NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Bawah Kulit

Pagi setelah arena bawah tanah terasa seperti hari yang dipinjam. Raito terbangun lebih awal dari biasanya, tubuhnya masih terasa berat tapi tidak lagi seperti dipukul besi panas. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang luka di lengan yang sudah mulai menutup—bekas goresan dari pisau Iron Fang kemarin malam. Bekasnya tipis, tapi setiap kali disentuh, ada sensasi dingin yang menyusup, seperti retak kecil di dalam tulang.

Mira sudah di dapur kecil, merebus air untuk kopi instan. Bau kopi murah mengisi kamar, campur dengan aroma hujan semalam yang masih menempel di baju mereka.

“Kamu diam sekali sejak kemarin malam,” kata Mira tanpa menoleh. Dia menuang air panas ke dua cangkir, lalu meletakkan satu di depan Raito. “Biasanya kamu banyak tanya. Sekarang malah seperti orang kehilangan lidah.”

Raito mengambil cangkir itu, meniup uapnya pelan. “Aku mikir. Harlan bilang batu itu butuh pengorbanan. Aku nggak tahu apa yang harus dikorbankan. Dan aku takut… kalau jawabannya adalah orang.”

Mira duduk di kursi seberang, memegang cangkirnya dengan kedua tangan. “Kamu takut kehilangan aku?”

Raito menatapnya langsung. “Bukan cuma kamu. Tapi ya… kamu termasuk. Kamu yang pertama kali temuin aku di hutan itu. Kamu yang ajarin aku bertahan. Kalau aku harus korbankan sesuatu yang berharga… aku nggak mau itu kamu.”

Mira menatap cangkirnya lama. Lalu dia tertawa kecil—tawa yang kering, tapi tulus. “Kamu terlalu manis untuk dunia ini, Raito. Aku sudah terbiasa ditinggalkan. Aku nggak takut kalau suatu hari kamu pergi lewat portal itu.”

Raito menggeleng keras. “Aku nggak bilang mau pergi sekarang. Aku cuma bilang… kalau harus ada pengorbanan, aku nggak mau itu orang hidup.”

Mira mengangkat bahu. “Harlan bilang batu itu akan ‘memberitahu’ sendiri. Mungkin pengorbanannya bukan orang. Mungkin kenangan. Mungkin sebagian Nen-mu. Atau mungkin… sesuatu yang lebih abstrak, seperti rasa takutmu.”

Raito diam. Dia menyesap kopi—pahit, tapi hangat. “Aku nggak tahu. Tapi aku nggak mau buru-buru. Aku mau latih dulu. Dawn Pulse kemarin malam lumayan. Aku mau coba perkuat lagi sebelum kita dekati Harlan lagi.”

Mira mengangguk. “Bagus. Hari ini kita latihan di lapangan belakang. Tapi nggak pakai Hatsu besar-besaran. Kita fokus ke kontrol. Kamu harus bisa pertahankan Dawn Pulse selama dua puluh menit tanpa kehilangan konsentrasi.”

Mereka selesai sarapan cepat, lalu turun ke lapangan kecil di belakang penginapan. Pagi itu cerah, tapi angin dingin membuat napas mereka beruap. Mira berdiri di pinggir, tangan disilang.

“Mulai. Aktifkan Dawn Pulse. Jangan biarkan kabutnya hilang meski aku ganggu.”

Raito mengangguk. Dia tutup mata sebentar, tarik napas dalam. Cahaya kuning pucat muncul pelan di sekitar tubuhnya—kabut tipis seperti embun pagi, hangat dan lembut. Dia buka mata, fokus menjaga denyut itu tetap stabil.

Mira ambil batu kecil dari tanah, lempar pelan ke arah Raito. Batu itu memantul saat menyentuh kabut, jatuh ke tanah tanpa membuat kabut hilang.

“Bagus. Sekarang aku gerak lebih cepat.”

Mira mulai bergerak—bukan serang sungguhan, tapi lempar batu kecil dari berbagai arah, kadang tendang tanah supaya debu beterbangan ke arah Raito. Setiap gangguan membuat kabut cahaya bergetar, tapi Raito tetap fokus. Napasnya teratur, mata tidak berkedip.

Sepuluh menit berlalu. Keringat mulai menetes di dahi Raito.

“Masih bisa?” tanya Mira.

“Masih,” jawab Raito, suaranya tegas meski agak tersengal.

Mira berhenti lempar batu. Dia maju mendekat, berdiri tepat di depan Raito—jarak hanya satu lengan. “Sekarang aku serang langsung. Pertahankan kabutnya. Jangan biarkan aku masuk.”

Mira angkat tangan kanan, tinju pelan tapi cepat mengarah ke bahu Raito. Tinju itu tidak mengenai kulit—kabut cahaya menahan seperti bantalan tak terlihat. Mira tambah kecepatan—pukulan, siku, tendangan rendah. Setiap serangan memantul, kabut bergetar tapi tidak pecah.

Raito mulai terengah. “Ini… lebih sulit dari bayangan.”

Mira tidak berhenti. “Karena ini bukan cuma fisik. Ini mental. Kamu harus percaya kabut ini cukup kuat. Kalau kamu ragu, kabutnya akan retak.”

Raito menggertak gigi. Dia ingat malam di gudang—saat dia hampir kehilangan Mira. Rasa itu muncul lagi: bukan takut, tapi tekad untuk tidak kehilangan lagi.

Kabut cahaya tiba-tiba berdenyut lebih kuat—bukan meledak, tapi mengembang pelan seperti napas dalam. Mira merasakan tekanan—tinjunya terdorong mundur lebih kuat dari sebelumnya.

Dia berhenti. Mundur dua langkah. “Sudah. Dua puluh tiga menit. Kamu lulus.”

Raito membiarkan kabut padam. Dia jatuh duduk di tanah, napas tersengal tapi tersenyum. “Rasanya… lebih mudah dari kemarin.”

Mira duduk di sebelahnya. “Karena kamu nggak memaksakan. Kamu biarkan cahaya mengalir, bukan dipaksa keluar. Itu langkah besar.”

Mereka diam sejenak, hanya mendengar angin dan suara kota jauh.

Raito bicara pelan. “Mira… kalau suatu hari aku harus pergi lewat portal itu… kamu mau ikut?”

Mira tertawa kecil. “Kamu terlalu cepat mikir akhir cerita. Kita belum tahu apa yang dibutuhkan batu itu. Dan aku… aku belum siap tinggalkan dunia ini. Masih ada dendam yang belum selesai.”

Raito mengangguk. “Aku paham. Tapi kalau aku pergi… aku nggak mau kamu sendirian melawan Shadow Serpent.”

Mira menepuk bahunya. “Kita hadapi satu per satu. Besok kita ke Harlan lagi. Kali ini bukan untuk ambil batu—hanya tanya lebih lanjut. Dan kalau Shadow Serpent muncul… kita hadapi bareng.”

Raito tersenyum. “Bareng.”

Mereka berdiri. Matahari sudah naik lebih tinggi, menerangi lapangan kecil itu dengan cahaya pagi yang lembut.

Sore harinya, mereka kembali ke arena bawah tanah—bukan untuk bertarung, tapi untuk bicara dengan Harlan. Ruang belakang kecil itu masih sama: meja kayu reyot, Eclipse Stone di atasnya seperti bintang yang terperangkap.

Harlan duduk sendirian, seperti kemarin. Matanya menyipit saat melihat Raito.

“Kamu kembali. Tanpa batu di tangan. Berarti kamu belum siap korbankan apa pun.”

Raito duduk di depannya. “Aku belum tahu apa yang harus dikorbankan. Kamu bilang batu itu akan memberitahu. Bagaimana caranya?”

Harlan menyentuh batu itu dengan jari kurusnya. “Pegang saja. Fokuskan niatmu. Batu akan bereaksi pada apa yang paling berharga bagimu. Bisa kenangan, bisa orang, bisa bagian dari dirimu. Kalau niatmu murni, batu akan tunjukkan jalan. Kalau tercemar… batu akan ambil nyawamu.”

Raito menatap batu itu. Garis cahaya retak di dalamnya berdenyut pelan, seolah hidup.

Mira berdiri di belakang. “Jangan pegang sekarang. Kita belum siap.”

Raito mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku mau tanya satu hal lagi. Kalau pengorbanannya adalah… orang yang aku sayang… apa batu itu bisa ditolak?”

Harlan tersenyum tipis. “Bisa. Tapi kalau ditolak, batu akan hancur. Dan peluangmu pulang hilang selamanya.”

Raito diam lama. Lalu dia berdiri.

“Terima kasih. Aku akan kembali lagi. Saat aku sudah tahu apa yang rela aku lepaskan.”

Harlan mengangguk. “Aku tunggu. Tapi ingat—Shadow Serpent sudah tahu kamu ke sini. Mereka akan datang lebih cepat. Mungkin besok. Mungkin malam ini.”

Mereka keluar dari ruang belakang. Di koridor gelap arena bawah tanah, Raito berhenti.

“Mira.”

“Hm?”

“Kalau besok Shadow Serpent datang… aku nggak mau kamu ikut bertarung sendirian.”

Mira tersenyum kecil. “Kamu juga nggak mau aku tinggalin kamu sendirian. Jadi kita sama.”

Mereka melangkah keluar ke malam Yorknew.

Di kejauhan, lampu kota berkedip seperti mata yang mengawasi.

Dan Raito tahu kalau retak di dalam dirinya belum sembuh. Tapi setidaknya, sekarang dia tidak sendirian menghadapinya.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!