Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Pagi di kantor Airborne Group dimulai dengan kesibukan yang artifisial. Arga melangkah menyusuri lorong sayap barat menuju ruang arsip teknis. Ia sengaja datang lebih awal untuk menghindari interaksi dengan siapa pun, terutama Siska. Namun, di gedung ini, Siska seolah memiliki mata di setiap sudut tembok.
Lorong menuju ruang arsip itu cukup sempit, hanya cukup untuk dua orang berpapasan. Saat Arga baru saja mengambil beberapa dokumen, ia berbalik dan mendapati Siska sudah berdiri di sana, menghalangi jalan keluarnya.
Siska mengenakan gaun kerja berbahan sutra yang jatuh dengan pas di tubuhnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri diam dengan senyum simpul yang sulit diartikan.
"Permisi, Bu Siska. Saya harus segera kembali ke meja saya," ucap Arga formal, mencoba melewati sisi kanan Siska.
Namun, saat Arga bergerak, Siska justru melangkah ke arah yang sama. Gerakan itu membuat tubuh mereka bersinggungan. Dalam sepersekian detik yang terasa sangat lama, Siska sengaja menempelkan bahunya ke dada Arga. Tangan Siska yang memegang botol parfum kecil di balik saku bajunya menekan pelatuknya dengan gerakan halus yang tak terlihat.
Pshhh.
Kabut parfum yang sangat pekat menyelimuti jas Arga. Aroma itu begitu kuat hingga membuat Arga terbatuk kecil.
"Ups, maaf, Arga. Lorong ini memang terlalu sempit untuk kita berdua, bukan?" Siska berbisik, matanya berkilat puas melihat wajah Arga yang mendadak tegang.
Arga segera menjauh, wajahnya merah padam karena amarah. "Lain kali, tolong berikan jalan, Bu."
Arga melangkah pergi dengan terburu-buru. Ia merasa kotor. Ia berusaha mengibaskan jasnya sepanjang jalan menuju ruangannya, namun aroma itu seolah telah meresap ke dalam serat kain wol jasnya. Aroma itu bukan sekadar wangi, itu adalah tanda wilayah. Siska baru saja memberikan 'cap' pada dirinya.
~
Sesampainya di rumah malam itu, Arga merasa sangat tidak nyaman. Ia langsung melepas jasnya dan meletakkannya di keranjang cucian kotor, berharap Nabila tidak menyadarinya. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mencoba membilas bayangan Siska yang terus mengikutinya.
Nabila, yang baru saja selesai membereskan ruang tamu, berjalan menuju ruang cuci. Ia adalah tipe istri yang sangat teliti. Ia selalu memeriksa saku jas Arga sebelum mencucinya, memastikan tidak ada struk penting atau uang koin yang tertinggal.
Saat Nabila mengangkat jas abu-abu milik Arga, hidungnya langsung menangkap sesuatu.
Sebuah aroma yang sangat asing. Sangat feminin, sangat mahal, dan sangat dominan.
Nabila terpaku. Ia mendekatkan kerah jas itu ke hidungnya. Jantungnya berdegup tidak beraturan. Ini bukan bau deterjen yang biasa mereka gunakan. Ini juga bukan bau parfum unisex yang sering dipakai rekan-rekan pria Arga. Ini adalah bau parfum wanita yang dirancang untuk menarik perhatian.
"Mas Arga..." gumam Nabila pelan.
Pikiran Nabila melayang ke kejadian semalam, tentang struk kopi dan jas yang sengaja ditinggal di mobil. Kini, bukti baru muncul di tangannya. Nabila mencoba bersikap tenang. Ia tidak ingin menjadi istri yang paranoid, namun logika hukumnya mulai bekerja. Satu kejadian mungkin kebetulan, dua kejadian adalah pola, dan tiga kejadian adalah fakta.
Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya. Ia melihat Nabila berdiri di depan mesin cuci, memegang jasnya.
"Nabila? Sedang apa?" tanya Arga, berusaha terdengar santai meskipun hatinya mencelos.
Nabila berbalik perlahan. Ia mengangkat jas itu sedikit. "Mas, parfum siapa ini? Wanginya sangat kuat sekali di jasmu. Sampai memenuhi satu ruangan cuci ini."
Arga terdiam sesaat. Ia merasa lidahnya kelu. Ia sudah menyiapkan jawaban di kepalanya sejak di kantor tadi, namun saat melihat mata Nabila yang jujur, ia merasa seperti penjahat.
"Oh, itu... itu pengharum ruangan baru di kantor Direksi, Nabila," jawab Arga, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, tanda psikologis seseorang yang sedang berbohong. "Siska... maksudku Bu Siska, dia baru saja mengganti seluruh aroma di lantai eksekutif dengan aroma lily. Katanya supaya suasana lebih segar. Tadi aku rapat cukup lama di ruangannya, mungkin baunya menempel."
Nabila menatap Arga lurus-lurus. "Pengharum ruangan? Tapi baunya sangat... personal, Mas. Seperti bau parfum yang disemprotkan langsung ke kain. Dan kenapa hanya di bagian bahu dan dada ini saja yang sangat kuat?"
Arga tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Mungkin karena ventilasi di ruangannya kurang bagus. Atau mungkin saat aku berpapasan dengan asistennya, dia tidak sengaja menyenggolku. Kau tahu sendiri kantor sedang sibuk-sibuknya sejak ada pimpinan baru."
"Siska Roy itu... dia tipe atasan yang seperti apa, Mas?" tanya Nabila tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan namun tetap di jalur yang sama.
"Dia... ambisius. Menuntut banyak hal. Kenapa kau tanya?"
"Hanya penasaran. Sepertinya dia punya selera yang sangat kuat, termasuk soal pilihan parfum untuk 'kantornya'," ucap Nabila sambil memasukkan jas itu ke dalam mesin cuci dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari biasanya.
~
Malam itu, mereka tidur dalam keheningan yang canggung. Arga memunggungi Nabila, berpura-pura sudah terlelap, padahal matanya terbuka lebar menatap dinding. Ia merasa terjebak dalam jaring laba-laba yang ditenun Siska. Setiap kali ia berusaha menutupi satu lubang, Siska merobek bagian yang lain.
Sementara itu, Nabila berbaring di sampingnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Aroma parfum itu seolah masih terngiang di indra penciumannya. Sebagai seorang pengacara, Nabila terbiasa mengamati bahasa tubuh. Ia melihat bagaimana mata Arga menghindari tatapannya saat bicara soal parfum tadi. Ia melihat bagaimana tangan Arga sedikit bergetar saat memegang gelas air.
Nabila meraih ponselnya, mencari nama 'Siska Roy' di media sosial. Ia menemukan akun Instagram publik milik Siska. Di salah satu unggahan lama, Siska berpose di sebuah butik parfum mewah di London dengan keterangan foto - "My signature scent - Lily and Musk. Unforgettable."
Darah Nabila terasa membeku.
Lily and Musk. Sama persis dengan apa yang ia cium di jas Arga.
Kecurigaan yang awalnya hanya berupa benih kecil, kini mulai berakar. Nabila menyadari bahwa Arga sedang berbohong padanya. Aroma itu bukan berasal dari pengharum ruangan kantor, melainkan langsung dari tubuh wanita itu.
Nabila menoleh menatap punggung Arga. Hatinya perih. Bukan karena ia yakin Arga berselingkuh, ia masih sangat percaya pada cinta Arga, tapi ia sedih karena Arga merasa perlu berbohong padanya. Apa yang sedang terjadi di kantor itu? Apa yang dilakukan Siska Roy pada suaminya?
"Mas..." bisik Nabila sangat pelan, hampir tak terdengar. "Kenapa kau tidak jujur padaku?"
Di sisi lain, Arga yang sebenarnya belum tidur, mendengar bisikan itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia ingin berbalik, memeluk Nabila, dan menceritakan semuanya, tentang siapa Siska sebenarnya, tentang ancamannya, dan tentang betapa ia merasa terhina setiap kali berada di dekat wanita itu.
Namun, rasa takutnya lebih besar. Ia takut jika Nabila tahu masa lalunya yang kelam, Nabila akan pergi meninggalkannya. Ia takut Nabila akan memandangnya dengan rasa jijik karena pernah mencintai wanita seperti Siska.
Arga tetap diam, memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kebohongan itu menjadi dinding yang semakin tinggi di antara mereka.
Keesokan Paginya
Nabila bangun dengan tekad baru. Ia tidak akan membiarkan rumah tangganya hancur hanya karena permainan parfum seorang wanita ambisius. Jika Arga tidak bisa jujur, maka Nabila yang akan mencari tahu sendiri.
Saat Arga sedang bersiap berangkat, Nabila memberikan tas kerjanya sambil tersenyum manis, senyum yang tidak sampai ke mata.
"Hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa, kalau ventilasi di ruang Bu Siska memang buruk, mungkin kau harus minta pindah rapat di ruang lain. Aku tidak ingin kau pulang dengan bau 'pengharum ruangan' yang sama lagi," ucap Nabila dengan nada yang tenang namun tajam.
Arga hanya mengangguk kaku, lalu bergegas pergi.
Sepeninggal Arga, Nabila segera bersiap-siap. Ia memiliki jadwal sidang siang nanti, namun sebelum itu, ia memiliki satu tujuan - Airborne Group. Ia tidak akan melabrak. Ia hanya ingin melihat dengan matanya sendiri, siapa sebenarnya Siska Roy dan bagaimana suaminya bersikap di depan wanita itu.
Benih kecurigaan telah tumbuh menjadi pohon keraguan, dan Nabila tidak akan berhenti sampai ia menemukan akar dari segala kekacauan ini.
...----------------...
**Next Episode**....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰