Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebab atau Akibat
TIGA BULAN SEBELUMNYA.
Di kediaman Marco, seorang wanita berdiri tegas menatap tajam pada pria tua yang duduk kacau di sudut bengkelnya.
"Kau yakin hanya akan diam saja, tak membalas perbuatan pembunuh itu?"
Marco yang habis minum beberapa botol minuman beralkohol, tampak tak waras untuk menjawab pertanyaan wanita itu. "Dia itu teman lamaku, dan anakku memang nakal, dia hanya sedang membantuku menghukum anak nakal itu," jawab Marco setengah sadar.
Wanita yang adalah putri mendiang Diaz berjalan mendekati meja berlaci di sudut lain ruangan, "Kau sudah kehilangan akal, Pak tua! Dia putrimu, dan temanmu sudah membunuhnya!" tegas Kanet, suaranya semakin meninggi.
Marco yang mabuk berat, terdiam. Banyak hal yang ditahannya begitu lama, tiba-tiba muncul lagi ke permukaan. Ia menatap kosong pada lantai di depannya, kilasan-kilasan peristiwa lima belas tahun lalu kembali menyergap, tanpa sadar air mata pria renta itu mengalir deras sebagai wujud kasih sayang yang susah payah ingin dihapusnya.
Kanet menyadari perubahan emosi Marco. "Aku tinggalkan pistol ini di sini, sebentar lagi si tua itu keluar penjara. Kuharap kau bisa melubangi kepalanya. Dengan begitu, adiknya yang juga seorang pembunuh akan menampakkan diri. Dia adalah bagianku!" ujarnya kemudian melangkah menuju pintu keluar.
Marco masih tertunduk dengan mata yang sembab. "Menunggu...." lirihnya seraya menyeka sisa air mata di wajah keriputnya.
Kanet menghentikan langkah tepat di ambang pintu, ia kembali menoleh pada pria tua lemah itu. "Apa?" tanyanya karena tak mendengar jelas ucapan Marco.
"Dia berjanji akan datang mencariku, dia berhutang pengakuan padaku. Aku masih percaya padanya, itulah sebabnya aku hanya bisa menunggu."
Kanet berpikir sejenak. "Kau percaya pada seorang pembunuh?" tuntutnya kesal.
"Memang tak masuk akal, tapi aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Dia... Kurasa dia sedang berusaha melindungi seseorang. Salahkah jika aku tak ingin membalas pada orang yang salah?"
Kanet kembali terdiam, akal sehatnya seolah menentang apa yang baru saja dia dengar. 'Pria ini sudah terlalu lama hidup. Entah kenapa ucapannya pun terasa menusuk. Apa benar keyakinanku selama ini pun salah?' batinnya pun mulai goyah.
Kanet mengambil ponsel Marco yang sejak tadi tergeletak di atas meja, kemudian mengetikkan sesuatu di sana. "Jika kau begitu yakin bukan dia pembunuh putrimu, bantu agar aku bisa bertemu dengannya. Saat dimana dia mendatangimu, pancing agar dia mendatangiku!"
Marco kembali menenggak minuman keras dengan sedikit kasar hingga membuatnya tercecer membasahi sebagian tubuhnya, kemudian terkekeh. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? semakin itulah kau ingin membalas dendam? Periksa juga kelakuan ayahmu sendiri!" racaunya.
"Aku tahu ayahku memang jahat, aku bahkan malu tinggal dengannya. Tapi membunuh juga tak dibenarkan!" kilah Kanet dengan sorot mata yang sulit dimengerti.
"Jadi benar, berita yang kudengar itu, jika ayahmu sering...." Marco tiba-tiba merintih, kepalanya terasa berat. Ia meringkuk, seolah lupa ucapannya belum selesai. "Ah, pergilah sebelum aku meledak!"
"Hm, baiklah, pastikan kau menghubungiku, sudah kusimpan namaku diponselmu!" sahut Kanet kemudian benar-benar meninggalkan Marco seorang diri, kembali tenggelam dengan minuman kerasnya.
Marco melangkah menuju ke ruangan sebelahnya, meraih sebuah foto yang selalu disimpannya. "Dasar anak nakal! Kau membuat satu-satunya teman ayah dipenjara!" cicitnya kemudian kembali meraung dalam tangis penyesalan.
Marco meringkuk di lantai, memeluk foto usang itu, satu-satunya foto yang ia simpan hampir lima belas tahun ini. Foto yang membuatnya bertahan hidup, seolah menunggu sebuah janji terungkap sebelum ia nanti akan menyerah pada nasib.
"Mereka sudah membayar dosa yang mereka lakukan padamu... jadi kenapa lagi ayah harus menyimpan dendam," racau Marco dengan mata terpejam.
Namun pria itu kembali terisak lagi. Seluruh tubuhnya bergetar karena tangis yang tertahan. "Tanpa sengaja aku justru menghancurkan hidup bocah malang itu dengan menyerahkannya pada pria maniak itu!" raungnya penuh sesal.
................
Di tempat lain,
Santaroni membuka perlahan matanya.
Putih.
Samar-samar ia melihat langit-langit ruangan itu, masih dengan pikiran kosong yang lemah. Sesaat kemudian ia baru mulai tersadar sepenuhnya.
"Aku terikat?!" pekiknya menatap bergantian pada dua tangannya yang terikat di masing-masing sudut sebuah ranjang. "Di-dimana ini?!"
"Selamat datang, Santa!"
Santaroni terkejut, ia menoleh cepat mencari sumber suara, seseorang berdiri membelakanginya, menatap lurus keluar jendela yang berada di bawah kakinya. Susah payah Roni menelisik siapa wanita itu dari posisinya yang telentang dengan dia kaki dan dua tangan terikat kuat pada masing-masing sudut ranjang.
"Siapa kau?!" balas gertak Roni.
Wanita itu membalikkan badan, wajah tirusnya yang cantik, mungkin saja seusia dengan Rey. Ia berjalan mendekat, langkah wanita itu begitu tajam dan berani. "Aku adalah putri Diaz!" serunya kemudian berdiri menatap Santaroni, seolah melemparkan tatapan mengejek pada pria tua itu.
"Kau... lalu kenapa harus mengikatku seperti ini? Aku memang ingin bertemu denganmu," sahut Santaroni berusaha menurunkan nada bicaranya, meskipun ia bingung haruskah bersyukur atau justru sebaliknya.
Wanita itu menarik sebuah kursi dari sudut ruangan, kemudian duduk tepat di samping ranjang, masih menatap dengan berani. "Bagus, itu artinya kita memang ditakdirkan bertemu," jawabnya bernada mengejek. "Jadi... dimana adikmu itu?" tanyanya kemudian.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Aku datang memang dengan tujuan itu," jawab Roni berusaha tenang.
Kanet menyandarkan punggungnya kemudian bersedekap dada. Ia tersenyum, bukan senyum yang melibatkan rahangnya, tapi lebih terlihat seperti siap melahap hidup Roni. "Adikmu telah membunuh ayahku, dia juga pergi membawa sebagian harta yang susah payah dikumpulkan ayahku, bagaimana kau akan bertanggungjawab akan hal itu?" ucapnya tanpa basa-basi.
Bola mata Roni bergetar halus, berusaha menutupi rasa terkejut, meski sejak bertemu Marco, pikirannya semakin kusut akan kemungkinan itu. "Cih!" cicitnya kemudian berpaling menatap ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Kanet. "Kudengar ayahmu yang membuat hidup Rey menjadi tak selayaknya manusia," ucap Roni sengaja memancing kebenaran.
"Ayahku sudah membelinya, bukankah itu artinya dia berhak melakukan apapun pada barang miliknya?" ejek Kanet.
Roni menoleh cepat, kini sorot matanya benar-benar tajam dan pekat. "Rey bukan benda! Dia anak baik! Dan... aku tidak menjualnya!"
Kanet terbahak keras, seolah menertawai kebodohan Roni. "Kau yakin? Bukankah kalian membagi uang yang diberikan ayahku?"
"Ka-kalian? Siapa yang kau maksud?" tanya balik Roni benar-benar tak memiliki nama yang menurutnya tega melakukan hal itu.
............
Di markas polisi, James bersama Sarah tengah melihat ke dalam rekaman CCTV yang ia dapatkan dari beberapa tempat di sekitar pelabuhan. Wajah mereka begitu serius.
"Pria ini lagi!" seru James menunjuk pada layar yang menampilkan wajah Rey. "Dia seperti terluka, tangannya memegangi leher."
"Hm, ddi CCTV ini, terlihat bajunya terkena noda darah!" sahut Sarah dari mejanya.
"Aku akan ke rumah sakit, firasatku besar kali ini, kurasa kita akan menemukan DNA pria itu di tempat Marco!"
"Wanita yang membantunya ini, aku akan ke tempatnya!" sahut Sarah.
Kali ini para polisi bergerak cepat, dengan semua bukti yang mereka dapatkan.
...****************...
Bersambung....