NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 MENJADI ANAK KECIL

Matahari sore mulai condong ke barat, menyepuh puncak gunung dengan warna jingga yang hangat dan dalam. Di tengah cahaya yang melunak itu, Abimanyu mengalami getaran terakhir dari transformasinya. Segala kekakuan mental, segala disiplin besi "Kehendak untuk Berkuasa", dan segala kebanggaan "Sang Penakluk" mulai meluruh seperti kerak bumi yang rontok terkena air hujan.

Ia merasakan sebuah kemurnian yang aneh mengalir dari pusat dadanya ke seluruh ujung jemarinya. Ini bukan lagi kekuatan "Singa" yang mengaum menantang takdir, bukan pula ketabahan "Unta" yang memikul beban tradisi. Inilah transformasi ketiga yang dijanjikan dalam keheningan batinnya: Menjadi Anak Kecil.

Abimanyu duduk di atas tanah, bukan lagi dengan sikap meditasi seorang pertapa yang kaku, melainkan dengan cara duduk seorang bocah yang sedang asyik dengan dunianya. Ia mengambil sepotong batu kecil, lalu dengan rasa ingin tahu yang murni, ia mengamati serat-seratnya, warnanya, dan teksturnya. Baginya, batu itu bukan lagi objek geologis, bukan pula simbol filosofis tentang beban. Batu itu adalah batu—sebuah keajaiban yang ada di sini, saat ini.

"Anak kecil adalah kepolosan dan pelupa," bisik Abimanyu pada dirinya sendiri. "Sebuah permulaan baru, sebuah permainan, sebuah roda yang berputar dari dirinya sendiri, sebuah gerakan pertama, sebuah kata 'Ya' yang suci."

Ia menyadari bahwa untuk menjadi pencipta nilai yang baru, ia harus memiliki keberanian untuk melupakan. Melupakan rasa sakit dari penghinaan di Universitas, melupakan kebanggaan karena telah sampai di puncak, bahkan melupakan bahwa ia pernah menjadi seorang "Profesor". Seorang anak kecil tidak memiliki masa lalu yang menghantuinya dengan penyesalan, dan ia tidak memiliki masa depan yang membebaninya dengan kecemasan. Bagi seorang anak, hidup adalah sebuah rangkaian "saat ini" yang tak terputus.

Ia mulai bermain dengan kerikil-kerikil di sekitarnya, menyusunnya menjadi menara-menara kecil lalu meruntuhkannya kembali dengan tawa ringan. Tidak ada tujuan di balik tindakannya. Ia tidak sedang membangun monumen untuk dikenang sejarah, ia hanya sedang bermain. Di sinilah letak kedaulatan yang paling menakutkan bagi dunia luar: kemampuan untuk melakukan sesuatu tanpa "mengapa".

Dunia luar, dunia "Manusia Kertas", selalu menuntut alasan. "Mengapa kau mendaki?", "Apa output-nya?", "Berapa indeks keberhasilannya?". Namun, sang Anak Kecil menjawab semua itu dengan sebuah tarian yang tidak butuh pembenaran. Hidup bagi Abimanyu kini telah menjadi sebuah Permainan Suci (Heiliges Ja-sagen).

Ia merasakan beban moralitas "baik dan buruk" telah menguap sepenuhnya. Seorang anak kecil tidak mengenal dosa, yang ia kenal hanyalah apa yang menarik dan apa yang membosankan, apa yang indah dan apa yang kusam. Dengan perspektif ini, Abimanyu melihat seluruh perjalanan hidupnya sebagai sebuah taman bermain yang luas. Penderitaan yang ia alami di Bab-bab sebelumnya kini tampak seperti rintangan-rintangan seru dalam sebuah permainan besar yang ia pilih sendiri untuk ia mainkan.

"Aku telah melepaskan tali yang mengikatku pada kapal kemanusiaan yang lama," pikirnya. "Kini aku adalah samudera itu sendiri, yang pasang dan surut menurut hukumku sendiri."

Kepolosan ini bukanlah kebodohan atau kenaifan. Ini adalah kepolosan yang dicapai setelah melewati pengetahuan yang paling pahit. Ini adalah "Kedugalan yang Kudus". Abimanyu kini mampu melihat dunia dengan mata yang jernih, seolah-olah ia baru saja lahir di puncak gunung ini dalam wujud pria dewasa dengan jiwa bayi.

Ia mulai bersenandung, sebuah nada yang tidak memiliki lirik, sebuah melodi yang mengikuti irama angin sore. Senandungnya tidak bertujuan untuk menghibur siapa pun, bahkan tidak untuk dirinya sendiri. Itu adalah ekspresi dari kepenuhan eksistensi. Ia merasa tidak ada lagi jarak antara kehendaknya dan tindakannya. Ia adalah anak yang sedang memutar rodanya sendiri.

Dalam kondisi ini, "Kehendak untuk Berkuasa" mencapai bentuknya yang paling halus: ia tidak lagi berkuasa atas apa pun karena ia telah menyatu dengan segalanya. Ia tidak lagi butuh mengontrol dirinya sendiri karena tidak ada lagi bagian dari dirinya yang memberontak. Seluruh energinya mengalir dalam harmoni yang spontan.

Matahari semakin merendah, menyentuh garis cakrawala. Bayang-bayang kembali memanjang, namun kali ini Abimanyu melihat bayangannya bukan sebagai beban, melainkan sebagai teman bermain. Ia melambaikan tangan pada bayangannya, dan bayangan itu membalasnya. Ia tertawa kecil, tawa yang jernih, tawa yang tidak mengandung racun sinisme sedikit pun.

"Dunia ini adalah suci," bisiknya, "karena aku telah mengatakan 'Ya' kepadanya."

Transformasi menjadi Anak Kecil adalah kemenangan akhir atas nihilisme. Jika dunia ini tidak memiliki makna yang diberikan dari "sana", maka ia akan memberikan makna itu lewat permainannya. Ia menciptakan dunianya sendiri dengan setiap napasnya. Ia adalah tuhan yang sedang bermain di atas reruntuhan.

Abimanyu berdiri, langkahnya kini ringan dan penuh lompatan kecil yang gembira. Ia berjalan menuju tepi tebing untuk menyambut matahari terbenam. Ia tidak lagi merasa perlu menggenggam dunia atau menaklukkannya. Ia hanya ingin bermain bersamanya.

Bab 28 ditutup dengan sosok Abimanyu yang berdiri di bawah langit yang kini berwarna merah delima dan ungu. Ia tampak begitu kecil di tengah keagungan gunung, namun auranya memancarkan kedamaian yang tak tergoyahkan. Ia telah menyelesaikan perjalanan dari seekor Unta yang patuh, menjadi Singa yang pemberontak, dan akhirnya menjadi Anak Kecil yang menciptakan.

Ia telah siap untuk babak final. Ia telah siap untuk meneriakkan "Ya!" yang paling abadi kepada seluruh alam semesta.

"Permainan ini sangat indah," gumamnya dengan binar mata seorang bocah. "Mari kita lanjutkan sampai keabadian."

1
Amiera Syaqilla
hello author 😄
MUXDHIS: Hallo 😄
total 1 replies
anggita
Abimanyu.... top👍
anggita
dukung like👍, bunga🌹, iklan👆 buat novel ini.
MUXDHIS: Thanks. 😍😍😍🙏
total 1 replies
Aisyah Suyuti
menarik
MUXDHIS: Thanks.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!