NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Malam Pertama

Renan dipanggil ke ruang kerja untuk berbicara dengan Papa dan kakak laki-lakinya, sementara Ayuna kembali ke kamar lebih dulu.

Langkahnya pelan, hatinya masih dipenuhi perasaan campur aduk. Namun kali ini, ia tidak merasa sendirian di rumah itu.

Ia sudah makan cukup kenyang dan sempat tidur sebentar, jadi tubuhnya terasa lebih segar. Rasa lelah yang sejak tadi menempel perlahan menghilang.

Sendirian di kamar itu, Ayuna mulai memperhatikan sekeliling.

Dindingnya polos tanpa hiasan tambahan. Di atas meja terdapat beberapa foto lama Renan.

Dalam foto-foto itu, Renan tampak jauh lebih muda. Senyumnya nakal, sorot matanya cerah, penuh semangat masa muda yang belum tersentuh banyak beban.

Ada pula foto dirinya bersama sang kakak.

Revan mengenakan kemeja putih rapi dan kacamata berbingkai emas. Wajahnya tampak lembut dan tenang, kesan pria yang mudah dipercaya. Di sampingnya, Renan kontras dengan kaus sederhana, bola basket di tangan, ikat kepala melingkari dahi, dan sepasang anting mencolok di telinganya.

Ayuna tak bisa menahan senyum.

Ia mengulurkan jari dan menyentuh foto Renan pelan.

“Kamu memang selalu nakal,” gumamnya lirih.

Tatapannya kemudian beralih ke meja di samping tempat tidur.

Di sana tergeletak sebuah laptop, tertutup rapi, seolah sering digunakan.

Ayuna berhenti sejenak, menatapnya.

Entah kenapa, ia merasa sedang berdiri di wilayah yang sangat pribadi.

Wilayah Renan.

Ayuna sempat ragu.

Di samping tempat tidur terdapat sebuah buku catatan.

Ia duduk perlahan, lalu mengambilnya. Sampulnya sudah agak usang, jelas sering disentuh.

Begitu dibuka, ia langsung tahu itu buku harian Renan.

Refleks, Ayuna menutupnya kembali.

Ia tahu ia tidak seharusnya membaca privasi orang lain. Ia bukan orang yang suka mencampuri masa lalu seseorang. Namun, entah mengapa jarinya tetap berada di atas sampul itu.

Ada dorongan yang sulit dijelaskan.

Ia ingin mengenal Renan.

Bukan sosok dingin dan menyebalkan yang sering ia lihat, melainkan pria di balik semua itu.

Akhirnya, ia membuka kembali buku tersebut.

Tulisan tangan di dalamnya berantakan, tidak rapi, seolah ditulis tanpa banyak berpikir, sangat mencerminkan pemiliknya.

[21 Januari.

Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.]

Ayuna terdiam.

Apa yang terjadi hari itu?

Ia membalik halaman.

[Aku berkelahi di sekolah dan terluka. Tentu saja mereka yang melukaiku tidak lolos dari balas dendamku. Aku ini kan preman utama sekolah. Tapi, kakakku memarahiku.

Anak yang berkelahi denganku hari ini pindah sekolah. Aku curiga kakakku yang mengurusnya. Tapi aku tidak punya bukti.

Membosankan.

Sangat membosankan.

Pak tua Herman memotong uang jajanku. Menyebalkan.]

Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.

[Revan pulang dan membawakanku figur karakter baru. Dia masih punya hati nurani. Aku izinkan dia jadi kakakku selama satu jam.]

[Motor Adrian keren banget! Aku mau juga, tapi Revan nggak mau beliin. Jangan harap aku manggil dia kakak lagi!]

Ayuna tertegun.

Renan benar-benar kekanak-kanakan.

Seorang anak manja yang menulis buku harian dengan kalimat pendek, asal, dan penuh emosi sesaat.

Ia tidak menulis setiap hari. Hampir semua entri singkat, seolah hanya ingin meluapkan sesuatu lalu berhenti.

Tanpa sadar, Ayuna sudah membaca lebih dari setengah buku itu.

Lalu matanya berhenti di satu halaman.

[Hari ini, waktu minum, aku dengar mereka bilang ada gadis berbakat di Universitas Indonesia. Katanya cantik. Aku penasaran, secantik apa.

Aku melihatnya. Namanya Ayuna. Dan memang, dia cantik.]

Jantung Ayuna berdegup.

Namanya sendiri tertulis di sana.

Kenangan pertemuan pertama mereka langsung muncul di benaknya.

Hari itu, ia sedang bekerja paruh waktu di kafe ketika Renan masuk dan langsung memesan sepuluh cangkir kopi.

“Aku mau menambahkan WhatsApp kamu,” katanya santai. “Kamu mau atau tidak? Kalau tidak, aku akan terus pesan.”

Ayuna mengira pria itu tidak tahu sopan santun. Ia langsung masuk ke dapur untuk mencuci cangkir, berniat mengabaikannya.

Namun tak lama kemudian, pegawai kasir masuk dengan wajah panik.

“Dia sudah memesan hampir seratus cangkir. Kita tidak sanggup membuatnya.”

Akhirnya, Ayuna terpaksa menambahkannya di WhatsApp.

Banyak orang mencoba mendekatinya saat ia bekerja paruh waktu, tapi itu pertama kalinya ia bertemu seseorang yang setidak tahu malu itu.

Ia membalik halaman berikutnya.

[Aku mengirim kopi ke perusahaan Revan. Aku penasaran, apa para karyawannya masih bisa tidur malam ini?]

Di bawahnya tergambar coretan emoji nakal.

Ayuna tersenyum tipis.

Ia ingat, saat itu ia benar-benar merasa bahagia.

Namun senyum itu perlahan memudar ketika ingatan lain muncu. Saat mereka bertengkar, dan Renan berkata dingin.

“Kalau bukan karena aku, kamu masih mencuci cangkir di kafe.”

Ternyata orang bisa berubah secepat itu.

Halaman berikutnya membuatnya kembali terdiam.

[Bersama Ayuna. Wanita cantik seharusnya bersama pria tampan.]

Di belakang kalimat itu, terselip sebuah foto.

Foto dirinya saat bekerja paruh waktu di taman hiburan, mengenakan gaun karakter putri Disney. Di kepalanya terpasang tiara plastik.

Ayuna memegang foto itu lama.

Setelah halaman itu, catatan berhenti cukup lama.

Mungkin, itu masa ketika Renan bahagia.

Namun halaman terakhir hanya berisi satu kalimat.

[Apa kekuranganku dibanding senior itu?

Mengurungnya di rumah pun tidak bisa menghentikannya pergi menemuinya?]

Ayuna mengerutkan kening.

Ia ingat, Renan memang pernah menyebut kata senior saat mereka menuju KUA.

Tapi selain itu, tidak ada penjelasan lagi.

Tidak ada lanjutan.

Tidak ada jawaban.

Ayuna menutup buku harian itu perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Ia sadar satu hal, ia hampir tidak tahu apa-apa tentang pria yang kini menjadi suaminya.

Dan mungkin, Renan juga tidak sepenuhnya mengenal dirinya.

Yang kini diyakini Ayuna hanya satu hal. Pasti ada kesalahpahaman antara dirinya dan Renan.

Dan kesalahpahaman itulah yang menyeret mereka ke titik ini.

Mendengar langkah kaki di luar pintu, Ayuna tersentak. Ia segera mengembalikan buku catatan itu ke tempat semula, lalu berdiri dan berpura-pura mengambil sebuah komik dari meja.

Tak lama kemudian, Renan masuk.

Ia hanya melirik sekilas, mengambil pakaian ganti, lalu langsung menuju kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Ayuna menatap punggungnya, ada rasa kosong yang tiba-tiba muncul.

Ia sudah lama terbiasa dengan sikap dingin Renan.

Namun, tidak tahu kenapa hari ini rasanya berbeda. Lebih menusuk. Seperti saat pertengkaran pertama mereka, ketika perasaan masih panas dan luka terasa lebih dalam.

Saat hendak mematikan lampu, Renan sempat melirik ke arah meja samping tempat tidur. Ia melihat buku catatan itu sedikit bergeser, jelas pernah dibuka.

Dalam gelap, sudut bibirnya mengencang.

Tidak mudah rupanya, menjaga citra sebagai pria brengsek.

Sementara itu, Ayuna berbaring sambil menatap langit-langit. Pikirannya terus berputar pada kata senior.

Mungkin ia tahu siapa orang itu.

Mungkin juga ia tahu bagaimana semuanya bermula.

Namun satu hal yang tak ia mengerti, mengapa Renan begitu peduli?

Dan jika memang ada kesalahpahaman. Bagaimana ia harus menjelaskannya?

Ayuna merasakan napas Renan di belakangnya sudah teratur.

Apakah dia tertidur?

Ini malam pertama pernikahan mereka. Apa pria ini hanya tertidur begitu saja tanpa melakukan apa pun?

Reflek dia menyentuh perutnya. Apa karena dia sedang hamil?

Tak lama kemudian tidak ada lagi gerakan dari wanita di sampingnya. Renan perlahan membuka matanya. Ia menatap rambut Ayuna dalam diam.

Dia tahu apa yang dipikirkan Ayuna.

Dulu, malam selalu menjadi waktu ketika batas di antara mereka nyaris runtuh, namun tak pernah benar-benar dilewati.

Dan ini adalah malam pertama pernikahan mereka. Bukannya ia tidak mau. Tapi, karena Ayuan sedang hamil dan terlebih dia tidak bisa melupakan kesalahannya di kehidupan sebelumnya.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Iya, sih. Tapi, kan namanya juga novel. Apa saja bisa terjadi 😅
total 1 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!