Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*17
Marvin terdiam. Tapi, pandangan mata semua keluarga tertuju lekat padanya. Avin tertunduk sekarang. Sang mama yang tidak sabar lagi kembali angkat bicara. "Vin. Katakan! Apa adikmu disakiti oleh pria itu?"
"Vin." Papanya juga ikut menekan Avin.
Setelah napas berat Avin lepaskan, dia pun kembali berucap. "Saat Aina tahu dia hamil, pria itu langsung memutuskan hubungan dengannya. Saat ini, adikku hamil, Ma, Pa."
"Apa?"
"Pria bajingan! Berani sekali dia meninggalkan adikku setelah adikku mengandung anaknya!" Kesal Bisma bukan kepalang. "Adik kecilku yang polos, pasti dia telah sangat terluka akan ulah bajingan itu. Lihat saja! Aku pasti akan berusaha sekeras mungkin agar bisa menemukannya."
"Putriku tersayang, kenapa nasibmu sangat malang, Nak?" Camelia kini menangis di pelukan suaminya.
Keluarga Ain benar-benar merasa sangat sedih akan jalan hidup yang putri kecil mereka lalui. Mereka iba akan jalan hidup putri kecil mereka. Mereka marah pada orang yang telah menyakiti anak mereka. Mereka dendam, mereka bertekad untuk menemukan orang yang telah menyakiti anak mereka sesulit apapun jalan untuk menemukannya.
"Tapi, Ma, Pa. Tolong kalian jangan bahas tentang apa yang kita bahas ini pada adikku. Jangan bicara sedikitpun. Biarkan adikku yang memulai kisahnya duluan. Aku yakin, jika dia bisa menerima kita sebagai keluarga, dia akan bercerita tentang kisah hidupnya. Dia akan bicara soal kehamilannya pada kita."
"Mama mengerti, Vin. Kamu tenang saja, mama gak akan pernah bahas soal ini lagi di depan adikmu. Jika dia tidak bicara, maka mama gak akan bicara duluan."
"Hiks, putriku tersayang. Putriku tercinta," ucap mamanya lagi.
...
Di kamar Aina, gadis itu terus memikirkan langkah selanjutnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Janinnya pasti akan terus berkembang. Perutnya akan terus membesar. Kehamilan ini tidak bisa dia sembunyikan terlalu lama.
Lagian, meskipun Rain tidak menginginkan anak yang ada dalan kandungannya. Tapi Ain sangat menyayangi calon anak ini. Bagi Ain, anaknya tidak salah. Anaknya tidak memiliki kesalahan apapun. Anaknya adalah anugerah. Hal yang paling berharga, bagaimana bisa ia sembunyikan dari dunia?
Tangan Aina menyentuh perutnya dengan lembut. "Sayangku. Sekarang, mama sudah punya keluarga. Kita sudah punya rumah yang bagus. Mama ... mama akan melindungi mu dengan segala cara. Mama akan membanggakan mu meski dunia tidak memihak padamu, Nak."
Aina melepas napas berat nan panjang.
"Sekalipun, keluarga mama akan membenci dirimu, mama akan tetap menyayangi kamu. Kamu tenang saja, jika mereka tidak bisa menerima kamu, maka mama akan tetap menjaga kamu dengan sebaik mungkin."
Tekad Ain sudah bulat. Setelah makan malam, dia mengajak mamanya ke kamar untuk bicara. "M-- ma. Boleh aku bicara sama mama sekarang?" Ain bertanya dengan hati-hati.
Sang mama menatap penuh cinta pada anaknya. Senyum manis langsung terukir di bibir. "Tentu saja bisa, Putriku. Ayok! Mau bicara di mana?"
Belum sempat Ain menjawab, papanya malah ikutan bicara. "Gak mau bicara dengan papa sekalian, Nak?"
Eh ... si Bisma juga gak ingin ketinggalan. "Dengan kakak kedua juga, Dik. Gak mau bicara dengan kakak juga?"
Seketika, bahu Bisma langsung di senggol Avin. "Apaan sih? Ada aja si pengacau ini."
"Ish, kak Avin apa-apaan sih? Sakit tahu gak."
"Kamu yang apa-apaan. Ain cuma mau bicara sama mama, tapi kamu malah ikutan menawarkan diri. Ganggu aja."
"Eh ... ganggu apa? Aku juga mau bicara dengan adikku. Kamu mah enak, kamu yang udah menemukan dia. Jadinya, kamu pasti udah bicara banyak dengannya. Sedang aku, aku masih belum bicara banyak." Kesal Bisma pada kakak pertamanya.
"Aduh, udah deh ya. Kok malah kalian yang berantem sih. Kalian gak malu sama adik kalian? Gimana dia bisa merasa nyaman kalo kakak-kakaknya kerjaannya cuma berantem mulu, hm?"
Kedua kakak Aina langsung menunduk.
"Maaf, mama." Bisma berucap pelan. Sesaat kemudian, si kakak kedua langsung angkat wajah lagi. "Ain, setelah bicara dengan mama, bicara dengan kakak kedua ya."
"Nggak!" Mamanya langsung membantah. "Adikmu butuh istirahat. Ini sudah malam. Kalo kamu mau bicara, besok siang saja."
"Mama .... "
"Gak ada sanggahan. Ucapan mama sudah tidak bisa disangkal lagi. Mengerti?"
Bisma menjawab iya walau tidak rela. "Selamat beristirahat adik manis." Bisma berucap sambil tersenyum.
Ain membalas senyum itu dengan cepat. Hati Bisma pun bahagia bukan kepalang. Jarak waktu bukan penghalang untuk mereka dekat. Sebaliknya, jarak waktu mengajarkan Bisma untuk mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada adiknya yang telah lama terpisah dari mereka agar kelak, adiknya tidak pergi lagi. Dan juga, Bisma berusaha untuk menggantikan waktu yang telah banyak terbuang gara-gara perpisahan dengan adiknya itu.