Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Mulai Tumbuh
Rayyan pulang dari rumah orang tuanya tidak langsung ke rumahnya, tapi menuju apartemen Liztha. Dia sangat merindukan wanita itu, padahal baru dua hari saja tidak bertemu.
Lelaki itu menekan beberapa angka yang sudah dia hafal di luar kepala untuk membuka pintu.
Saat terbuka, keadaan di dalam sunyi dan lengang. Tak ada tanda-tanda kalau Liztha ada di situ.
Rayyan menuju kamar tidur kekasihnya, tapi tak ada siapa-siapa. Lalu ia memilih duduk di ruang tengah sambil menyalakan televisi meski tak ditontonnya. Dia malah asyik memainkan ponselnya.
Entah kenapa tiba-tiba ia jadi teringat Ayra.
"Penasaran juga, bagaimana kabar si perampok itu," umpat Rayyan dengan hati mendongkol.
Refleks tangannya mencari akun wanita itu di media sosialnya. Tak berapa lama mencari, akhirnya Rayyan menemukan akun atas nama @kin_cal. Beruntung tidak di-private.
Awalnya hanya foto-foto biasa di beberapa tempat. Bahkan saat Ayra berfoto dengan latar belakang salah satu universitas terkenal di Jakarta, bibirnya masih mencibir. Tapi di slide berikutnya masih di latar yang sama, Ayra difoto dengan mengenakan jas almamaternya, otak Rayyan mulai bertanya-tanya, benarkah Ayra kuliah? Penasaran ia melanjutkan mencari foto yang lain. Ada yang difoto dengan beberapa teman perempuan dan laki-laki, juga di area kampus itu.
Tentu saja mata Rayyan semakin terbelalak. Bagaimana bisa Ayra difoto di sana dan memakai jas almamaternya, kalau bukan sebagai mahasiswa kampus tersebut?
"Aku tidak percaya ini! Pintar juga dia memanfaatkan uangku," gumam Rayyan penuh emosi.
Saat masih asyik scroll-scroll, tiba-tiba pintu depan terbuka. Saking asyiknya, Rayyan sampai tak menyadari kalau Liztha sudah datang dengan membawa banyak tentengan di tangannya.
Wanita itu masuk ke dalam unitnya dengan wajah ceria. Tapi saat dia menyadari di dalam terdengar suara televisi, bibirnya yang tadi full senyum mendadak cemberut. Dia tahu, di ruang tengah pasti sudah ada Rayyan.
Liztha melangkah ke ruang dalam dengan cuek tanpa menyapa Rayyan. Dia hanya melewatinya dan langsung menuju kamar. Rayyan yang melihat itu tentu saja kaget.
"Liztha..." Tegurnya. Tapi wanita itu tetap cuek. Akhirnya diapun berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Liztha.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Rayyan sambil memegang lengan Liztha. Tapi wanita itu langsung menepisnya kasar.
"Kenapa apa?" Sentaknya.
"Kamu marah? Apa salahku?"
"Pikir aja sendiri!"
Rayyan menghela napas, rasanya sangat lelah. Kemarin bersitegang dengan ayahnya dan hingga kembali ke Jakarta, restu yang diharapkannya tak juga didapat. Sekarang Liztha, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba bersikap cuek dan marah seperti ini.
"Liztha, aku baru saja pulang dari Bandung, aku menemui kedua orangtuaku untuk meminta restu pada mereka tentang hubungan kita." Kata Rayyan. Liztha langsung melayangkan tatapan tajam.
"Lalu? Kamu tidak berhasil, kan?"
Rayyan diam, tak tahu harus menjawab apa.
"Sudah kuduga. Ayahmu itu terlalu menyayangi si Ayra yang sudah jelas-jelas membuat kamu jadi miskin. Jangan-jangan keadaan kalian terbalik. Si Ayra anak haram bapakmu dan kamu anak haram ibumu."
"Liztha!!" Teriakan Rayyan menggelegar. Matanya melotot tajam dengan wajah merah padam. Jantung wanita itu berdentum keras. Nyalinya ciut seketika.
"Jaga bicara kamu!"
Liztha diam tak bicara apa-apa lagi. Ngeri juga melihat kemarahan di mata Rayyan tadi. Tapi dia juga tak berusaha merayu laki-laki itu seperti biasanya saat dia marah.
"Kamu dari mana?" Tanya Rayyan setelah saling diam beberapa saat.
"Shopping." Jawab Liztha singkat.
"Banyak duit rupanya." Sindir Rayyan. Senyumnya sinis.
"Nggak usah iri! Salah sendiri duitmu malah dikasihkan ke si Ayra." Liztha masih manyun
"Nggak usah ungkit-ungkit itu lagi!"
Rayyan melangkah lebih dekat. Tangannya terulur meraih pinggang Liztha dan menariknya, menempelkan ke tubuhnya. Tapi saat bibirnya ingin mencium bibir Liztha, wanita itu menjauhkan wajahnya. Rayyan tak menyerah. Dalam keadaan marah dan rasa frustrasinya, ia berhasil mengatasi perlawanan Liztha. Kini bibirnya sudah memagut bibir wanita itu dengan kasar dan menuntut. Perlawanan Lizrha pun perlahan melemah. Ia bahkan terhanyut oleh permainan kekasihnya.
Tapi saat tangan Rayyan mulai menggerayangi tubuhnya dan ingin membuka kancing blusnya, Liztha benar-benar bereaksi leras.
"Aku sedang halangan!" Katanya tegas. Padahal yang sebenarnya, dia takut Rayyan akan menemukan jejak dari laki-laki buncit yang membeli cintanya.
***
Hari Minggu pagi, Zavian dan Kenzie sudah berada di ruang tamu rumah Ayra. Zavian menepati janjinya untuk mengajak putranya dan Ayra jalan-jalan.
"Kita mau jalan ke mana?" tanya Ayra yang baru saja keluar dari kamarnya. Wanita itu terlihat cantik dan segar dengan mengenakan gaun selutut dengan warna pastel yang lembut.
"Wow... Tante cantik!" ucap Kenzie spontan dengan mimik wajah yang menggemaskan. Ayra pun terkekeh, sementara Zavian berpura-pura marah pada putranya itu.
"Kenzie... Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi perayu, ya?"
Tawa pun berderai dari bibir Ayra.
"Tapi Tante nggak keberatan kok dirayu sama Kenzie yang tampan ini," balas Ayra. Dengan gemas dia menjawil pipi bocah itu.
"Tidak boleh! Masa ngalahin Papanya," ucap Zavian. Tapi kalimat terakhir diucapkan dalam gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Namun, telinga Ayra masih bisa menangkapnya meski tidak begitu jelas. Ia hanya menahan senyum, lalu mengajak pergi keduanya
Zavian membawa mereka ke sebuah taman terbuka yang memiliki area bermain luas dan pepohonan rindang. Kenzie langsung berlari kegirangan mengejar capung yang terbang rendah, sementara Zavian dan Ayra berjalan beriringan di belakangnya.
"Dia senang sekali kalau diajak keluar," ujar Zavian sambil memperhatikan punggung putranya yang tampak sangat ceria.
"Wajar saja, Mas. Namanya juga anak-anak, pasti bosan kalau di rumah terus," sahut Ayra sambil tersenyum manis.
Zavian menoleh, menatap Ayra yang sedang merapikan helai rambutnya yang tertiup angin. Gaun pastel itu benar-benar cocok di tubuh Ayra, membuatnya terlihat sangat anggun di bawah sinar matahari pagi.
"Terima kasih ya sudah mau meluangkan waktu. Saya tahu kamu pasti sibuk sekali dengan tugas-tugas kampus belakangan ini," ucap Zavian tulus.
Ayra menggeleng pelan. "Sama-sama, Mas Zavian. Aku juga butuh penyegaran sebelum minggu depan mulai pekan ujian yang padat."
Mendengar Ayra menyebut namanya dengan awalan "Mas", Zavian merasa hatinya sedikit berdesir. Ada rasa nyaman yang muncul setiap kali wanita itu menyapanya dengan sebutan tersebut.
Tiba-tiba Kenzie berlari kembali ke arah mereka dengan wajah kemerahan karena kelelahan berlari. Dia langsung memeluk kaki Ayra dengan manja.
"Tante... Kenzie haus," rengeknya dengan suara cadel yang lucu.
Ayra langsung berjongkok, menyamakan tingginya dengan bocah itu. Dia mengeluarkan botol minum dari tasnya dan membukakannya untuk Kenzie.
"Minum dulu pelan-pelan, Sayang. Nanti kalau sudah makan, baru kita beli es krim, ya?" kata Ayra lembut sambil mengusap keringat di dahi Kenzie.
Zavian yang berdiri di samping mereka hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Caranya memperlakukan Kenzie begitu alami, seolah-olah Ayra memang sudah terbiasa menjadi sosok ibu.
"Kenapa diam saja, Mas? Ayok, katanya tadi Kenzie mau es krim," tegur Ayra sambil mendongak, membuyarkan lamunan Zavian.
Zavian terkekeh, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Ayra berdiri.
"Iya, ayok. Tapi kita makan dulu. Di sana tadi ada restoran yang juga menjual es krim. Katanya enak."
"Kata siapa?" Ayra bertanya penasaran.
"Kata orang-orang di di media sosial." Zavia terkekeh sementara Ayra melengos sambil mengulum senyum.
"Ternyata suka main medsos juga."
"Heh?"
"Nggak"
Ayra melangkah lebih dulu sambil menuntun lengan Kenzie. Zavian cepat-cepat menyusulnya dan mensejajarkan langkah mereka. Tapi tanpa sengaja tangan Zavian bersentuhan dengan tangan Ayra. Alih-alih menjauh, Zavian justru memberanikan diri untuk menggenggam jemari wanita itu dengan lembut. Ayra sempat terkejut dan melirik Zavian, namun saat melihat senyum tipis di wajah lelaki itu, dia memilih untuk tidak melepaskannya.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"