Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurang dari Lima Menit
Pagi hari kedua di Ciwidey menyapa dengan suhu yang jauh lebih ekstrem.
Kabut tidak lagi hanya menggantung, tapi turun menyelimuti area perkemahan seolah ingin membekukan siapa pun yang berani keluar dari tenda.
Every terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu.
Tubuhnya panas, namun ia terus menggigil di balik jaket BEM-nya. Ia ingat samar-samar hangatnya dekapan seseorang semalam, tapi saat ia membuka mata, yang ada hanyalah Recha yang sibuk menyiapkan logistik.
"Eve, muka lo pucat banget. Lo istirahat aja di vila, biar gue yang handle sesi Problem Solving pagi ini," ucap Recha khawatir.
Every menggeleng keras, meski gerakannya membuat dunianya seolah berputar. "Gue Ketua, Cha. Gue yang bikin konsepnya, gue yang harus mastiin semuanya jalan. Gue oke."
---
Di lapangan terbuka yang becek, tim-tim sudah berkumpul.
Permainannya sederhana namun mematikan "The Human Bridge". Setiap tim harus memindahkan satu anggota "VIP" melewati area lumpur tanpa menyentuh tanah, hanya menggunakan papan kayu pendek yang harus digeser secara bergantian.
Every, sebagai pemimpin, memaksa masuk ke dalam tim inti. Ia menjadi salah satu penyangga papan, posisi yang membutuhkan kekuatan fisik dan keseimbangan ekstra.
Di pinggir lapangan, River berdiri bersandar pada batang pohon pinus. Ia mengenakan hoodie hitam dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Every yang bergerak limbung di tengah lumpur.
"Lihat tuh, si Ketua. Keras kepala banget," bisik salah satu anak Teknik di sebelah River. "Jalannya aja udah miring-miring gitu."
River tidak menyahut, tapi rahangnya mengeras. Ia melihat Every menggigit bibir bawahnya kuat-kuat—kebiasaan Every saat menahan sakit atau stres. Keringat dingin bercampur bintik air hujan mulai membasahi kening gadis itu.
"Satu... dua... geser!" Every memberi komando dengan suara yang serak.
Saat ia mencoba mengangkat papan kayu yang berat dan licin, kakinya yang masih terkilir dari kejadian di sungai kemarin mendadak mati rasa. Tubuhnya goyah. Papan itu miring, dan anggota "VIP" hampir jatuh.
"Every! Tahan!" teriak anggota timnya.
Every memejamkan mata, giginya beradu. Ia memaksakan otot lengannya untuk menahan beban, meski pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia bisa merasakan hawa panas demamnya mulai mengaburkan fokusnya.
Tiba-tiba, sebuah langkah besar terdengar mendekat melewati batas garis penonton. Tekanan udara di sekitar Every seolah berubah.
River sudah berada di sana, tepat di belakang Every. Ia tidak menyentuh Every—mengingat tantangan satu meter itu—tapi ia berdiri sedemikian dekat sehingga Every bisa merasakan radiasi panas tubuh River yang melindunginya dari angin kencang.
"Lepasin papannya, Eve," suara River rendah, parau, dan sangat mendominasi di tengah kebisingan instruksi permainan.
"Gue... bisa..." Every menjawab tanpa menoleh, napasnya tersengal.
"Gue bilang lepasin," desis River lebih tajam. "Atau gue bakal hancurin permainan ini sekarang juga dan bawa lo balik ke kamar dengan cara yang nggak bakal lo suka."
Every menoleh sedikit, matanya yang sayu bertemu dengan tatapan gelap River yang penuh ancaman sekaligus proteksi yang luar biasa.
Dominasi River membuat nyali Every yang biasanya keras kepala mendadak menciut hanya dengan memanggilnya Eve.
"Recha, gantiin posisi Every," perintah River mutlak, mengabaikan tatapan bingung anggota BEM lainnya.
"Tapi Riv, ini lagi penilaian—"
"Gue nggak peduli soal penilaian sampah kalian," potong River. Ia menatap Every, tangannya masuk ke saku jaket, menahan diri agar tidak langsung merenggut gadis itu di depan umum. "Jalan ke pinggir sekarang, atau gue yang bakal langgar aturan satu meter lo di depan semua orang."
Every yang sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat akhirnya melepaskan papan itu.
Ia berjalan sempoyongan ke pinggir lapangan dengan sisa harga diri yang ia punya. River mengikutinya dari belakang, seperti bayangan yang siap menangkap jika Every ambruk.
Begitu sampai di area yang sedikit tertutup pohon, Every berbalik. "Puas lo bikin gue kelihatan lemah di depan anggota gue?"
River maju satu langkah, menipiskan jarak hingga Every harus mendongak. "Gue nggak bikin lo kelihatan lemah. Lo emang lagi lemah, Every Riana. Berhenti mainin peran pahlawan kalau buat berdiri tegak aja lo nggak mampu."
---
Malam terakhir di Ciwidey ditutup dengan api unggun besar yang seharusnya mencairkan suasana, namun bagi Every, udara justru terasa semakin menyesak.
Ia duduk di kursi kayu utama, wajahnya masih pucat namun tertutup polesan tipis yang dipaksakan.
Di tangannya ada buku catatan evaluasi, tapi fokusnya buyar setiap kali matanya tak sengaja menumbuk sosok di seberang api unggun.
River duduk di sana, dikelilingi teman-temannya. Ia tampak santai, menyesap kopi hitam dari gelas seng, namun matanya—mata elang yang tajam itu—terus berpendar di balik lidah api, mengunci Every dalam keheningan yang intimidatif.
Setiap kali mata mereka bertemu, Every merasa jantungnya diremas; ada tarikan magnetis yang menuntut, namun terhalang oleh garis satu meter yang tak terlihat.
Namun, rasa panas di dada Every bukan hanya karena demam.
Aluna, duduk sangat mepet di sebelah pria itu. Ia berkali-kali membisikkan sesuatu ke telinga River, tertawa manja, bahkan dengan berani menyandarkan kepalanya di bahu River saat udara semakin dingin.
River tidak menolak. Ia justru terlihat membiarkan Aluna melakukan itu, meski matanya tetap tertuju pada Every.
"Oke, evaluasi divisi perlengkapan..." Every mencoba membaca catatannya, namun suaranya bergetar.
"Ev, lo gapapa? Suara lo makin habis," bisik Recha di sampingnya.
Every tidak menjawab. Ia melihat Aluna mengambil botol air milik River dan meminumnya, lalu River mengacak rambut Aluna pelan—sebuah gestur yang terlihat sangat akrab dan penuh perhatian di mata Every.
"Evaluasi selesai. Acara bebas," Every menutup buku catatannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri terlalu cepat, membuat kepalanya berdenyut hebat.
Suasana di sekitar api unggun berubah menjadi lebih liar setelah evaluasi resmi ditutup.
Botol-botol minuman mulai berpindah tangan, dan teriakan-teriakan penyemangat terdengar saat beberapa anggota BEM memulai permainan one shoot.
"Oke, peraturannya simpel!" teriak Dimas sambil mengocok botol minuman. "Ini permainan 'Truth or Drink: Special One Shot'. Gue putar botolnya, yang ditunjuk harus jawab jujur pertanyaan dari lingkaran. Kalau nggak mau jawab... satu shot penuh tanpa ampun!"
Botol berputar di atas meja kayu yang becek. Berhenti tepat di depan Every.
"Woooo! Madam President kena!" sorak massa.
"Gue tanya!" Aluna menyambar, suaranya melengking tinggi, sengaja agar didengar River yang duduk tak jauh di belakang mereka. "Eve, bener nggak sih gosipnya lo sebenernya naksir salah satu anak Teknik yang inisialnya... R?"
"R? Ray?" sambar yang lain.
"Regi juga R!" celetuk Regi pede.
"lo bukan Teknik!" Aluna mendorong Regi sambil tertawa.
Every menyeringai tipis, meski tangannya di bawah meja bergetar. "Tuang minumannya."
"Gila! Langsung drink!" Dimas menuangkan cairan bening itu.
Every menyambarnya dan menenggaknya dalam sekali hentak. Rasa terbakar merambat dari tenggorokan ke dadanya.
"Lagi! Putar lagi!" Every menantang, matanya mulai sayu namun berkilat liar.
Aluna tiba-tiba menyenggol gelas ditangan Bimo mengenai jaket River, memaksa pria itu berdiri dan menjauh sebentar untuk membersihkan noda oli dan alkohol yang tercampur.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi River untuk kembali. Namun, saat matanya menyapu lingkaran permainan one shoot, kursi yang tadi diduduki Every sudah kosong.
River mengernyit, rahangnya mengeras. Ia berjalan cepat menghampiri lingkaran itu. "Mana Every?" tanya River dingin, suaranya memotong tawa keras anak-anak BEM.
Semua orang terdiam, saling lirik dengan wajah mabuk yang bingung. "Tadi... tadi masih di sini," sahut salah satu staf perlengkapan.
Recha muncul dari arah tenda dengan wajah panik. Ia berlari menghampiri River, napasnya tersengal.
"River! Liat Every enggak?" tanya Recha cepat.
River menatap Recha tajam, auranya mendadak berubah sangat mengintimidasi. "Gue baru nanya itu ke mereka. Dia nggak sama lo?"
"Enggak! Tadi gue ke toilet bentar, pas balik dia udah nggak ada di kursi. Gue cari ke tenda, ke kamar mandi, nggak ada juga," suara Recha mulai gemetar. "Gue takut dia kenapa-kenapa. Tadi dia minumnya banyak banget, padahal badannya masih panas."
River tidak menjawab lagi. Ia langsung menyambar senter besar di dekat meja logistik.
Matanya menyapu kegelapan di sekitar area vila. Perasaannya mulai tidak enak.
Di kepalanya terputar bayangan orang—si senior bermuka dua yang sejak tadi juga tidak terlihat di keramaian.
"Riv, apa mungkin dia ke arah bus?" tanya Recha mengekor di belakang River.
River berhenti mendadak, membuat Recha nyaris menabrak punggungnya yang lebar. "Lo panggil anak-anak keamanan. Sisir area belakang vila. Gue cari ke arah hutan dan parkiran bus."
"Kalau sampai ada yang nyentuh dia seujung kuku pun malam ini, gue pastiin tempat ini bakal jadi neraka buat mereka." monolog River,
River melangkah lebar menembus kegelapan, meninggalkan Recha yang mematung.
Dalam hatinya, River mengumpat habis-habisan. Ia benci Every yang ceroboh, ia benci dirinya yang sempat meleng, dan ia benci kenyataan bahwa ia masih sangat peduli pada gadis keras kepala itu.