"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Hari yang dinanti pun tiba. Atmosfer di koridor pengadilan pagi itu terasa begitu mencekam. Udara terasa berat, seolah setiap helaan napas dipenuhi dengan kebencian yang sudah memuncak selama bertahun-tahun. Keluarga Abdi datang dengan formasi yang mereka anggap "megah". Mama Ratna duduk di kursi roda dengan dagu terangkat tinggi, mengenakan kebaya sutra yang mencolok sebuah upaya putus asa untuk menunjukkan bahwa dia belum kalah.
Di belakangnya, Amel berdiri dengan angkuh, mengenakan kacamata hitam besar bermerk mencoba menutupi fakta bahwa tunangannya baru saja mencampakkannya seperti sampah.
Rini, sang "inang baru" bagi Abdi, berdiri di samping Abdi dengan tangan yang melingkar posesif di lengan pria itu. Rini tampil sangat glamor, perhiasan emasnya berkilau terkena lampu koridor, seolah sedang menegaskan posisinya sebagai pemilik baru Abdi.
"Lihat itu, Abdi. Istrimu yang sok hebat itu belum datang juga," cibir Mama Ratna. "Mungkin dia takut melihat kita sekarang sudah punya Jeng Rini yang jauh lebih kaya darinya."
Abdi hanya diam, namun matanya terus tertuju pada pintu masuk lobi. Ada rasa cemas yang tak bisa ia jelaskan. Hingga kemudian, suara langkah kaki yang mantap dan berirama menggema di seluruh koridor.
Disa muncul.
Disa terlihat tidak datang sendiri. Di sisi kanannya ada pengacaranya yang tampak sangat tajam dengan setelan jas slim-fit. Namun, yang membuat jantung Abdi seolah berhenti berdetak adalah sosok di sisi kiri Disa. Pak Heru, Direktur Utama di kantor baru Disa yang terkenal tegas dan berpengaruh di dunia logistik nasional, berjalan mendampingi Disa. Pak Heru tidak hanya sekadar menemani karena dia tampak sedang berbincang akrab dengan Disa, sesekali meletakkan tangan di bahu Disa sebagai bentuk dukungan moral yang sangat nyata.
Disa juga terlihat tampil memukau. Ia mengenakan setelan power suit berwarna biru navy yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya memancarkan ketenangan seorang pemenang.
"Disa?" bisik Abdi lirih. Ada rasa cemburu yang membakar dadanya melihat Disa begitu dekat dengan Pak Heru. Pria itu jauh lebih mapan, lebih berwibawa, dan tampak sangat menghargai Disa hal yang tidak pernah Abdi lakukan.
"Wah, wah. Lihat siapa yang datang," suara melengking Amel memecah keheningan. "Bawa pengawal banyak banget, Mbak? Oh, atau itu 'sugar daddy' baru ya? Pantesan gaya banget mau ambil rumah Mama, ternyata sudah dapat sandaran baru."
Mama Ratna tertawa sinis. "Iya, pantesan sombong. Ternyata cuma jual badan di kantor."
Pak Heru hendak melangkah maju mendengar penghinaan itu, namun Disa menahan tangannya. Disa maju satu langkah, menatap Amel dan Mama Ratna bergantian dengan tatapan yang sangat dingin tatapan yang biasa ia gunakan untuk menguliti vendor yang melakukan korupsi.
"Mulut kamu masih saja belum berpendidikan ya, Amel?" suara Disa tenang namun tajam. "Kamu bicara soal sandaran? Kamu tidak malu bicara begitu di depan perempuan yang ada di samping Kakak kamu, sementara kakakmu sekarang hidup menumpang di rumah janda karena dia sendiri tidak mampu membayar biaya rumah sakit ibunya?"
Wajah Amel memerah padam. Rini yang merasa tersindir langsung maju menghadap Disa. "Jangan sombong kamu, Disa! Saya di sini karena saya mencintai Mas Abdi. Saya bersedia melakukan apa saja demi dia, termasuk melunasi semua tuntutan konyolmu itu!"
Disa tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan di telinga Rini. "Cinta? Jeng Rini, Anda memalukan sekali. Anda menyebut diri Anda pengusaha emas, tapi Anda tidak bisa membedakan mana emas murni dan mana rongsokan."
Disa beralih menatap Abdi yang menunduk. "Jeng Rini, apa Mas Abdi sudah cerita ke Anda? Bahwa dia membiarkan anak kandungnya kejang karena tidak punya uang untuk biaya ke rumah sakit, sementara dia mengirim uang puluhan juta ke mamanya untuk renovasi lantai dua? Apa dia cerita kalau dia mencuri uang asuransi pendidikan anaknya untuk membelikan barang bermerk adiknya ini?"
Rini tersentak, ia melirik Abdi. "Mas... itu benar?"
"Jangan dengarkan dia, Rin! Dia itu cuma mau menghancurkan kita!" teriak Mama Ratna.
Disa mengeluarkan sebuah map kecil dari tasnya. "Ini adalah catatan audit pribadi saya, Jeng Rini. Semua aliran dana dari gaji Abdi selama tiga tahun. Anda mau tahu ke mana uang itu pergi? 70% ke Mama Ratna, 20% ke foya-foya Amel dan Andi, dan hanya 10% yang diberikan ke saya untuk makan bertiga. Anda bilang ini cinta? Ini bukan cinta, Jeng Rini. Ini adalah investasi bodong. Anda sedang memelihara sekeluarga parasit yang akan menghisap harta Anda sampai kering, persis seperti yang mereka lakukan pada saya."
"Saya melakukan ini demi cinta! Saya sanggup membantu Mas Abdi!" teriak Rini, mencoba membela harga dirinya.
Disa mendekatkan wajahnya ke telinga Rini, berbisik namun cukup keras untuk didengar Abdi. "Cinta? Anda tidak sedang jatuh cinta, Jeng. Anda sedang membeli harga diri laki-laki yang sudah tidak laku di pasaran. Silakan ambil dia. Tapi rumah yang dibangun pakai uang curian itu? Akan saya ratakan dengan tanah secara hukum."
Pak Heru melangkah maju, berdiri di samping Disa. "Saya di sini sebagai saksi dan pendukung Ibu Disa. Perusahaan kami tidak mentolerir tindakan tidak etis, apalagi penelantaran keluarga. Kami akan pastikan Ibu Disa mendapatkan haknya sepenuhnya di pengadilan ini."
Abdi menatap Pak Heru dengan kebencian. "Ini urusan keluarga saya, Pak! Jangan ikut campur!"
"Urusan keluarga?" Pak Heru tersenyum tipis. "Abdi, laki-laki yang menelantarkan anak istrinya demi memanjakan keluarganya yang parasit, tidak punya hak bicara soal urusan keluarga. Kamu itu kegagalan seorang pria."
Suasana semakin panas ketika petugas pengadilan memanggil mereka masuk ke ruang sidang. Di dalam, tensi tidak berkurang. Pengacara yang disewa Rini mencoba melakukan pembelaan bahwa rumah tersebut adalah milik Mama Ratna karena sertifikatnya atas nama sang ibu.
Namun, Disa tidak tinggal diam. Saat gilirannya bicara, ia berdiri dengan sangat tenang. "Yang Mulia, dalam hukum kita, ada yang disebut dengan pembuktian asal-usul harta. Saya memiliki bukti mutasi rekening yang menunjukkan bahwa seluruh biaya pembangunan rumah tersebut berasal dari gaji rutin suami saya. Gaji tersebut adalah harta bersama. Jika gaji itu dialirkan untuk membangun aset atas nama orang lain secara sepihak tanpa persetujuan istri, maka itu adalah penggelapan harta bersama."
Pengacara Disa, menyerahkan setumpuk berkas ke hakim. "Ini adalah rinciannya, Yang Mulia. Total delapan ratus juta rupiah mengalir ke rekening Ibu Ratna dalam kurun waktu tiga tahun. Di saat yang sama, klien saya harus berutang ke kantornya untuk biaya pengobatan anak mereka. Ini adalah bukti kekejaman finansial."
Hakim mengerutkan kening melihat bukti-bukti yang begitu rapi dan sistematis. Sementara itu, Mama Ratna mulai berakting sesak napas di kursi rodanya, berharap mendapatkan simpati.
"Aduh... jantung Mama... Abdi, tolong Mama..." rintih Mama Ratna.
Disa hanya menatapnya dengan tatapan datar. "Simpan dramanya, Ma. Auditor tidak bekerja pakai perasaan, tapi pakai data. Dan data saya mengatakan, Mama sehat-sehat saja saat menerima kiriman lima belas juta tiap bulan sementara cucu Mama kelaparan."
Sidang hari itu berakhir dengan posisi keluarga Abdi yang terpojok. Saat keluar dari ruang sidang, Rini tampak gelisah. Ia mulai menyadari bahwa musuh yang ia hadapi bukan sekadar mantan istri yang sakit hati, melainkan seorang profesional yang memiliki bukti hukum yang tak terbantahkan.
Abdi mencoba mengejar Disa di parkiran. "Disa! Tunggu! Kenapa kamu harus bawa bos kamu ke sini? Kamu mau pamer kalau sudah punya penggantiku?!"
Disa berhenti di depan SUV putihnya. Ia menatap Abdi dengan tatapan kasihan. "Pengganti? Mas, untuk menggantikanmu, aku tidak butuh orang hebat. Orang lewat di jalanan pun lebih baik darimu karena setidaknya mereka tidak mencuri uang anak sendiri. Pak Heru ada di sini karena dia menghargai kinerjaku.
Sesuatu yang tidak pernah kamu mengerti karena otakmu cuma berisi bakti buta pada keluargamu."
Disa masuk ke mobilnya, diikuti oleh Pak Heru. Sebelum menutup pintu, ia menatap Rini yang berdiri tidak jauh dari sana. "Jeng Rini, selamat menikmati cicilan lima ratus juta rupiah untuk laki-laki ini. Semoga toko emas Anda cukup kuat untuk menanggung beban keluarga parasit ini."
Mobil Disa melaju pergi, meninggalkan Abdi yang berdiri mematung di tengah kepulan debu, sementara Mama Ratna kembali menjerit-jerit menyalahkan Disa di tengah keramaian pengadilan yang mulai menatap mereka dengan tatapan jijik.
udh dpt lmpu hjau dr clon mrtua tu disa,jd kl arlanda ngjak srius trima aja...
s bpk gercep bgt buat pdkt sm disa....udh bkin heboh krna smp rela jmput pjaan hti,d ajk kncan jg.....
skluarga jd piaraan smua..yg laki piaraan tante girang,yg wnita piaraan om hdung belang.....ccckkkk......
Dr yg songong'nya amit2,skrng jualn tisu buat mkn...ada lg yg lbh lwak,mntan suami yg ngrim chat cma buat mnta uang.....y aampuuunnn.....
ga ush mkrin mreka yg udh bkin km mndrta,biar aja mreka jd gmbel....yg pnting km sm kluargamu baik2 aja,apa lg skrng bestie sm holang kaya....
eehhh....spa lg tu yg bkln nysul jd gmbel???brani bgt ngusik disa yg udh d lndungi sm sing galak.....
disa emng kerennn...dlu d abaikn suami,d hina mrtua plus ipar yg sma2 gila....smp hrus mnhan lpar dmi bakti...skrng....dia mmetik buah dr ksbaran'nya....smnggttt...