Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 Jejak
Tidak semua yang kita inginkan ditunda karena ditolak, sebagian ditunda karena Allah sedang menyiapkan cara yang lebih menjaga.
—Celine Chadia Cendana—
Pagi itu, udara di rumah keluarga Cendana terasa berbeda—lebih padat, seolah setiap sudut menyimpan percakapan yang belum terucap. Celine berdiri di depan cermin kamarnya cukup lama, merapikan hijabnya berulang kali, seperti seseorang yang sedang menenangkan diri sebelum mengucapkan permohonan besar. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan keraguan yang berlapis-lapis, seperti kaca bening yang retaknya hanya terlihat jika diperhatikan dengan saksama.
Di tangannya, map kecil berisi proposal kegiatan kampus. Camping Ramadhan BEM. Sebuah agenda yang sejak beberapa pekan terakhir menjadi bahan diskusi hangat di kampus—tentang kebersamaan, refleksi, dan pembentukan karakter. Bagi Celine, kegiatan itu bukan sekadar berkemah. Ada ruang belajar, ada tanggung jawab, ada kepercayaan yang ingin ia buktikan.
Ia menarik napas panjang sebelum melangkah keluar kamar.
Daddy Caesar sudah duduk di ruang keluarga, membaca koran pagi dengan kacamata bertengger rapi di hidungnya. Sosok itu selalu terlihat tenang, seperti gunung yang tak mudah terguncang angin. Namun justru karena ketenangannya itulah, Celine sering merasa gugup setiap kali harus menyampaikan sesuatu yang penting.
“Dad,” panggil Celine pelan.
Daddy Caesar menurunkan korannya, menatap putrinya dengan sorot mata hangat namun penuh wibawa. “Iya, Sayang?”
Celine duduk di seberangnya. Map di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya, seperti memuat beban lebih dari sekadar kertas.
“Ada kegiatan kampus,” ucapnya perlahan. “Camping. Dua hari satu malam. Aku… minta izin ikut.”
Nada suaranya halus, seperti air yang mengalir pelan di sela batu. Tidak memaksa, tidak menuntut. Hanya meminta.
Daddy Caesar tidak langsung menjawab. Ia menatap map itu, lalu kembali menatap wajah putrinya. Waktu seolah berjalan lebih lambat, seperti jarum jam yang sengaja ditahan.
“Camping?” ulangnya.
Celine mengangguk. “Kegiatan resmi kampus. Ada dosen pendamping, Dad. Dan ini juga bagian dari program Ramadhan.”
Daddy Caesar meletakkan koran di meja. Ia menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di dada—sikap yang selalu Celine kenali sebagai tanda bahwa ayahnya sedang mempertimbangkan sesuatu dengan serius.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. Singkat. Tegas.
Satu kata itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang. Tidak menimbulkan suara keras, tapi riaknya terasa ke mana-mana.
Celine menunduk. Ia tidak membantah. Tidak bertanya kenapa. Ia hanya mengangguk kecil, seolah sudah menduga jawabannya sejak awal.
“Iya, Dad,” ucapnya pelan.
Daddy Caesar menatap putrinya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di balik penolakannya—bukan karena tidak percaya, melainkan karena terlalu peduli. Dunia, baginya, seperti hutan lebat yang menyimpan banyak kemungkinan bahaya, dan Celine adalah cahaya kecil yang ingin ia lindungi sekuat mungkin.
Tak lama kemudian, Reina datang. Mendengar kabar penolakan itu, Reina mencoba membantu dengan caranya sendiri. Ia berbicara dengan Daddy Caesar, menjelaskan detail kegiatan, meyakinkan tentang keamanan, tentang tanggung jawab Celine. Namun hasilnya tetap sama. Penolakan itu kokoh, seperti dinding batu yang tidak runtuh hanya karena satu atau dua alasan logis.
Celine menyimak dari kejauhan. Hatinya sedikit perih, tapi ia tidak marah. Ia hanya merasa bersalah—bersalah karena membuat orang-orang di sekitarnya harus berusaha keras demi sebuah izin yang tidak kunjung datang.
Malam itu, keluarga Cendana berkumpul lebih lengkap dari biasanya. Obrolan mengalir dari satu topik ke topik lain, hingga akhirnya sampai pada persoalan camping yang tertunda itu. Mommy Chailey, Calvin, bahkan beberapa anggota keluarga lain ikut angkat suara.
Bukan untuk membantah keputusan Daddy Caesar, melainkan untuk mencari jalan tengah.
“Bagaimana kalau… Family Camping?” usul Calvin tiba-tiba.
Semua mata tertuju padanya.
“Sekalian liburan keluarga,” lanjut Calvin santai. “Celine tetap aman, Dad tenang, dan kita semua dapat waktu bersama.”
Ide itu mengambang di udara, seperti balon yang belum tahu akan dilepaskan atau ditarik kembali. Daddy Caesar terdiam. Ia menimbang, bukan hanya soal izin, tapi soal makna di baliknya. Family Camping terdengar seperti kompromi yang tidak mengorbankan prinsipnya.
Celine menatap ayahnya dengan mata berbinar, namun tetap diam. Ia tidak ingin harapan itu terdengar sebagai paksaan.
Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya Daddy Caesar mengangguk pelan.
“Kita bicarakan lagi,” ucapnya singkat.
Bagi Celine, itu sudah lebih dari cukup.
Keputusan itu berkembang lebih jauh dari yang dibayangkan.
Bukan hanya keluarga Cendana yang akan ikut. Keluarga Athariz—keluarga Aldivano—juga menyatakan keinginan untuk bergabung. Bagi mereka, ini bukan sekadar liburan. Ada rasa ingin memastikan, ada keinginan menjaga, ada ikatan tak terlihat yang menghubungkan dua keluarga itu jauh sebelum rencana camping muncul.
Hari penentuan destinasi pun tiba. Kediaman keluarga Cendana dipenuhi suara tawa dan obrolan hangat. Ruang tamu terasa hidup, seperti taman yang dipenuhi berbagai warna bunga. Setiap orang membawa pendapat, membawa ide, membawa harapan akan kebersamaan.
Celine duduk di sudut, mendengarkan. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia menunduk, merasa kecil di tengah rencana besar yang berputar di sekelilingnya. Bunda Afsheen duduk tak jauh darinya, sesekali melirik dengan senyum lembut—senyum seseorang yang menyayangi tanpa syarat.
“Ada yang kamu pikirkan, Nak?” tanya Bunda Afsheen lembut.
Celine tersenyum kecil. “Nggak, Bunda. Cuma… senang.”
Jawaban itu jujur. Ia memang senang, meski di baliknya ada rasa bersalah yang mengendap. Karena di tengah pertemuan penting itu, ponselnya bergetar berkali-kali—pengingat tentang acara penyambutan study tour di kampus. Tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Ia menimbang cukup lama sebelum akhirnya berdiri.
“Daddy… Mommy... Ayah... Bunda… aku izin undur diri sebentar,” ucapnya dengan nada penuh hormat. “Ada acara kampus yang harus aku hadiri.”
Suasana sejenak hening. Bunda Afsheen menatapnya dengan sorot mata yang sama sekali tidak kecewa, justru penuh pengertian. Namun Celine tetap merasa bersalah, seperti meninggalkan taman yang sedang mekar hanya untuk mengejar waktu.
“Pergi yang baik-baik,” ujar Bunda Afsheen sambil menggenggam tangan Celine. “Hati-hati di jalan.”
Celine mengangguk, menunduk hormat, lalu melangkah keluar. Hatinya campur aduk—antara tanggung jawab dan rasa tak enak meninggalkan pertemuan keluarga.
Di ambang pintu, suara langkah lain menyusulnya.
“Aku antar,” ucap Aldivano singkat.
Kalimat itu tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan langkah Celine. Ia menoleh, sedikit terkejut.
“Kak… nggak usah,” katanya refleks.
Namun Aldivano sudah berdiri di sampingnya, mengambil kunci mobil dengan tenang. Sikapnya seperti air yang mengalir—tidak memaksa, tapi sulit ditolak.
Di dalam rumah, reaksi yang muncul justru tawa dan sorakan kecil. Mommy Chailey tersenyum penuh arti. Calvin berdehem sambil menyeringai. Bahkan Daddy Caesar menatap mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara waspada dan… lega.
“Pergi sana,” ujar Daddy Caesar akhirnya. “Jangan lama-lama.”
Celine mengangguk, pipinya terasa hangat. Ia melangkah keluar bersama Aldivano, sementara di belakang mereka, dua keluarga besar itu saling bertukar pandang penuh makna.
Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Di dalamnya, suasana hening namun tidak canggung. Seperti dua orang yang berjalan di jalur yang sama, tapi belum berani saling menoleh.
Celine menatap keluar jendela. Lampu jalan berderet seperti doa-doa kecil yang menyala satu per satu. Aldivano fokus menyetir, tapi pikirannya jauh melampaui jalan di depan mata.
Di antara mereka, ada begitu banyak hal yang belum terucap.
Tentang izin.
Tentang jarak.
Tentang ikatan yang sah, tapi tersembunyi.
Dan di sanalah cerita itu berhenti—bukan pada jawaban, melainkan pada janji yang belum diucapkan.
Karena di kejauhan, destinasi camping sudah menunggu.
Dan di sana pula, kebenaran perlahan akan menemukan jalannya.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...