"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Mandi Berdarah sang CEO
Malam di rumah sakit VIP Mahendra Medical Center seharusnya tenang, namun bagi Clarissa, ketenangan adalah pertanda badai. Devan masih terbaring di ranjangnya, menatap Clarissa dengan binar mata yang lebih berbahaya daripada peluru Julian.
"Clarissa," panggil Devan pelan, suaranya serak-serak basah yang sengaja dibuat untuk memancing simpati.
"Apa lagi, Tuan Besar? Bubur sudah habis, obat sudah diminum, dan aku sudah menutup semua gorden agar kau tidak silau melihat ketampananmu sendiri di kaca," sahut Clarissa ketus sambil merapikan bantal di sofa tempatnya akan tidur.
Devan meringis pelan, memegangi bahunya yang diperban. "Badanku terasa lengket. Aku tidak bisa tidur jika tidak dibasuh. Dan suster di sini... gerakannya terlalu kasar. Hanya kau yang tahu cara menyentuhku dengan benar."
Clarissa menghentikan gerakannya. Ia menoleh, menatap Devan dengan tatapan tak percaya. "Kau mau aku... memandikanmu?"
"Hanya menyeka dengan air hangat, Sayang. Kecuali jika kau menawarkan diri untuk mandi bersama, aku tidak akan keberatan meski jahitanku harus lepas," Devan mengedipkan sebelah matanya, senyum miringnya kembali muncul.
"Dalam mimpimu!" Clarissa menyambar waslap dan baskom kecil berisi air hangat. "Awas saja kalau kau berani mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Clarissa mendekat ke ranjang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai membuka kancing kemeja pasien yang dikenakan Devan. Satu per satu kancing terbuka, memperlihatkan dada bidang yang dipenuhi otot keras, dengan beberapa luka goresan yang menambah kesan liar.
Clarissa menelan ludah. Ia mencoba fokus pada tugasnya, mengusapkan waslap hangat ke kulit Devan. Namun, setiap kali kulit mereka bersentuhan, ada sengatan listrik yang membuat jantungnya berpacu.
"Kau gemetar, Clarissa," bisik Devan. Ia menangkap tangan Clarissa yang sedang mengusap dadanya, menahannya tepat di atas jantungnya yang berdetak kuat. "Kau takut padaku, atau kau takut pada perasaanmu sendiri?"
"Aku takut kau mati karena kedinginan, bodoh!" balas Clarissa, wajahnya sudah semerah tomat.
Saat suasana sedang memanas dan penuh dengan ketegangan romantis, insting tajam Clarissa tiba-tiba menangkap sesuatu. Ia mendengar langkah kaki yang terlalu ringan di koridor luar. Langkah itu berirama, tapi tidak seperti langkah suster yang biasanya memakai sepatu karet yang berbunyi decit. Ini adalah langkah kaki yang ditekan.
Clarissa membeku. Ia menatap mata Devan, dan sepertinya Devan pun menyadarinya. Aura manja Devan menguap dalam sekejap, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi.
"Matikan lampunya," bisik Devan pelan.
Tanpa banyak tanya, Clarissa meraih sakelar lampu dan—KLIK—ruangan menjadi gelap gulita, hanya diterangi cahaya rembulan dari celah gorden.
Krieeet...
Pintu kamar terbuka perlahan. Sesosok suster masuk membawa nampan berisi suntikan. Namun, di bawah cahaya redup, Clarissa melihat pantulan logam mengkilap di balik saku baju suster itu. Itu bukan jarum suntik biasa, itu adalah pisau bedah yang telah dimodifikasi.
"Tuan Mahendra, waktunya suntik malam," suara suster itu dingin, tanpa emosi.
"Suster, bukankah jadwal suntikku baru dua jam lagi?" Devan menjawab dari kegelapan, suaranya tenang namun mematikan.
Suster itu tersentak, menyadari targetnya belum tidur. Tanpa peringatan, ia menerjang ke arah ranjang dengan pisau terhunus.
"Mati kau!"
Namun, sebelum pisau itu menyentuh Devan, sebuah baskom stainless steel melayang dan menghantam wajah suster itu dengan keras. PANG!
"Maaf, susternya sedang libur!" teriak Clarissa. Ia melompat dari balik tirai dan melepaskan tendangan lurus ke arah perut si pembunuh.
Si pembunuh terhuyung, namun ia segera bangkit. Ia adalah seorang profesional. Ia memutar pisaunya dan menyerang Clarissa dengan serangkaian sayatan cepat. Clarissa menghindar dengan lincah, gerakannya di tubuh Lestari ini terasa semakin menyatu dengan jiwanya sebagai petarung.
"Clarissa, di bawah bantal!" teriak Devan.
Clarissa berguling di atas lantai, meraih sesuatu dari bawah bantal Devan. Sebuah pistol kecil kaliber 22.
DOR!
Clarissa menembak pergelangan tangan si pembunuh hingga pisaunya terlepas. Namun, si pembunuh tidak menyerah. Ia mengeluarkan bom asap kecil dan meledakkannya di tengah ruangan. BOOM!
Asap putih pekat memenuhi kamar. Clarissa terbatuk-batuk, pandangannya kabur.
"Devan!" Clarissa mencoba merangkak menuju ranjang, takut si pembunuh memanfaatkan asap untuk menghabisi Devan yang masih terluka.
Tiba-tiba, sebuah tangan kuat menarik pinggang Clarissa dan membawanya ke dalam pelukan. "Aku di sini," bisik Devan di telinganya.
Dalam kegelapan dan kepulan asap, Devan berdiri melindungi Clarissa dengan tubuhnya sendiri, meskipun ia sedang terluka. Ia melepaskan dua tembakan ke arah jendela yang pecah. Si pembunuh tampaknya sudah melarikan diri melalui balkon.
Beberapa menit kemudian, pengawal pribadi Devan merangsek masuk dan mengamankan seluruh area. Lampu dinyalakan kembali, memperlihatkan kekacauan di dalam kamar. Air hangat dari baskom tumpah di lantai, dan kaca jendela hancur berkeping-keping.
Devan terduduk di tepi ranjang, napasnya memburu. Perbannya kembali merembeskan darah merah segar.
"Kau terluka lagi!" Clarissa berlari mendekat, wajahnya penuh kecemasan. "Kenapa kau berdiri tadi? Jahitanmu pasti robek!"
Devan menatap Clarissa, lalu tiba-tiba ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang erat. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Clarissa, menghirup aroma vanila yang menenangkan dari rambutnya.
"Aku tidak peduli dengan jahitanku," gumam Devan. "Saat aku melihat dia menyerangmu, jantungku rasanya mau berhenti. Jangan pernah melakukan hal nekat seperti itu lagi, Clarissa. Biarkan aku yang melindungimu."
Clarissa terdiam, ia membalas pelukan Devan, mengusap punggung pria itu dengan lembut. "Aku bukan wanita lemah yang harus kau kurung, Devan. Aku adalah partner-mu. Kita akan menghadapi ini bersama."
Setelah suasana tenang, sekretaris Devan masuk membawa sebuah benda yang terjatuh dari si pembunuh. Sebuah koin perak dengan ukiran kepala serigala.
"Keluarga Grey," desis Devan. "Mereka adalah saingan bisnis kita dari Eropa. Sepertinya Julian bukan satu-satunya yang ingin aku mati."
Clarissa menatap koin itu dengan mata yang berkilat dendam. "Jadi, daftar musuhmu bertambah lagi? Bagus. Semakin banyak, semakin seru."
Devan tertawa kecil, ia menarik Clarissa hingga duduk di pangkuannya—mengabaikan protes Clarissa soal lukanya. "Kau tahu? Kau jauh lebih menakutkan daripada seluruh pembunuh bayaran di dunia ini jika kau sedang marah."
"Turunkan aku, Devan! Pengawalmu melihat!" Clarissa meronta dengan wajah merah padam.
"Biarkan saja mereka melihat. Biar mereka tahu siapa Nyonya masa depan mereka," Devan mencium bibir Clarissa dengan penuh kemenangan, sebuah ciuman yang terasa manis namun juga mengandung janji akan peperangan besar yang akan datang.
Di luar sana, di bawah kegelapan malam Jakarta, persaingan kekuasaan baru saja memanas. Dari Naga Hitam hingga Keluarga Grey, semua mengincar takhta Mahendra. Namun mereka lupa satu hal: Mahendra tidak lagi berdiri sendiri. Ada sang Ratu Wijaya yang telah bangkit kembali.