NovelToon NovelToon
MAHKOTA YANG TERPASUNG

MAHKOTA YANG TERPASUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Khaassyakira

Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.

​Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.

​Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".

​"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"

​Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PASRAH

​Bau obat-obatan yang tajam menusuk indra penciuman Asiyah saat ia terduduk di selasar rumah sakit pesantren. Ruangan itu sunyi, hanya menyisakan bunyi detak jam dinding yang seolah menghitung mundur setiap helaan napas Kiai Hilman di dalam sana. Ayahnya baru saja melewati masa kritis setelah serangan jantung yang mendadak, namun kondisinya masih sangat lemah. Asiyah menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. Seluruh kecerdasan dan logika yang ia banggakan selama ini mendadak terasa lumpuh di hadapan kuasa Allah yang sedang menunjukkan kelemahan manusiawi seorang hamba.

​Zafran datang membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti, lalu duduk di kursi sebelah Asiyah dengan jarak yang tetap sopan. Ia tidak mengatakan apa pun selama beberapa menit, membiarkan istrinya mengelola badai di dalam dadanya sendiri.

​"Minumlah sedikit, Asiyah. Kau belum menelan apa pun sejak sore tadi," ujar Zafran sembari menyodorkan air mineral itu.

​Asiyah menerima botol itu namun tidak membukanya. "Ustadz, apakah ini yang namanya keadilan? Di saat saya baru saja merasa bisa berdiri tegak menghadapi fitnah, Allah justru menjatuhkan sandaran utama saya."

​Zafran menatap langit-langit selasar yang berwarna putih pucat. "Keadilan Allah tidak selalu bisa dibaca dengan nalar matematika kita. Terkadang, Dia mematahkan sandaran duniawi kita agar kita belajar untuk benar-benar bersandar hanya pada-Nya."

​"Tapi Abah adalah segalanya bagi saya. Dia yang memaksa saya menghafal, dia yang menjodohkan saya dengan Anda, dan dia juga yang paling bahagia saat saya lulus," sahut Asiyah dengan suara serak.

​"Justru karena itulah kau harus kuat. Jika Abah melihatmu hancur seperti ini, bebannya akan semakin berat. Beliau butuh melihat bahwa putri yang ia titipkan padaku adalah wanita yang tegar," balas Zafran dengan nada yang sangat tenang namun menguatkan.

​Tiba-tiba, seorang perawat keluar dari ruang perawatan dan memberi isyarat bahwa pihak keluarga diperbolehkan masuk. Asiyah dan Zafran segera bangkit. Di dalam ruangan, Kiai Hilman tampak terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. Matanya perlahan terbuka saat merasakan kehadiran Asiyah di samping ranjangnya.

​"Asiyah," panggil Kiai Hilman dengan suara yang hampir berupa bisikan.

​Asiyah menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Iya, Bah. Asiyah di sini. Abah harus kuat, kita akan segera pulang ke pondok."

​Kiai Hilman tersenyum tipis, lalu matanya beralih ke arah Zafran yang berdiri di sisi lain ranjang. "Zafran, kemarilah."

​Zafran mendekat dan mencium tangan kiai senior itu dengan takzim. "Saya di sini, Kiai."

​"Aku sudah tidak punya banyak waktu untuk mengurus dunia ini, Zafran. Jagalah Asiyah. Jagalah Ar-Rahma. Aku rida jika kalian segera meresmikan hubungan kalian sepenuhnya dan fokus pada masa depan pesantren," ucap Kiai Hilman terbata-bata.

​Asiyah merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tahu apa maksud kata-kata ayahnya. Selama ini, meski sudah sah secara hukum dan agama, hubungan mereka masih terasa seperti guru dan murid yang tinggal satu atap. Ayahnya kini meminta lebih; sebuah komitmen total sebagai istri seutuhnya.

​"Abah jangan bicara begitu. Abah akan sembuh dan melihat saya berangkat ke Mesir," potong Asiyah dengan air mata yang mulai mengalir.

​Kiai Hilman menggeleng pelan. "Mesir bisa menunggu, Nduk. Tapi tanggung jawabmu pada suamimu adalah kunci rida Allah untukku sekarang. Bolehkah Abah meminta satu janji darimu malam ini?"

​Asiyah menatap mata ayahnya yang penuh harap. Ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin membantah di saat seperti ini. "Apa janjinya, Bah?"

​"Jadilah istri yang sesungguhnya bagi Zafran. Jangan lagi ada dinding di antara kalian. Izinkan Abah pergi dengan tenang karena tahu putri Abah sudah menemukan rumah yang sebenarnya," pinta Kiai Hilman.

​Hening yang panjang menyelimuti ruangan itu. Asiyah melirik Zafran. Lelaki itu hanya menunduk, tidak ingin memberikan tekanan apa pun pada istrinya. Namun, Asiyah tahu bahwa diamnya Zafran adalah bentuk penyerahan total pada keputusannya.

​"Iya, Bah. Asiyah janji. Asiyah akan menuruti semua keinginan Abah," ucap Asiyah akhirnya. Kalimat itu terasa sangat berat, seolah ia sedang membacakan ayat yang menghapus semua hak pribadinya.

​Kiai Hilman tampak lebih tenang setelah mendengar jawaban itu. Beliau perlahan memejamkan mata untuk beristirahat kembali. Zafran kemudian mengajak Asiyah keluar ruangan agar ayahnya bisa tidur dengan tenang. Di luar, suasana malam terasa lebih dingin dari sebelumnya.

​"Kau tidak perlu memaksakan diri karena janji itu, Asiyah. Aku tidak ingin kau menyerahkan dirimu hanya karena rasa kasihan pada ayahmu," ujar Zafran saat mereka kembali ke selasar.

​Asiyah menatap Zafran dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apakah Anda pikir saya serendah itu? Saya menghafal Al-Qur'an untuk memahami makna janji dan komitmen. Jika saya sudah berucap di depan orang tua yang sedang sekarat, maka itulah keputusan saya."

​"Tapi hati tidak bisa dipaksa, Asiyah. Aku sudah bilang, aku bisa menunggu," balas Zafran.

​"Menunggu sampai kapan? Sampai saya kehilangan semua orang yang saya cintai? Malam ini saya menyadari satu hal, Mas Zafran. Kecerdasan saya tidak ada gunanya jika saya tidak bisa memberikan ketenangan pada ayah saya di saat terakhirnya," tegas Asiyah.

​Asiyah berdiri dan merapikan jilbabnya. "Mari kita pulang sebentar untuk mengambil pakaian dan perlengkapan Abah. Dan setelah ini, jangan pernah lagi menyebut tentang dinding di antara kita. Saya sudah meruntuhkannya sendiri malam ini."

​Zafran tertegun melihat perubahan sikap Asiyah yang begitu drastis. Ia melihat ketegasan seorang Hafizah yang sedang menjalankan prinsip birrul walidain pada level yang paling ekstrem.

​Sepanjang perjalanan pulang ke rumah dinas mereka di pondok, tidak ada pembicaraan. Asiyah menatap keluar jendela mobil, melihat bangunan-bangunan pesantren yang tampak seperti bayangan hitam di bawah sinar bulan. Ia merasa identitas lamanya sedang terkikis. Ia bukan lagi Asiyah sang pengejar mimpi Kairo, tapi Asiyah sang perawat duka.

​Sesampainya di kamar, Asiyah tidak langsung membereskan baju. Ia justru berdiri di depan cermin, melepas jarum jilbabnya satu per satu dengan gerakan perlahan. Zafran masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang terdiam di depan cermin.

​"Asiyah, kau baik-baik saja?" tanya Zafran lembut.

​Asiyah berbalik, menatap suaminya dengan mata yang sembab namun tegas. "Apakah Anda ingat ayat tentang pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha? Perjanjian yang sangat kuat?"

​"Tentu saja. Kenapa kau menanyakan itu?" jawab Zafran.

​"Malam ini, saya baru memahami bahwa perjanjian itu bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang banyak jiwa yang menggantungkan harapannya pada kita. Saya menyerah pada ego saya, Mas. Saya pasrah pada takdir ini," ucap Asiyah.

​Zafran mendekat, kali ini ia memberanikan diri untuk memegang kedua bahu istrinya. "Pasrah bukan berarti kalah, Asiyah. Pasrah adalah kemenangan jiwa atas hawa nafsu. Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakan pengorbananmu malam ini."

​"Jangan berjanji. Buktikan saja dengan tetap menjadi orang yang menyimak hafalan saya saat saya mulai lupa karena beban hidup ini," balas Asiyah sembari menyandarkan kepalanya di dada Zafran untuk pertama kalinya.

​Zafran merasakan detak jantung Asiyah yang tidak beraturan, namun ia juga merasakan sebuah kepercayaan yang baru lahir. Di malam yang penuh duka itu, sebuah babak baru dalam hubungan mereka dimulai. Bukan karena romansa yang meledak-ledak, melainkan karena rasa bakti dan kepasrahan seorang putri pada ayahnya, serta pengabdian seorang istri pada imamnya.

​Mahkota hafalan Asiyah malam itu terasa sangat berbeda. Tidak lagi seperti pasung, melainkan seperti pengikat yang menjaga hatinya agar tidak jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Di balik duka kesehatan ayahnya, Asiyah akhirnya menemukan tempat untuk bersandar yang selama ini ia tolak dengan logikanya sendiri.

1
Lisna Wati
lanjut
Muhammad Syafi'i
masyaallah 😍 jodoh ny anak kiyai
Muhammad Syafi'i
Bagus alur ceritanya
Muhammad Syafi'i
kisah ny sangat bagus 👍
Irni Yusnita
ceritanya sangat bagus dan bagi pemula sangat baik memberikan pengetahuan bagi yg membacanya👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!