NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:43.4k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Mereka berdua pun lanjut ngobrol acak saling tukar cerita tentang keluarga masing masing dan juga tentang pengalaman hidup yang tentunya sangat jauh berbeda dari keduanya, Peno menceritakan bagaiman kehidupan sehari harinya didesa, dari hampir setiap pagi kena jitak dari embahnya saat bermain catur, sampai ia mencari rumput dan dedaunan untuk pakan ikan, membantu bapaknya kerja disawah, mengikuti kerja bakti kebersihan lingkungan setiap bulan dan nongkrong diwarung kopi jika malam hari.

Bagi Nita cerita Peno sangat menarik, ia membayangkan suasana desa yang sejuk dipagi hari, keramahan warga yang saling sapa dan budaya gotong royong yang masih sangat terjaga, berbeda dengan kehidupannya yang serba teratur, dan jaga wibawa.

"boleh ga kapan kapan aku main kedesanya mas Piano?" tanya Nita, nadanya penuh harap mendapat ijin.

"ya boleh saja, siapa saja juga boleh main kedesa tempat tinggalku, jangankan kamu, presiden saja boleh, yang penting kan tidak membuat onar, kalo membuat onar pasti akan diusir, he he he he......!" jawab Peno dengan nada santai dan ceplas ceplos.

"kalo itu akau juga tahu, siapa saja ya boleh datang kesana, maksudku aku tinggal beberapa hari disana!" ucap Nita menjelaskan maksud pertanyaannya.

"boleh saja, asal kamu dapat ijin dari orang tuamu dan orang tuaku juga memperbolehkan, kalo kamu ga ijin nanti aku malah dikira nyulik anak gadis orang, bisa bisa malah kena pasal!" kata Peno.

"kalo itu si aku jelas ijin sama orang tua, dan pasti diijinin!" ucap Nita penuh percaya diri bakalan diijinin main kedesa Peno.

Sedang asiknya ngobrol dan saling bercanda masuklah seorang laki laki paruh baya berperawakan gagah, dan berpenampilan rapih menggunakan jas, tubuhnya atletis terbentuk karena memang rajin olah raga.

"selamat malam semuanya!" ucap laki laki itu yang ternyata adalah pak Anton wijaya papahnya Nita.

"waalaikumsalam!" jawab Peno singkat

"ah, iya, maaf, assalamualaikum!" ralat pak Anton mengulangi ucapannya.

""waalaikumsalam, selamat malam juga pak!" ucap Peno juga mengulang menjawab salam pak Anton.

"kamu yang namanya Piano!? Tanya pak Anton langsung setelah bersalaman dan duduk disofa kembali, bersamaan juga dengan pak Supri dan pak Basuki yang masuk dari arah balkon, dan langsung berkenalan juga dengan pak Anton.

"ooh jadi bapak bapak ini orang kabupaten yang mengawal atlit kesini, saya kira orang tua dari piano ini.

"maaf pak, nama saya aslinya Peno, tapi diganti sama anak bapak ini jadi piano, dan maaf sekali lagi untuk membalasnya anak bapak ini namanya saya ganti jadi Nota!" ucap Peno memberitahu nama aslinya.

"ha ha ha....., ternyata kaya gitu ceritanya, tenang saja saya ga bakalan marah, itukan cuma panggilan antara kalian saja, saya kesini cuma penasaran sama kamu, anak saya cerita kalo ada pemuda yang jago main catur, sekarang lagi jadi kandidat juara, makanya saya kesini buat membuktikan!" kata pak Anton, nada nadanya menantang Peno bermain catur.

"haduuuuhh, suruh mikir lagi, ya wis lah, ayo dicoba pak, jago mana kuda saya apa gajahnya bapak, tapi maaf bukan saya lagi sombong atau besar kepala, nih, kepala saya masih normal!" gerutu Peno tapi tetap saja meladeni tantangan oak Anton.

"ha ha ha ha.....,oke, tunggu sebentar!" ucap pak Anton, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, tak sampai lima menit masuk salah satu pegawai hotel membawa papan catur.

Pertandingan pun dimulai antara pak Anton dan Peno, "satu set saja ya pak, kalo masih penasaran bisa lanjut besok siang!" ucap Peno sambil menjalankan bidaknya.

"iya, aku cuma mau tahu sejago apa kamu ini!" jawab pak Anton sambil fokus berfikir akan kemana bidaknya dilangkahkan.

"ngrokok boleh oak?" tanya Peno lagi.

"ngrokok saja, ga papa!" jawab pak Anton masih tetap fokus kepapan catur, tangan kananya mengelus janggut yang tak berjenggotnya, tangan kirinya tolak pinggang, seperti benar benar sedang berfikir keras.

Barulah setelah tiga menit berfikir pak Anton menjalankan bidaknya, namun langsung diikuti Peno menjalankan bidaknya lagi, eh, ga dipikir dulu, main langkah aja, barusaja aku selesai mikir disuruh mikir lagi!" ucap pak Anton yang kaget dengan kecepatan Peno.

"ah, ngapain mikir kayu pak, mending kayu gelondongan, lumayan tuh mahal, uangnya bisa buat modal ternak ikan!" jawab Peno mulai asal asalan, gayanya kini kembali kepermainan diwarung kopi, ceplas ceplos, apa saja diomong agar konsentrasi lawan buyar.

"perasaan pas kamu main dikompetisi tadi anteng deh, kenapa sekarang ngomong terus kaya bebek!?" tanya Nita yang heran dengan perubahan Peno.

"kalo yang tadi memang aturanya dilarang banyak bicara mba, kalo sekarang bebas, ga ada aturannya!" ucap pak Supri menjelaskan.

"iya, kalo tadi banyak omong bisa diusir keluar aku!" jawab Peno.

"ayo jalan No!" ucap pak Anton yang baru saja menjalankan bidaknya.

"jalan kemana pak, ini mau main catur apa jalan jalan!?" jawab peno dengan kengawurannya tapi tetap saja menjalankan bidaknya.

pak Supri dan pak Basuki menahan tawa ketika mendengar ucapan Peno, tak habis pikir dengan Peno, siapa saja selalu diledek dan diajak bercanda.

"maksudnya giliran bidak kamu jalan No!" ucap pak Anton dengan nada sedikit kesal.

"he he he he.....,sudah dari tadi pak, ini, saya jalan pion maju sepetak, sekarang giliran bapak Anton!" jawab Peno sambil cengengesan, melihat itu Nita tak bisa menahan tawanya, ternyata gaya Peno cukup menghibur dirinya.

"ha ha ha ha...., papah payah, orang mas piano sudah jalan dari tadi!" ucap Nita yang duduk disebelah papahnya.

"iya, udah kamu diam, jangan ketawa terus, fokus papah jadi ilang ini!" kata pak Anton meminta Nita berhenti tertawa.

Pak Anton pun kembali fokus setelah Nita berhenti tertawanya, sudah hampir satu jam waktu yang mereka habiskan untuk pertandingan itu, pak Anton benar benar kewalahan meladeni permainan Peno yang cepat, seperti tanpa berfikir ia menjalankan bidak, namun ternyata langkahnya begitu terorganisir, hampir tak ada celah untuk menembus pertahanan Peno.

Bukannya berfikir langkah apa yang akan dilakukan, pak Anton malah teringat kemasa lalunya, saat ia masih muda dulu sering bermain catur dengan seorang bapak bapak penjual ikan segar dipasar.

Saat masih muda ia bekerja membantu orang tuanya membesarkan perusahaan yang bergerak diberbagai bidang, yang salah satunya adalah perhotelan, waktu itu ia dipercaya sebagai manager logistik, pengadaan bahan bahan masakan dan juga keperluan hotel lainnya.

Disitulah awal mula ia ketemu dengan bapak penjual ikan dan akhirnya hampir setiap hari bermain catur.

"kok bengong pak!?" tanya Peno membuyarkan lamunan pak Anton.

"ah, iya, aku jadi ingat seseorang yang dulu sering main catur denganku, gaya mainnya itu unik, seperti gaya mainmu No!" jawab pak Anton

"ealaaahh malah lagi nostalgia, kirain lagi mikir menterinya terancam!" ucap Peno sambil menepuk jidatnya sendiri.

"nah, persis, gayanya kaya kamu itu No, kalo salah langkah tepuk jidat, kalo aku jalan kelamaan ga sungkan sungkan ia menjitak kepalaku!" kata pak Anton lagi, semakin merasa tak asing dengan Peno.

"yang pasti orangnya bukan saya pak, soalnya saya masih muda, masih bujang ting ting, dan saya bukan penjual ikan, kalo ternak ikan iya, dan kalo hobinya menjitak kepala orang itu embah saya, namanya mbah Patma, yang artinya dia lahir ditanggal empat bilan lima!" kata Peno malah nyerocos kemana mana.

"ha ha ha ha........!" oooh arti namanya itu, tapi keren sih, namanya unik, artinya juga unik, ha ha ha.....!" saut Nita, tawanya begitu lepas, seperti sedang menonton lawak, tapi ini benar benar nyata.

"sebentar No, nama mbah kamu siapa tadi!?" tanya pak Anton meminta Peno menyebut nama embahnya lagi.

"namanya mbah Patma pak, beliau jawara catur didesa saya, saya belajar catur juga dari beliau, setiap pagi habis subuh kepala saya sudah pasti kena jitak, katanya biar otak saya tambah encer!" jawab Peno menjelaskan sosok embahnya sekali lagi.

1
Yoyoh Dariyah
lanjut thor
Rival Permana
kok gak update² thor
Firdaus Hamid
kenapa ini ceritanya lama kelanjutannya
dewi rofiqoh
Lanjuut
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah orang baik dipertemukan orang baik semangat mbak mita demi anak2
Ilham
lanjut bg
dewi rofiqoh
Dunia emang kebalik,... Tak jarang anak dan istri yang susah payah pontang panting demi sesuap nasi, tapi sang lelaki cuma ongkang-ongkang kaki
Ilham
Lo udh berapa hari ini sibuk bangat BG jarang up baktiku sama peno
Ilham
BG lanjut bg
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah up juga
jgn lsma2 thor updatenya
dewi rofiqoh
Lanjuut
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah terimakasih up nya thor💪
dewi rofiqoh
Lanjuut
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah alhirnya up juga
terimakasih thor
Night Watcher
yg lebih pas: di "ladang" bukan sawah
Night Watcher
ke sawah panen singkong?
ada ya?
Ilham
lanjut bg
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah agus orang baik jadi dipertemukan dgn orang2 baik juga
dewi rofiqoh
Semoga bapaknya agus lekas sembuh
Ilham
lamjut BG ini cerita sedih nya apa lagi dua adek Agus masih kecil belum makan jadij sesih cerita nya dan kasian sama adek si Agus bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!