"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan
Sepanjang bulan-bulan awal keberangkatan Gilang, interaksi rahasia mereka menjadi bahan bakar utama bagi Jeny. Awalnya, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya rasa sayang antar teman. Namun, perhatian Gilang yang begitu detail mulai meruntuhkan logika itu.
Saat Jeny baru saja menyelesaikan syif malam di swalayan tempat ia bekerja, sebuah notifikasi pesan masuk.
[Aku lihat di Finland lagi salju, tapi aku malah bayangin kamu lagi berdiri di meja kasir. Jangan lupa minum vitaminnya, Jen.]
^^^[Siap bos. Kamu juga, pakai mantel terus ya. Biar tetap hangat. ]^^^
Senyum menyabit di bibir Jeny, hatinya terasa berbunga-bunga.
"Kenapa Jen? senyummu kelihatan beda. Apa ada yang kirimin kamu pesan penuh cinta?" tanya Aksa.
"Oh bukan kok, itu sekar kirim pesan."
"Hmm.. rasanya nggak mungkin pesan dari perempuan tapi reaksimu tersipu begitu. Kamu memang nggak lihat pipimu berubah merah, tapi aku lihat jelas."
"Ih..siapa yang tersipu? " elak Jeny lagi.
Lalu menyampir tasnya ke bahu dan bersiap pulang.
'Huuft.. hampir saja, jangan sampai Aksa tahu. Bisa dia ceritakan ke Erwin, ' batin Jeny.
Sesampainya di rumah, Jeny berbaring lelah di atas kasurnya yang sederhana. Lampu remang-remang membuatnya kian mengantuk, tapi pesan Gilang tadi benar-benar menancap dalam hatinya.
Jeny tanpa sadar tersenyum lagi, cukup lama.
Ia kemudian tersentak, 'Ah..aku kenapa lagi,' batinnya. Jeny lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya dan memejamkan mata berusaha untuk tidur.
Ia tak ingin menanggapi pesan itu terlalu dalam, ia tak ingin berharap apa-apa.
KEESOKAN HARINYA
Matahari terbit perlahan dari arah timur, menebar kehangatan hingga ke hati Jeny.
Ia berdiri di teras menghirup udara segar hingga ke memenuhi paru-parunya.
Hari ini ulang tahun Jeny yang ke-21, ada rasa syukur, ada harapan menjadi manusia yang lebih baik, ada impian menggapai mimpi yang lebih besar.
Ia tahu, selama ini hidupnya bergelut dengan karate. Olahraga yang mampu mengantarnya dari kegelapan masa lalu pada cahaya semangat dan prestasi.
"Jeny," panggil RahmiRahmi dari dalam rumah.
"Iya, Nek."
Jeny masuk ke dalam rumah menghampiri neneknya.
"Ada hadiah untukmu, datang kemarin," uajr Rahmi sambil menyerahkan sebuah paket.
Di atas kardus itu tertera alamat dari luar negeri. Jeny tersenyum, Ia yakin pasti Gilang uang mengirimkannya.
Jeny membukanya penuh semangat. Setelah selesai dibuka, sepasang handwrap berkualitas tinggi untuk latihan karate dan sebuah kalung perak kecil dengan liontin berbentuk bunga yang mekar di musim dingin.
"Bagus sekali, " gumam Jeny.
"Apa Gilang yang mengirimkannya? " tanya Rahmi.
Jeny mengangguk sambil tersenyum.
"Dia perhatian sekali, nenek penasaran apa benar kalian cuma berteman? Kenapa nenek merasa lebih dari itu? "
"Nek.. kami cuma berteman, " jelas Jeny meyakinkan.
Rahmi akhirnya mengangguk, tak mau berdebat dengan cucunya hingga moodnya buruk.
Di dalam kamar kecilnya, Jeny memandangi kalung itu. Rasa itu kini telah bermutasi. Ini bukan lagi sekadar simpati atau persahabatan. Ada kerinduan yang dalam, ada harapan yang meski ia coba padamkan, justru semakin berkobar setiap kali mendapat perhatian seperti ini.
Jeny menyentuh liontin kalungnya sambil menatap foto Gilang di layar ponsel.
"Kamu di sana dikelilingi orang hebat, Lang," bisiknya pada sunyi.
"Ada Mona yang satu kampus sama kamu, ada Papa kamu yang selalu memantau. Tapi kenapa kamu masih sempat-sempatnya kirimin hadiah ulang tahun untukku?"
Ia tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Ia menyadari satu hal, Gilang tidak sedang menjadikannya pilihan kedua. Gilang sedang menjadikannya pelabuhan, sejauh apa pun kapal itu berlayar.
***
Di Finlandia, musim dingin sedang mencapai puncaknya. Salju yang turun tanpa henti membuat Universitas Finland tampak seperti negeri dongeng yang beku. Namun, bagi Mona, kebekuan yang sebenarnya justru ia rasakan dari sikap Gilang.
Mereka sering belajar bersama di perpustakaan kampus—atas perintah orang tua mereka agar saling 'menjaga'. Namun, Mona merasa ia hanya sedang duduk di sebelah sebuah raga tanpa jiwa. Gilang selalu menatap ponselnya dengan senyum tipis yang tidak pernah ia tunjukkan pada Mona.
Sore itu, di sebuah kafe dekat fakultas, Mona sengaja menggeser kursinya lebih dekat saat Gilang sedang asyik mengetik pesan.
"Lang, dosen penguji bilang esaimu bagus banget. Mau kita rayakan? Ada restoran baru yang buka di pusat kota," ajak Mona dengan suara manis yang tertata.
Gilang tidak menoleh. Jemarinya masih lincah di atas layar.
"Maaf, Mon. Aku ada janji telepon sama Mama malam ini. Mungkin lain kali."
Mona menyipitkan mata. "Sama Tante Ayu? Atau sama 'urusan' yang lain?"
Gilang akhirnya menoleh, wajahnya datar.
"Maksud kamu?"
"Aku nggak buta, Gilang. "
Mona melipat tangan di dada, nada suaranya mulai tajam.
"Setiap jam makan siang di Jakarta , yang berarti jam tujuh pagi di sini,kamu selalu pesan obat online. Aku tahu karena notifikasi di ponselmu sempat muncul pas kita lagi diskusi kelompok kemarin. Buat siapa? Nenek-nenek di pinggiran kota itu? Atau cucunya yang atlet karate itu?"
DEG
Jantung Gilang berdegup lebih kencang, tapi ia berusaha tetap tenang.
"Itu cuma bentuk terima kasih karena Jeny pernah bantu aku, Mon. Nggak lebih."
"Terima kasih yang berkelanjutan? Sampai kirim kalung perak segala?"
Mona mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto yang ia ambil diam-diam saat Gilang sedang ke toilet minggu lalu. Foto resi pengiriman internasional.
"Kamu pikir aku nggak bakal tahu?"
Mona mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah tapi penuh penekanan.
"Lang, sadar. Kita di sini buat masa depan. Papa kamu, Papa aku... mereka sudah merancang semuanya. Kamu pikir kenapa aku dikirim ke sini? Supaya aku bisa mendampingi kamu, bukan supaya aku jadi saksi kamu pacaran jarak jauh sama cewek yang bahkan nggak bisa beli tiket pesawat ke sini."
Gilang menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket. Matanya menatap Mona dengan dingin yang melebihi suhu di luar ruangan.
"Mona, dengar. Apa pun yang direncanakan orang tua kita, itu urusan mereka. Aku di sini untuk belajar, bukan untuk diawasi olehmu."
"Aku cuma nggak mau kamu hancur, Lang! Kalau Pak Halim tahu kamu masih berhubungan sama dia, beasiswamu dan semua fasilitas ini bisa dicabut dalam semalam. Kamu mau jadi gelandangan di Helsinki cuma demi cewek itu?"
"Mungkin itu lebih baik daripada hidup jadi robot yang diatur remote control," jawab Gilang pelan namun tajam. Ia berdiri, memakai syalnya, dan bersiap pergi.
Mona menatap punggung Gilang yang menjauh dengan perasaan campur aduk antara marah dan cemburu. Ia merasa terhina. Selama ini, ia selalu menjadi pusat perhatian, tapi di mata Gilang, ia kalah oleh seorang gadis yang hanya bisa mengirimkan foto-foto latihan karate dari ribuan kilometer jauhnya.
Mona meraih ponselnya. Ia mencari sebuah kontak di daftar panggilannya. Bukan Pak Halim, tapi kakaknya yang berada di tanah air.
"Halo, Kak? Bisa minta tolong? Cari tahu kegiatan Jeny di dojo-nya minggu ini. Dan kalau bisa... cari tahu siapa pelatihnya. Aku mau kasih 'kejutan' kecil buat dia supaya dia tahu diri."
Mona tersenyum sinis. Jika Gilang tidak bisa ia miliki dengan cara halus, maka ia akan memastikan "gangguan" itu hilang dengan sendirinya.