Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR GEMBIRA
Pagi itu, Jakarta menyambut Adam dengan berita kemenangan yang manis. Setelah melalui negosiasi panjang yang alot, Adam akhirnya berhasil menandatangani akta jual beli rumah lama keluarga Bramasta yang berada di jakarta. Rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya sebelum tragedi sepuluh tahun lalu itu kini telah kembali ke pelukannya.
"Ini kejutan untuk Mbak Arumi," ucap Adam sambil menatap kunci rumah di tangannya. Ia berdiri di ruang tamu rumah keluarga Syahputra, bersiap untuk menyampaikan keputusannya pindah.
Asnita, ibu mertuanya, menatap Adam dengan haru. "Mama mengerti, Adam. Mbakmu butuh suasana baru untuk melupakan trauma di Surabaya. Tapi, apa kalian harus pindah secepat ini?"
"Iya, Ma. Adam ingin Mbak Arumi merasa aman di rumah milik keluarga kami sendiri. Tapi Adam janji akan sering berkunjung ke sini bersama Adel," jawab Adam lembut.
Aurel yang berdiri di samping Adam mengangguk setuju. "Lagipula, Ansel sudah mulai bisa dipercaya memegang kendali di sini, kan, Ma?"
Mendengar namanya disebut, Ansel yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar ruang makan langsung melesat keluar. Wajahnya tidak menunjukkan wibawa seorang direktur, melainkan wajah seorang anak kecil yang akan ditinggal di panti asuhan.
"TIDAK BISA! Aku tidak setuju!" teriak Ansel dramatis. Ia berlari dan langsung memeluk lengan Adam dengan sangat kencang. "Adam, Kakak Iparku yang paling tampan dan perkasa, bawa aku ikut! Aku tidak mau tinggal di sini hanya bersama Mama!"
Adam menghela napas panjang, mencoba mengibaskan tangan Ansel. "Ansel, lepaskan. Kau punya tanggung jawab di FB Build. Kau sudah dewasa, bukan bayi."
"Tapi di rumah ini sepi kalau tidak ada kalian! Siapa yang akan memarahiku kalau aku salah buat laporan? Siapa yang akan mengajariku cara memakai dasi yang benar?" Ansel mulai merengek, suaranya naik satu oktav. "Aku mau ikut! Aku bisa tidur di garasi rumah barumu! Atau jadi satpam cadangan! Tolonglah, Adam!"
Aurel memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Ansel Aulian! Berhenti bersikap memuakkan! Kau itu pemimpin perusahaan, kenapa mentalmu seperti kerupuk disiram air?"
"Kakak jahat! Kakak mau bersenang-senang berdua saja dengan Adam di rumah baru!" Ansel malah semakin menjadi-jadi. Ia kini berlutut di lantai, memegangi kaki celana Adam. "Mama, lihat Kak Adel! Dia mau membuang anak bungsumu yang malang ini!"
Asnita hanya bisa menepuk dahi. "Ansel, malulah sedikit. Kau hampir tiga puluh tahun!"
"Usia hanyalah angka, Ma! Kesepian itu nyata!" sahut Ansel sambil sesenggukan palsu. "Adam, ayolah... satu kamar kecil saja. Aku janji tidak akan mengintip kalian sedang... eh, maksudku, aku tidak akan mengganggu!"
Wajah Adam memerah karena kesal. "Ansel, kalau kau bicara sekali lagi, aku akan membatalkan promosimu menjadi Direktur Operasional!"
"Tega sekali! Kau kejam, Adam! Kau menghisap ilmuku lalu membuangku setelah kau mendapatkan rumah baru!" Ansel terus meracau, membuat suasana rumah yang seharusnya haru menjadi kacau balau karena ulahnya.
Aurel yang sejak tadi merasa mual karena bau parfum Ansel yang terlalu menyengat, tiba-tiba merasa pandangannya berputar. Suara teriakan Ansel terasa seperti ribuan lebah yang menyerang kepalanya.
"Ansel... diamlah..." ucap Aurel lirih.
"Tidak mau! Sebelum Adam bilang 'Iya', aku akan mogok makan dan mogok mandi!" Ansel masih bersikeras, tidak menyadari wajah kakaknya sudah sepucat kertas.
"Ansel, cukup! Gara-gara kau, kepalaku..." Kalimat Aurel terputus. Tubuhnya limbung.
Adam yang menyadari ada yang salah, dengan sigap menangkap tubuh Aurel sebelum menyentuh lantai. "Adel?! Adel, bangun!"
"Kak?! Kak Adel?!" Ansel berhenti merengek, wajahnya seketika panik melihat kakaknya pingsan di pelukan Adam.
Adam menatap Ansel dengan tatapan membunuh. "Lihat apa yang kau lakukan! Dia pingsan karena stres mendengarkan ocehan konyolmu!"
"Aku... aku tidak bermaksud... Kak Adel!" Ansel ikut panik, ia berlari kesana-kemari mencari air putih tapi malah menabrak meja.
"Cepat siapkan mobil! Jangan cuma lari-lari seperti ayam kehilangan induk!" bentak Adam.
Ansel langsung pergi menyiapkan mobil. Sedangkan Adam langsung menggendong Aurel. Dan membawanya ke mobil diikuti oleh Asnita yang ikut panik melihat putrinya. Ansel langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi kerumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit Aurel langsung dibawa ke ruang IGD.
Suasana di lorong rumah sakit terasa sunyi. Adam duduk dengan gelisah, sementara Ansel berdiri di sudut ruangan sambil menunduk lesu, tidak berani menatap mata Adam. Asnita terus merapal doa di samping mereka.
Tak lama kemudian, dokter keluar dengan senyum yang menenangkan. "Keluarga Nyonya Aurel?"
Adam langsung berdiri. "Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Apa dia kelelahan karena urusan pindahan?"
Dokter terkekeh pelan sambil menepuk bahu Adam. "Nyonya Aurel memang kelelahan, tapi itu sangat wajar bagi wanita dalam kondisinya. Selamat, Pak Adam. Istri Anda sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki minggu keenam."
Hening. Adam terpaku di tempatnya. Ia merasa seperti ada ribuan kembang api yang meledak di dalam dadanya. "Hamil? Istri saya... hamil?"
"Iya, Pak. Janinnya sehat, tapi Nyonya Aurel butuh istirahat total dan menghindari stres," dokter melirik ke arah Ansel yang masih berdiri kaku. "Terutama suara-suara berisik."
Asnita langsung menangis bahagia. "Alhamdulillah! Cucu pertama!"
Ansel yang mendengar berita itu langsung berubah drastis. Rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh kegembiraan luar biasa. "AKU JADI PAMAN?! Adam! Kau dengar itu? Aku akan punya keponakan! Aku akan mengajarinya cara balapan... eh, maksudku, cara belajar yang baik!"
Adam tidak mempedulikan Ansel. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar rawat. Di sana, Aurel sudah sadar, bersandar di bantal dengan wajah yang masih sedikit pucat namun tersenyum manis.
Adam menghampiri istrinya, berlutut di samping ranjang dan mencium tangan Aurel dengan sangat lama. "Terima kasih, Adel. Terima kasih untuk hadiah ini."
Aurel mengusap rambut Adam, matanya berkaca-kaca. "Jadi benar? Ada malaikat kecil di sini?" ia menyentuh perutnya yang masih rata.
"Iya. Dan aku janji, di rumah baru kita nanti, tidak akan ada yang mengganggumu. Terutama Ansel," ucap Adam sungguh-sungguh.
Tiba-tiba, kepala Ansel menyembul dari balik pintu. "Adam, aku janji tidak akan merengek ikut tinggal di rumahmu lagi! Tapi bolehkah aku yang membelikan kereta bayinya? Aku mau yang model sport!"
Aurel tertawa kecil melihat adiknya. "Masuklah, Ansel. Tapi kalau kau berisik lagi, aku akan menyuruh Adam membuangmu ke kutub utara."
Ansel masuk dengan langkah berjinjit, seolah takut langkah kakinya akan menggetarkan perut Aurel. "Siap, Kanjeng Ratu! Aku akan menjadi paman yang paling tenang di dunia."
Malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang sederhana, Adam menyadari bahwa rumah baru yang ia beli bukan sekadar bangunan tua. Rumah itu akan menjadi tempat lahirnya generasi baru keluarga Bramasta dan Syaputra. Sebuah awal baru yang jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.