NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Perjalan ke Rumah Baru

Gerard terus melaju dengan Vario barunya, masih takjub menemukan kunci dan semua surat-surat motor sudah tersimpan rapi di bagasi bawah jok. Rasa penasarannya menggelembung lagi: siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?

Tapi ia menghela napas, mengusir pikiran itu. Apalah artinya sebuah misteri, jika akhirnya ia bisa merasakan hal seperti ini. Kenikmatan ini harus dinikmati, tanpa dikotori kekhawatiran. Ia sudah terlalu lama berputus asa, sudah terlalu dekat dengan ujung jurang. Sekarang, ia memilih untuk hidup.

Angin pagi menyapu tubuhnya selama perjalanan, terasa lebih segar dan membebaskan daripada biasanya. Namun, sebelum melaju terlalu jauh, setir motornya membelok ke sebuah warung tegal sederhana yang sudah membuka pintu. Ia memarkirkan motornya di halaman yang masih sepi, lalu melangkah masuk dengan senyum lebar, menyerap aroma gurih yang langsung menggerayangi perutnya yang kosong.

Sudah lama sekali…

Di balik etalase kaca yang dipenuhi lauk-pauk menggoda, seorang ibu setengah bia tersenyum ramah menyambutnya. Begitu Gerard duduk, sang ibu langsung menawarkan beragam menu dengan semangat. Tanpa pikir panjang, Gerard mengangguk pada hampir semuanya. Matanya bersinar, fokus penuh pada makanan.

“Wah, nggak bisa kalau begitu, Mas…” ujar si Ibu setengah bingung, setengah geli melihat piring yang hampir meluber. “Sekaligus gitu nggak muat, nanti nasinya tumpah.”

Gerard tersentak. Dikira itu aturan warung, ia menghela napas pasrah. Ekspresi seriusnya yang tiba-tiba murung justru memancing tawa kecil dari sang penjual.

“Tenang, tenang,” ucap si Ibu sambil terkekeh, tangannya sudah gesit membagi nasi dan lauk ke dua piring terpisah. “Saya pisahin jadi dua, biar rapi. Nggak apa-apa, kan?”

Melihat solusi itu, Gerard mengangguk cepat, matanya tak lepas dari makanan. Rasa lapar yang mendera membuatnya tampak seperti orang kelaparan yang melihat oasis. “Tentu! Itu jauh lebih baik!” sahutnya, hampir tak sabar.

Saat dua piringnya telah terisi penuh oleh nasi, sayur, lauk pauk, dan sambal yang beraneka rupa—sebuah mahakarya tanpa tema yang jelas selain "kenyang"—Gerard menyantapnya dengan sukacita murni. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali kuah gurih menyatu dengan nasi panas di lidah. Setiap gigitan adalah sebuah perayaan. Berkali-kali ia mengacungkan jempol ke arah ibu pemilik warung, yang hanya tersenyum simpul melihat lahapnya tamu pagi ini.

Namun, setelah piring pertama licin tak bersisa dan rasa lapar yang menggerayangi itu mulai mereda, pikirannya yang lebih jernih tiba-tiba bekerja. Saat itulah matanya terbelalak. Jantungnya seolah tercekat, berhenti berdetak untuk sesaat.

Bagaimana cara bayarnya?

Uang. Ya, ada uang dari "sistem" itu. Tapi uang itu hanya angka di layar Toko. Bagaimana mengubahnya menjadi rupiah fisik yang bisa ia gunakan di dunia nyata? Keringat dingin mulai membentuk butiran-butiran halus di pelipisnya. Perasaan lega tadi tergusur oleh gelagapan mendadak, seperti maling yang ketahuan basah.

Persis ketika kepanikannya memuncak dan ia hampir membuka mulut untuk mengaku tak punya uang, suara yang familiar itu kembali bergema di benaknya. Kali ini, terdengar hampir seperti seorang teman yang sedang menahan tawa karena sudah menduga hal ini akan terjadi.

[Anda dapat mengonversi saldo menjadi uang fisik.]

[Ketuk jumlah yang diinginkan pada antarmuka Sistem, dan uang tunai akan muncul di dalam saku atau dompet Anda—dengan cara yang tidak menimbulkan kecurigaan.]

Instruksi itu terasa seperti angin penyejuk di tengah kepanikan. Nafas Gerard yang tadinya tertahan perlahan keluar. Dengan gerakan sedikit gemetar di bawah meja, ia memanggil panel transparan itu. Matanya cepat menghitung total yang harus dibayar, lalu jarinya mengetuk angka yang sesuai pada saldo yang tersisa.

Tap.

Ada sensasi berat dan berbisik yang tiba-tiba muncul di saku depan celananya. Dengan hati berdebar, ia menyelipkan tangan. Jarinya menyentuh lembaran kertas yang familiar, tebal, dan nyata.

Rasa panik itu langsung mencair, digantikan oleh gelombang lega yang hampir membuatnya tertawa. Dengan percaya diri yang kembali pulih, Gerard mengangguk pada ibu pemilik warung yang sedang membersihkan meja sebelah.

"Bu, berapa semuanya?" tanyanya, sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku. Senyumnya kini bukan lagi senyum kelaparan, melainkan senyum seorang yang baru saja diselamatkan dari malu yang paling mendasar.

Sang ibu tersenyum hangat, matanya sekejap meninjau piring-piring itu dengan cepat, menghitung dalam hati.

"Jadi yang tadi ada ayam goreng, tempe orek, sayur asam, sama sambel terasi… nasi dua piring juga," ujarnya sambil menatap Gerard dengan ramah. "Itu totalnya 35.000 saja, Mas."

Ibu pemilik warung itu terdiam sejenak, matanya membesar melihat selembar uang merah 100.000 rupiah yang disodorkan Gerard—padahal total harganya hanya 35.000.

"Lho, Mas, ini… ini kelebihan," ujarnya, suara agak gemetar. Tangan yang terbuka untuk menerima uang itu tak bergerak, seakan ragu.

Gerard hanya menganggak santai, tangannya tetap terulur. "Lah, simpan saja, Bu. Untuk sedekah atau buat jajan cucu. Makanannya enak, beneran." Senyumnya tulus, tanpa sedikit pun kesan sok atau pamer. Baginya, ini sekadar ungkapan terima kasih yang nyata—sesuatu yang dulu tak bisa ia lakukan ketika hidupnya hanya berisi kekurangan.

Ibu itu menatapnya lagi, lalu perlahan, dengan tangan yang sedikit gemetar, menerima uang itu. Air matanya tiba-tiba berkaca-kaca, meski ia berusaha tersenyum. "M-mas… terima kasih banyak. Semoga Mas selalu diberi rezeki berlimpah."

Gerard cuma balas angguk pendek, lalu kembali fokus pada piring keduanya. Rasa lega bukan cuma karena perut terisi, tapi juga karena ia akhirnya bisa memberi—sesuatu yang selama ini terasa asing dalam hidupnya yang hanya bertahan.

Di balik meja, ibu itu masih memegang uang 100.000 itu erat-erat, sambil sesekali mengusap sudut matanya. Pagi ini, bagi keduanya, terasa lebih hangat dari sekadar kuah sayur asam yang masih mengepul.

*•*•*

Setelah perutnya terisi penuh dan hatinya terasa hangat, Gerard kembali membuka gas Vario-nya, menyusuri jalanan yang sudah mulai ramai oleh kendaraan lain. Matanya sesekali beralih ke peta navigasi semi-transparan di sudut pandangnya, yang terus memandu dengan setia menuju sebuah titik berkedip bertuliskan "Rumah".

Rumah baru… pikirnya dalam hati, dan sebuah getaran emosi yang lama terpendam menyergapnya. Sudah berapa tahun, ya?

Pikiran itu membawanya melayang ke masa lalu. Ia melihat bayangan dirinya yang lebih muda, duduk di bangku kayu di halaman rumah lama, menemani ibunya yang sedang berjemur di pagi hari. Ada koran yang terbuka lebar, obrolan ringan tentang tetangga, dan teh hangat dalam cangkir-cangkir beling. Kebahagiaan sederhana yang dulu ia anggap biasa, kini terasa seperti harta karun yang telah tenggelam.

Tapi kenangan manis itu berbalik pedih. Kini ibunya sudah tiada, dan "rumah" itu pun telah lama hilang dari genggamannya. Dadanya sesak. Dalam hati, ia berbisik pelan, seolah sang ibu bisa mendengarnya dari alam lain: "Tenang aja, Ma. Erad sekarang udah punya rumah lagi. Mama istirahat aja di sana, ya? Jangan khawatirin aku lagi…" Ucapan itu nyaris membuat matanya berkaca-kaca, tetapi ia menarik napas dalam, menahan semuanya.

Maafin juga Erad, Ma...

*•*•*

Peta navigasi di depannya mulai berkedip lebih cepat, lalu perlahan memudar dan menghilang. Tepat di saat itu, Gerard mengangkat pandangan. Di hadapannya terbentang gerbang perumahan "Taman Melati", dengan pos satpam kecil di sampingnya.

Seorang satpam berumur yang sejak tadi memperhatikannya dari dalam pos segera bangkit dan melangkah keluar, wajahnya ramah namun tetap waspada. Gerard menghentikan motornya tepat di sebelahnya.

"Selamat pagi, Pak," sapa Gerard dengan senyum tipis.

"Selamat pagi, Mas," balas sang satpam sambil mengangguk. Matanya mengamati Gerard dengan cermat. "Ada perlu ke mana, Mas? Kok wajahnya agak asing, nih." Sebagai satpam yang sudah bertahun-tahun di sini, ia hampir hafal betul wajah setiap penghuni.

Gerard mengangguk, mengerti kekurangajaran itu. "Oh, iya, Pak. Saya mau ke Blok D7, nomor 3. Kebetulan… saya baru saja pindah ke situ."

Namun ketika ia selesai menjelaskan, sesuatu muncul. Cukup untuk membuat tubuhnya tersentak.

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!