NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 - Penjelasan dan Kemunculan Enam Orang Di Dalam Hidup Ku

Hendry membawa Arthur menjauh dari pintu ruang kerja dengan langkah senyap. Setiap pijakan kakinya seolah sudah terlatih untuk tidak meninggalkan suara, seperti seseorang yang sejak lama terbiasa berjalan di antara rahasia.

Di dalam ruangan itu, suara Moren, ayah Arthur kembali terdengar, lebih rendah, dan lebih berat.

“Norvist… aku tidak menyesal menolong mereka.”

Arthur berhenti.

Nama ayahnya terdengar berbeda ketika diucapkan dengan nada seperti itu bukan sebagai kepala keluarga, bukan sebagai bangsawan, melainkan sebagai seorang pria yang kelelahan.

Isabel, ibu Arthur menyahut, suaranya gemetar namun tertahan.

“Moren… aku tahu niatmu itu baik. Tapi dunia tidak selalu membalas kebaikan dengan cara yang sama dengan apa yang kamu perbuat...”

Norvist berdiri di dekat meja kerja, kedua tangannya bertumpu di permukaan meja yang telah menemani Moren selama bertahun-tahun.

“Kau tidak menolong satu atau dua orang biasa, Moren” katanya.

“Kau menolong enam orang yang seharusnya tidak berada dalam satu lingkaran yang sama atau mungkin memang penjahat.”

Arthur mengerutkan kening.

Enam. Angka itu teringat di kepalanya, meski ia belum tahu alasannya. Hendry kembali menggerakkan Arthur. Kali ini lebih cepat, seakan tak ingin bocah itu mendengar lebih banyak. Mereka berhenti di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang.

 Cahaya senja menyinari wajah Arthur dari samping, sementara Hendry berdiri di belakangnya, bayangannya memanjang di lantai marmer.

“Hey Hendry” Arthur akhirnya berbisik,

“siapa yang telah Ayah tolong?”

Hendry terdiam lebih lama dari biasanya. Di kejauhan, terdengar suara gerobak lewat di jalan batu. Suara burung yang hendak kembali ke sarang. Dunia berjalan seperti biasa, seolah rumah ini tidak sedang menahan badai.

“Ahh Mereka… dulu hanya orang-orang yang tidak punya apa-apa, tuan muda” jawab Hendry akhirnya.

“Ayah anda memberi mereka pekerjaan. Perlindungan. Nama. Dan Kasih Sayang”

Arthur menoleh. “Lalu kenapa Paman Norvist bilang mereka berbahaya?”

Hendry menunduk, menatap lantai. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.

“Karena tidak semua orang sanggup membawa kebaikan tanpa mengubahnya menjadi… senjata.”

Di dalam ruang kerja, Moren menyebut satu nama.

“Clorfin.”

Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang pecah di baliknya. Arthur merasakan dadanya menghangat aneh, seolah nama itu memiliki berat tersendiri.

Norvist menyahut cepat, “Clorfin bukan lagi orang yang sama. Begitu juga Permo, Ervin, Forlen, Vastorci, dan Borein. Mereka telah membentuk ikatan sendiri. Dan itu bukan ikatan yang sehat bagi kita.”

Isabel menutup mulutnya dengan tangan.

“Jadi semua ini… karena mereka, anak yang menggemaskan yang dulu Moren bawa dari tanah kekacauan?”

Moren mengangguk pelan.

“Aku memberi mereka akses. Kepercayaan. Dan… celah.”

Satu kalimat itu jatuh seperti batu ke dasar air.

Arthur tidak mendengar kelanjutannya. Hendry sudah membimbingnya menjauh, menaiki tangga menuju lantai atas. Di tangga, mereka berpapasan dengan seorang perempuan muda. Rambutnya hitam, disanggul rapi, matanya lembut namun waspada.

“Selamat sore, Tuan Muda Arthur” katanya sambil tersenyum kecil.

Namanya Elira, salah satu pelayan muda yang baru beberapa bulan bekerja di rumah itu. Arthur membalas senyum, tapi pikirannya masih tertinggal pada nama-nama yang ia dengar. Setibanya di lantai atas, Hendry membuka pintu kamar Arthur.

“Kau sebaiknya beristirahat, tuan muda.” katanya. “Besok… akan menjadi hari yang sangat panjang.”

Arthur duduk di tepi ranjang.

“Btw Hendry… Ayahku orang baik, kan?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi Hendry terlihat seperti seseorang yang baru saja diminta menjawab sesuatu yang terlalu besar. Ia berlutut di depan Arthur, menatap sejajar dengan mata bocah itu.

“Ayahmu adalah orang paling baik yang pernah saya kenal, Tuan Muda” katanya lirih. “Dan justru karena itulah… dunia seperti mencoba menghancurkannya.”

Arthur menggenggam seprai.

“Kalau begitu… aku tidak mau jadi orang baik dah, Hendry.”

Hendry tersenyum tipis. Ada kesedihan di sana, tapi juga kebanggaan yang belum ia izinkan muncul sepenuhnya.

“Tidak apa-apa, tuan muda” katanya.

“Menjadi baik bukan tentang menang atau kalah. Tapi tentang… apa yang kau lindungi ketika semuanya seketika runtuh.” Di luar kamar Arthur, seseorang berdiri mendengarkan. Paman Norvist.

Ia tidak masuk. Tidak mengetuk.

Ia hanya menutup mata sebentar, lalu melangkah pergi. Di kejauhan, di tempat yang jauh dari rumah Moren, enam sosok duduk mengelilingi meja besar yang kasar.

Clorfin bersandar santai, jari-jarinya mengetuk permukaan meja.

Permo tersenyum tipis.

Ervin membaca kertas berita.

Forlen diam, terlalu diam.

Vastorci memainkan cincin di jarinya.

Dan Borein… hanya menatap lilin yang hampir padam.

“Rumah itu masih berdiri guys” kata Clorfin.

“Untuk sekarang saja” jawab Borein.

Dan di antara jarak, malam, dan keputusan-keputusan yang belum diambil, roda nasib Arthur perlahan mulai berputar.

Malam hari perlahan di rumah Moren, seperti tirai hitam yang ditarik tanpa suara. Cahaya dari jendela-jendela besar mulai meredup, digantikan lampu-lampu yang dinyalakan satu per satu oleh para pelayan. Arthur berbaring di ranjangnya, menatap kanopi putih di atas kepala. Kata-kata Hendry masih terngiang di telinganya.

“Dunia mencoba menghancurkannya.”

Ia memejamkan mata, tapi bayangan-bayangan justru semakin jelas. Enam nama itu berputar di kepalanya, seperti huruf-huruf yang belum membentuk kalimat.

Clorfin.

Permo.

Ervin.

Forlen.

Vastorci.

Borein.

Arthur membuka mata lagi. Di ambang pintu, sesosok bayangan berdiri. Tidak menakutkan justru terasa familiar.

“Hendry? Kau kah itu disana?” panggilnya pelan.

Bayangan itu maju, dan cahaya lampu memperlihatkan wajah kepala pelayan tua itu. Hendry membawa selimut tambahan, meletakkannya perlahan di atas tubuh Arthur.

“Maafkan saya,” katanya lirih. “Saya hanya ingin memastikan tuan muda tertidur dengan perasaan yang hangat.”

Arthur menggenggam ujung selimut.

“Hendry, selama kau hidup… Apakah ada keadaan dimana kau harus takut?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja.

Hendry terdiam. Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang, seperti yang sering ia lakukan saat Arthur sakit dulu atau ketika Arthur ingin mendengar cerita. Tangannya bertumpu di lutut, jemarinya sedikit gemetar sangat halus, hampir tak terlihat.

“Saya sudah hidup cukup lama untuk mengenal rasa takut, tuan” jawabnya akhirnya.

“Tapi… saya juga hidup cukup lama untuk tahu kapan rasa takut tidak boleh menang, tuan muda.”

Arthur menoleh.

“Apakah sekarang salah satu waktunya?”

Hendry tersenyum tipis. Senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya.

“Belum, waktunya belum sekarang” katanya. “Belum untukmu Arthur.”

Ia berdiri, dan hendak pergi, tapi Arthur menahan ujung mantelnya.

“Hendry… jangan pergi jauh.”

Untuk sesaat, Hendry berdiam.

Lalu ia mengangguk kecil.

“Saya tidak akan ke mana-mana, Tuan Muda.”

Ketika pintu tertutup, Arthur akhirnya tertidur tidur yang sepertinya tidak sepenuhnya damai.

Beralih Di Ruang Kerja Moren

Api di perapian terbakar dengan pelan. Moren duduk sendirian di kursinya, dokumen-dokumen terbuka di meja. Wajahnya diterangi cahaya jingga dari Api yang membuat kerutan di dahinya terlihat lebih dalam.

Isabel berdiri di dekat jendela, memeluk dirinya sendiri.

“Enam nama yang itu…” ucapnya pelan. “Aku masih ingat wajah mereka saat pertama kali datang ke sini. Mereka terlihat… tersesat dan membutuhkan bantyan.”

Moren tersenyum pahit.

“Aku melihat diriku sendiri di mata mereka.”

Norvist bersandar di dinding, tangan bersedekap. “Dan itulah kesalahanmu, Moren. Kau lupa bahwa tidak semua orang ingin diselamatkan. Beberapa hanya ingin naik… dengan menginjak orang lain.”

Moren menunduk.

“Aku memberi mereka modal. Akses. Surat rekomendasi. Aku pikir… jika mereka berdiri di kakiku, mereka tidak akan menendangku.”

Isabel menoleh cepat.

“Moren…”

“Tidak, sayang” potong Moren dengan lembut.

“Biarkan aku menyelesaikannya. Aku ingin kalian tahu… aku tidak menyesal menolong mereka yang membutuhkan. Yang kusesali hanyalah aku tidak menyiapkan perlindungan untuk keluargaku dari hal yang seperti ini.”

Norvist mendekat, suaranya merendah.

“Dan sekarang mereka bergerak lewat jalur lama. Perusahaan cangkang. Orang-orang perantara. Bahkan berhubungan dengan sesuatu yang gelap dan berbahaya.”

Ia berhenti, rahangnya mengeras.

“beberapa wajah yang kita kenal.”

Isabel terhuyung kecil, lalu duduk.

“Tunggu, jadi… ini belum selesai?”

Norvist menggeleng.

“Ini baru permulaan yang kupikirkan, awal dari segalanya yang akan terjadi dimasa depan.”

Di luar ruangan, langkah kaki berhenti tepat di balik pintu.

Hendry.

Ia tidak mengintip. Tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, mendengarkan seperti seseorang yang sudah terlalu sering mendengar kabar buruk setiap saat, tapi tetap memilih bertahan.

Moren akhirnya berkata lirih, hampir seperti doa,

“Kuharap Arthur tidak boleh menjadi korban dari kesalahanku dari masa lalu.”

Hendry menutup mata.

Di Suatu Tempat Lain, Jauh dari Rumah Keluarga Moren

Hujan turun deras di kota bawah. Di sebuah bangunan batu tua yang nyaris runtuh, enam pria duduk mengelilingi meja.

Clorfin tertawa kecil, santai, seolah dunia tidak sedang terbakar.

“Hahaha sepertinya dia masih sama. Terlalu baik.”

Permo menyandarkan dagu di tangan. “Karena kebaikan adalah mata uang paling mudah ditukar.”

Ervin memutar peta ke tengah meja. “Koneksi Moren perlahan mulai runtuh. Tapi pengaruhnya belum sepenuhnya mati. Pria itu...”

Forlen mengangkat kepala, matanya tajam.

“Tunggu belum waktunya.”

Vastorci mengangguk setuju.

“Biarkan Moren kelelahan dulu. Orang baik selalu runtuh dengan sendirinya dan itu yang menarik untuk dilihat hahaha.”

Semua mata akhirnya beralih ke Borein.

Pria itu berdiri, meniup lilin hingga padam. Ruangan langsung gelap.

“Dia memberi kita segalanya...” kata Borein yang sangat cool itu. “Dan sekarang… kita akan ambil sisanya.”

Kembali ke Rumah Marquis Fireloren

Angin malam menggoyang tirai kamar Arthur. Bocah itu bergerak dalam tidurnya, alisnya berkerut.

Di lorong, Hendry berdiri sendirian, memandangi pintu kamar Arthur.

Tangannya perlahan menyentuh dada kirinya tempat sebuah benda kecil tersembunyi di balik pakaian. Sebuah simbol lama. Sebuah janji.

“Belum saatnya...” bisiknya pada dirinya sendiri.

“Belum waktunya kau tahu tuan muda… tapi aku akan memastikan kau hidup cukup lama untuk memilih jalanmu sendiri.”

Di luar, petir menyambar, menerangi rumah itu sesaat.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Hendry sang pelayan tua merasa… waktu mereka semakin mulai menipis.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!