"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN
Sesampainya di panti. Aira menghampiri Siska di ruangannya. Bara menunggunya di mushola dengan barang-barang menumpuk disana.
TOKTOKTOK
"Assalamu'alaikum, Bu Siska."
"Wa'alaikumsalam, masuk Aira."
Aira masuk dan menutup pintu kembali.
"Bu, kami sudah dapat rumah kontrakan di gang yang Ibu tunjukkan. Punya bu Wulan."
"Oh ya, Alhamdulillah. Terus gimana? "
"Mas Bara minta langsung pindah sore ini, Bu. Tapi... gimana ya Bu. Tadi belum ketemu sama ibu mertua. Lagi arisan kata adik. Aira nggak enak kesannya jadi kayak ngatur Mas Bara buat buru-buru pindah. Belum pamitan yang bener gitu, Bu."
Siska menghela nafas. Ia juga cemas dengan Bara yang terburu-buru.
"Sementara kamu ikut apa kata Bara dulu ya. Berbenah aja barangmu. Mudah-mudahan ini cuma khawatir."
"Ya, Bu. Siang ini kami mau belanja keperluan disana dulu ya Bu. Jadi belum bisa bantu-bantu di panti. Besok in syaa allah ke sini lagi seperti biasa setelah mas Bara berangkat kantor."
"Ya, Nak nggak apa-apa. Selesaikan aja urusan kalian. Nanti ibu yang bantu Bi Dharma."
Aira mengangguk, dan berlalu ke kamarnya.
Siska merasa cemas dengan karakter keras Bu Norma, ibu Bara. Kalau mereka tidak pamitan langsung, bisa- bisa akan ada masalah lagi dan yang akan jadi sasaran amukannya pasti Aira.
Siska keluar dari ruangannya dan menghampiri Bara yang sedang menunggu Aira.
"Bara, " panggil Siska.
"Eh iya, Bu."
"Rumah kontrakannya sudah dapat? "
"Iya, Bu. Sudah Bara transfer juga pembayaran bulan ini."
"Kata Aira, tadi belum sempat ketemu ibumu?"
"Iya, Bu. Ibu kebetulan lagi arisan. Karena harus belanja kebutuhan di kontrakan jadi Bara titip pesan aja sama adek. Tapi nanti sabtu depan kami ke rumah lagi, Bu."
"Yakin, nggak akan ada masalah nanti Bara? "
"Nggak, Bu. In syaa Allah. Nanti malam Bara coba telpon ibu juga, Bu."
" Ya sudah, kamu pastikan ya beliau bisa menerima keputusanmu."
"Siap Bu Siska. Ijin bawa Aira keluar lagi ya Bu."
"Iya Bara. Pastikan jangan terlambat makan ya. Jangan terlalu capek juga."
"Baik, Bu."
Siska meninggalkan Bara ke dapur menyiapkan makan siang untuk anak-anak.
"Mas, barangnya langsung antar apa disini dulu? "
"Kita titip dirumah bu Wulan aja, jadi nggak bolak balik."
Mereka akhirnya membawa semua barang setelah berpamitan dengan Siska dan Darma di dapur.
"Wah sudah angkut barang? buru-buru sekali mas? Ini belum selesai dibersihkan," ujar Wulan saat melihat Bara dan Aira baru sampai di depan rumahnya.
"Iya, Bu. Biar sekalian jalan. Titip barang dulu ya Bu, kami mau beli barang kebutuhan dulu."
"Oh iya, Mas silahkan. Taruh di ruang tamu saya aja."
Bara akhirnya ikut khawatir setelah melihat kecemasan Siska tadi. Ia berpikir sepanjang jalan bagaimana supaya ibunya bisa menerima keputusannya nanti.
Ia memang buru-buru setuju, karena kebetulan sekali dapat kontrakan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tak jauh dari panti, kondisinya bersih dan biaya sewa murah per bulannya.
Sayang tadi tak bertemu langsung dengan ibunya.
"Aira, nanti malam Mas pulang ke rumah dulu ya. Menjelaskan rencana kita. Kamu dirumah saja istirahat ya."
"Mas yakin nggak apa-apa sendiri ketemu ibu? "
"Iya, biar mas aja yang pamitan ke Ibu. Mudah-mudahan nggak ada halangan."
"Ya sudah, Aira ikut kata Mas aja."
Bara memarkirkan motornya di depan gedung toko perabotan rumah tangga.
Satu jam berada disana memilah-milah kebutuhan mereka di kontrakan. Rice cooker mini, termos air panas, baskom, alat makan, setrika, jam dinding dan banyak lagi.
Untung saja uang pinjaman dari bank masih ada dan cukup untuk kebutuhan saat itu. Bara cukup terkejut, banyak juga kebutuhan rumah tangga untuk rumah baru. Tapi ia tak ingin goyah, karena ini menjadi penentu hubungan rumah tangganya dengan Aira. Ia memang harus berkorban.
Setelah mampir ke warung makan membeli nasi bungkus mereka kembali ke kontrakan. Untung saja sudah selesai dibersihkan.
Yang tadi mereka berencana akan masuk sore malah menempati lebih cepat.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Maaf ini jadi lebih cepat masuk."
"Nggak apa-apa, Mas kebetulan juga Saya luang jadi bisa bantu ART biar cepat selesai. Mas juga sudah bayar."
Wulan lalu meninggalkan mereka setelah berpamitan. Untung saja, bu Wulan menyediakan kasur dan lemari pakaian jadi mereka tak perlu beli baru.
Mereka makan siang setelah sholat dzuhur berjamaah di rumah kontrakan. Bara merasa damai, penuh rasa syukur harapannya bisa Allah kabulkan. Tinggal berdua bersama Aira.
Setelah selesai menata barang mereka beristirahat sebentar sambil menunggu adzan ashar.
"Mas, kalau sekiranya sebulan disini terasa berat soal biaya, Mas cerita ya. Nanti gaji Aira dari bu Siska buat kebutuhan di sini aja."
"Jangan Aira, itu hak mu. Biaya hidup memang tanggung jawab Mas. Kalau berat, nanti kita atur lagi pengeluaran kita."
Aira akhirnya mengangguk. Ia tak ingin berdebat, tapi ia bertekad melakukan apa yang ia katakan tadi. Memakai gajinya untuk meringankan biaya dapur.
Suara pesan masuk ke ponsel Bara. Ada pesan dari ibunya.
[Kamu dimana? kapan pulang? sore ini temani ibu ke rumah Bu Salim ya.]
"Bukannya ibu dari rumah Bu Salim? " gumam Bara.
^^^[Ya, Bu. Habis ashar Bara pulang. Ada apa Bu disana? ]^^^
[Pak Salim minta ketemu dengan mu. Ada yang mau dibicarakan katanya.]
^^^[Oh, ya udah. Nanti Bara pulang ada yang mau sampaikan juga ke ibu]^^^
Tak ada balasan lagi.
"Aira, mas harus pulang lebih awal. Sore ini ibu mau minta ditemani ke rumah pak Salim yang diceritakan Puspa tadi. Pak Salimnya mau ketemu Mas."
"Iya, Mas. Nanti Aira atur pakaian ke lemari."
***
"Ah syukurlah Bara mau. Untung saja aku punya kesempatan cerita sama pak Salim soal pernikahan Bara dengan Aira. Semoga aja usaha Bara untuk rujuk dengan Aira belum berhasil. "
Norma ke kamar mandi untuk bersiap. Puspa sendiri masih tidur siang. Tak tahu kalau ibunya sudah pulang dan bersiap untuk keluar rumah lagi.
Satu jam berlalu. Norma sudah siap dengan pakaian terbaiknya. Ia berdandan memantaskan diri setara dengan bu Salim.
Norma sudah menunggu lima belas menit yang lalu. Adzan ashar juga sudah tiga puluh menit yang lalu. Ia mengambil ponsel, bermaksud mengirim pesan pada Bara.
"Ada yang mau dibicarakan? "
^^^[Nanti saja kita bicara urusanmu setelah ketemu pak Salim. Ibu sudah siap. Ibu tunggu depan gang.]^^^
Norma menyampir tas ke bahunya dan beranjak dari sofa.
"Ibu mau kemana? " tanya Puspa yang baru bangun.
"Mau ke rumah pak Salim lagi."
"Loh, Kenapa Bu? "
"Pak Salim mau ketemu sama Bara. Nanti aja ngobrolnya, Ibu mau ke depan tunggu Bara."
"Tapi Bu, Mas Bara---"
Norma berlalu pergi begitu saja tak mendengar perkataan Puspa karena terlalu bersemangat.
Puspa menghela nafas.
Norma berjalan cepat menapak jalan bertanah menyusuri gang yang sepi sore itu.
Tak lama motor Bara muncul dari mulut gang.
"Ibu kenapa nggak tunggu dirumah? "
"Kamu kelamaan sih, jadi ibu sambil jalan. "
Bara hanya diam, Ia tak ingin berdebat dan merusak mood ibunya hari ini.
Motor melaju cepat keluar gang. Bu norma menyapa orang yang dilaluinya. Dengan senyuman yang tak bisa digambarkan. Perasaan puas, senang, dan juga harap.
Setelah lima menit berjalan, motor Bara akhirnya sampai di depan rumah berpagar warna emas itu. Rumah dua lantai berwarna putih, dengan design klasik mewah.
Bel di tekan. Muncul ART dengan kaos longgar dan celana panjang rumahan muncul membukakan pagar.
"Silahkan, Bu.. Mas.. " sapanya ramah.
"Terima kasih."
Norma masuk di iringi langkah Bara. Seumur hidup baru kali ini Bara menjejakkan kakinya di rumah paling mewah di perumahan itu.
ART tadi mempersilahkan mereka duduk di sofa jati warna putih dengan ukuran berwarna emas.
"Besar ya Bara rumahnya. Ruang tamunya saja seukuran ruang TV sama ruang makan kita, " bisik Norma.
Bara hanya tersenyum dan mengangguk.
ART kembali membawa tiga cangkir teh dan menata nya dimeja tamu.
"Tunggu sebentar ya Bu, Mas. Bapak sama ibu masih siap-siap."
Norma dan Bara mengangguk kompak sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum, Bara. Wah, lama sekali saya nggak ketemu kamu. "
"Wa'alaikumsalam, Pak. Nggih Pak, tapi saya nggak kemana-mana, Pak disini aja," jawabnya sambil bersalaman dengan Salim.
"Maaf ya, lama menunggu." Hani, istri Salim datang menghampiri mereka dan bersalaman.
"Nggak apa-apa, Bu. Baru datang juga kok."
"Bagaimana kabarmu Bara? "
" Baik, Pak. Alhamdulillah seperti yang Bapak lihat."
"Perasaan baru beberapa tahun kita nggak ketemu kelihatanya Kamu tambah ganteng loh Bara, " puji Hani.
"Ibu bisa saja, saya begini-begini saja Bu."
"Kamu kerja di mana Bara? " tanya Salim
"ASN Pemkot, Pak. Baru di lantik dua tahun lalu."
"Wah, ASN ya.. terjamin itu masa tuanya. Nggak kayak saya gini harus kerja terus sampai tua, " seloroh Salim.
Mereka tertawa menyahut candaan Salim.
"Kata ibumu, kamu sudah menikah Bara? dengan siapa? " tanya Hani.
"Oh betul, Bu. Kenalan saja mungkin Ibu juga nggak kenal kalau saya ceritakan."
"Kabarnya istrimu sakit? " tanya Salim lagi.
"Iya, Pak. Alhamdulillah masih masa pemulihan, sempat operasi."
"Oh begitu, masih muda kan ya? " tanya Hani iba.
" Sakit datangnya nggak lihat umur sekarang, Bu, " sahut Bara tetap berusaha sopan meski perasaannya sudah tak nyaman.
"Apa istrimu sekarang pergi dari rumah? "
Bara tersentak, menoleh menatap Norma di sampingnya.
"Maaf Bu, rasanya nggak enak saya cerita soal ini."
"Bara, kami mengajak bertemu sebenarnya juga ada maksud. Kalau memang rumah tanggamu tak memungkinkan untuk kembali. Putri kami bersedia menikah denganmu."
Bara tercekat, menatap Salim dan Hani tak percaya setelah mendengar perkataan Salim tadi.