Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH YANG MENAGIH JAWABAN
Kabut tipis masih menggantung di atas lembah ketika Liang Chen membuka mata.
Ia tidak benar-benar tidur. Hanya memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya mencuri tenaga dari sisa malam. Luka di bahunya sudah mengering, tapi setiap kali ia menggerakkan lengan kiri, rasa perih menjalar sampai ke tulang belikat.
Ia duduk bersandar pada batang pohon cemara yang akarnya mencuat seperti cakar raksasa. Di bawahnya, jalur tanah mengarah ke barat—menuju wilayah yang dalam beberapa hari terakhir disebut orang-orang sebagai “tanah tak bertuan”.
Tidak ada bendera. Tidak ada lambang perguruan. Hanya kabar tentang orang-orang bersenjata yang mengatur arus barang dan nyawa.
Liang Chen tahu, jika ia terus berjalan ke barat, ia akan bertemu inti dari pusaran yang mulai mengelilinginya sejak ia menemukan kitab itu.
Ia berdiri.
Angin pagi membawa bau tanah basah dan… sesuatu yang lain.
Besi.
Darah.
Langkahnya melambat.
Di tikungan kecil, ia melihat tiga tubuh tergeletak. Pakaian mereka bukan pakaian petani. Potongannya seragam, warnanya kusam—cokelat tua dengan ikat pinggang hitam.
Salah satu dari mereka masih bernapas.
Liang Chen berlutut. Luka di perut lelaki itu terbuka lebar, seperti disobek dari bawah ke atas. Darah menggenang, lengket di tanah.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Liang Chen pelan.
Lelaki itu membuka mata setengah. Bibirnya pucat.
“Topeng… hitam…” bisiknya. “Mereka… mencari kitab…”
Tangan lelaki itu mencengkeram pergelangan Liang Chen.
“Kau… juga…”
Kalimatnya putus. Nafasnya berhenti.
Liang Chen melepaskan tangan itu perlahan.
Topeng hitam.
Berarti bukan kelompok kecil yang kemarin ia hadapi. Ini jaringan lebih besar. Lebih teratur. Dan mereka bergerak cepat.
Ia berdiri, memeriksa dua tubuh lain. Leher digorok bersih. Satu tebasan. Dalam. Tanpa ragu.
Pelaku bukan orang sembarangan.
Liang Chen menatap ke arah barat.
“Mencari kitab,” gumamnya.
Jadi bukan sekadar membungkam saksi. Mereka memburu sumbernya.
Angin berdesir.
Dan dari balik pepohonan, suara langkah terdengar.
Ringan. Serempak.
Liang Chen tidak menoleh.
Ia sudah menghitung.
Empat orang.
Satu di kiri. Dua di kanan. Satu di belakang.
Mereka tidak menutup suara sepenuhnya. Berarti mereka yakin.
“Kalau mau bicara,” ujar Liang Chen tanpa berbalik, “keluarlah. Aku tidak suka disergap saat sedang berdiri di antara mayat.”
Sunyi sepersekian detik.
Lalu empat sosok muncul.
Topeng hitam polos menutup wajah mereka. Pakaian serba gelap, pas di tubuh. Masing-masing memegang pedang pendek dengan bilah sempit—senjata yang cocok untuk jarak dekat dan serangan cepat.
“Serahkan kitab itu,” kata salah satu dari mereka. Suaranya datar, teredam kain.
“Kalau tidak?”
“Kau akan seperti mereka.”
Liang Chen menatap mayat di tanah, lalu kembali ke empat orang di depannya.
“Kalian membunuh mereka karena kitab?” tanyanya.
“Mereka tidak tahu kapan harus diam.”
Liang Chen mengangguk pelan.
“Kalau begitu, kalian juga tidak tahu kapan harus berhenti.”
Ia bergerak.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Ia melangkah maju, seolah hanya ingin melewati mereka.
Dua orang di kanan menyerang lebih dulu.
Bilah tipis berkilat, menyasar perut dan leher.
Liang Chen memutar tubuh setengah lingkaran. Tangan kanannya menepis pergelangan penyerang pertama. Bukan dengan keras—cukup untuk mengubah arah bilah.
Pedang itu meluncur melewati sisinya, hanya merobek kain luar.
Pada saat yang sama, lutut Liang Chen menghantam paha penyerang kedua.
Bunyi retakan kecil terdengar.
Lelaki itu terhuyung.
Liang Chen tidak memberi ruang.
Siku kirinya menghantam pelipis penyerang pertama.
Topeng hitam terlempar. Tubuh itu jatuh miring, darah mengalir dari telinga.
Dua lainnya bergerak serempak.
Satu dari belakang, satu dari kiri.
Serangan dari belakang lebih berbahaya.
Liang Chen menjatuhkan tubuhnya tiba-tiba, berguling ke depan. Bilah pedang mengiris udara tepat di atas punggungnya.
Ia bangkit dalam posisi rendah, lalu menyapu kaki penyerang kiri.
Tanah berdebu terangkat.
Lelaki itu jatuh telentang. Liang Chen menginjak pergelangan tangannya.
Tulangnya patah.
Jeritan teredam keluar dari balik topeng.
Penyerang terakhir tidak ragu. Ia melompat, pedang mengarah lurus ke dada Liang Chen.
Liang Chen tidak mundur.
Ia maju.
Satu langkah.
Tangannya menangkap pergelangan lawan, memutar dengan sudut tajam. Bilah pedang menancap ke bahu si pemiliknya sendiri.
Darah muncrat.
Liang Chen menarik pedang itu keluar dan melemparkannya ke samping.
Kini tinggal satu yang masih bisa berdiri—yang pahanya retak.
Lelaki itu mencoba mundur, tapi Liang Chen sudah di depannya.
“Kalian bergerak cepat,” kata Liang Chen tenang. “Siapa yang memberi perintah?”
Tidak ada jawaban.
Lelaki itu menggigit sesuatu di balik topengnya.
Liang Chen langsung menampar rahangnya.
Terlambat.
Busa putih keluar dari sudut bibir.
Racun.
Tubuh itu roboh dalam hitungan detik.
Liang Chen berdiri di tengah empat tubuh.
Darah mengalir, menyatu dengan tanah lembab.
Ia menarik napas panjang.
Ini bukan peringatan kecil.
Ini perburuan.
Dan mereka siap mati agar tidak berbicara.
Ia berlutut, memeriksa pakaian salah satu dari mereka. Di bagian dalam lengan, ada jahitan kecil berbentuk simbol—seperti lingkaran dengan satu garis vertikal di tengahnya.
Ia mengingat sesuatu.
Simbol serupa pernah ia lihat… di sudut lembar terakhir kitab yang ia temukan.
Bukan gambar utama. Hanya tanda kecil, hampir seperti cap.
Dada Liang Chen terasa berat.
Berarti kitab itu bukan sekadar catatan jurus.
Ia bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sore itu, Liang Chen tiba di sebuah desa kecil di tepi sungai.
Desa itu tampak normal. Asap tipis naik dari dapur-dapur. Anak-anak berlari di halaman. Tidak ada pos penjaga. Tidak ada bendera.
Tapi suasananya terlalu sunyi.
Terlalu tertata.
Seorang lelaki tua duduk di bangku kayu depan warung kecil. Matanya mengamati Liang Chen dari ujung kepala sampai kaki.
“Kau bukan orang sini,” katanya.
“Benar.”
“Kau terluka.”
“Sedikit.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis. “Orang yang terluka biasanya membawa masalah.”
“Masalah biasanya sudah ada sebelum aku datang,” jawab Liang Chen.
Beberapa pemuda berdiri tidak jauh dari sana. Tangan mereka kosong, tapi posturnya terlalu siap untuk sekadar warga desa.
Liang Chen merasakan tekanan tak terlihat.
“Empat orang mencariku pagi tadi,” katanya pelan. “Mereka memakai topeng hitam.”
Ekspresi lelaki tua itu tidak berubah. Tapi salah satu pemuda di belakangnya menegang.
“Kami tidak tahu apa-apa tentang topeng,” jawab si tua.
Liang Chen menatap matanya.
“Kalau begitu, izinkan aku bermalam satu malam saja. Besok aku pergi.”
Sunyi.
Angin menggoyang kain jemuran.
Akhirnya lelaki tua itu mengangguk.
“Di ujung desa ada rumah kosong. Kau bisa pakai.”
Liang Chen membungkuk singkat.
Malam turun cepat.
Ia duduk di dalam rumah kosong itu, punggung bersandar pada dinding kayu. Pedang pendek hasil rampasan tergeletak di sampingnya.
Ia tidak percaya pada ketenangan desa itu.
Terlalu rapi.
Terlalu siap.
Dan benar saja—
Menjelang tengah malam, suara kayu berderit pelan terdengar di luar.
Satu.
Dua.
Bukan empat kali ini.
Lebih banyak.
Liang Chen memejamkan mata sejenak.
“Baiklah,” gumamnya.
Pintu didobrak.
Lima orang masuk serempak, tanpa topeng. Wajah mereka tegas, mata dingin. Di belakang mereka, lelaki tua yang tadi duduk di warung berdiri dengan tangan terlipat.
“Kau membawa bencana,” katanya datar.
Liang Chen berdiri perlahan.
“Atau mungkin kalian yang menyembunyikannya.”
Salah satu penyerang maju lebih dulu, golok besar terangkat tinggi.
Liang Chen menyambutnya dengan langkah menyilang. Pedang pendeknya bergerak rendah, memotong tendon di belakang lutut lawan.
Darah menyembur.
Lelaki itu jatuh sebelum sempat berteriak.
Empat lainnya menyerang bersamaan.
Ruangan sempit.
Kayu pecah.
Bilah beradu.
Liang Chen membiarkan satu tebasan menggores lengannya demi membuka celah. Ia masuk ke jarak dekat—jarak di mana senjata panjang menjadi beban.
Siku menghantam tenggorokan.
Tumit menghancurkan jari kaki.
Pedang pendeknya menembus perut seseorang, lalu ditarik cepat sebelum terjepit tulang.
Darah mengalir di lantai kayu.
Satu orang mencoba kabur ke pintu.
Liang Chen melempar pedang.
Bilah itu menancap di punggungnya.
Kini hanya tersisa lelaki tua.
Ia tidak tampak panik.
“Kau benar-benar membawa kitab itu,” katanya pelan.
Liang Chen tidak menjawab.
“Kau tidak tahu apa yang kau pegang.”
“Mungkin,” jawab Liang Chen. “Tapi aku tahu apa yang kalian lakukan untuk mendapatkannya.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kau sudah memilih.”
Ia tiba-tiba bergerak—lebih cepat dari dugaan.
Dari balik lengan bajunya, dua belati kecil meluncur.
Liang Chen menepis satu, tapi yang lain mengiris pipinya.
Hangat darah mengalir.
Mereka bertukar tiga pukulan dalam jarak satu napas.
Belati melawan tangan kosong.
Liang Chen menangkap pergelangan si tua, memutar dengan kekuatan penuh.
Tulang retak.
Belati jatuh.
Dengan satu dorongan keras, ia menghantamkan tubuh lelaki tua itu ke dinding.
Kayu pecah.
Tubuh itu meluncur turun, meninggalkan jejak merah.
Sunyi kembali memenuhi rumah.
Liang Chen berdiri di tengah bau darah yang pekat.
Ia terengah pelan.
Pertarungan ini bukan lagi kebetulan.
Ini penyaringan.
Mereka menguji.
Dan ia baru saja menjawab dengan cara yang tidak bisa ditarik kembali.
Di luar, beberapa warga mengintip dari balik pintu rumah masing-masing. Tidak ada yang berani mendekat.
Liang Chen mengambil kembali pedangnya, lalu melangkah keluar.
Langit malam gelap tanpa bulan.
Ia menatap desa itu sekali lagi.
“Maaf,” gumamnya—tidak jelas untuk siapa.
Lalu ia berjalan ke barat.
Di belakangnya, darah mengering perlahan.
Di depannya, jalan semakin sempit.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Mei Lin di persimpangan itu, Liang Chen tidak lagi sekadar menghindari pusaran.
Ia berjalan lurus ke jantungnya.