Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Misi Sidik Jari dan Pencitraan Palsu
Malam semakin larut di kediaman Ardiansyah. Setelah makan malam yang penuh debar bersama Gathan, Alisha segera mengunci diri di dalam kamar. Ia membersihkan diri, mencoba membilas rasa cemas yang masih menempel di kulitnya. Begitu masuk ke ruang ganti pakaian, jam tangan di pergelangan tangannya kembali bergetar pelan.
Layar rahasia menyala, menampilkan wajah Aruna yang tampak sangat serius di depan tumpukan kode yang masih berjalan di laptopnya.
"Kita tidak punya banyak waktu, Alisha. Dengarkan rencanaku baik-baik," suara Aruna terdengar dingin di balik layar.
Aruna memaparkan target selanjutnya: laptop pribadi Elena. Berbeda dengan Julian yang ceroboh meninggalkan laptop di meja kerja, Elena menyimpan perangkatnya di dalam ruang kerja pribadi yang terhubung langsung dengan kamar tidur utamanya. Kamar itu adalah kamar mendiang ibu Aruna, yang kini telah dikuasai sepenuhnya oleh Elena sejak ia berhasil menikahi papa Aruna.
"Apa aku harus menyelinap lagi seperti kemarin? Aruna, itu hampir membuat jantungku copot!" bisik Alisha dengan nada panik yang tertahan.
"Tidak sekarang," jawab Aruna datar. "Aksi sabotase laptop itu akan dilakukan minggu depan. Tepat saat Elena melakukan kegiatan rutin bulanannya, yaitu kunjungan ke berbagai panti asuhan di seluruh kota. Itu adalah ajang pencitraan yang memuakkan bagiku, tapi sangat menguntungkan bagi kita kali ini. Rumah akan sedikit lebih longgar, dan dia akan berada di luar selama berjam-jam."
Alisha menarik napas lega sesaat, namun kalimat Aruna selanjutnya kembali membuatnya tegang.
"Tapi ada satu masalah besar. Laptop Elena menggunakan pemindai sidik jari tingkat tinggi. Enkripsinya tidak bisa dibuka hanya dengan kode digital. Jadi, sebelum minggu depan tiba, tugasmu adalah mendapatkan salinan sidik jari Elena."
Alisha membelalakkan mata. "Mendapatkan sidik jarinya? Bagaimana caranya? Apa aku harus memegang tangannya lalu menempelkannya ke kertas?"
Aruna mendengus kecil melihat kepolosan Alisha. "Jangan konyol. Elena terlalu waspada untuk disentuh seperti itu. Kamu harus mencari objek yang dia pegang dengan tangan kosong. Gelas kristal, cermin kecil, atau botol parfum mahalnya. Sari akan memberimu bubuk khusus dan isolasi transparan untuk mengangkat sidik jari itu. Kamu hanya perlu mencari momen saat dia lengah."
Alisha menelan ludah. Bayangan wajah Elena yang tajam dan mengintimidasi langsung terlintas di benaknya. Mendekati wanita itu adalah tantangan yang jauh lebih berat daripada menghadapi Julian.
"Lakukan dengan halus, Alisha. Jangan sampai dia curiga kenapa kamu tiba-tiba sering berada di dekatnya. Gunakan alasan bahwa kamu ingin 'mengenal kembali' ibu tirimu karena amnesia ini," instruksi Aruna sebelum menutup sambungan video.
Alisha menyandarkan tubuhnya ke lemari pakaian yang dingin. Di tangannya, ia memegang jam tangan itu erat-erat. Minggu depan akan menjadi penentuan, dan selama tujuh hari ke depan, ia harus bermain peran dengan sangat sempurna di hadapan seorang wanita yang mungkin saja terlibat dalam kematian ibu Aruna yang asli.
***
Hari-hari berikutnya di kediaman Ardiansyah adalah pertempuran saraf yang melelahkan bagi Alisha. Mendekati Elena ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Wanita itu seperti memiliki radar yang sangat tajam, setiap kali Alisha mencoba beramah-tamah, Elena selalu menatapnya dengan pandangan dingin yang seolah bisa menembus kulitnya.
Percobaan pertama gagal saat Alisha mencoba mengambil gelas jus Elena, pelayan lain lebih dulu membereskannya. Percobaan kedua pun kandas ketika Alisha berpura-pura ingin melihat koleksi bros Elena, namun Elena justru memanggil asisten pribadinya untuk menunjukkannya.
Baru pada hari kelima, keberuntungan berpihak padanya.
Elena sedang duduk di taman samping, sibuk memeriksa beberapa berkas panti asuhan sembari memegang sebuah tablet dengan bingkai kaca yang mengkilap. Saat Elena beranjak untuk menerima telepon penting, ia meninggalkan tablet itu di atas meja marmer.
Alisha, yang sudah disiagakan oleh Sari, bergerak secepat kilat. Dengan alat yang sudah disiapkan Aruna, ia berhasil mengangkat sidik jari sempurna dari permukaan kaca tersebut.
Di dalam ruang ganti yang tertutup rapat, Alisha dan Sari menatap selembar isolasi transparan dengan bercak bubuk halus yang membentuk pola garis-garis unik.
"Berhasil, Nona! Kita berhasil!" bisik Sari dengan wajah berseri-seri.
Saking senangnya, Alisha yang biasanya pemalu spontan melompat kegirangan. Ia menarik tangan Sari, dan kedua wanita itu berjingkrak pelan tanpa suara sebelum akhirnya berpelukan erat. Kegembiraan itu terasa sangat tulus, sebuah perayaan kecil atas kemenangan melawan rasa takut yang mencekam selama berhari-hari.
Di sisi lain, Aruna yang memantau melalui layar monitor tersembunyi hanya bisa mengerutkan kening. Ia menatap dua wanita di layar itu dengan perasaan aneh. Padahal mereka baru bekerja sama beberapa hari, namun Alisha dan Sari sudah terlihat seperti tim yang sudah kompak bertahun-tahun.
Tanpa sadar, sebuah senyum tipis terukir di bibir Aruna. Ia merasa sedikit hangat melihat ada orang yang begitu peduli pada misinya, meski ia tahu Alisha melakukan ini juga demi keluarganya sendiri. Kamu memang unik, Alisha, batin Aruna singkat.
Namun, momen selebrasi itu hancur seketika saat terdengar ketukan keras dari arah luar ruang ganti.
Tok! Tok! Tok!
Alisha dan Sari seketika membeku. Alisha merapatkan telinganya ke pintu kayu tebal itu. Karena ruangan tersebut dirancang kedap suara, ia hanya bisa mendengar suara Gathan yang samar dan berat dari luar.
"Na? Aruna? Apa kamu di dalam?"
Alisha segera memberikan kode pada Sari untuk menyembunyikan alat-alat mereka. Ia menarik napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena melompat tadi, lalu memasang wajah tenang sebelum membuka pintu.
"Iya, Kak? Ada apa?" tanya Alisha sembari melangkah keluar.
Gathan berdiri di sana, masih mengenakan kemeja kantor yang kerahnya sedikit terbuka, memberikan kesan gagah namun mengintimidasi. Tatapannya jatuh pada Alisha, lalu melirik Sari yang berdiri di belakangnya dengan wajah formal.
"Mbak Sari, tolong siapkan peralatan latihan," perintah Gathan tanpa menoleh. Lalu ia kembali menatap Alisha dengan senyum tipis yang tak bisa ditolak.
"Ayo, Na. Kakak ingin mengajakmu ke ruang latihan menembak lagi. Kakak ingin melihat apakah instingmu sudah mulai kembali."
Alisha menelan ludah dengan susah payah. Kakinya mendadak terasa lemas. Ia teringat senjata api yang dingin dan letusan yang memekakkan telinga di ruangan itu tempo hari.
Ruangan itu lagi? keluh Alisha dalam hati. Tuhan, aku bahkan memegang gunting kain saja masih sering gemetar, bagaimana kalau aku harus memegang pistol sungguhan sekarang?
Gathan tidak memberikan ruang untuk protes. Ia meraih pergelangan tangan Alisha dan menuntunnya menuju pintu rahasia di balik rak buku. Alisha hanya bisa pasrah, menyadari bahwa setelah berhasil mencuri sidik jari, ia kini harus menghadapi ujian fisik yang jauh lebih mengerikan yaitu berpura-pura menjadi seorang penembak jitu.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊