur tentang apa. Tentang rasa kosong? Tentang dirinya yang mulai tak kenal diri sendiri? Tentang perasaan seolah ia sedang tenggelam pelan-pelan di dalam kepalanya sendiri?

Akhirnya, ia menulis satu kalimat paling aman.

“Aku cuma capek.”

Ia menatap pesan itu lama sebelum menekan kirim.

Kebohongan kecil. Yang dibungkus kejujuran setengah.

Karena yang sebenarnya: ia capek berpura-pura baik-baik saja.

Di tempat lain, Raka duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponsel dengan alis berkerut. Jawaban itu terlalu singkat. Terlalu datar. Terlalu berbeda dari Senja yang ia kenal.

“Capek doang nggak bikin orang berubah sejauh ini,” gumamnya pelan.

Ia mengingat Senja yang dulu—yang cerewet, yang suka cerita hal kecil, yang selalu punya reaksi berlebihan untuk hal sepele. Sekarang, setiap pesan dari Senja terasa seperti tembok. Ada jarak yang tak bisa dijelaskan dengan logika.

Ia merasa kehilangan Senja, tapi Senja belum benar-benar pergi.

Itu yang paling menyakitkan—kehilangan yang setengah.

Malam datang tanpa permisi.

Lampu kamar Senja masih mati. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar.

Di dalam diam itu, pikirannya justru semakin ribut.

Ia merasa seperti sedang berdiri di tengah ruangan penuh cermin, tapi tak satu pun memantulkan dirinya yang utuh. Semua terasa terpecah. Emosinya tidak jelas, pikirannya tidak teratur, dan perasaannya terhadap orang-orang di sekitarnya mulai terasa jauh.

Untuk pertama kalinya, ia sadar:

ia bukan takut ditinggalkan orang lain.

Ia takut pada dirinya sendiri.

Pada versi dirinya yang mulai tak ia kenali.

“Kalau aku terus kayak gini…” bisiknya pelan,

“apa aku masih aku?”

Tak ada jawaban.

Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar berat.

Air matanya jatuh, tanpa suara. Ia tidak terisak, tidak juga menangis keras. Air mata itu keluar begitu saja, seperti tubuhnya sudah lelah menahan sesuatu yang bahkan pikirannya tak bisa jelaskan.

Bukan karena seseorang menyakitinya.

Bukan karena dunia terlalu kejam.

Tapi karena ia mulai menyadari sesuatu yang lebih menakutkan:

Kadang, sisi tergelap itu bukan datang dari orang lain.

Bukan dari luka besar.

Bukan dari tragedi.

Tapi tumbuh perlahan…

dari pikiran sendiri,

dari rasa yang dipendam,

dari diam yang terlalu lama.

Dan tanpa sadar,

kita sendiri yang memberi ruang untuk kegelapan itu tinggal.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!