Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Disuruh Datang Pagi
Aku datang lebih pagi dari biasanya. Jam di ponsel belum menunjukkan enam. Langit masih abu-abu, gerbang sekolah baru dibuka setengah, dan halaman kelihatan kosong, kayak habis ditinggal semua orang tanpa pamit. Satpam cuma angguk waktu aku lewat. Nggak nanya, nggak nyapa lama. Aku juga nggak punya energi buat basa-basi. Bu Santi sudah ada di ruang guru. Tasnya terbuka, kertas-kertas berserakan di meja. Wajahnya kelihatan capek, tapi rapi. Seperti biasa. “Naya, kamu bisa ya datang pagi,” katanya kemarin lewat chat. Singkat. Tanpa emot, tanpa penjelasan. Aku jawab : Iya, Bu.
Itu aja. Sekarang aku berdiri di depan pintu, ngetuk pelan. “Masuk.” Aku masuk dan langsung nyamperin meja. “Ada yang bisa aku bantu, Bu?” Bu Santi ngelihat aku sebentar, lalu ngelirik tumpukan map. “Ini rapor. Harus dicek satu-satu. Nama, nilai, tanda tangan. Takut ada yang keliru.” Aku duduk tanpa disuruh. Ambil satu map. Buka. Nama pertama. Cocok. Nilai cocok. Tanda tangan wali kelas ada. Aku lanjut ke map kedua.
Suasana sepi. Cuma ada suara kertas digeser dan kipas angin tua yang bunyinya kayak orang ngos-ngosan. Aku sadar, aku selalu ada di situasi kayak gini. Datang pagi. Pulang terakhir. Ngerjain hal-hal yang orang lain nggak mau, atau nggak sempat, atau pura-pura lupa. Dan anehnya, aku jarang ngerasa ini beban. Sampai beberapa bulan terakhir. “Anak-anak lain belum datang ya?” tanya Bu Santi.
“Belum, Bu,” jawabku. “Biasanya juga datang mepet.” Bu Santi mengangguk. Nggak komentar. Aku lanjut ngecek rapor. Di map keempat, aku nemu satu nilai yang kayaknya salah ketik. Aku tandai pakai sticky note kecil.
“Bu, ini kayaknya keliru,” kataku sambil nyodorin. Bu Santi mendekat, baca, lalu menghela napas. “Iya, nanti aku benerin. Makasih ya.” Aku angguk. Waktu jalan pelan. Jam setengah tujuh. Setengah delapan. Anak-anak mulai berdatangan satu-satu. Ada yang lewat depan ruang guru sambil ketawa. Ada yang langsung ke kelas. Ada yang cuma nengok sebentar, terus jalan lagi.
Nggak ada yang masuk. Nggak ada yang nanya, “Butuh bantuan?” Aku nggak kaget. Rara datang sekitar jam delapan kurang. Rambutnya rapi, tasnya bagus, sepatunya bersih. Dia nengok ke dalam ruang guru. “Oh, Naya udah di sini?” katanya. “Iya,” jawabku. Pendek. Rara ngangguk, terus ke Bu Santi. “Bu, ini tanda tangan yang kemarin.”
Bu Santi terima. “Oh ya, makasih, Rara.” Aku balik ke map. Pura-pura fokus. Padahal aku denger semuanya. Rara nggak duduk. Nggak bantu. Setelah itu dia pergi lagi. Jam delapan lebih, rapor hampir selesai dicek. Tanganku pegal. Punggungku kerasa berat. “Ada lagi yang bisa kamu bantu?” tanya Bu Santi. Aku mikir sebentar. “Nggak, Bu. Kayaknya sudah beres.”
“Ya sudah. Makasih banyak ya, Naya. Kamu memang bisa diandalkan.” Kalimat itu harusnya bikin aku senang. Tapi entah kenapa, rasanya datar.
Aku senyum sopan. “Iya, Bu.” Aku keluar ruang guru. Lorong sudah rame. Anak-anak mondar-mandir. Suara bercampur. Ketawa, teriak, manggil. Aku jalan ke kelas. Di dalam, Tara sudah duduk. Dia ngelirik aku. “Dari pagi?” tanyanya pelan. Aku angguk. “Disuruh Bu Santi.” Tara cemberut sedikit. “Kok kamu terus sih.”
Aku nyengir tipis. “Nggak apa-apa.” Padahal, ada sesuatu di dadaku yang nggak enak. Aku duduk. Ngeluarin buku. Tapi nggak langsung buka. Aku bengong. Aku mikir, kenapa setiap ada yang butuh, namaku selalu muncul. Tapi setiap ada yang dapat pujian, namaku sering nggak ada. Aku bukan pengen dipuji. Bukan. Aku cuma pengen dianggap ada.
Pelajaran dimulai. Aku nyatet. Tapi pikiranku kemana-mana. Waktu istirahat, anak-anak ribut soal rapor. Bandingin nilai. Ketawa. Ada yang bangga, ada yang ngeluh. Rara duduk di depan. Beberapa orang nyamperin dia. “Nilai kamu tinggi banget, Ra.”
“Iya dong.”
“Kamu rajin sih.” Aku dengar dari belakang. Nggak ikut nimbrung. Tara ngelihat aku. “Kamu nggak ikut?” Aku geleng. “Nanti aja.” Sebenarnya aku pengen bilang: aku juga rajin. Tapi kalimat itu nggak pernah keluar dengan enak.
Siang harinya, pembagian rapor dimulai. Orang tua datang. Aula rame. Aku bantu ngatur kursi. Ngasih map. Nunjuk arah. Bu Santi manggil namaku beberapa kali. Selalu buat hal-hal kecil tapi penting. “Naya, tolong ambilin spidol.”
“Naya, ini mapnya kurang satu.”
“Naya, tolong arahkan orang tua ke barisan sana.” Aku lakukan semua tanpa protes. Di satu titik, aku capek. Bukan fisik doang. Tapi capek ngerasa sendirian di keramaian. Aku berdiri di samping aula. Ngeliat Rara ngobrol sama orang tua murid lain. Ketawa. Kayak pusat perhatian. Aku nggak iri. Aku cuma bingung. Kenapa posisiku selalu di pinggir?
Acara selesai sore. Aula kosong pelan-pelan. Kursi masih berantakan. “Yang lain pulang duluan ya,” kata seseorang. Aku nggak tahu siapa. Aku dan Tara masih di situ. Beresin kursi. “Kamu pulang bareng aku?” tanya Tara.
“Nanti,” kataku. “Aku masih mau bantu dikit.”
Tara ragu. “Yaudah. Jangan lama-lama.” Dia pergi. Aku lanjut beresin. Keringat lengket di punggung. Rambutku berantakan. Bu Santi lewat. “Naya, kamu belum pulang?”
“Belum, Bu.”
“Ya ampun, kamu capek nggak?”
Aku ketawa kecil. “Capek dikit.” Bu Santi senyum. “Hati-hati di jalan ya.” Aku ngangguk. Akhirnya aku keluar sekolah pas langit sudah mulai oranye. Gerbang hampir ditutup. Aku jalan pelan. Kakiku pegal. Kepalaku penuh.
Hari itu nggak ada bentakan. Nggak ada konflik. Nggak ada drama besar. Tapi ada satu rasa yang nggak enak dan susah dijelasin. Rasa kayak… aku ada, tapi nggak pernah benar-benar dilihat.
Aku sampai rumah. Naruh tas. Duduk di kasur tanpa ganti baju. Ponselku bunyi. Grup rame. Obrolan ngalor-ngidul. Aku baca sebentar, lalu matiin layar. Hari ini aku capek. Bukan karena kerjaan. Tapi karena ngerasa sendirian di tengah banyak orang. Besok mungkin biasa aja lagi. Atau mungkin, nggak.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭