NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 | DUNIA BERBEDA SANG AKTOR

Ketukan teratur sepatu Summer yang mendekat ke arahnya membuat otot-otot Denver semakin kaku. Punggungnya menegap waspada, matanya melebar awas, mencermati setiap gerakan perempuan itu seperti mangsa yang gentar pada predator. Ketika akhirnya Summer berdiri sekitar satu meter di depannya, kabur seperti pengecut terdengar menggiurkan baginya.

“Aku punya—selalu punya jalan untuk membalikkan keadaan dan melemparkan kalian ke jeruji penjara, tempat di mana kalian seharusnya berada,” Summer mengucapkan kata-kata itu dengan cara mirip seseorang yang sedang membacakan syair romansa, mendayu manis.

Gigi Denver bergemeretak. “Aku tidak akan termakan igauanmu—”

“Oh, kau harus mendengarkan yang satu ini,” sela Summer santai. “Kau mungkin berpikir sudah menyisir seluruh gudang itu, bukan? Namun, dalam keadaan panik dan buru-buru wajar sekali kau lengah memeriksa beberapa titik. Aku menemukan jepit rambut mutiara Allura. Utuh, … dan berlumuran darah Gabriel—”

“Tidak mungkin!” Sekarang Denver tidak bisa lagi menyembunyikan kekalutannya dengan berdiam diri. “Polisi tidak pernah menemukan barang seperti itu. Kalaupun benar ada, aku yakin kau yang memanipulasi TKP untuk menimpakan dosamu pada orang lain!”

Summer tertawa geli hingga matanya menyipit. “Tentu saja polisi tidak pernah menemukannya. Ada di tanganku, kusembunyikan di tempat yang bahkan tikus paling kotor sekalipun tidak akan bisa mengendusnya.”

Keringat dingin membanjiri punggung Denver, ia yakin wajahnya sudah pucat pasi sekarang seiring darah yang terasa menyurut dalam dirinya. “Meskipun—” Denver tercekat sesaat, “meskipun polisi memeriksanya, mereka juga akan tetap menemukan sidik jarimu. Tidak akan ada yang berubah. Kau tetap pelaku pembunuhan Gabriel Miller—”

Semburan tawa Summer memotong perkataan Denver. Ia terbahak-bahak selama nyaris sepuluh detak jantung. “Aku tidak sebodoh itu, Denver. Sidik jariku tidak akan ada di jepit rambut itu, polisi hanya akan menemukan sidik jari Allura dan DNA Gabriel. Aku mengambilnya dengan sarung tangan kulit tukang kebun di gudang itu. Kau juga menggunakan sarung tangan mereka ketika membersihkan TKP, bukan?”

Denver susah payah meneguk ludah. “Jepit rambut itu pasti jatuh ketika Allura datang bersamaku—”

“Setidaknya pakai otakmu sedikit,” sergah Summer. “Jarakku dengan Allura yang bergelesotan memeluk mayat Gabriel adalah sekitar empat meter. Itu jarak yang jauh untukku mengais jepit rambut yang jatuh, padahal kau tahu sendiri aku nyaris tidak beranjak dari tempatku sampai polisi datang menangkapku di gudang itu. Jadi bagaimana aku bisa memungutnya sementara ada puluhan pasang mata yang mengamati setiap gerak-gerikku?”

Denver kehilangan argumen untuk menyangkal. Dan ini membuatnya gila setengah mati.

“Hanya ada satu kesimpulan masuk akal: Jepit rambut itu sudah ada di gudang sebelum kau, Allura, dan pasukan pesta kalian datang memergokiku.”

“Pasti jatuh dari saku Gabriel. Keparat itu memang suka mencuri barang orang lain,” tukas Denver cepat.

“Oh, ya?” Summer terdengar tidak terpengaruh. “Mau coba buktikan? Akan kuberikan jepit rambutnya pada polisi. Kalau Gabriel memang mencurinya dari Allura, seharusnya sidik jarinya juga bisa ditemukan di jepit rambut itu, bukan hanya darahnya—”

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?!” Denver membentak kasar, kebengisan bergejolak di wajahnya. Ia sudah berniat mengambil ancang-ancang untuk menerjang Summer kalau-kalau ia butuh membungkam mulutnya.

Air muka Summer melembut. “Kau kembali padaku.”

Kesenyapan membelenggu ruangan, Denver mengerjap lambat, lalu nada yang sarat akan olokan lolos dari bibirnya. “Kau sinting.” Tubuh Denver bergetar karena menahan tawa—tawa ironi yang sudah sampai di ujung lidah. “Beri aku satu alasan logis mengapa tidak kau katakan pada polisi sejak interogasi awal tentang jepit rambut itu. Kalau barangnya memang ada, seharusnya kau tidak perlu repot-repot menginjakkan kaki di lantai kotor penjara.”

“Karena aku memberimu kesempatan.” Seluruh gurat main-main Summer melebur menjadi ekspresi kukuh, relap binar dalam matanya mengabarkan kesungguhan, mengurung Denver dalam keterdiaman. “Aku hanya butuh kau menyesali perbuatanmu dengan tulus, berjanji tidak akan mengkhianatiku lagi, maka aku akan menempatkan masa lalu itu di tempat yang seharusnya. Jauh, buram, hanya jejak tidak signifikan.”

Sejenak, saat menatap mata keemasan Summer, menekuri jalinan pembuluh darah dan irisnya, Denver merasakan selarik kejujuran di sana. Namun, bayangan kengerian akan hubungan mereka di masa lalu membuatnya buru-buru mengalihkan pandangan, menggeleng samar.

“Kita sudah selesai,” kata Denver dengan suara rendah, intonasinya sedikit ditekan. “Tidak peduli apa yang kau lakukan sekarang, pada akhirnya hukuman penjara tiga tahun adalah bukti paling nyata kekalahanmu. Dunia tidak perlu tahu siapa yang membunuh, mereka hanya menginginkan hasil akhir. Karena kebodohanmu sendiri, kau memilih untuk mengumumkan bahwa kau takluk. Tidak ada gunanya kau menuntut pertanggungjawaban dariku sekarang. Pilihan hidupmu sama sekali tidak ada hubungannya denganku.”

Summer terlihat tertegun sekilas, yang segera ia tutupi dengan tawa miris. “Kudengar Allura sudah menikah dengan orang lain. Hei, kalau akhirnya kalian berpisah seperti ini, lalu apa gunanya pengorbananku yang sudah sejauh itu? Aku tidak bisa lagi dianggap pahlawan dalam hubungan hebat kalian berdua.”

Rahang Denver mengeras. “Kau pikir menyerahkan bukti pada polisi akan membalikkan keadaan? Barang seperti itu sudah pasti tercemar di sana-sini, kemungkinan rekayasa menjadi tinggi. Hanya polisi bodoh yang akan membuka kembali kasus dengan bukti seremeh itu, kredibilitas mereka dan kejaksaan juga akan tercoreng karena itu berarti mengakui penyidikan mereka cacat.”

“Kita tidak tahu sebelum mencoba.” Summer mengedikkan bahu tak acuh.

“Kalau begitu, coba saja,” tandas Denver. “Tapi sebaiknya enyahkan bayangan aku meringkuk ketakutan di sudut ranjang. Aku tidak akan tinggal diam. Akan kupastikan bukti yang kau gembor-gemborkan itu berakhir mengenaskan di tong sampah. Kau tidak bisa mengusikku lagi, Summer—tidak ketika aku sudah merangkak sejauh ini. Jadi, mau coba bertaruh?”

Summer mengerjap lambat beberapa kali seiring kelengangan yang kembali mengalun di antara mereka, air mukanya cenderung datar. Namun, tak berselang lama, Denver bisa melihat sudut bibir Summer yang berkedut, lantas tawa nyaring menyeruak dari bibir perempuan itu hingga tubuhnya sedikit membungkuk.

“Aku tidak perlu bertaruh, Denver. Aku sudah menang.”

Ujung perkataan Summer mengundang kembali rambatan dingin untuk merayau kulit Denver, jantungnya berdenyut nyeri. Sulur kuat seperti tengah melingkari lehernya, mencekiknya dengan menyakitkan ketika Denver menyadari ia telah membuat kesalahan besar.

Summer menegakkan tubuh, tersenyum puas. “Mau dengar kejutan terakhir?” Ia memangkas jaraknya pada Denver setengah langkah, lalu sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah Denver. “Tidak pernah ada jepit rambut mutiara, tidak pernah ada bukti. Namun, sekarang aku punya ini.”

Perangkap.

Denver menahan napas ketika Summer mengeluarkan ponsel dari tasnya, ponsel yang merekam pembicaraan mereka sejak awal.

Terbawa suasana, diliputi ketakutan mendalam, serta mendapat tekanan mental dari Summer membuat Denver secara implisit membenarkan semua tuduhan yang perempuan itu layangkan untuknya dan Allura.

“Kau mau? Ambil saja, tidak perlu malu.” Summer tersenyum geli, menggoyangkan ponselnya pelan. “Seluruh file di ponsel ini sudah tersimpan di cadangan otomatis cloud. Dihapus di sini pun, akan tetap tersimpan di sana.”

Sekarang Summer sudah berhasil memasang belenggu di leher Denver, berangus di mulutnya, memastikan Denver tidak bisa berkutik sedikit pun. Sejak awal, Summer tidak memiliki senjata untuk menyerang, ketelitian Denver dalam mengurus TKP sangat mengesankan, tidak menyisakan sedikit pun celah baginya untuk mengonfrontasi. Bukan masalah, bom penghancur memang sebaiknya dibuat dengan langkah hati-hati dan sedikit rekayasa.

Persetan dengan alur sebenarnya, Summer menyadari banyak sekali celah dari deduksinya. Summer hanya tahu ia telah dijebak untuk tindakan kriminal yang sama sekali tidak ia lakukan. Pelaku pembunuhannya jelas Allura karena jejak darah di gaunnya benar-benar Summer lihat. Mudah saja menyimpulkan jika Denver adalah pelaku pemalsuan TKP karena anggur terakhir yang membuat Summer ambruk tak sadarkan diri disodorkan langsung oleh laki-laki itu. Tambahkan tentang jas Denver yang dipinjamkan kepada Allura, yang mengindikasikan Denver tahu tentang jejak darah.

Jadi, untuk membuat Denver lengah agar ia bisa menembus pertahanannya, Summer mengarang-arang alur pembunuhan, berusaha menghubungkan simpul-simpul cerita berdasarkan apa yang ia lihat. Asal bisa menciptakan senjata kuat, menggunakan bualan untuk mengimpit musuh menjadi terdengar tidak terlalu menyedihkan.

Dan saat ini, Summer sudah menekan pengatur waktunya, menghitung mundur. Tinggal menunggu waktu bom itu akan meluluhlantakkan segalanya.

“Menjadi seorang aktor membuat perbedaan besar di antara kita, Denver. Duniamu berbeda. Rekaman seperti ini jelas tidak akan digubris polisi, tapi aku juga tidak berniat memunculkan kasus itu ke permukaan lagi. Seperti katamu, pada akhirnya aku sudah merasakan dinginnya penjara selama tiga tahun, nama baikku sudah hancur.”

Bau karat familiar pada jeruji, lantai yang lembap, retakan memanjang pada dinding … bayangan kehidupan penjara kembali menghinggapi pikiran Summer, yang segera ditepisnya jauh-jauh.

“Namun, di dunia hiburan,” lanjutnya, “rekaman murahan seperti ini, entah kredibel atau tidak, akan dilahap orang-orang dengan beringas. Karier yang kau perjuangkan setengah mati ini ada di bawah kendaliku sekarang. Sekali aku memutuskan untuk merilisnya pada publik, tidak akan ada celah bagimu untuk berkelit. Ajalmu dalam dunia peran yang sangat kau sukai itu tidak akan terelakkan.”

Senyum Summer mengembang dengan cara yang menawan selagi ia menarik dasi biru Denver ke atas, menyelesaikan apa yang tidak sempat ia lakukan dengan benar tadi. Ekspresi gentar dan redup kengerian Denver tersaji gamblang di depan wajahnya, menciptakan letupan euforia dalam diri Summer.

“Jadi, Denver, haruskah kita membuat kesepakatan baru?”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!