Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Selir Bayangan yang Mulai Jadi Bahan Gosip
Song An baru sadar satu hal penting begitu ia kembali ke kamarnya.
“Mei.” seru Song An
“Iya, Selir!” jawab Mei
“Aku masih hidup, kan?” tanya Song An
Mei menoleh dengan wajah bingung. “Tentu saja, Selir.”
Song An duduk di kursi kayu dan menepuk dadanya pelan. “Syukurlah. Kupikir barusan kepalaku bakal lepas dari badan.”
Mei langsung panik. “Yang Mulia tidak marah, Selir. Itu… itu keajaiban.”
“Bukan keajaiban,” kata Song An. “Itu karena beliau mungkin lagi mood bagus.”
"Apa itu mood" tanya Mei bingung
Song An menatap Mei dengan lelah, "Suasana hati"
Mei menelan ludah. “Oh begitu... tapi yang Mulia… tidak pernah mood bagus.”
Song An berhenti.“Serius?”
“Iya.” jawab Mei
“Berarti aku barusan lolos dari kematian?” tanya Song An dengan terkejut
Mei mengangguk pelan.
Song An menghela napas panjang. “Catat ya, Mei. Mulai sekarang, aku tidak mau ketemu beliau lagi.”
Mei tersenyum kaku. “Itu… bukan keputusan Selir.”
“Kenapa?” tanya Song An
“Karena sejak tadi pagi, Selir sudah jadi bahan pembicaraan.” jawab Mei
Song An menatapnya tajam. “Bahan pembicaraan siapa?”
“Pelayan… selir lain… bahkan beberapa kasim.” ujar Mei
Song An menatap Mei bingung, “…kenapa?”
Mei ragu. “Karena Selir bicara langsung menatap Yang Mulia.”
“Oh.”
“Dan karena Selir mengeluh lantai keras.” ujar mei
“Oh.”
“Dan karena Yang Mulia… tersenyum.” lanjut Mei
Song An memejamkan mata. “Astaga.” Ia menepuk keningnya sendiri. “Aku benar-benar mau hidup tenang.”
Mei memberanikan diri bertanya, “Selir… apakah Selir tidak takut?”
Song An membuka mata. “Takut. Tapi lebih capek kalau harus pura-pura.”
Mei terdiam.
Song An berdiri. “Sekarang, agenda hari ini apa?”
“Tidak ada.” jawab Mei
“Bagus.” ujar Song An
“Tapi—”
“Tapi apa?” tanya Song An
“Biasanya Selir bayangan tidak keluar kamar. Tapi karena Selir terlihat oleh Yang Mulia, kemungkinan Selir akan diperhatikan.” jelas Mei
Song An langsung duduk lagi. “Tidak mau.”
Mei menatapnya. “Selir… tidak mau diperhatikan?”
“Tidak.” jawab Song An dengan mantap
“Tidak mau naik status?” tanya Mei
“Tidak.” jawab Song An
“Tidak mau jadi selir utama?” tanya Mei lagi
Song An tertawa kecil. “Aku baru hidup lagi. Aku mau santai dulu.”
Mei terlihat semakin bingung.
Saat itu, suara ribut terdengar dari luar.
“Ada apa lagi?” tanya Song An.
Mei mengintip ke luar. “Selir Li dan Selir Zhao sedang lewat.”
“Siapa mereka?” tanya Song An penasaran
“Selir resmi. Status tinggi.” jawab Mei
“Berbahaya?” tanya Song An
Mei berpikir. “Biasanya… iya.”
Song An menghela napas. “Oke. Aku duduk manis saja.”
Terlambat.
Pintu diketuk.
Tok tok.
“Masuk,” kata Song An refleks.
Mei hampir berteriak, tapi pintu sudah terbuka.
Dua wanita masuk dengan langkah anggun. Pakaian mereka jelas lebih mewah. Riasan sempurna. Tatapan tajam.
“Ini kamar Selir Song?” tanya salah satu.
“Iya,” jawab Song An. “Ada perlu apa?”
Kedua selir itu saling pandang.
“Aku Selir Li,” kata yang berbaju merah. “Dan ini Selir Zhao.”
“Song An,” jawabnya singkat.
Selir Li tersenyum tipis. “Kami mendengar Selir Song… menarik perhatian Yang Mulia.”
Song An menggaruk pipinya. “Kalau bisa, itu kesalahpahaman.”
Selir Zhao menaikkan alis. “Kesalahpahaman?”
“Iya. Aku cuma kebetulan pegal.” jawab Song An
Hening.
Selir Li menutup mulut, tertawa kecil. “Lucu sekali.”
“Terima kasih” jawab Song An
“Selir Song tampaknya sangat santai.” ujar Selir Li
“Kalau tidak santai, nanti cepat mati.” jawab Song An
Keduanya terdiam.
Selir Zhao bertanya pelan, “Selir Song tidak takut salah bicara?”
“Takut,” jawab Song An jujur. “Makanya aku bicara seadanya.”
Selir Li menatapnya lama. “Menarik.”
Song An mengangkat bahu. “Kalau sudah tidak ada lagi, aku mau tidur siang.”
Keduanya terkejut.
“Tidur… siang?” ulang Selir Zhao.
“Iya. Aku kurang tidur sebelumnya.” jawab Song An
“Biasanya selir menggunakan waktu siang untuk berdandan atau belajar etika.” ujar Selir Zhao
“Capek.” jawab Song An
Selir Li tersenyum makin tipis. “Kalau begitu, kami tidak mengganggu.”
Begitu mereka pergi, Mei langsung menutup pintu dan berbalik dengan wajah pucat.
“Selir! Kenapa Selir bicara seperti itu?” tanya Mei ketakutan
Song An merebahkan diri di kursi. “Kenapa tidak?”
“Mereka selir resmi!” ujar Mei
“Dan aku selir tidak resmi. Seimbang.” ujar Song An
Mei hampir menangis.
—
Sore harinya, Song An sedang makan camilan ketika Mei masuk lagi.
“Selir… Yang Mulia memanggil.” ujar Mei
Song An tersedak.“Sekarang?”
“Iya.” jawab Mei
“Aku baru mau hidup tenang dua jam.” keluh Song An kesal
Mei menunduk. “Maaf.”
Song An berdiri lesu. “Oke. Mari kita hadapi takdir.”
----
Di aula kecil, Kaisar Shen duduk membaca dokumen.
Song An berdiri agak jauh. “Yang Mulia,” katanya.
“Dekat,” perintah Kaisar.
Song An mendekat beberapa langkah.
“Kau dipanggil karena pagi tadi,” kata Kaisar Shen.
Song An mengangguk. “Saya minta maaf soal lantai.”
“Bukan itu.” seru Kaisar Shen
“Kalau soal menatap, itu kebiasaan lama.” ujar Song An
“Kebiasaan apa?” tanya Kaisar Shen
“Kebiasaan bicara dengan manusia.” jawab Song An Santai
Hening.
“Kau menganggapku bukan manusia?” tanya Kaisar Shen
“Manusia, karena itu aku menatap yang mulia, Tapi level tinggi.” jawab Song An
Untuk kedua kalinya hari itu, Kaisar Shen hampir tersenyum.“Kau tidak seperti selir lain.”
“Syukurlah.” ucap Song An
“Kenapa?” tanya Kaisar Shen
“Kalau sama, aku capek.” jawab Song An
Kaisar Shen menatapnya lama. “Apa yang kau inginkan?”
Song An berpikir sebentar. “Makan cukup. Tidur cukup. Tidak dipanggil tiap hari.”
“…hanya itu?” tanya Kaisar Shen dengan heran
“Iya.” jawab Song An singkat
“Kau tidak ingin kekuasaan?” tanya Kaisar Shen
“Tidak.” jawab Song An singkat lagi
“Kau tidak ingin status?” tany Kaisar Shen Semakin penasaran
“Tidak.”
Kaisar Shen menutup dokumennya.
“Menarik.”
Song An menatap lantai. “Kalau Yang Mulia sudah selesai, saya mau pulang.”
“Hm?”
“Ke kamar.”
Kaisar Shen tertawa kecil. Sangat kecil.“Pergilah.”
Song An membungkuk seadanya dan keluar.
Begitu pintu tertutup, Kaisar Shen berkata pelan pada dirinya sendiri, “Selir bayangan… tapi lebih jujur dari siapa pun.”
------
Di kamarnya, Song An menjatuhkan diri ke ranjang.
“Mei.”
“Iya?”
“Kalau aku mati lagi, pastikan bukan karena lembur.”
Mei tertawa kecil untuk pertama kalinya.
Dan tanpa disadari Song An, hari itu ia resmi masuk daftar perhatian Kaisar Shen sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan.
Bersambung