"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Seringkali kita baru menyadari nilai sebuah berlian setelah ia berada di genggaman orang lain. Di episode ini, kontras kehidupan bagai bumi dan langit terpampang nyata. Saat Bima tenggelam dalam kubangan penyesalan yang mematikan, Hana justru sedang merenda benang-benang kebahagiaan baru. Namun di sudut lain, sang parasit masih mencoba mengisap sisa-sisa darah dari inang yang sudah hampir mati. Mari saksikan bagaimana takdir mulai menarik garis pemisah yang semakin lebar."
.
.
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden ruang tamu keluarga Erlangga terasa begitu menyengat, seolah ingin memaksa dunia melihat kehancuran yang terjadi di dalam sana.
Bu Sarah melangkah menuruni tangga dengan wajah yang masih kaku akibat sisa amarah semalam. Namun, langkahnya terhenti di anak tangga terakhir.
Matanya membelalak. Di atas lantai marmer yang mahal, putranya - sosok CEO yang dulu selalu tampil klimis dan angkuh - tergeletak mengenaskan.
Bima tidur meringkuk seperti janin di lantai yang dingin. Kemejanya kusut, rambutnya acak-acakan, dan bau alkohol menyengat dari botol-botol yang pecah berserakan di sekitarnya.
"Bima..." bisik Bu Sarah. Ada secuil rasa iba sebagai ibu, namun rasa muaknya masih jauh lebih besar.
Bu Sarah mendekat, menendang pelan kaki Bima. "Bangun, Bima! Jangan jadi pecundang yang mati di atas muntahannya sendiri!"
Bima mengerang, matanya terbuka perlahan, merah dan bengkak karena tangis dan pengaruh alkohol. Ia menatap ibunya dengan tatapan kosong.
"Ma... Hana benar-benar akan menikah?" suaranya parau, nyaris hilang.
"Bangun dan bersihkan dirimu! Penyesalanmu tidak akan menghentikan apapun!" ucap Bu Sarah dingin, lalu memanggil pelayan untuk membersihkan kekacauan itu.
Bima bangkit dengan tubuh yang limbung. Ia melihat bayangannya di cermin besar ruang tamu. Ia melihat seorang pria yang kehilangan jiwanya.
Pria yang dulu merasa bisa membeli dunia, kini bahkan tidak bisa membeli satu detik pun kesempatan untuk mengulang masa lalu.
~~
Berbanding terbalik dengan Jakarta yang kelabu, udara di Sukamaju pagi ini terasa begitu manis. Aroma mentega dan kayu manis menyerbak dari Anindita Pastry.
Di salah satu meja bundar di sudut toko, Hana duduk berdampingan dengan dr. Adrian. Di atas meja, berserakan beberapa desain kartu undangan berwarna merah hati dan putih gading.
Saka sedang duduk tenang di stroller di samping mereka, sesekali tertawa saat Adrian menjawil pipinya dengan gemas.
"Aku rasa yang putih gading ini lebih elegan, Hana. Sederhana, tapi mencerminkan ketenanganmu," ucap Adrian lembut sambil menunjukkan satu sampel undangan.
Hana tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga matanya ikut berbinar. "Aku setuju. Aku tidak ingin pesta besar, Adrian. Aku hanya ingin ikatan yang sah di mata Tuhan dan kehadiran orang-orang yang benar-benar menyayangi kita."
Adrian menggenggam tangan Hana di atas meja. "Apapun yang membuatmu bahagia, akan aku lakukan. Setelah semua badai yang kau lalui, kau layak mendapatkan pelabuhan yang tenang."
Seorang pelanggan masuk ke toko, dan dengan cekatan Hana berdiri untuk melayani. Adrian menatap punggung Hana dengan tatapan memuja. Baginya, Hana bukan sekadar calon istri, tapi simbol kekuatan.
Ia tahu Hana masih memiliki luka, tapi ia juga tahu bahwa Hana sedang menyembuhkannya dengan cara yang paling terhormat - menjadi mandiri dan bahagia.
"Adrian, lihat! Saka sepertinya suka dengan warna undangan ini," panggil Hana sambil tertawa kecil melihat Saka mencoba meraih kertas tersebut.
Kebahagiaan mereka begitu organik, begitu nyata, seolah tidak ada celah bagi masa lalu untuk menyelip masuk.
~~
Sementara itu, di sebuah butik mewah di kawasan Jakarta Selatan, Clarissa sedang berdiri di depan cermin besar.
Ia mengenakan gaun malam bertahtakan payet yang harganya setara dengan biaya operasional ruko Hana selama setahun.
"Bungkus yang ini, dan tas kulit ular yang di etalase itu juga," ucap Clarissa angkuh kepada pelayan butik.
Ia mengeluarkan kartu kredit black card milik Bima, kartu cadangan yang sempat ia sembunyikan sebelum diusir oleh Bu Sarah.
Clarissa tersenyum licik saat mesin EDC mengeluarkan struk tanda transaksi berhasil.
"Bima mungkin sedang stres, tapi uangnya tidak boleh berhenti mengalir padaku," gumamnya sambil memoles lipstik merah menyala.
Clarissa tidak tahu bahwa Bu Sarah sudah memerintahkan orang untuk melacak setiap transaksi kartu tersebut. Ia masih merasa menang, masih merasa bisa memeras Bima dengan ancaman rahasia perusahaan.
Baginya, Bima hanyalah sebuah bank berjalan yang harus dikuras sebelum benar-benar kering.
Clarissa melangkah keluar butik dengan kepala tegak, melewati papan reklame besar yang menampilkan berita tentang penurunan saham Erlangga Group.
Ia tidak peduli jika perusahaan itu hancur, selama ia sudah memiliki cukup tabungan dari hasil mengisap kekayaan Bima.
~~
**Kembali ke rumah Bima**.
Setelah mandi air dingin yang tak mampu mendinginkan hatinya, Bima duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka laci nakas dan menemukan sebuah kotak kecil.
Isinya adalah anting-anting berlian yang pernah ia beli untuk hadiah ulang tahun Hana dua tahun lalu, namun tidak pernah ia berikan karena saat itu ia sedang sibuk berselingkuh dengan Clarissa.
Ia meremas kotak itu. Bayangan Hana dan Adrian yang sedang memilih baju pengantin menghantuinya. Ia membayangkan Adrian mencium kening Hana, membayangkan Adrian menggendong Saka ke pelaminan.
"Aku tidak bisa diam saja..." desis Bima. Matanya yang merah kini memancarkan kegilaan. "Hana itu milikku. Anak itu darah dagingku. Tidak ada pria mana pun yang boleh mengambil posisi itu!"
Bima meraih ponselnya, mencari nomor seseorang yang sangat ia benci, namun mungkin bisa membantunya.
"Cari tahu tanggal pasti pernikahan mereka." ucap Bima dengan nada dingin yang menakutkan.
Apa yang direncanakan Bima?
Ikuti terus kisah Hana dan Bima, sampai jumpa di Up selanjutnya yaa...
...----------------...
**To Be Continue** ....
Hay para pembaca setia, Miss Ra akan membagikan gebyar hadiah untuk karya *Bukan Istri Cadangan* ikuti terus kisahnya hingga mencapai 45 episode yaaa ... Agar karya tersebut bisa masuk 40 bab terbaiknya, Miss Ra harap kalian mau bekerja sama untuk membantu Karya tersebut agar bisa masuk 40 bab terbaiknya.
Oke, selamat membaca semuanya, semoga kalian suka dengan ceritanya, iloveu sekebon buat kalian semua, sampai jumpa di up selanjutnya yaaa ....
See You ...
mkne rejekimu di mati kan lagi krn Ada hak anakmu yg tak kau berikan.
walau ibunya gk nerima saat kau beri tp itu kewajibanmu lo sbgai bpk. mkne rejekimu di mati kan lagi krn hak anakmu tak kau sampaikan. mlh sibuk main cewek dng nadin gk ingat anak dulu.
hrse tobat, bikin usaha gede buat warisan anak dulu, nafkah kl sdh baru mikir cewek lain.