Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Kenapa Om?
" Ayra , Om sama sekali tidak menghina dia tapi memang dia yang melakukan perbuatan sehina itu , entah apa motif nya menyembunyikan perjodohan kalian dari kamu " ucap Om Dirgantara menatap Hans .
" Tapi setidaknya sekarang kamu sudah tau , jadi apakah kamu siap memenuhi keinginan terakhir Papa kamu dengan menerima perjodohan ini?" pertanyaan Om Dirgantara dihadapan semua orang .
Ayra langsung menatap Hans mendengar pertanyaan itu " Ay, kamu tidak perlu persetujuan dia untuk menikah dengan ku , karena sejak awal Papa kamu sudah menyetujui perjodohan ini " ucap Alga ketika Ayra malah menatap Hans .
" Benar Ayra , kamu tidak perlu persetujuan dari dia, kamu sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan hidup kamu sendiri " sambung Om Dirgantara.
" Mengapa kalian mengatakan aku tidak perlu persetujuan dari nya , Om Hans adalah wali aku bahkan jika dia mengatakan tidak maka aku tidak akan menikah " kata Ayra yang mengejutkan semua orang.
" Ayra , dia hanya wali diatas kertas dan dia menjaga kamu karena menerima bayaran dan kesempatan besar " ucap Alga yang benar-benar kesal mengapa Ayra begitu memprioritaskan Hans dalam hal apapun .
" Cukup, sudah cukup kalian menghinaku , jika memang kalian beranggapan seperti itu maka aku akan melepaskan semua jabatan dan posisiku dalam setiap aspek di perusahaan ini sekarang juga " tegas Hans yang tidak bisa lagi membiarkan harga dirinya diinjak-injak.
" Tidak pak Hans ,jika itu terjadi maka aku juga akan menarik seluruh saham ku di perusahaan ini " ucap seorang investor yang tidak setuju dengan keputusan Hans .
" Ya "
" Kami mempertahankan investasi di perusahaan ini karena pak Hans kompeten dalam memimpin jika Presiden direktur diganti maka kami juga akan mundur " .
Seketika keputusan Hans mengundang pro dan kontra yang sangat besar bahkan beberapa orang mulai membicarakan keluarga Dirgantara yang terlalu agresif ingin menjadikan Ayra menantu justru untuk menguasai perusahaan.
" Om jangan ambil keputusan seperti itu, ayo kita bicara baik-baik" kata Ayra memegang sebelah tangan Hans dengan air matanya yang sudah menggenang .
" Sudahlah Ayra , sekarang kamu ikut kami " ucap Alga akan menyentuh Ayra .
" Tidak, kalian jahat , kalian sudah merusak pesta yang aku buat padahal aku sudah merancang nya selama berminggu-minggu " marah Ayra sakit hati .
" Jika aku tau kalian akan merusaknya lebih baik aku merayakan ulang tahun Om Hans di rumah ku saja " kata Ayra .
" Rumah mana yang kamu sebut Ayra ?" pertanyaan Om Dirgantara.
" Ketika Om pergi kerumah keluarga Ferdinand itu tidak ubahnya dari bangunan kosong tak berpenghuni yang ditinggal puluhan tahun " ucap Om Dirgantara.
" Kamu meninggalkan rumah penuh kenangan itu ?" pertanyaan Om Dirgantara.
" Aku hanya meninggalkan rumah itu untuk alasan keselamatan, namun aku membawa semua kenangan didalamnya bersamaku " pernyataan Ayra yang juga tidak marah pada keputusan Hans .
karena Hans membangunkan Ayra rumah yang sama persis bahkan seluruh isi dan barang-barang dirumah lama dibawa kesana .
" Kau benar-benar licik " ucap Om Dirgantara masih tidak habis pikir menatap Hans .
" Baiklah, tapi Om ingin kamu memenuhi permintaan terakhir Papa kamu untuk menyetujui perjodohan kalian " ucap Om Dirgantara.
" Om ingin kamu memberikan jawaban nya sekarang " sambung nya.
" Aku akan memberikan jawaban setelah mendiskusikan nya dengan Om Hans " ucap Ayra memegang tangan Hans .
" Ayo Om " ajak Ayra memegang tangan Hans dan mengajaknya pulang kerumah .
" Ayra dengarkan Om dulu "
...........
Dimobil Ayra diam dengan wajah cemberut nya sementara Hans yang duduk disampingnya hanya menatap dengan tatapan kosong kearah jalanan.
" Om kenapa sih diam aja , biarin mereka menghina Om" tanya Ayra yang merasa tidak terima.
" Ya , apa gunanya Om membantah itu memang kenyataannya bahwa Papa dulu memang memu," Ayra langsung menutup mulut Hans .
" Enggak , jangan katakan itu lagi " ucap Ayra menggeleng dan menutup mulut Hans .
" Tapi Ay,"
" Enggak diem " marah Ayra yang bahkan lebih tidak suka lagi Hans merendahkan diri nya sendiri .
Sesampai dirumah Ayra memegang tangan Hans dan membawanya masuk .
" Kita bicara di ruang kerja Om" ucap Hans .
" Tidak , kita bicara di kamar saja" kata Ayra yang selalu merasa ada batasan pembicaraan ketika bicara diruang kerja Hans .
" Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan" ucap Hans mengikuti Ayra saja .
Sesampai nya di kamar Hans mereka duduk ditepi ranjang sejenak saling diam " Om jawab aku dengan jujur " kata Ayra memegang sebelah tangan Hans .
" Kenapa? Apa kamu juga merasa Om bersalah atas semua nya?" pertanyaan Hans yang tidak akan lari juga .
" Aku tidak menyalahkan Om sama sekali dan tidak juga merasa menyesal telah ikut keputusan Om selama ini " kata Ayra yang percaya pada Hans .
" Lalu apa lagi yang ingin kamu tanyakan?" ucap Hans melepas jas nya dan melonggarkan dasi .
" Kamu ingin semua harta warisan kamu dibalik nama , Om akan melakukan nya sekarang juga " ucap Hans .
" Tidak, Om . Aku tidak ingin menanyakan soal itu " geleng kepala Ayra .
" Lalu apa yang ingin kamu tanyakan?" pertanyaan Hans menatap Ayra sambil menahan nafas berat .
" Aku, aku , ingin bertanya soal perjodohan itu?" tanya Ayra takut-takut dengan gelagapan.
" Apa benar Papa dulu menjodohkan aku dengan Alga?" tanya Ayra yang sejujurnya tidak pernah tau soal ini .
" Iya , itu benar" jawab Hans mengatakan yang sejujurnya karena semua bukti juga sudah ada .
" Tapi kenapa Papa menjodohkan aku Om, kan waktu itu masih kecil seperti tidak akan ketemu jodoh saja " rungut Ayra .
" Kalau soal itu Om nggak tau pasti jawaban nya , cuma dulu itu terjadi karena Papa berteman dekat dengan Om Dirgantara hingga mereka merencanakan perjodohan kalian " kata Hans mengatakan yang sejujurnya.
" Jika memang begitu , lalu kenapa Om tidak pernah mengatakan padaku?" pertanyaan Ayra yang membuat Hans langsung terdiam .
" Om selalu memberitahu aku apapun namun kenapa soal perjodohan ini tidak Om" ucap Ayra yang tidak pernah salah paham lantaran Hans selalu memberitahu semuanya dengan detail padanya selama ini .
" Jawab Om , kenapa?" pertanyaan Ayra yang hanya ingin tau alasan nya .
" Lalu apakah benar kamu ingin menerima perjodohan itu?" Hans malah bertanya bukan menjawab pertanyaan Ayra .
" Aku hanya akan menerima nya jika Om mengizinkan" kata Ayra yang selalu menitik beratkan apapun keputusan dalam hidupnya pada Hans .
" Jika tidak bagaimana?" pertanyaan Hans.
" Ya udah , aku nggak usah nikah sama Alga " jawab Ayra yang tersirat makna sepenting itu keputusan Hans baginya.
" Tapi perjodohan itu keinginan Papa kamu " jawab Hans dengan suara kecil .
" Jika memang begitu kenapa Om melarang bahkan menyembunyikan soal perjodohan ini?" tanya Ayra.
" Jawab Om, kenapa?" pertanyaan Ayra .
" Om jawablah, kenapa diam aja , apa Alga bukan orang baik?" pertanyaan Ayra yang terus mendesak Hans .
" Om jawab" desak Ayra .
" Karena kamu adalah milikku Ayra, hanya milikku" pernyataan Hans .
Jlebbb
wah ada baby Zoe, jangan bilang kecebong Hans itu 🤭🤭😆