Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
William pulang dengan kepala mendidih. Begitu memasuki apartemen, ia langsung melempar tasnya ke lantai dengan kasar, membanting vas bunga, menendang kursi, apa pun yang ada di dekatnya.
"Brengsek! Argh!!" teriaknya frustasi.
Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah.
"Siapa sebenarnya yang menyebarkan video itu di perusahaan?" geramnya. "Dan Freya... berani-beraninya dia mempermalukan ku di depan umum!" Tangan William mengepal erat, menghantam meja berkali-kali.
"Hei! Hentikan! Apa yang kau lakukan?!" Grace, yang sejak tadi berada di apartemen itu, segera menghampirinya. Wajahnya panik melihat kondisi William.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya William dingin.
"Karena aku merindukanmu, Will," jawab Grace lembut. Ia memeluk William dan mengecup bibir pria itu, berusaha menenangkannya. Namun, William justru mendorong tubuh Grace dengan kasar.
"Aku sedang tidak ingin, Grace." Ia menjatuhkan diri ke sofa, menutup wajahnya dengan tangan.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Grace khawatir.
William terdiam sejenak sebelum akhirnya bersuara lirih, "Aku dipecat."
"Apa?!" Grace membelalak. "Kenapa bisa begitu?"
"Ada yang menyebarkan video kita di grup kantor," jawab William dengan suara bergetar antara marah dan takut. "Atasan langsung memecat ku. Kalau video itu sampai tersebar keluar... habislah aku."
Grace mundur selangkah. "Tunggu dulu... siapa yang menyebarkannya?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi, jika aku menemukan pelakunya, aku akan mencabik-cabik nya," bentak William. Namun, tiba-tiba Ia menatap Grace tajam, lalu bangkit dan mencengkeram leher Grace.
"Kau, kan?" tuduhnya liar. "Kau yang menyebarkan video itu! Kau tahu sandi apartemenku! Kau pasti merekamnya diam-diam! Iya, kan?" bentak William
"W-Will!" Grace terbatuk, matanya membesar ketakutan. "A-Apa kau sudah gila?! Lepaskan!"
"Jawab!" desak William.
"J-jangan bodoh!" Grace terengah. "A-apa kau pikir, aku mau menghancurkan reputasiku sendiri? Lagipula... kau masih punya kekasih saat itu!"
Ucapan itu membuat William terdiam. Cengkeramannya perlahan mengendur. Grace jatuh terduduk, batuk keras sambil mengatur napas.
"Freya?" gumam William.
"Ya," sahut Grace dengan suara serak. "Selain aku, Freya juga tahu sandi apartemen mu."
"Tapi... saat itu dia sedang dinas. Dia tidak mungkin... "
"Jika aku pelakunya, aku lebih memilih menggunakan video itu untuk mengancam mu. Bukan menyebarkannya begitu saja. Dan lagi, aku bahkan tidak tahu grup kantormu," seru Grace tajam.
William terdiam lama. Ucapan Grace masuk akal.
"Aku akan mencari tahu. Dan, jika benar dia pelakunya, aku pasti akan membalasnya," geram William dingin.
...****************...
Steven membawa Freya ke gedung utama perusahaannya. Bangunan itu menjulang tinggi dengan desain modern dan nuansa maskulin. Begitu memasuki ruang CEO, Steven langsung melangkah mantap menuju kursi kebesarannya dan duduk dengan aura penguasa yang kuat.
Sementara itu, Freya berdiri tidak jauh darinya. Matanya bergerak ke segala arah, mengamati desain interior ruangan itu dengan decakan kagum yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Wah... sepertinya dia orang kaya. Sama besarnya dengan perusahaan Papa," batinnya.
"Ini kontrak yang harus kau tanda tangani. Kau bisa mempelajarinya terlebih dahulu," ucap Steven tiba-tiba.
Freya menerima map itu dan segera membukanya. Matanya menelusuri setiap baris tulisan dengan saksama. Namun, alisnya perlahan berkerut, lalu matanya membulat saat membaca salah satu persyaratannya.
"Apa?" Freya mendongak cepat. "24 Jam bersamamu?" pekiknya.
"Tentu saja," jawab Steven tanpa ragu. "Kau adalah bodyguard pribadiku. Artinya, kau harus berada di sisiku selama dua puluh empat jam penuh. Kau juga akan tinggal di mansion ku."
Freya menyipitkan mata, dadanya terasa mengencang.
"Bukan itu maksudku," batinnya gelisah. "24 jam bersamanya? Apa dia ingin aku tidur di kamar yang sama dengannya?"
"Jika kau setuju, kau bisa langsung menandatanganinya," lanjut Steven datar.
Freya terdiam. Pikirannya berputar cepat. Ia tahu, berada di sisi Steven sepanjang waktu bukan perkara mudah. Pria itu dingin, arogan, dan penuh misteri. Namun, gaji yang ditawarkan jauh lebih besar dibanding pekerjaannya sebelumnya. Terlebih lagi, tinggal di mansion Steven berarti ia bisa bersembunyi sementara dari orang-orang suruhan ibunya yang terus memburunya.
"Jika kau ragu, kau boleh pergi dari sini sekarang juga," ucap Steven dingin. Nada suaranya tajam, tanpa sedikit pun bujukan.
Freya tersentak. Ia menatap kontrak itu sekali lagi, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Baiklah, Aku setuju," ucap Freya mantap. Ia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan di lembar kontrak tersebut.
"Bagus," ucap Steven singkat. Ia menyerahkan satu salinan kontrak pada Freya. "Simpan ini baik-baik."
Freya mengangguk pelan, menerima kontrak itu dengan perasaan campur aduk, antara lega, takut, dan firasat bahwa hidupnya akan berubah setelah keputusan ini.
"Hah, sudah terlanjur aku tanda tangani. Lebih baik jalani saja," batin Freya. Ia kembali melihat sekitar, bingung harus melakukan apa, sampai pintu ruangan terbuka mendadak. Dan, seorang pria masuk dengan langkah tergesa.
"Tuan, Boy menghubungi saya dan mengatakan kalau dia tidak menemukan mobil Anda."
Steven mengerutkan kening. Tatapannya beralih ke Freya. "Apa maksudmu?" tanyanya dingin. "Kau tidak lihat dia siapa?" Dagunya terangkat, menunjuk Freya.
Pria itu mengikuti arah pandangan Steven. Matanya membesar sesaat, menatap pria kurus yang berdiri tegak di sana.
"Dia... ?"
"Dia Boy," potong Steven tegas. "Dia sudah lulus uji coba. Mulai sekarang, dia adalah bodyguard pribadiku."
Freya tersenyum tipis, lalu menunduk sopan. "Selamat siang, Tuan... "
"Miko," potong Miko cepat. "Panggil saja aku Miko. Tapi... bukankah tadi kau... "
"O-oh... Setelah menghubungi Anda, saya langsung menemukan mobil Tuan Steven," ujar Freya berbohong
"Oh... begitu," gumam Miko pelan, meski raut wajahnya masih terlihat ragu.
Steven menyandarkan punggungnya, mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan wanita itu?"
Miko langsung kembali fokus. "Bodyguard belum berhasil menemukannya, Tuan. Saya juga sudah memastikan ke pihak keluarganya. Memang benar, nona kabur. Namun, mereka berjanji akan segera menemukannya sebelum acara pertunangan."
"Cih!" Steven berdecak kesal. "Dia pikir, siapa dirinya? Menggelikan."
Freya hanya diam, berdiri di tempatnya sambil menyimak. Walaupun, ia tidak tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Tapi, dia tahu sedikit arah pembicaraan mereka.
"Sepertinya, calon istri Tuan Steven melarikan diri," batinnya. "Ck, pasti dia menolak pertunangan itu dan kabur dengan kekasihnya."
Freya hampir tertawa membayangkan asumsinya. Namun, ia tidak menunjukkan reaksi itu dan memilih mengalihkan pandangannya.
Andai saja ia tahu, jika wanita yang mereka cari mati-matian adalah dirinya, mungkin ia tidak akan berani berdiri di sana.