NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. PERTEMUAN DUA KUTUB

Ketenangan Arkan kembali terusik, kali ini bukan oleh Zavier, melainkan oleh kehadiran sosok wanita cantik. Sambil menggendong Leon, Bu Marni berjalan cepat memasuki ruang TV, ia berdiri dihadapan Arkan yang saat ini sedang berdiri di tengah-tengah ruangan itu.

“Pak Dokter, Bu Sofia datang berkunjung. Ia mengatakan ada hal penting harus diomongkan dengan Pak Dokter,” ucap Bu Marni dengan wajah sedikit cemas.

Arkan menghembuskan napas panjang saat Bu Marni memberitahu kehadiran tamunya. Ia sempat ingin menghindar, namun egonya berkata lain. Ia harus menghadapi wanita yang melahirkannya itu.

“Bi, tolong bawa Leon menjauh dari rumah ini. Setidaknya jangan buat Leon mendengarkan kami bertengkar,” pesan Arkan tajam sebelum melangkah menuju ruang tamu.

***

Sofia duduk di sana dengan postur sempurna, memancarkan aura kemewahan yang kental. Arkan masuk dengan gaya bicara yang sarkastik, “Suatu kehormatan bagi seorang dokter biasa ditemui oleh istri ketua dokter sedunia.”

“Apa salah jika seorang ibu sekali-kali mengunjungi rumah anaknya sendiri?” jawab Sofia tenang, namun matanya memperhatikan setiap sudut ruangan dengan tatapan merendahkan. “Ekhem! Mama sedikit haus, apakah pelayan kamu tidak berniat membuatkan Mama teh yang enak?” tambah Sofia dengan tangan lentik dan mulus memegangi lehernya.

Arkan, yang sudah tidak memiliki kesabaran, hanya menunjukkan botol air mineral di atas meja. “Aku rasa minuman itu pantas untuk tenggorokan Mama.”

Sofia mendengus jengah. “Kamu ini selalu kasar dengan orang tua.” Ia kemudian memperbaiki posisi duduknya, bersiap menyampaikan maksud utamanya. “Begini, kamu tahu Anggun, kan? Anak semata wayang dari Ketua Konsil Kedokteran Internasional, sahabat Papamu. Dia ingin bertemu denganmu. Mama berencana mempertemukan keluarga kita Sabtu ini. Kamu mau, kan?”

Mata Sofia berbinar penuh ambisi. Baginya, pernikahan Arkan dan Anggun bukan sekadar cinta, melainkan penggabungan kekuasan medis yang tak terkalahkan.

“Baiklah, aku mau,” sahut Arkan tanpa ekspresi.

Sofia tertegun sejenak, terkejut karena biasanya Arkan akan melawan habis-habisan. “Nah, gitu dong! Kalau begitu Mama pamit. Besok jam 7 kita berkumpul di restoran Yoa.”

Hanya pesan singkat. Kini, Arkan menatap punggung Sofia yang menjauh dengan tatapan sulit diartikan. Ia tidak sebodoh itu untuk menyerahkan hidupnya begitu saja pada ambisi Mamanya. Di kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk.

Arkan melirik jam tangannya yang melingkar elegan, menunjukkan pukul 08:45 pagi. Sebelum terjebak dalam rutinitas pekerjaannya yang kaku, ia melangkah ke halaman belakang. Aroma rumput yang masih basah oleh embun pagi menyambutnya, bersama tawa kecil Leon yang sedang asyik dalam gendongan Bu Marni.

***

“Apakah Bu Sofia sudah pulang?” tanya Bu Marni hati-hati.

Arkan hanya mengangguk singkat, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Leon. Begitu berpindah tangan, Leon tampak bersemangat hingga menyemburkan ludahnya, sebuah kebiasan bayi yang menggemaskan. Bu Marni dengan cekatan mengelap sisa air liur di wajah tembem Leon.

“Bi, nanti setelah Maya pulang sekolah, tolong suruh Pak Teddy untuk mengantarkannya ke rumah sakit,” instruksi Arkan sambil menatap mata bulat putranya.

“Baik, Pak Dokter.”

“Satu lagi, tolong carikan baju mendiang Lily yang masih baru dan belum pernah ia pakai. Siapkan untuk Maya nanti.”

Bu Marni tersenyum lebar. Dalam benaknya, ia merasa lega karena mengira Arkan akhirnya ingin mengajak Maya keluar untuk menghibur diri. “Baik, Pak Dokter. Bibi siapkan yang paling cantik.”

Namun, sebelum Arkan beranjak, Bu Marni memberanikan diri membuka pembicaraan lebih dalam. “Oh ya, Pak Dokter. Belakangan ini Dek Maya mulai sering tersenyum dan banyak bicara dengan Bbi. Bibi rasa, jika Pak Dokter mencoba mendekatkan diri dengan lebih lembut, mungkin Dek Maya tidak akan segan lagi. Dek Maya itu tipe gadis yang ceria dan penuh semangat sebenarnya. Bibi harap Pak Dokter bisa membantunya untuk pulih sepenuhnya.”

Arkan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sambil terus menggoda Leon, membiarkan jemari kecil bayi itu menggenggam telunjuknya. Namun, di balik wajah tenangnya, ada gemuruh yang mulai terasa menyesakkan.

“Ternyata hanya padaku saja Maya tidak pernah menunjukkan hal seperti itu,” batin Arkan perih. “Kenapa dia bisa terbuka pada Bibi, Pak Teddy, bahkan Zavier. Tapi tetap menutup diri padaku? Apa karena aku terlihat menyeramkan? Atau karena aku terlalu kaku?”

Arkan mencium kening Leon dengan lembut sebelum menyerahkannya kembali pada Bu Marni. “Bi, aku titip Leon, ya,” ucap Arkan lembut sambil menyerahkan jagoan kecilnya kembali ke pelukan Bu Marni.

Seperti kebiasan setiap pagi, Arkan mendaratkan kecupan hangat di kening putranya. Namun, kali ini Leon punya rencana lain. Bayi mungil itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan memberikan balasan berupa ciuman basah tepat di pipi Arkan, lengkap dengan lumuran air liur yang melimpah.

Arkan tertegun sejenak, lalu tertawa kecil sambil mengusap pipinya yang basah. “Leon, apa kamu ingin Ayah mandi lagi sebelum ke rumah sakit, hm?” tanyanya gemas.

Leon tidak merasa bersalah sedikit pun. Ia justru membalas dengan pekikan suara nyaring yang khas, lalu kembali memasukkan kepalannya ke dalam mulut, menghisap jempolnya dengan bunyi yang keras.

Bu Marni tertawa geli melihat interaksi ayah dan anak itu. “Sepertinya Leon ingin Ayahnya tetap wangi bau bayi sampai nanti di rumah sakit, Pak Dokter.”

Arkan menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia merapikan kemejanya, lalu berbalik menuju garasi. Bu Marni dengan sigap mengangkat tangan mungil Leon dan melambai-lambaikannya ke arah punggung Arkan yang menjauh.

“Dadaaa, Ayah. Kerja yang keras ya, Yah,” ucap Bu Marni menirukan suara anak kecil.

Leon saat ini sibuk meremas-remas jarinya sendiri dengan ekspresi wajah yang sangat serius sekaligus menggemaskan seolah-olah sedang memikirkan hal yang sangat penting.

***

Suasana di dalam Fortuner hitam Arkan mendadak tegang. Layar ponselnya yang terpasang di dashboard menyala, menampilkan pesan singkat namun mendesak dari Suster Nira, asisten kepercayaan di departemen obstetric.

📩“Dok, lapor! Ada pasien rujukan masuk. CPD (Cephalopelvic Disproportion). Persalinan macet, karena kepala bayi sudah masuk panggul tapi terjepit karena panggul ibu terlalu sempit. Detak jantung janin mulai melemah (fetal distress). Mohon segera, Dok!”

Arkan mengumpat pelan. Ia tahu benar risiko CPD. Jika kepala bayi teralu lama tertekan di jalan lahir, bayi bisa mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen yang berakibat fatal. Nyawa sang ibu pun terancam karena risiko perdarahan hebat atau robe*kan Rahim.

Tanpa membuang waktu, Arkan membanting setir ke lajur kanan, masuk ke pintu tol dalam kota. Ia memacu mobilnya di atas rata-rata, meliuk di antara kendaraan dengan presisi.

Hanya dalam hitungan belas menit, suara decitan rem yang memekakkan telinga bergema di area parkiran khusus dokter. Arkan bahkan tidak sempat mengunci mobilnya dengan benar lewat remote saat ia sudah melompat keluar. Jas dokter yang biasaya tersampir rapi di jok belakang kini ia sambar dan ia kenakan sambil berlari kencang.

***

“Siapkan ruang operasi sekarang!” lakukan prosedur Sectio Caesarea (Operasi Caesar) darurat!” teriak Arkan begitu melewati pintu otomatis UGD.

Suster Nira dan tim medis lainnya sudah menunggu. Mereka segera mengikuti langkah lebar Arkan yang menuju meja sterilisasi.

“Kondisi terakhir?” tanya Arkan sambil mencuci tangannya dengan cairan antiseptic secara kilat.

“Pembukaan lengkap, tapi janin tidak ada kemajuan turun, Dok. Ibunya mulai syok,” lapor Nira cepat sambil memakaikan Arkan gaun operasi steril.

Arkan menarik napas dalam, membuang semua emosi pribadinya, termasuk kemarahannya pada Sofia dan kecemburuannya pada Zavier. Di sini, di bawah lampu operasi, ia bukan pria yang sedang patah hati, ia adalah dewa penyelamat bagi bayi yang sedang berjuang untuk melihat dunia.

“Berikan anestesi. Kita mulai sekarang,” ucap Arkan dingin namun penuh wibawa. Pisau bedah sudah berada di tangannya.

***

Suasana di lorong rumah sakit terasa sangat mencekam. Adu mulut antara sang suami dan ibunya menjadi latar belakang yang memekakkan telinga di depan ruang operasi yang lampunya masih menyala merah.

“Lihat! Kata bidan, Susi tidak bisa melahirkan normal, tapi Ibu malah memaksa!” bentak sang suami dengan wajah memerah, menahan tangis dan amarah.

“Loh, kamu kok malah menyalahkan Ibu? Istrimu sendiri yang mau normal. Zaman dulu mana ada operasi, semua dibantu dukun beranak dan lancar-lancar saja!” sahut sang ibu tak mau kalah, masih memegang teguh prinsip kunonya.

1 jam kemudian.

Lampu operasi padam. Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma antiseptic yang tajam. Arkan melangkah keluar di antara kerumunan perawat. Di dekapannya, ada bungkusan kain bayi yang hangat. Sang suami hampir terjatuh lemas saat mendekati Arkan.

“Bagaimana…bagaimana istri saya, Dok?”

“Wah, selamat ya. Bayi dan ibunya berhasil melewati masa-masa menegangkan,” sahut Arkan dengan senyum tipis yang tulus. Ia menimang bayi perempuan itu dengan sangat hati-hati. “Pantas saja ibunya kesusahan mengejan, rupanya bobot bayinya hampir 5 kg. ini luar biasa.”

Mendengar kabar itu, sang suami jatuh terduduk dan menangis sesenggukan menghadap dinding. Beban berat di pundaknya luruh seketika. Arkan mendekat, meletakkan satu tangannya di bahu pria itu untuk menguatkan.

“Bapak tidak ingin melihat putri Bapak?” tanya Arkan lembut,

Pria itu mendongak dengan mata sembab. “Melihat putri saya selamat dan normal itu sudah cukup, Dok. Tapi, bagaimana dengan istri saya? Apakah dia benar-benar baik-baik saja?”

Pertanyaan itu menghantam ulu hati Arkan. Ia tertegun sejenak. Ingatannya terseret paksa ke masa lalu, ke sebuah ruang operasi yang sama di mana ia seorang dokter hebat harus menyaksikan nyawa istrinya sendiri, Lily, melayang di bawah tangannya sendiri. Rasa sakit itu sempat menyengat, namun Arkan segera menarik napas panjang, menelan kembali duka lamanya.

“Istri Bapak kuat. Dia sedang diobservasi, dan kondisinya stabil,” ucap Arkan menyakinkan. Ia kemudian beralih ke arah sang nenek dan keluarga lainnya. “Nah, ayo, siapa yang mau melihat wajah cantik ini sebentar?”

Keluarga itu langsung mengerumuni Arkan. Suasana haru berubah menjadi riuh penuh pujian. Namun, Arkan tetap tegas. “Tolong jangan disentuh ya, apalagi pipinya. Bayi baru lahir sangat rentan terhadap kuman,” tegurnya saat tangan sang nenek hendak mencubit gemas cucunya.

Setelah sesi singkat itu, Arkan membawa bayi tersebut menuju ruang pemulihan agar sang ibu bisa segera melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

...❌ Bersambung ❌...

1
Dewi Payang
Dokter Arkan memang beda🤭
Dewi Payang
Dan jaman dulu banyak pula bu yh mati karena beranak.....😭
Dewi Payang
Dua²nya pak dokter, mungkin juha karena oak dokter sudah tua🤣🤣🤣 ups🤭
Mita Paramita
semangat Thor nulisnya 🔥🔥🔥aku selalu kasih like👍
Dewi Payang
Gimana rasanya Dina, bobok sama pria kumuh, ups🤭🤭🤭🤭
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
~~N..M~~~
/Casual/ mataku dan otakku mulai ternodai oleh arkan
~~N..M~~~
Jangan sedih Yudha.
Chici👑👑
Like + nonton iklan
sari. trg: makasih /Smile/, kk
total 1 replies
Chici👑👑
mokondo emang mesti di sleding kanyutt nya/Doubt/
Chici👑👑
sungguh berat jadi maya🤧.. maaf thor aku baru baca lagi
Chici👑👑: Kaka author mampir juga yuk di novel kedua ku judul nya GADIS POLOS UNTUK DOKTER KULKAS
total 2 replies
~~N..M~~~
jaga maya, ya yudha
~~N..M~~~
harta, martabat menggelapkan pikiran seseorang
~~N..M~~~
sabar ya, may. aku yakin semuanya akan berakhir
~~N..M~~~
kau pikir bagus kali tuh anggun
~~N..M~~~
jngan kasih kendor. jngan takut juga may
~~N..M~~~
pingin peluk yudha
~~N..M~~~
sofia kejam sekali kau pada yudha. Ternyata, masa kecil yudha menyedihkan
~~N..M~~~
syukurnya arkan dan yudha tak memiliki sifat yg sama dgn mama dan ppanya
~~N..M~~~
wah, pasti dulu bu marni pernah duel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!