"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DI ANTARA DUA MAUT
Angin malam di awal tahun 2026 ini menderu liar, menusuk hingga ke sumsum tulang saat aku berdiri di persimpangan jalan setapak yang gelap. Di satu sisi, dermaga tua tempat Kak Surya disiksa menanti dengan ancaman maut dari Stevanus. Di sisi lain, sebuah koordinat menuju makam Ayah menjanjikan rahasia tentang Ibu yang selama puluhan tahun kukira telah membusuk di dalam tanah.
"Widya, kita tidak punya banyak waktu!" Aris mendesak, tangannya sudah memegang kunci mobil. "Dermaga atau pemakaman? Kita harus bergerak sekarang!"
Dadaku sesak. Setiap napas yang kutarik terasa seperti menghirup debu beracun. Bagaimana mungkin Ibuku masih hidup? Bukankah Ayah yang memberitahuku bahwa Ibu meninggal karena pendarahan saat melahirkanku? Apakah Ayah juga bagian dari kebohongan besar ini, atau dia sedang melindungiku dari sesuatu yang lebih mengerikan daripada kematian?
"Ke makam Ayah," kataku dengan suara yang rendah namun penuh keyakinan.
"Tapi Surya"
"Video dermaga itu terlalu rapi, Aris. Itu selera Stevanus yang pamer. Tapi pesan tentang Ibu... itu gaya Lidya Kencana. Dia tahu di mana titik lemahku yang paling dalam," aku menatap perutku, meraba nyawa yang sedang tumbuh di sana. "Aku tidak bisa menyelamatkan Kak Surya jika aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya."
Pemakaman umum itu tampak angker di bawah cahaya bulan yang tertutup awan mendung. Pepohonan kamboja melambai seperti tangan-tangan hantu yang berusaha meraihku. Aku turun dari mobil dengan langkah yang masih sedikit pincang, mengabaikan peringatan Aris untuk tetap di belakangnya.
Kami sampai di nisan Ayah. Di sana, di samping gundukan tanah yang sudah mulai ditumbuhi rumput liar, berdiri sebuah kursi roda. Seorang wanita tua dengan gaun putih kusam duduk di sana. Rambutnya putih panjang dan berantakan, wajahnya dipenuhi kerutan, namun matanya... matanya memiliki binar yang sama persis dengan mataku di cermin.
"Ibu?" bisikku, kakiku terasa seberat timah.
Wanita itu menoleh perlahan. Bibirnya yang pucat bergetar. "Y-yati? Putri kecilku..."
Tangisku pecah seketika. Aku jatuh berlutut di tanah makam yang dingin. "Kenapa, Bu? Kenapa Ayah bilang Ibu sudah mati? Kenapa Ibu meninggalkanku sendirian dalam neraka bersama pria itu?"
Ibu mengulurkan tangannya yang kurus, menyentuh pipiku dengan gemetar. "Ayahmu tidak berbohong, Nak. Baginya, aku memang sudah mati. Lidya Kencana menculikku sesaat setelah kau lahir. Dia menyekapku di ruang bawah tanah selama dua puluh tahun karena aku memegang kode akses untuk kekayaan Ayahmu yang tersembunyi. Dia ingin kau tumbuh tanpa pelindung, agar Stevanus bisa memilikimu dengan mudah."
Rasa benci yang selama ini kusimpan untuk Stevanus kini berlipat ganda menjadi kemarahan purba terhadap Lidya Kencana. Wanita itu tidak hanya merampas masa depanku; dia merampas dekapan ibuku selama dua dekade.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang pelan terdengar dari balik pohon besar.
"Sangat menyentuh. Sebuah reuni yang manis di tempat pemakaman," Lidya Kencana muncul, mengenakan mantel bulu hitam yang mewah. Di belakangnya, dua pria bersenjata mengarahkan laser merah tepat ke kening Ibuku.
"Lidya! Lepaskan dia!" teriakku, mencoba berdiri meski perutku terasa sangat nyeri.
"Tentu, Widya. Aku akan melepaskannya... langsung ke pelukan suaminya di dalam tanah ini," Lidya tersenyum dingin. "Berikan wasiat asli itu sekarang, atau kau akan menyaksikan ibumu mati untuk kedua kalinya, dan kali ini itu benar-benar nyata."
Aris bersiap menembak, namun Lidya mengangkat sebuah remot kecil. "Jangan coba-coba, Aris. Ada peledak di bawah kursi roda itu. Satu gerakan salah, dan reuni ini akan berakhir dengan kembang api darah."
Aku menggenggam map berisi wasiat itu. Tanganku gemetar. Di satu sisi, ini adalah harta keluargaku yang diperjuangkan Ayah hingga titik darah terakhir. Di sisi lain, ini adalah nyawa Ibu.
"Pilih, Yati," suara Lidya terdengar sangat tenang, sangat mematikan. "Kertas tua itu, atau nyawa wanita yang melahirkanmu?"
Aku menatap Ibu. Beliau menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Jangan, Yati! Jangan berikan padanya! Tanah itu... ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya di sana... jangan biarkan mereka mengambilnya!"
Sebelum aku sempat memutuskan, sebuah suara tembakan terdengar dari arah gerbang makam. Bukan Aris yang menembak. Seorang pria dengan seragam polisi yang kotor dan compang-camping berlari masuk. Itu bukan polisi biasa.
Itu Stevanus. Tapi wajahnya penuh luka dan dia tampak seperti orang gila.
"Ibu! Kau mengkhianatiku!" teriak Stevanus sambil mengarahkan pistolnya bukan padaku, tapi pada Lidya ibunya sendiri.
"Kau bilang jika aku keluar dari penjara, kita akan lari bersama! Tapi kau justru ingin membunuh Yati tanpaku?! Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya, termasuk kau!"
Jari Stevanus sudah berada di pelatuk, siap menembak siapa saja yang ada di depannya. Aku terjebak di tengah segitiga maut: Lidya yang memegang bom, Stevanus yang kalap, dan Aris yang bersiap melakukan serangan bunuh diri.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...