Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan yang Terjawab
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi. Dari lantai atas mansion Eduardo, Almira menatap kerlap-kerlip lampu kota yang membentang seperti hamparan permata. Namun, kemewahan yang mengepungnya malam ini tidak memberikan rasa tenang yang biasa ia rasakan saat berada di paviliun Bogor. Sebaliknya, ada perasaan sesak yang merayap di dadanya—sebuah firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Mansion ini terlalu besar, terlalu dingin, dan terlalu penuh dengan kenangan pahit masa lalu. Meskipun Alex telah mengubah banyak hal, termasuk sikapnya, atmosfer kekuasaan yang kaku di rumah ini tetap membuat Almira merasa seperti orang asing yang sedang menunggu waktu untuk diusir.
"Belum tidur?" suara berat Alex memecah keheningan.
Almira menoleh, mendapati suaminya berdiri di ambang pintu balkon. Alex mengenakan jubah mandi sutra hitam, wajahnya tampak lelah namun guratan otoritas itu masih tercetak jelas. Ia berjalan mendekat—kali ini tanpa tongkat, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati.
"Belum bisa," jawab Almira pendek. Ia kembali menatap jalanan di bawah. "Jakarta terasa... berbeda dari Bogor, Alex. Di sini, aku merasa seperti kita sedang berdiri di atas bom waktu."
Alex berdiri di belakangnya, melingkarkan tangannya di pinggang Almira dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Itu cuma perasaanmu saja, Al. Kita baru saja memenangkan pertempuran di ruang rapat tadi siang. Dewan direksi diam, Nadia mundur. Semuanya terkendali."
"Apakah benar-benar terkendali?" Almira berbalik dalam dekapan Alex. Matanya menatap dalam ke mata suaminya. "Nadia Mahendra bukan tipe wanita yang akan menyerah begitu saja. Tatapannya tadi siang... itu bukan tatapan orang kalah, Alex. Itu tatapan orang yang sedang menyiapkan serangan lebih besar."
Alex menghela napas, ia mengecup kening Almira lama. "Jangan terlalu banyak berpikir. Fokus saja pada Adrian dan kesembuhanku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian."
Kegelisahan yang Tak Berujung
Meskipun Alex mencoba menenangkannya, kegelisahan Almira justru semakin menguat saat fajar menyingsing. Pagi itu, Alex sudah berangkat ke kantor lebih awal untuk menyelesaikan urusan administrasi yang menumpuk. Almira tinggal di rumah bersama Adrian dan beberapa asisten rumah tangga yang baru.
Saat sedang menyuapi Adrian di ruang makan, Almira melihat Rendy masuk dengan terburu-buru. Wajah asisten setia Alex itu tampak pucat, tangannya menggenggam sebuah amplop cokelat besar dengan logo firma hukum terkenal di Jakarta.
"Rendy? Ada apa? Alex baik-baik saja kan di kantor?" tanya Almira, hatinya langsung mencelos.
Rendy berhenti sejenak, mencoba mengatur napasnya. "Tuan Alex baik-baik saja, Nyonya. Tapi... ada sesuatu yang baru saja dikirimkan ke kantor pusat dan Tuan Alex meminta saya membawanya segera untuk dipelajari sebelum beliau pulang."
"Apa itu?" Almira meletakkan sendok bubur Adrian.
Rendy ragu-ragu. "Ini tentang wasiat mendiang Tuan Besar Richard Eduardo. Sepertinya ada lampiran tersembunyi yang baru saja diajukan oleh pihak Mahendra ke pengadilan waris."
Rendy segera berlalu menuju ruang kerja Alex di lantai bawah, namun Almira tidak bisa tinggal diam. Rasa ingin tahunya bercampur dengan ketakutan yang luar biasa. Ia menggendong Adrian dan mengikuti Rendy dari belakang secara diam-diam.
Dari balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Almira mendengar Rendy berbicara di telepon dengan Alex. Suara Rendy terdengar gemetar saat membacakan isi dokumen tersebut.
"Tuan... ini gila. Lampiran ini menyatakan bahwa seluruh aset Eduardo Group, termasuk rumah-rumah pribadi dan dana perwalian, hanya bisa diwariskan kepada Anda jika pasangan Anda adalah seseorang yang memiliki kontribusi modal minimal sepuluh persen terhadap aset perusahaan, atau berasal dari keluarga dengan latar belakang bisnis yang diakui oleh dewan keluarga."
Jantung Almira seolah berhenti berdetak.
"Jika syarat itu tidak terpenuhi," lanjut Rendy, "maka hak pengelolaan aset akan dialihkan kepada kerabat terdekat yang memenuhi syarat tersebut—yaitu aliansi keluarga Mahendra melalui Nadia Mahendra—sampai ahli waris berikutnya, dalam hal ini Adrian, mencapai usia dewasa dan menikahi seseorang yang memenuhi kriteria serupa."
Hening di seberang telepon. Almira bisa membayangkan betapa murkanya Alex di kantornya saat ini.
"Artinya, Tuan... secara teknis, pernikahan Anda dengan Nyonya Almira bisa dijadikan alasan oleh dewan direksi untuk membekukan seluruh kekuasaan Anda. Mereka bisa menuntut pengembalian aset karena dianggap melanggar klausul kemurnian waris."
Almira mundur perlahan. Lututnya terasa lemas. Ia bersandar di dinding koridor, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar. Kemurnian waris. Kata itu terdengar sangat menjijikkan, menguasai, dan sangat kejam. Di mata hukum keluarga Eduardo, ia bukan hanya seorang mantan pelayan; ia adalah "cacat" dalam sistem kekayaan mereka.
Sore harinya, hujan deras mengguyur Jakarta. Almira duduk di pojok kamar bayi, memeluk lututnya sementara Adrian tidur terlelap di sampingnya. Ia merasa sangat kecil di tengah mansion mewah ini. Seprai sutra, karpet Persia, dan lampu kristal di sekelilingnya tiba-tiba terasa seperti jeruji penjara yang siap menjepitnya.
Ia tahu Alex mencintainya. Ia tahu Alex akan berjuang habis-habisan. Tapi ia juga tahu Alex adalah pria yang sangat mencintai dunianya, Eduardo Group adalah identitasnya. Bisakah Alex bertahan jika harus kehilangan segalanya hanya demi mempertahankan status pernikahan mereka?
Suara mobil terdengar di halaman. Tak lama kemudian, langkah kaki Alex yang berat terdengar di tangga. Pintu kamar terbuka, dan Alex masuk dengan wajah yang sangat gelap. Ia melihat Almira yang sedang melamun dengan mata sembab.
"Kau sudah tahu," ucap Alex pelan. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Almira mengangguk. "Aku mendengar Rendy meneleponmu tadi pagi."
Alex duduk di lantai di depan Almira, melepaskan dasinya dan melemparnya ke sembarang arah. "Itu sampah, Al. Ayahku memang gila, tapi aku tidak akan membiarkan kertas tua itu mengatur hidupku. Aku akan menyewa pengacara terbaik di negeri ini untuk membatalkan klausul itu."
"Tapi Nadia punya celah hukum, kan? Itu alasan kenapa dia begitu percaya diri di rapat kemarin," suara Almira bergetar. "Alex, aku tidak mau menjadi penyebab kau kehilangan semua yang sudah kau bangun. Eduardo Group adalah hidupmu."
"Kau dan Adrian adalah hidupku sekarang!" Alex membentak pelan, menggenggam tangan Almira dengan kuat. "Jangan pernah berpikir untuk menyerah atau pergi. Aku tidak peduli jika harus jatuh miskin, asal kalian bersamaku."
Almira tersenyum pahit, air matanya jatuh. "Kau bilang begitu sekarang karena kau masih punya kekuasaan itu, Alex. Tapi bagaimana jika nanti kita tidak punya apa-apa? Bagaimana jika Adrian tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak karena hartamu disita? Aku tidak ingin anak kita menderita karena egoku yang ingin tetap berada di sampingmu."
Malam itu, mereka tidur dalam keheningan yang menyesakkan. Meskipun mereka berbaring di ranjang yang sama, ada jurang lebar yang mulai terbuka di antara mereka. Almira tidak bisa memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Nadia yang penuh kemenangan. Ia membayangkan dewan direksi yang akan menatapnya dengan pandangan lebih menghina daripada sebelumnya.
Keesokan paginya, Almira terbangun lebih awal. Ia turun ke dapur untuk membuatkan kopi buat Alex, berharap aroma kopi bisa sedikit mencairkan ketegangan. Namun, di meja makan, ia menemukan sebuah koran bisnis pagi yang sudah terbuka.
Headline di halaman depan tertulis: "SKANDAL WARIS EDUARDO GROUP: BENARKAH SANG CEO TERANCAM LENGSER KARENA PERNIKAHAN TAK SELEVEL?"
Foto dirinya saat turun dari mobil kemarin terpampang jelas, dengan judul kecil yang menyebutnya sebagai "Mantan Pelayan yang Mengguncang Kekuasaan."
Gelas di tangan Almira bergetar. Ia sadar, ini bukan lagi sekadar masalah hukum di ruang tertutup. Ini adalah pembunuhan karakter yang direncanakan secara publik. Nadia Mahendra tidak hanya ingin harta Alex; ia ingin menghancurkan martabat Almira sampai ke dasar bumi sehingga Almira sendiri yang merasa tidak pantas dan memilih untuk pergi.
Almira menatap ke luar jendela yang buram karena sisa hujan semalam. Kabut Jakarta seolah masuk ke dalam hatinya. Ia tahu, badai besar benar-benar telah datang, dan kali ini, cinta saja mungkin tidak akan cukup untuk menahan fondasi rumah tangga mereka yang sedang diguncang dari segala arah.
"Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" bisik Almira lirih.
Di lantai atas, Adrian menangis kencang, seolah bisa merasakan kegelisahan ibunya yang semakin memuncak. Almira berlari ke atas, namun hatinya tertinggal di bawah, di tengah tumpukan dokumen waris yang mengancam akan menghapus kebahagiaan kecil yang baru saja ia cicipi.