Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan.
Di tengah kekacauan besar itu, Adara mengalami kecelakaan mobil dan membuatnya koma.
Begitu terbangun dari tidur panjangnya, tiba-tiba saja orangtuanya memperkenalkannya dengan pria asing sebagai suaminya.
“Ahlan istriku…"
Bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba memiliki suami. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Pesantren
Lautan awan putih memanjakan mata di sepanjang perjalanan menuju ke Yogyakarta. Hari ini Adara akan pergi berkunjung ke Pesantren Daarul Afkar untuk pertama kalinya setelah 6 Tahun. Ia akan menghadiri acara pernikahan teman dekatnya saat di Pesantren dulu, Balqis. Adara sempat dibuat kaget karena ternyata Balqis menikah dengan Ikhsan, sahabat Rafka.
Adara kembali mengingat kejadian bertahun-tahun lalu saat ia diantar ke Yogyakarta oleh keempat laki-laki yang saat itu sedang sangat famous di Pesantrennya. Banyak santri putri yang iri tapi banyak pula yang mengatakan dia gadis penggoda. Padahal siapa yang mau ditinggal bus pondok dan terpaksa harus ikut dengan rombongan Gus Rafka.
“Kita hadirin pernikahan temen kamu apa temen Rafka?” tanya Junia. Tentu saja dia ikut lagi. Selalu mengekori Adara seperti anak ayam.
Padahal Adara sudah berjanji akan berangkat dengan Aqeela karena Ayumi tidak bisa hadir. Tapi ternyata Junia merengek ingin ikut. Katanya dia ingin melihat Pesantren Daarul Afkar yang terkenal itu. Alhasil sekarang mereka bertiga berada di Pesawat, bersama Aqeela juga tentunya.
“Balqis temen aku, kalau Ikhsan temennya Rafka,” jelas Adara.
“Lo kaget nggak sih Dar? Kok tiba-tiba Balqis sama Ikhsan?” Aqeela memotong obrolan Junia dan Adara.
“Kaget banget! Gue kira Balqis yang paling terakhir nikah karena dia nggak pernah mau deket sama cowok. Eh ternyata dia malah yang pertama, sama si Ikhsan lagi,” jawab Adara.
“Kayaknya mereka backstreet ya?” gumam Aqeela.
“Nanti kita serang Balqis dengan seratus pertanyaan!” Adara terkekeh kecil.
“Eh, lo ingat nggak dulu Balqis digosipin lesbi sama rombongan Juleha karena dia nggak pernah tertarik bahas cowok.” Aqeela terbahak.
“Iya lagi! Mana digosipin suka sama gue!” Adara menepuk dahinya.
“Lo yang paling banyak kena karena Balqis paling deket sama lo. Tapi gue sama Ayumi juga pernah kena gosip itu. Gila emang si Juleha!” Aqeela menggelengkan kepalanya.
“Julia kan emang iri sama circle kita waktu itu. Dia sengaja nyebar gosip jelek tentang kita,” ucap Adara.
“Iya, tapi dia udah minta maaf ke kita berempat waktu itu. Tapi tetep aja, itu gosip terlucu tentang kita!” jawab Aqeela.
“Huh, sebenernya gue kangen kita berempat ngumpul lagi. Sejak tamat mondok, kita nggak pernah ngumpul, kan?” Adara menghela napas kasar.
“Iya…” Aqeela mengangguk cepat. “Eh, kita pernah ketemu bertiga di acara award buku lo, Dar. Pertama kali gue buatin lo baju.” terang Aqeela.
“Oh iya! Gue inget. Tapi waktu itu bukan janjian main bertiga tapi nggak sengaja ketemu di acara yang sama,” jelas Adara.
“Oh iya bener sih.” Aqeela mengangguk.
Adara, Ayumi, Aqeela dan Balqis adalah teman dekat saat di pesantren. Namun sekarang mereka sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing dan juga perbedaan kota. Meskipun sekarang Adara, Ayumi dan Aqeela menetap di Jakarta tapi tetap saja mereka sama-sama sibuk. Aqeela sibuk sebagai desainer muda berbakat, Ayumi sibuk sebagai psikolog, sedangkan Balqis masih menetap di Yogyakarta dan mengajar di Daarul Afkar.
Junia terlalu malas mendengarkan obrolan Adara dan Aqeela. Ia pun memilih tidur saja sepanjang perjalanan. Baginya, Adara dan teman-temannya terlalu sibuk menyombongkan pencapaian mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara. Udara terasa lebih segar dibanding Jakarta yang terlalu banyak polusi. Mereka keluar melalui terminal kedatangan dan menemukan dua sosok laki-laki menunggu di dekat pagar pembatas.
Rafka dan Mufasa melambaikan tangan ke arah mereka. Sementara Aqeela sibuk menyenggol bahu Adara.
“Ciee ketemu calon suamik!” goda Aqeela.
“Qeelaa…” Adara menatap Aqeela dengan tatapan sebal.
Aqeela terkekeh kecil lalu beralih menatap Mufasa. “Woi bro! Tambah jelek aja lo!” ledek Aqeela.
“Makin tajem aja mulut lo, qeel. Gue cabein, ya!” kesal Mufasa.
Aqeela hanya menjulurkan lidahnya lalu beralih menatap Rafka. “Gus… calon istrinya dateng…” goda Aqeela.
Adara mendelik mendengar ucapan Aqeela.
“Peluk dong Gus!” ucap Aqeela ngasal.
“HEHH!!” Adara, Rafka dan Mufasa sontak mendelik.
“Haram! Haram!” sahut Mufasa penuh semangat.
“Becanda guys becanda!” Aqeela terbahak.
Rafka hanya menggelengkan kepalanya. “Mufasa masih jomblo tuh, Qeel!” kali ini Rafka yang mengejek Aqeela.
“OGAH!” sahut Aqeela dan Mufasa serentak.
“Fix jodoh!” ucap Adara dan Rafka berbarengan.
Mereka pun tertawa, seolah hal itu adalah hal yang paling lucu.
“Garing banget jokesnya!” batin Junia jengah.
“Sini kopernya aku bawain,” Rafka meraih koper Adara.
“Koper saya juga! Koper saya juga!” seru Aqeela menyindir.
“Muf, bawain koper Aqeela sama Junia!” ucap Rafka.
“Yee! Maunya bawain punya bininya doang!” kesal Mufasa.
“Nanti dia cemburu kalau aku bawain koper cewek lain,” ucap Rafka ngasal.
“Ih enggak ya!” sahut Adara cepat.
“Iya-iya enggak. Ayo berangkat sekarang. Umi udah nungguin kamu dari tadi,” ucap Rafka lembut.
---
Gerbang Daarul Afkar menjulang seperti gerbang universitas Timur Tengah. Kaligrafi besar bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim terukir di atasnya. Seorang satpam berpeci hitam memberi salam ketika mobil lewat.
Di sepanjang jalan menuju gedung utama, barisan santri berjalan cepat dengan buku-buku di tangan. Seragam mereka tampak bersih dan teratur. Beberapa berhenti dan salam ketika melihat mobil yang membawa Rafka.
“MasyaAllah, Gus Rafka datang…” bisik beberapa santri laki-laki.
“Calonnya juga datang,” terdengar santri perempuan lain berbisik sambil mengintip dari kejauhan.
Adara tersentak kecil mendengar itu. Rafka hanya mengalihkan pandangannya keluar jendela, seolah tidak ada yang perlu dikomentari.
Mereka turun di halaman rumah Kyai Hannan. Di teras, seorang wanita dengan hijab satin abu-abu sedang memotong roti bakar sambil berbicara dengan seorang santriwati. Ketika melihat kedatangan mereka, ekspresinya langsung berubah menjadi hangat.
“Assalamualaikum,” ucapnya dengan senyum lebar.
“Waalaikumussalam, Umi,” jawab Adara sambil menunduk.
Nafisah memeluk Adara lalu mencium pipi gadis itu dari balik cadarnya.
“Alhamdulillah… Dara sudah sampai.” Nafisah meraih tangan Adara, mengelus lembut punggung tangannya penuh kasih sayang.
Junia berdiri sedikit di belakang, memperhatikan bagaimana perlakuan itu begitu berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Tidak ada yang pernah menyambutnya seperti itu. Adara benar-benar diperlakukan dengan sangat baik di keluarga calon suaminya.
Rafka memperkenalkan, “Umi, ini Junia. Teman Adara. Kalo yang itu Umi tau lah, ya.” Rafka melirik Aqeela.
Nafisah menatap sebentar, tersenyum halus. “Selamat datang, Junia.” sapanya.
“Aqeela…” Nafisah menatap santrinya itu. “Udah gede ya kamu sekarang. Udah punya calon suami? Mau Umi carikan?”
“Eh, belum dulu Umi…” Aqeela tertawa canggung.
“Kenapa belum? Mufasa tuh jomblo loh. Dia ganteng, bisnisnya lancar juga…” Nafisah memulai perjodohan, seperti ibu-ibu kebanyakan.
“Nggak mau, Umi… Mufasa nyebelin!” jawab Aqeela spontan.
“Saya juga nggak mau, Umi. Aqeela ngeselin!” jawab Mufasa tak mau kalah.
Adara dan Rafka terkikik geli melihat drama itu.
“Ya sudah, kalau pada nggak mau.” Nafisah tertawa. “Ayo masuk…” Ia mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.