Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sok Berkuasa
"Gara, lo memang sahabat gue dan Suci. Posisi lo juga pemegang saham. Tapi, tolong ikutin standar kurikulum di AIC.
Kayak yang udah gue bilang, lo ikutin dulu jadwal yang udah Suci bikin. Nanti setelah sebulan kita evaluasi.
Kalau memang diperluin home visit, gue janji bakal gue fasilitasin. Kalau perlu, Diti gue anterin ke rumah lo," papar Baskara.
Mendengar perkataan Baskara, Sagara bersedekap dan mengangkat dagunya. "Sebulan kelamaan Bas. Lo bayangin baru sehari terapi aja, Kavi senyum tipis, noleh sama Suci, bisa mencet sedikit, bisa megang pisang walopun ditopang.
Itu karena Diti yang kayak kuncian Kavi. Kalau itu lo undur sebulan, sayang banget Bas, potensi yang bisa Kavi capai, kelewat.
Terus soal lo mau anterin Diti, nggak perlu. Gue sendiri yang bakal anter jemput dia."
Baskara menegakkan tubuhnya. "Heh, lo pikir Diti karyawan pribadi lo? Kerjaan dia sama lo doang? Dia juga ada tanggung jawab di sini.
Kalau lo anter jemput dia, gue curiga lo bakal bikin dia dari pagi sampe sore. Iya kan?"
Sagara tersenyum sinis. Suci menutup wajah dengan tangan kanannya. Kepalanya pening dengan perdebatan kedua sahabatnya.
"Ci, apa pendapat lo?" tanya Sagara.
Suci terkesiap. "Gara, Baskara pimpinan di sini. Gue ikut apa kata dia." Baskara tersenyum miring pada Sagara setelah Suci selesai bicara.
"Oh, gitu cara maen lo semua. Gue pikir lo juga bisa berpikir sebagai om dan tante Kavi. Bukan cuma pake teori ribet kalian," seru Sagara.
"Jaga omongan lo, Gara," tegur Baskara. Suci memejamkan mata.
"Ya, kalian emang ribet. Kalian bilang anak gue beda, complex case. Ya, harusnya kalian perlakuin beda sama standar terapi kalian dong!" Dagu Sagara semakin terangkat saat bicara.
"Kalian bener-bener lupa sama janji kalian buat lakuin yang terbaik buat Kavi. Apa gue salah ambil keputusan serahin Kavi ke tangan kalian?"
"Udah cukup, Gara. OK, kita liat minggu ini. Kita evaluasi seminggu ini. Gimana Bas?
Gue pikir ada benernya juga Gara. Kita ambil jalan tengah ya?" Suci bertanya dengan hati-hati pada Baskara.
Baskara membuang wajahnya. Rahangnya masih mengetat. Suci menatapnya, "Bas..."
Baskara menoleh pada Suci. Ia menghela napas. "Atur home visitnya di luar hari terapi. Batasin waktunya, 2 jam. Cukup 2 kali seminggu. Nggak ada pakai waktu weekend."
Suci mengangguk. Sagara tersenyum. Ia senang akhirnya Baskara menyetujui keinginannya. Ada banyak batasan. Tak mengapa, itu bisa diatur di tengah jalan.
Ada banyak cara untuk menyiasati batasan Baskara, pikir Sagara. Yang penting izin sudah keluar.
Baskara berdiri dan berjalan menuju pintu. Suci memanggilnya. "Bas, mau ke mana?"
Baskara menghentikan langkahnya yang baru tiba di muka pintu. "Mau ke ruangan Dara. Ada yang mau gue omongin."
"Kenapa nggak lo panggil ke sini kayak biasanya?" tanya Suci.
"Gue lagi nggak nyaman di ruangan gue sendiri." Baskara kembali melanjutkan langkahnya. Sagara tersenyum sinis.
"Gara, lo berbuat kayak gini, niat lo bener-bener karena Kavi kan?" Suci menatap tajam Sagara.
"Maksud lo apa, Ci? Ya karena Kavi lah. Apa pun bakal gue perbuat demi Kavi." Sagara bersedekap.
"Ya, gue tau motivasi lo demi Kavi. Tapi yang gue pertanyain, ada motivasi laen ikut numpang nggak?" Suci memiringkan bibirnya.
Sagara mengerutkan alis. "Menurut Ibu Suci, yang ahli psikologi, adakah saya memiliki motivasi lain?" Sagara mengangkat alisnya sambil mencebikkan bibir.
Suci menggelengkan kepala. "Ngeliat lo kayak orang aneh gini, yakin gue lo ada motif laen."
"Mending abisin energi lo buat bantuin gue, supaya Kavi makin progresif, lewat Diti. Motif laen? Lo pilih deh, abstrak apa kotak-kotak, hahaha..."
Suci bangkit dari duduknya. "Kacau lo Gara. Sana balik, enak aja lo jajah ruangan si Baskara."
"Duh, yang belain Baskara, cieee, hahaha..." Tawa Sagara kembali berderai.
Suci memutar matanya mendengar candaan Sagara. Ia tinggalkan Sagara seorang diri di ruangan Baskara.
Sagara mengambil tablet dari tas kecil yang ia bawa. Ia membuka surat elektronik dan membalas surat yang memerlukan balasan dan tindakan lebih lanjut.
Setelah menyelesaikan urusan surat elektronik. Ia membaca laporan harian dari anak buahnya. Tabel, grafik dan angka berderet, ia pindai cepat.
Sagara menandai hal-hal yang menurutnya perlu dikritisi. Ia mengirim ulasannya itu pada anak buahnya.
Satu jam berlalu. Baskara masuk kembali ke dalam ruangan kebesarannya. Ia terkejut mendapati Sagara masih ada di sofa ruangannya.
"Kok lo masih ada di sini?" Baskara mengerutkan dahinya.
"Numpang gawe Bas. Males jalan ke kantor gue, macet." Sagara menjawab sambil tetap melihat layar tabletnya.
Baskara mencebikkan bibir. Ia duduk di kursi kerjanya. Ia mundurkan kursi beroda itu sedikit, lalu ia miringkan.
"Dulu kalau lo numpang gawe, gue kasih izin. Sekarang, gue males."
"Napa lo sensi banget? Kebanyakan maen ama cewek kali lo, jadi sensi gini." Sagara menoleh sejenak, tersenyum sinis kemudian kembali melihat layar.
"Penyakit lo yang suka maksa dan sok kuasa kambuh. Mending jauh-jauh deh lo." Baskara menatap tajam Sagara.
"Hahaha... Maksud lo gue sok kuasa sama tempat lo? Gue minta jatah 30% ruangan ini deh." Sagara tetap menatap layar.
Baskara menggelengkan kepala. Ia memilih larut dalam pekerjaan daripada dalam emosi pada makhluk bernama Sagara.
Pintu diketuk kemudian terbuka. Aditi masuk. Ia kaget melihat Sagara masih berada di ruangan Baskara. Konsultasi Sagara dengan para atasannya itu tak mungkin selama ini.
Sagara dan Baskara sama-sama menoleh. Aditi melangkah pelan. Ia ingin ke sofa tapi Sagara duduk di tengah-tengah sofa itu. Tak ada ruang baginya.
Aditi terdiam di samping sofa. "Udah selesai observasinya, Diti?" tanya Baskara.
"Udah Mas, seru." Aditi tersenyum kecil. Ia melirik ke arah sofa. Si somse kebiasaan banget nguasain sofa.
Sagara yang sedari Aditi datang terus memperhatikan terapis eksklusifnya itu, tersenyum. Ia menggeser duduknya, memberikan tempat bagi Aditi. "Sini Diti."
"Eh, Diti kamu bawa buku apa? Aku mau liat." Baskara menyela perkataan Sagara.
"Oh, ini Mas. Kesukaannya Kak Suci, nyiksa aku pake resume, hehehe..." Aditi berjalan ke arah Baskara. Ia perlihatkan buku yang sedari tadi ia peluk.
"Sini duduk, Diti. Coba aku liat." Aditi akhirnya duduk di bangku depan meja kerja Baskara.
Baskara mengulum senyum sambil melihat buku yang dibawa Aditi. Sagara menatap Baskara sambil merapatkan bibir. Tatapannya tajam.
"Oh, ini teori dasar terapi perilaku. Buat kapan kata Suci?" Baskara kembali menyerahkan buku itu pada Suci.
"Lusa. Mantap kan Mas, hehehe..." Baskara tersenyum. Sagara memperhatikan interaksi kedua orang di depannya dengan tatapan menusuk.
"Cukup waktunya? Perlu aku bilang sama Suci biar jangan terlalu strict sama kamu?" tanya Baskara.
Sagara menggeleng mendengar pertanyaan Baskara. Dasar tukang memanfaatkan jabatan, pikir Sagara.
"Aku coba dulu aja ya Mas. Nanti kalopun aku nggak bisa, aku ngomong sendiri aja. Malah nggak enak kalo Mas Bas yang ngomong."
Aditi tersenyum pada Baskara kemudian menunduk. Baskara balas tersenyum sambil terus menatap Aditi. Sagara makin merapatkan bibirnya.
"Sekarang mau ngapain?" tanya Baskara lagi.
"Aku mau nyicil ngerjain resumenya ya, Mas. Nanti ada mentoring abis maksi ama Kak Renata," jawab Aditi.
"Ya udah kerjain. Di sini aja ngerjainnya. Jadi kalau mau nanya aku, gampang. Pake apa ngerjainnya? Mau pake laptop aku?" tawar Baskara.
"Nggak usah Mas. Pake hape aku aja. Kemaren juga gitu." Aditi meletakkan buku dari Suci di meja dan mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Baskara mengangguk. Ia menatap Aditi sambil tersenyum. Ia kemudian kembali menatap layar komputernya.
Sagara menghampiri Aditi. Ia sorongkan tabletnya di atas ponsel Aditi. Mendistraksi Aditi mengerjakan tugasnya.
Aditi menoleh sambil mengerutkan alis. Sagara tersenyum. "Kalau kerja, minimal pake alat yang bikin nyaman, Diti.
Ponsel kamu kurang nyaman buat mata sama jari. Pake aja dulu tablet aku. Nanti hasil kerjaan kamu tinggal di-email."
Hadeuh, niatnya sih baik si somse. Tapi gue males ah. Males pake barang dia. Salah-salah, rusak. Urusan panjang jadinya.
Aditi menggeleng. "Terima kasih, Pak. Saya udah biasa kok kerja pake hape saya ini." Aditi tersenyum kecil.
Baskara menoleh. Ia menahan tawa mendengar ucapan Aditi. Ia tahu penolakan Aditi pasti melukai ego Sagara yang tinggi itu.
Sagara bergeming, tetap mengangsurkan benda berbentuk kotak itu. "Mulai sekarang biasain pake yang bikin nyaman."
Aditi menghela napas. "Bapak, saya kalo ngerjain di rumah juga pake notebook kok. Ya kalo lagi mobile gini, pake hape aja.
Mata saya aman kok, masih bisa buat melototin Bapak. Nih." Aditi mendelikkan matanya pada Sagara.
Hahaha, bawel sih lo, somse!
Baskara terkekeh. Sagara mengulum senyum. Ia tarik tabletnya. "OK. Kalau nggak nyaman, bilang ya."
Aditi menggelengkan kepala. Ia tak menjawab Sagara. Ia memilih memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin, demi tugas dari Miss Jutek.
Sagara terus berdiri di samping Aditi. Memperhatikan sang terapis mengerjakan tugasnya.
Baskara memiringkan bibirnya sambil menatap malas perilaku Sagara. "Duduk Gar, lo malah bikin si Diti nggak fokus," tegur Baskara.
Sagara menipiskan bibirnya. Ia kembali duduk di sofa. Ia pun akhirnya tenggelam dalam pekerjaannya.
Mendekati jam istirahat, Aditi masih tampak serius mengerjakan resumenya.
"Diti, nanti kita maksi bareng ya," ujar Baskara.
"Gue ikut," sahut Sagara.
"Lo ikut-ikutan aja, Gar. Balik ke kantor lo sana," cetus Baskara. Aditi cukup terkejut mendengar ucapan Baskara yang tak seperti biasanya.
Ih, Mas Bas kenapa jadi jutek ama si somse?
"Nanggung Bas. Udah kadung males gue jalan jam segini." Sagara memasukkan tabletnya ke dalam tas. "Yuk, kita jalan."
"Yuk, Diti," ajak Baskara. Aditi menggigit bibirnya.
"Saya makan ama temen-temen aja, Mas. Takut telat ah kalau maksi di luar ama Mas Bas. Nggak enak Mas ama yang lain."
"Kita makan yang deket-deket aja, jadi kamu juga nggak kan telat," ujar Baskara.
Aduh, nggak yakin gue. Bisa disemprot lagi gue ama si Miss Jutek.
"Yuk, Diti. Kalau kita nggak jalan sekarang malah bisa bikin telat." Kali ini giliran Sagara yang berbicara. Aditi mengernyitkan alisnya.
"Mas Bas, aku ikut maksi di luar kalo Kak Suci ikut juga."
"Ngapain Diti? Aku maunya maksinya sama kamu aja," tukas Baskara.
"Ada gue juga, jangan lupa, Bas." Sagara tersenyum lebar. Baskara melirik dengan malas.
"Kalo Kak Suci nggak diajak, maaf aku nggak ikut ya Mas Bas."
Kalo si Miss Jutek ikut, nggak akan berani dia marah nggak jelas ama gue, huhuhu...