NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Suasana dalam ruangan begitu tenang, hanya sesekali terdengar suara bidak yang berdu dengan papan saat dijalankan, semua fokus pada meja masing masing, mengatur strategi untuk mengalahkan lawan dihadapannya.

Disesi sore ini Peno berhasil mendapat satu poin dipertandingan pertamanya, total poin Peno sekarang empat setengah, sebelum lanjut kepertandingan kedua Peno meminta ijin untuk kekamarnya sebentar untuk mengambil ponselnya yang dari pagi tak ia bawa, panitia pun memberi waktu sepuluh menit pada Peno.

Dengan berjalan cepat Peno keluar dari meeting room dan menuju kamarnya yang ada dilantai dua, ia kini sudah bisa naik turun lift sendiri, saat pintu lift terbuka Peno segera masuk, ia begitu kaget ternyata didalam lift ada Nita, sampai sampai Peno mengucek matanya berulang kali takut kalo itu hanya ilusi saja.

"eh mas Peno, ketemu lagi kita, mau kemana atau dari mana!?" ucap Nita menegur Peno yang bengong.

"eh, anu, mau kekamar ambil ponsel!" jawab Peno.

"kamarnya dilantai berapa?" tanya Nita lagi.

"lantai dua, nah ini sudah sampai, permisi saya pergi dulu!" ucap Peno langsung keluar dari lift saat pintunya terbuka, dan belum sempat Nita menjawab pintu lift tertutup kembali.

Sebelum lift bergerak Nita pun memencet tombol untuk membuka pintu dan berhasil, pintu terbuka Nita keluar dari lift, tapi sosok Peno sudah menghilang tak tahu entah kemana, akhirnya Nita memilih menunggu disamping pintu lift, "siapa tahu dia kembali muncul, kan tadi bilangnya mau ambil ponsel!" ucapnya dalam hati.

Dan benar saja sosok Peno kembali muncul keluar dari salah satu kamar dan berjalan menuju lift, "lhoooo, kok mbanya disini, apa ada kembarannya ya, tadi yang satu naik lift turun!?" ucap Peno saat melihat Nita berdiri disamping pintu lift.

"aku yang tadi naik lift bareng masnya, ini masnya mau kemana lagi!?" kata Nita dan balik bertanya.

"ya mau naik lagi!" jawab Peno lalu masuk lift diikuti oleh Nita, Peno pun memencet lantai nomer tiga.

"memangnya lagi ada acara apa dilantai tiga?" tanya Nita, kali ini ia benar bemar kepo dengan sosok Peno.

"iya, lagi ada acara tarung gajah sama kuda!" jawab Peno dengan sebentar menoleh kearah Nita.

"yeeee, ditanya serius malah jawabannya ngaco!" sungut Nita, tak habis pikir dengan jawaban Peno.

"lah saya ya jawabnya serius, dua rius malahan, lihat saja kalo ga percaya!" kata Peno lalu melangkah keluar saat pintu lift terbuka, Nita pun dengan cekatan mengikuti Peno.

Peno masuk kemeeting room, sebelum ia melapor kepanitia ia menoleh kearah Nita, "disini dilarang berisik, apalagi nyanyi nanyi, mbanya duduk saja sama pak Supri dan pak Basuki tuh disana, saya mau adu gajah dulu!" ucap Peno sambil menunjuk kearah pak Supri dan langsung meninggalkan Nita begitu saja untuk melapor kepanitia.

"oooh, namanya pak Supri!" ujar Nita lalu menengok kearah Peno, tapi yang ditengok sudah entah kemana, "hih, cepet banget ilangnya!" gerutunya lalu ia berjalan kearah pak Supri.

Pertandingan kedua Peno pun dimulai, dengan mengantongi poin empat setengah ia kini naik keperingkat dua, sebab tadi yang peringkat dua ternyata kalah.

Satu jam kemudian Peno sudah menyelesaikan permainannya dengan kemenangan, kini peno mendapat tambahan satu poin lagi, sesi sore berakhir, akan dilanjut nanti disesi malam dua pertandingan lagi, poin Peno sekarang lima setengah.

Setelah bersalaman dengan lawannya Peno mendekat kearah pak Supri dan pak Basuki duduk, " lah, ini mbanya kenapa tidur pak!?" tanya Peno saat melihat Nita tertidur sambil duduk disamping pak Supri, kepalanya yang mendongak dan mulut sedikit terbuka serta suara dengkuran halus membuat Peno langsung bisa menebak kalo gadis cantik itu tertidur.

"lah iya, tadi masih ngobrol No, kok sudah ngorok!?" jawab pak Supri heran, karena baru beberapa menit yang lalu gadis itu ngobrol dengan dirinya.

"terus ini mau gimana pak, ditinggal nanti bangunnya nangis kejer karena kaget sudah tak ada orang!?" tanya Peno lagi.

"dibangunkan saja No, kasihan kalo ditinggal!" kata pak Basuki.

"mba, bangun mba, woiii, mba!" Peno menepuk lengan Nita, mencoba membangunkannya.

"kayaknya sudah mimpi jauh No, buat kembalinya lama!" kata pak Supri.

"sepertinya kaya gitu pak, lagi mimpi jalan kaki kejepang, jadi kalo mau pulang susah!" ucap Peno sambil terus mencoba membangunkan Nita.

"jalan kaki kejepang ya gempor No!" kata pak Supri menyauti ucapan Peno.

"hi hi hi hi......, ya siapa tahu pak, woiii mba, ada banjir!" ucap Peno, kali ini suara dan tepukannya sedikit keras.

"hah, banjir, mana banjir, tolong, tolong!" kata Nita seketika bangun dan berdiri karena kaget dengan suara dan tepukan Peno.

"alhamdulillah akhirnya bangun juga!" ucap Peno penuh dengan rasa syukur sambil mengusapkan kedua telapak tangannya kewajah.

"mana banjirnya mas?" tanya Nita yang kesadarannya sudah kembali.

"itu dipipi kamu, banjir iler, ha ha ha......!" ucap Peno sambil melangkah meninggalkan Nita dan pak Supri juga pak Basuki.

Seketika Nita pun mengusap pipinya dengam tangan, memastikan apakah ia benar benar ngiler saat ketiduran tadi, "heh, aku ga ngiler ya, nih kering!" ucap Nita sedikit berteriak karena Peno sudah ada dipintu keluar ruangan.

"ha ha ha......, selamat, anda tertipu!" kata Peno sambil terus melangkah.

"hih, nyebelin banget sih tuh orang, masa ditinggal lagi!" kesal Nita sambil menghentakan kakinya kelantai lalu berjalan mengejar Peno.

Pak Supri dan pak Basuki malah bengong, saling pandang, " mereka pacaran atau gimana ya pak?" tanya pak Basuki.

Pak Supri mengangkat kedua bahunya, "ga tahu pak, masa baru tadi kenalan sudah pacaran!" ujarnya lalu melangkah keluar ruangan menyusul Peno dan Nita diikuti pak Basuki.

"heh, tunggu!" ucap Nita saat Peno akan masuk kedalam lift, mendengar itu Peno menghentikan langkahnya, ia menunggu Nita dan juga sekalian menunggu pak Supri dan pak Basuki datang.

Berempat menaiki lift untuk turun kelantai dua, dimana kamar Peno, pak Supri dan pak Basuki berada.

Pintu lift terbuka, Peno keluar diikuti kedua temannya yang beda usia itu, Nita juga ikut keluar terus mengikuti langkah ketigannya.

"lah, kok ikut kesini, memangnya kamar mbanya dimana!?" tanya Peno seketika berhenti dan berbalik badan saat menyadari Nita juga ikut.

"aku ga nginep disini!" jawab Nita singkat.

"terus kalo ga nginep ngapain kesini?" tanya Peno lagi, sedangkan pak Supri dan pak Basuki sudah berpamitan masuk kamar masing masing.

"jalan jalan!" jawab Nita, lagi lagi jawabannya singkat, membuat Peno bingung.

"kalo mau jalan jalan ditaman apa di pusat perbelanjaan, ini malah dihotel, apa jangan jangan kamu lagi main naik turun pake lift ya, didaerah asal kamu ga ada lift ya, mba mba, aku juga orang desa, baru pertama kali ini merasakan naik lift, tapi ya ga norak kaya situ!" ucap Peno malah akhirnya mengira kalo Nita baru pertama kali naik lift dan sedang mencobanya berulang kali.

"enak aja aku dibilang norak, wis lah, aku mau pulang, nanti malam pertandingannya jam berapa!?" ucap Nita akhirnya.

"jam delapan, kalo mau nonton bawa bantal sama selimut sekalian, jadi kalo ketiduran langsung tidur diruangan itu saja sampai pagi, ha ha ha....!" jawab Peno dan kembali muncul usilnya.

"oke, aku akan bawa tempat tidurnya sekalian, wleee!" balas Nita lalu berbalik melangkah kearah lift, masuk dan turun kelantai satu atau lobi.

Peno pun masuk kamarnya dan segera membersihkan badan yang terasa sudah sangat lengket, ditambah lagi tadi siang harus adu tinju dengan Bobi.

1
Was pray
moga aja nama peno bukan akronim dari "pemuda norak" 🤣🤣🤣
Yoyoh Dariyah
lanjut thor ceritanya seru banget lucu🤣
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!