NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketahuan

Hari keempat belas, pukul 03.00 dini hari.

Dewa terbangun dari mimpi buruknya duduk di atas kasur dengan ponsel di tangan dan kepala pusing mau meledak kena jarum. Nama laki laki itu, Pak Dekan, Cincin yang tidak diakui. Dan yang paling menjengkelkan Ibu dosen sangat berbeda saat berdua dengan Arif, lebih banyak tersenyum, dan gerakannya luwes.

Ia ingin berteriak tapi udah larut malam , nanti tetangga pada bangun, mengira ia bernyanyi dendang sahur karena suaranya mirip tabuh masjid , " Siti Siti Fatimah Ya Allah, zamzam di baitullah "

" Bangke, " teriaknya Ingin menghantam hapenya ke dinding gara gara cincin salah alamat, perasaan yang tidak berhak,

Tapi ia tidak bisa, tidak berani dan itu tidak mungkin.

Dewa mengamuk sendiri, di tempat yang tak bersuara, didalam pikiran kalut

"Gue siapa Bu Dian ?" pikirnya keras. "Anak kaya yang kabur? Mahasiswa miskin? Asisten pribadi? Pembohong? Siapa?"

Tidak ada jawaban hanya kebingungan, perasaan yang salah arah, salah waktu dan salah orang.

Pukul 5.30

Dewa berjalan didalam kamar berukuran 2x3 meter hilir mudik - Roby sudah melarikan diri tidur dirumah temannya, sepuluh langkah ke sana, sepuluh langkah ke sini, bolak balik kaya' setrikaan.

Ponsel di tangannya, ia ingin me WA, tapi tidak punya nomor kontak Ibu Dian— bagaimana caranya menyampaikan? Ia akhirnya membuka laptopnya e-mail resmi kantor @dian-sari88@gmail.com biasa ia berikan kepada mahasiswa

Subjek: Izin tidak masuk

Kepada Yth. DR Dian Wulandari, MSi

Prodi Ekonomi Bisnis Fakultas Ekonomi

Dengan hormat,

Saya Raka Pratama, mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Bisnis dengan ini meminta izin kepada Ibu untuk tidak dapat menjemput dan hadir di mata kuliah yang ibu ampu karena saya sakit

Terima kasih atas izin dan perhatiannya

Hormat saya,

Raka Pratama

0812xxx90xxx

"Waduh ini terlalu formal," bisiknya kaku. Ia lalu menghapus mengetik baru: "Bu, maaf, saya sakit tak bisa jam menjemput ibu pukul 6."

Dihapus.

Ketik lagi: "Bu, saya demam. Batuk. Flu, Ingusan, nanti ibu tertular"

Dihapus.

Ketik lagi: "Bu, saya—cinta"

Setan !

Ia tidak tahu harus melanjutkan apa, tidak sakit, tidak demam hanya takut melihat kenyataan yang ada, perempuan itu memilih Arif, dosen gagah berwibawa, takut dia memilih pak Dekan unyu, takut... takut pada dirinya sendiri hanya seorang mahasiswa kucel, berjuang untuk hidup melawan takdir.

Akhirnya merombak semua menulis "Bu, maaf, saya sakit

Singkat, palsu, tapi terkirim.

Sesaat ia melihat laptop menunggu balasan satu menit, dua menit, Lima menit. Ups, ia teringat sesaat kenapa ia cantumkan nomor WA ? Dewa tampak panik, nomor itu secret

Namun balasan masuk dengan cepat: "Baik. Cepat sembuh."

Singkat, profesional, tidak ada pertanyaan lebih "perlu obat?" atau "Saya antar ke rumah sakit?"

Ia merasa—merasa—kecewa padahal dia berbohong, pura-pura dan ...melempar ponsel ke kasur kali ini dengan suara kecil tertahan seperti kaset kusut, " Balikin cincin gue."

--

Pukul 06.00

Dewa berdiri di depan cermin menatap bayangannya sendiri wajah babak belur dari kerja. Mata merah karena begadang. Tubuh yang—ia akui—meriang dengan wanita berumur hampir paruh baya seperti Ibunya sendiri

"Gila," gumamnya. "Gue gila."

Tapi ia tak bisa berhenti melupakan dan tidak bisa... tak bisa apa?

Ia memutuskan untuk lari dari pikiran, dari perasaan kebingungan.

Dan cara terbaiknya harus bekerja keras sampai ada ruang untuk berpikir. Banyak pekerjaan yang bisa ia lakukan, menjual bubur ayam, menjadi model mahasiswa Seni, atau buruh di pasar; tujuh hari setelah kegagalan pertama ayam kabur, dan musibah cincin kampret.

Tapi sekarang—sekarang—ia tidak peduli, malu lebih baik daripada bingung sendiri, lelah sendiri lebih baik daripada sakit hati.

 

Pukul 06.00, Pasar Inpres

Dewa memasak mengaduk menjual dengan sibuk di pasar seputaran depok, walau baru sedikit yang membeli, walau sibuk dengan dirinya sendiri, namun aktifitas adalah salah satu obat untuk tidak menjadi gila.

Ia mematikan ponsel, melupakan orang orang yang merusak hatinya, dan fokus kepada bubur ayam, hanya ayam, bukan perempuan cantik paruh baya memakai blazer hitam, bibir tipis, bukan laki laki botak tukang atur dan merasa gadis itu miliknya dan bukan pula dosen ganteng lebih mirip buku kimia campuran bom atom

Fokus nya Rp5.000 per mangkuk, untung Rp500. hidup sederhana lebih jujur tanpa cincin salah alamat.

Tapi kemudian—kemudian—suara familiar itu datang

"Dewa?"

Laki laki itu membeku, tangannya berhenti mengaduk, kepalanya enggan menoleh serasa mendengar panggilan malaikat maut

"Dewa"

Ia mengernyit, tidak mungkin perempuan itu di sini, di pasar memakai blazer hitam dan sepatu hak tinggi sumbang di antara gerobak dan kucing liar

" Dewa izinkan saya sebentar."

Ia akhir memberanikan diri menoleh setelah membaca doa mau makan dan berbuka puasa, doa yang salah makna tapi sedikit manjur

Dian berdiri di depan gerobaknya dengan tas kerja mata yang—ia yakin—memerah karena marah.

"Anda... Anda sakit?" tanyanya rendah berbahaya

" Ibu Dian?"

"Saya melihat anda mengaduk bubur wajah berseri tidak pucat, sepertinya anda tidak sakit."

Laki laki itu tercekat ketahuan, pura-pura sakit ketahuan, kabur jualan bubur ayam ketahuan, ternyata ngamuk semalaman tak berarti apa-apa setelah perempuan ini datang

"Bu... saya bisa jelaskan—"

"Tidak perlu." Ia berbalik cepat, blazer hitamnya berkibar seperti wonder woman. "Saya mengerti Anda tidak mau karena ini semua tanpa bayaran."

Dewa mengejar meninggalkan gerobak ayam bubur yang belum laku, orang orang yang menatap dengan heran, seakan berkata, " Laki laki penjual bubur ayam salah harga membuat ibu sosialita marah

"Bu! Tunggu!"

Dian berjalan cepat di jalan pasar Depok di antara pedagang, becak, dan kucing liar. Sepatu hak tingginya tersangkut di lubang hampir jatuh.

Laki laki itu menangkap tanganya di lengan hangat nyata seperti Pilem India

"Bu, Mohon maaf saya lakukan ini semua karena saya harus berjualan."

Dian menatapnya marah, kecewa, tapi sedikit lega?

"Jualan ? mengapa kamu tidak bilang? "

Dewa tak bisa berkata soal cincin, Arif, dosen konyol dan semua masalah yang membuatnya lompat jurang

"Saya takut Bu, Ibu marah, dan mungkin posisi saya bisa di gantikan oleh Pak Arif."

Dian membeku, " saya memilih kamu sebagai asisten bukan pak Arif " ucapnya lirih. "Saya... saya hanya ingin tahu siapa...."

"Siapa apa, Bu?"

Dia mundur membuang muka tidak menjawab, sementara laki laki terdiam —dengan semua masalah membuat hatinya sakit, ia tahu tapi berpura pura," Saya tidak mau ikut campur dengan urusan ibu, mungkin besok saya mundur dari asisten."

" Apa? Kamu melanggar kontrak" jawabnya menggeleng tidak mengerti wajah kusut semalaman bergelut dengan amuk menunggu kata kata maaf yang tidak keluar.

"Saya pikir ini pekerjaan suka rela," Dewa pura pura menahan gengsi, padahal hatinya remuk redam seandai nya ini benar terjadi.

Perempuan cantik berwajah sendu itu hanya bisa diam, apakah seorang dosen Killer boleh memeluk mahasiswa untuk menenangkan? Tapi apa kata dunia "Jam enam besok jemput saya."

Dewa mengangguk seperti robot kena hipnotis tidak berhak tapi... mau.

Dia pergi dengan sepatu hak tinggi yang kembali tersangkut dan berkata lantang," Semua biaya jualan bubur saudara hari ini akan saya ganti."

Dewa memandang langkah kaki semakin menjauh tanpa bisa membalas. Namun ada suatu yang membuatnya terperanjat pucat pasi dan tubuh kaku melihat Ibu Dian dari kejauhan naik mobil sedan city car HONDA menyetir sendiri.

 

Roby datang siang itu melihat gerobak, tertawa terbahak-bahak.

"Bro, lo dikejar ibu Dian? Di pasar? Pakai sepatu hak tinggi?"

Dewa tidak menjawab hanya tersenyum bodoh, senyum yang—Roby yakini— senyuman orang kena pelet.

Tapi Dewa tak peduli, sudah mengamuk semalaman menahan perasaan dan gak enaknya ketahuan.

Dan sekarang—sekarang—ia ingin jin ifrit merubah waktu menjadi pukul enam pagi

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!