NovelToon NovelToon
Getting Married On The Rebound

Getting Married On The Rebound

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

*merried for revenge

bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.

liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.

"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras

"brengsek!! "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

..

.....

  Pagi ini, Adeline seharusnya sudah berada di lokasi pemotretan untuk iklan produk skincare terbaru. Namun, semua rencana itu seketika buyar. Tanpa ragu, ia langsung menghubungi Dara untuk membatalkan seluruh jadwal pekerjaannya hari ini.

Padahal, Adeline sudah tampil rapi dan siap berangkat. Langkahnya terhenti saat melihat Leon yang masih terbaring kaku di balik selimut. Perasaan ganjil menyusup di benaknya.

"Kenapa nih orang? Tumben banget masih tidur jam segini? Apa aku bangunin aja ya, takutnya dia kesiangan," gumam Adeline pelan sembari menghampiri ranjang suaminya.

"Eon?" panggilnya lembut. Tak ada jawaban.

Adeline mengernyit, lalu menggoyangkan perlahan tubuh laki-laki itu. "Leon, kamu nggak kerja?"

Begitu kulitnya bersentuhan dengan lengan Leon, Adeline tersentak. "Panas? Kamu demam ya?" tanyanya cemas. Leon hanya merespons dengan gumaman halus yang nyaris tak terdengar.

Dengan sigap, Adeline mengambil wadah berisi air dingin dan handuk kecil. Ia mulai mengompres dahi suaminya dengan telaten. Leon yang setengah sadar mencoba untuk bangkit dan duduk, namun fisiknya terlalu lemah; kepalanya terasa seperti dihantam beban berat.

"Kamu istirahat dulu ya, aku mau masak bubur sebentar," ucap Adeline sembari membantu Leon berbaring kembali.

Baru saja melangkah menuju dapur, ia menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, aku lupa kalau nggak bisa masak," rutuknya dalam hati. Rencana memasak pun batal. Ia memutuskan untuk keluar mencari tukang bubur ayam dan mampir ke apotek demi membeli obat penurun panas.

Rasa khawatir begitu menggelayuti hati Adeline. Selama ini, ia tak pernah melihat Leon dalam kondisi selemah ini. Perasaannya mendadak melankolis hingga ia tak sadar keluar rumah dengan penampilan yang jauh dari kesan model profesional. Bayangkan saja, seorang model papan atas berkeliaran hanya dengan daster tidur dan sandal jepit. Wajahnya polos tanpa riasan, untung saja ia sudah sempat memakai serum dan sunscreen tadi pagi.

Tak lama, Adeline kembali dan bergegas menghampiri Leon. Di atas nampannya sudah tersedia semangkuk bubur hangat, segelas susu, dan air putih.

"Ayo, makan dulu," ajaknya lembut sambil membantu Leon duduk bersandar.

"Hmp, nanti aja... aku belum lapar," tolak Leon dengan suara parau yang lemah.

"Ayo, biar cepat sembuh," bujuk Adeline. Ia mulai menyuapi suaminya dengan sabar. Bukannya fokus pada makanan, Leon justru terpaku menatap wajah istrinya yang menyiratkan kecemasan yang tulus.

"Makan ya, dikit aja," bujuk Adeline lagi. Akhirnya, Leon luluh dan mulai menerima suapan demi suapan.

Setelah bubur habis dan segelas susu tandas, Leon meminum beberapa butir obatnya. Laki-laki itu kembali diam, enggan bersuara. Saat Adeline hendak membantunya berbaring agar bisa beristirahat, tangan Leon tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya. Ia menggeleng pelan, memberi isyarat bahwa ia belum ingin tidur.

Adeline menarik napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping suaminya.

"Bukannya kamu ada pemotretan hari ini?" tanya Leon memecah keheningan.

"Emmm," jawab Adeline singkat dengan anggukan.

"Kenapa belum pergi? Nanti telat gimana?" Leon bertanya lagi sembari merasakan pijatan lembut Adeline di bahunya.

"Kalau aku pergi, siapa yang jagain kamu?" Adeline balik bertanya, membuat Leon terdiam.

"Aku nggak apa-apa sendiri, sekarang sudah agak mendingan kok," ucap Leon lembut seraya melepaskan tangan Adeline dari bahunya. Ia memilih bersandar dan menatap lekat wajah istrinya.

"Aku sudah cancel kok, tenang aja! Kamu lagi sakit, nggak usah banyak bicara dulu," tegur Adeline. Pandangannya kemudian beralih pada benda pipih yang tengah ia pegang.

"Kenapa?" tanya Leon yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Adeline. Istrinya itu hanya terdiam.

"Bukankah kamu membenciku?" tanya Leon lagi, kali ini nadanya lebih dalam, membuat Adeline mendongak menatap matanya.

"Jadi aku harus gimana? Haruskah aku tidak peduli padamu? Bagaimanapun, kamu itu suamiku. Meski aku tak terlalu paham agama, tapi aku tahu kewajibanku. Aku nggak bisa ninggalin kamu gitu aja, kan? Lagian aku ikhlas kok jagain kamu. Jadi nggak usah khawatir dan banyak pikiran. Fokus saja pada kesembuhanmu. Aku nggak suka lihat kamu sakit!" jawab Adeline panjang lebar.

"Maaf..." lirih Leon. "Maaf aku merepotkanmu. Maaf ya, selama ini aku tidak sesuai ekspektasimu," ucapnya pelan.

"Nggak ngerepotin kok! Kan aku udah bilang, aku ikhlas," jawab Adeline seraya menggenggam telapak tangan Leon yang terasa dingin.

Padahal kamu membenciku. Bahkan untuk bercerita padaku saja kamu tidak mau. Lalu kenapa kamu melakukan ini? Bukankah aku tidak pantas menerima kebaikanmu, Adeline? Tak apa, biarkan aku sendiri, kamu tidak harus peduli padaku. Aku sudah terbiasa seperti ini... batin Leon sendu. Ia kemudian membaringkan tubuhnya, membelakangi Adeline.

Entah kenapa, belakangan ini perasaan Leon menjadi sangat sensitif. Mungkin karena beban pikiran yang menumpuk, atau karena ia baru menyadari bahwa kehadiran seseorang sangatlah berarti. Dulu, Leon adalah sosok yang sangat keras kepala. Baginya, segalanya bisa diselesaikan sendiri seolah ia tak butuh siapa pun. Tapi sekarang, hatinya begitu mudah terluka dan rasanya ingin menangis saja.

Mungkin trauma masa lalu itu kembali terkoyak sejak kehadiran Chelin Wang. Leon merasa hidupnya sangat miris. Ia tak bisa mengeluh, ia tak pernah diizinkan memperlihatkan sisi lemahnya. Ia terus meyakinkan diri bahwa ia kuat, namun saat ini, ia tak lagi mampu menahan gejolak hati yang tak terkendali.

Jika dulu ia berada di titik sesulit ini, ada seseorang yang menjadi tempatnya mengadu dan berkeluh kesah. Sosok yang selalu ia cari saat ia merasa tidak baik-baik saja. Namun ironisnya, sosok itulah yang kini paling ia benci: Liyan.

Dulu, Liyan adalah teladan baginya. Sosok kakak yang selalu mendampingi, membela, dan menjadi "rumah" tempatnya pulang. Hanya Liyan yang mengerti perasaan dan keinginannya. Mereka terlahir di keluarga yang bergelimang harta, namun sayangnya, mereka tumbuh dalam kesepian yang amat dalam.

Di sisi lain, Adeline tampak bingung menanggapi sikap Leon. Beberapa hari ini, suaminya itu terlihat jauh lebih murung, seolah memikul beban berat yang tak sanggup diutarakan. Sebenarnya, Adeline membenarkan ucapan Leon dalam hati: bukankah ia membencinya? Lalu kenapa hatinya mendadak sesak dan khawatir melihat kondisi laki-laki ini? Ia bahkan sampai mengabaikan penampilannya sendiri demi merawat Leon.

Aneh. Namun begitulah kenyataannya. Adeline merasa iba melihat sorot mata Leon yang biasanya tajam, kini meredup dan rapuh. Sesaat ia tersadar akan perasaan asing yang mulai tumbuh, namun ia segera menepisnya. "Ini hanya rasa tanggung jawab sebagai seorang istri. Wajar, kan?" pikirnya mencoba logis.

"Mmm..." gumam Adeline kemudian.

"Kamu nggak usah mikir macam-macam, Eon! Bukankah manusia itu memang harus saling membantu? Aku di sini tulus menjaga kamu. Jadi tolong ya, jangan bawel, nanti aku bisa kesal nih," ucap Adeline menatap punggung suaminya.

"Lagian kalau punya masalah itu cerita... Aku siap kok jadi psikolog dadakan. Dijamin rahasia aman terkendali... oke!" canda Adeline berusaha mencairkan suasana canggung agar Leon tidak terus tenggelam dalam kemurungannya.

1
memei
leon jgn main tebak tebak ,langsung ngomong jujur saja ..kalo PD gak percaya ya sudahlah yg pntg udah ngomong
memei
liyan gengsi di pelihara ,nanti zheya terluka kamu sendiri yg merana krna zheya sedang di incar cewek gila fans beratmu liyan
memei
harusnya chelin yg di basmi kok malah liyan yg di salahin ... itulah akibat terlalu memanjakan nona muda apa2 di turuti jadi obses kan si chelin ini yg perlu di basmi . putri hama wereng chelin
memei
penyakit chelin ngeri juga ya ,tapi pasti ada sebabnya kenapa punya penyakit seperti itu
memei
penyakit chelin ngeri juga ya ,tapi pasti ada sebabnya kenapa punya penyakit seperti itu
memei
semangat kak author💪
memei
ini kapan ketahuan liyan tau kebusukan chelin , samawa ya buat dhea dan semangat buat authornya💪
jhiee: nanti kak.. semua ada di draft.. 😄 paling lama lagi bab seratus lebih..


oh ya sesuai janji. karena kakak udah komen nanti up lagi yaa paling ntar malam kak👍
total 1 replies
memei
Leon aneh yg penjahat chelin yg dibenci liyan ...demi penjahat memusuhi saudara sendiri
memei
leon kau membela orang yang salah ,x ini pasti sasaran celin adalah zheya ... leon harus kasih tau liyan kalo zheya dalam bahaya
memei
chelin menghilang karna kabur dia pembunuh
memei
nah loo Leon peluang selingkuh mu terbuka lebaaarrr...kalo liyan cinta pertamanya emang udah benar2 mati dibunuh si biang kerok Celin
memei
wooy Leon playing victim sama kakeknya dan curiga gak sih yg bunuh gebi si chelin
memei
belum up lagi kak
memei
siapakah calon Dea ,apa teman liyan leon
memei
liyan ayo minta jatah zheya
memei
crazy up
memei
hati hati Zee siang di kasih nafkah lahir tar malamnya di kasih nafkah batin ..persiapkan dirimu zeee
memei
di ulang ulang kalimatnya😂
jhiee: maaf kak, kadang keyboard nya eror😭
total 2 replies
memei
keren tapi kok sepi
memei
sudah kayak suami takut istri beneran nih liyan🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!