"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28 -Pembelaan Aksara
Aylin tertegun, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Pipinya terasa panas dan kebas, sementara Lusi masih berdiri di depannya dengan napas memburu dan api kemarahan yang berkilat di mata. Lusi benar-benar lupa daratan; ia lupa bahwa seharusnya ia bersikap elegan untuk menarik simpati.
Namun, tamparan itu justru menjadi bumerang. Sikap kasar Lusi malah mempertegas penilaian Aksara bahwa wanita itu—juga Reynan—tidak memiliki sisi baik sedikit pun.
"Berani sekali kamu menyentuh istriku!"
Suara bariton Aksara menggelegar, membelah kebisingan food court yang mendadak sunyi senyap seolah waktu berhenti berputar. Tatapan mata Aksara yang biasanya sedingin es, kini berubah menjadi kilatan amarah yang mematikan, seperti predator yang siap menerkam siapa pun yang mengusik miliknya.
Aksara melangkah lebar, menghampiri Aylin dengan protektif. Ia menarik bahu istrinya dengan lembut namun posesif, menyembunyikannya di balik tubuh tegapnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aksara, suaranya melunak hanya untuk Aylin. Aylin hanya menggeleng pelan, meski jemarinya masih gemetar menyentuh pipinya yang kian memerah.
Di hadapan mereka, Reynan tampak gugup setengah mati. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Seumur hidup mengenal Aksara, ia belum pernah melihat pria itu semarah ini. Sementara di kejauhan, Arvano—si tukang kepo yang tak mau ketinggalan drama—asyik memperhatikan dari mejanya sambil menyeruput es teh manis seolah sedang menonton film box office.
"Aksara, saya... saya minta maaf. Atas nama anak dan istri saya," kata Reynan dengan suara yang bergetar hebat.
"Saya ingin mereka yang meminta maaf secara langsung pada istri saya. Bukan Anda," balas Aksara dingin. Matanya menatap Reynan dengan sorot menghina yang membuat Reynan merasa sangat kecil.
Lusi mendengus kasar. Alih-alih merasa bersalah, egonya justru semakin tinggi. Ia tetap enggan merendahkan diri di depan Aylin, apalagi dendam lamanya pada Rosalind masih tersimpan rapi di kepalanya.
Padahal dia yang merebut kebahagiaan Rosalind dan Aylin.
"Cepat minta maaf," titah Aksara.
"Saya tidak salah." Balas Lusi angkuh.
Aksara menyipitkan mata melihat keangkuhan Lusi. Senyum miring yang sinis terukir di sudut bibirnya, jenis senyum yang membuat Reynan merasa kiamat sudah di depan mata.
"Begitu," lirih Aksara.
Alih-alih meladeni perdebatan sia-sia dengan wanita angkuh seperti Lusi, Aksara memilih tindakan yang lebih menyakitkan bagi Reynan: mengabaikan mereka seolah mereka hanyalah sampah di tengah jalan. Ia menarik Aylin pergi dari sana, meninggalkan Reynan yang panik setengah mati karena menyadari peluang bantuan dari Aksara baru saja tertutup rapat.
"Kamu apa-apaan sih, Lusi! Aksara marah, apa susahnya cuma minta maaf!" bentak Reynan frustrasi.
"Papa yang apa-apaan? Kenapa aku dan Mama yang harus minta maaf? Dia itu harusnya bantu kita, katanya anak? Cih, anak macam apa itu," gerutu Azkia ketus sebelum melenggang pergi memesan makanan seolah tidak terjadi apa-apa.
Abidzar, yang sedari tadi hanya diam karena tidak tahu-menahu soal masa lalu kelam orang tuanya, akhirnya angkat bicara.
"Ma, Pa. Sudah, jangan berantem. Lebih baik kita selesaikan semuanya di rumah."
"Diam kamu! Kamu nggak tahu apa-apa, Abidzar!" bentak Lusi, melampiaskan kekesalannya pada sang anak. "Kalau saja Aksara memberikan bantuan cuma-cuma, Mama juga ogah menyusul ke sini!"
Di sudut lain, Arvano menghela napas kecewa.
"Yah, nggak jadi ada jambak-jambakan?" gumamnya seraya bangkit. Kini ia punya tugas baru: mencari keberadaan Aksara yang mendadak menghilang.
Sementara itu, di dalam salah satu kabin biang lala yang bergerak lambat, suasana begitu hening. Dari atas sini, keindahan Jans Park dan siluet gunung terlihat sangat memukau, namun tidak bagi Aylin.
Aksara mengeluarkan sapu tangan berisi es batu, lalu perlahan menempelkannya ke pipi Aylin yang membengkak. Aylin tersentak, ia refleks menjauhkan wajahnya.
"Maaf," bisik Aylin lirih. Ia sedang berjuang sekuat tenaga menahan getaran trauma yang menyerang dadanya.
"Aylin, sini. Biar aku obati." Aksara mencoba meraihnya kembali.
"Tidak usah, Mas. Tolong jangan seperti ini, Mas Aksara," ucap Aylin pelan, suaranya nyaris hilang ditelan angin. "Aku tidak mau memiliki perasaan yang salah. Aku tidak mau terjebak karena... karena kita hanya sementara."
Gerakan tangan Aksara terhenti di udara. Matanya menatap Aylin tajam. "Apa maksudmu?"
Aylin menatap balik Aksara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas juga tahu, mantan tunangan Mas sudah kembali. Jadi, buat apa aku tetap ada di sisimu? Aku tidak mau saat aku sudah terlalu jauh melangkah, aku justru dipaksa untuk berhenti."
Aksara tertegun. Kalimat Aylin barusan seperti tamparan yang lebih keras dari apa yang dilakukan Lusi tadi. Ia seolah tersentak, tersadar dari lupa bahwa pernikahan ini memang berawal dari lembaran kertas kontrak demi warisan sang Kakek. Juga, pengobatan mertuanya Rosalind.
Hening seketika menyergap kabin biang lala itu. Tidak ada lagi obrolan. Hanya deru angin dan suara mesin yang menemani mereka sampai kabin itu kembali menyentuh tanah. Begitu pintu terbuka, Aylin turun lebih dulu tanpa menunggu Aksara.
Pikirannya kalut. Ia memutuskan untuk pulang saja; ia butuh kesendirian untuk menata kembali hatinya yang porak-poranda.
"Aylin, tunggu! Kamu mau ke mana? Aylin!" seru Aksara, terkejut melihat Aylin yang tiba-tiba berlari menjauh.
"Astaga!" desahnya.
Aylin terus berlari keluar dari area Jans Park, mengabaikan teriakan Aksara yang menggema di belakangnya. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang. Air matanya kini luruh tak tertahankan.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣