NovelToon NovelToon
Selir Centil Untuk Kaisar Impoten

Selir Centil Untuk Kaisar Impoten

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Rebirth For Love / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wulandari

Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan mengalah tapi belum waktunya

Langit yang tadinya cerah berganti dengan awan hitam bergerumul membentuk kegelapan. Angin juga menjadi lebih kuat dari beberapa waktu yang lalu. Dari arah jalur belakang seorang wanita berjalan seperti menapak di antara awan. Langkahnya tenang namun tegas. Tatapan mata lembut itu bagaimana kehangatan musim semi.

"Yang Mulia." Ibu Ratu Jiao Juan mendekati tempat eksekusi dengan di ikuti puluhan pelayan wanita. Gaun sutra berwarna putih salju membuat keanggunan untuk wanita Mulia itu. Mahkota permata bertahta agung di atas kepalanya. Dengan suara yang lembut dia berkata. "Bagaimana pun juga Jenderal besar Chun Li telah berjasa kepada negara. Perkataannya yang baru saja ia ucapkan. Hanyalah ungkapan rasa takutnya karena putri tercintanya akan mendapatkan hukuman mati. Aku harap Yang Mulia bisa memberikan keringanan untuk Selir Chun. Mengingat jasa yang telah di berikan selama puluhan tahun oleh Ayahnya."

"Yang Mulia Ratu." Semua orang yang ada di sana memberikan hormat.

"Ibu Ratu." Kaisar Xiao Chen juga memberikan hormat kepada Ibundanya. "Karena Ibunda telah bersuara. Ananda tentu mengerti." Menatap pria yang masih bersujud. "Jenderal Chun Li, tanpa bantuan Ibunda mungkin hari ini kau dan putri mu tidak akan bisa terselamatkan." Membantu pria paruh baya itu untuk bangkit.

"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia," ujar Jenderal besar Chun Li merasakan kelegaan di hatinya.

Selir Chun yang masih berlutut tidak lagi merasakan ketakutan di hatinya. Setidaknya dia tidak akan di berikan hukuman mati.

"Status Selir Yu akan di turunkan menjadi rakyat biasa. Tidak boleh lagi menginjakkan kaki di Ibu Kota. Jenderal besar Chun Li, di turunkan tiga tingkat dari jabatannya. Dan harus menjaga perbatasan timur. Tidak di izinkan kembali ke Ibu Kota tanpa panggilan langsung dari ku." Kaisar Xiao Chen membuat jalan tengah untuk dirinya sendiri. Sekalipun dia tidak bisa memberikan hukuman berat untuk keluarga Chun. Tapi dia berhasil memukul mundur kekuasaan Chun yang terlampau kuat dari Ibu Kota.

"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." Jenderal besar Chun Li terus mengungkapkan rasa syukurnya.

Kaisar Xiao Chen melangkah pergi menghampiri Selir Yu. Dia menatap wajah wanita itu untuk beberapa saat sebelum menggenggam tangannya. Lalu menariknya pergi dari tempat eksekusi yang telah di batalkan.

Ibu Ratu Jiao Juan menatap kearah Jenderal besar Chun Li. Pria paruh baya yang ada di kejauhan itu memberikan anggukan. Sebagai rasa hormat dan rasa terima kasih. Wanita mulia itu hanya tersenyum lalu melangkah pergi.

Baru setelah Kaisar Xiao Chen dan Ibu Ratu Jiao Juan pergi. Para pejabat pemerintahan dan semua Selir Kekaisaran ikut pergi meninggalkan halaman istana luar.

Jenderal besar Chun Li berjalan menghampiri putrinya. "Lepaskan."

Salah satu prajurit pengawal Kekaisaran mendekat. Membuka rantai yang terkunci di tangan Selir Chun yang saat ini telah menjadi Nona Chun Xin. Setelah selesai, Jenderal besar Chun Li mengajak putrinya pergi dari istana.

Di lorong istana bagian selatan.

Selir Yu sesekali memperhatikan pria yang berjalan di sebelahnya.

"Aku tahu, jika aku tampan. Tapi jangan terlalu lama menatap ku seperti itu. Kedua mata mu bisa buta jika terlalu lama melihat ketampanan ku." Kata Kaisar Xiao Chen yang dengan sengaja membuat sindiran untuk wanita di sampingnya.

"Benar-benar narsis." Selir Yu menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia melangkah lebih dulu tanpa memperdulikan suaminya.

"Kembali ke istana timur. Jangan coba-coba pergi ketempat lain," ujar Kaisar Xiao Chen. Dengan suara yang cukup keras.

Membuat semua pelayan yang ada di sana menundukkan wajah mereka dengan senyuman.

"Bodo amat. Sekalipun dia Kaisar aku tidak harus menuruti semua perkataannya." Selir Yu berjalan lebih cepat.

Di saat langkah Selir Yu semakin menjauh. Kaisar Xiao Chen melirik kearah pengawal setianya.

Pengawal Zhu Wan mengangguk mengerti. Dia segera pergi melaksanakan tugas yang di perintahkan.

Selir Yu yang sudah berada di dua belokan harus membuat pilihan. "Sangat menyebalkan." Dia dengan malas tetap memiliki untuk pergi ke istana timur.

Drakakk...

Pintu kamar di buka cukup kuat. Setelah wanita itu masuk ke dalam ruangan kamar. Pintu kembali di tutup. Selir Yu merebahkan tubuhnya di lantai di dekat meja dan kursi. "Ahhh... Tidak ada AC atau pun kipas angin. Hanya bisa mendinginkan tubuh dengan lantai batu hitam yang sejuk ini."

Berguling ke kanan dan ke kiri.

Tidak butuh waktu lama, Selir Yu tertidur di lantai dengan semua tusuk konde dan perhiasan. Yang masih melekat di kepala, tangan dan lehernya.

Kaisar Xiao Chen kembali ke kamar di jam satu siang. Setelah rapat dadakan selesai di adakan. Saat masuk, pria itu tidak menyangka akan melihat Selir Yu tertidur di lantai dengan sangat nyaman. "Dia benar-benar seperti babi kecil." Tertawa kecil.

Dia berniat membiarkan wanita itu tetap berada di lantai hingga dia terbangun. Namun masih ada satu tugas yang harus ia kerjakan. Dan mengharuskan dirinya meninggalkan istana.

Dengan perasaan enggan Kaisar Xiao Chen mengangkat tubuh Selir Yu yang ada di lantai. Dia membawa istrinya itu menuju ke atas ranjang yang lebih nyaman.

Sebelum pergi dia menyalakan dupa wewangian yang telah di campur obat tidur. Dosis obat tidur yang ia gunakan telah di pastikan tidak berbahaya. Hanya untuk memastikan wanita di atas tempat tidur tidak terbangun sampai ia kembali ke istana.

...~...

Di hari yang sama,

Jenderal besar Chun Li memerintahkan semua bawahnya untuk membereskan semua barang di kediaman. Hari itu juga mereka harus secepat mungkin keluar dari jalur Ibu Kota.

"Ayah, aku tidak ingin pergi dari Ibu Kota. Cuaca di perbatasan terlalu buruk. Aku tidak bisa hidup seperti budak rendahan." Meraih tangan Ayahnya.

"Apa kau tidak cukup membuat ku malu. Jika bukan karena kamu satu-satunya keturunan keluarga Chun. Aku tidak akan pernah menyelamatkan mu dengan mempertaruhkan segalanya." Jenderal besar Chun Li menatap kesal kearah putrinya.

Nyonya Chun berjalan mendekat. "Kenapa kau harus marah kepada putri kita. Dia hanya salah dalam membuat pengaturan setelah membunuh pelayan rendahan. Tidak seharusnya kau memarahinya seperti itu." Mengelus lembut tangan putrinya. "Xin Xin sudah sangat menderita berada di penjara. Jangan lagi kau menambah penderitaannya."

"Kau selalu saja membelanya. Jika bukan karena kebodohannya. Karir yang aku bangun puluhan tahun tidak akan runtuh begitu saja." Jenderal besar Chun Li melangkah pergi meninggalkan istri dan putrinya. Dia melakukan pengaturan lain untuk menempatkan semua barang yang akan mereka bawa.

Sebelum malam, Jenderal besar Chun Li bersama semua pasukan yang ada di bawah kendalinya. Melakukan perjalanan keluar dari Ibu Kota.

Di dalam kereta yang melaju, wajah pria paruh baya itu terlihat sangat cemas. Dia membuka jendela kereta. "Percepat langkah. Kita harus melewati jalur hutan sebelum tengah malam."

Wakil Jenderal mendekat. "Baik." Dia menerima tugas. Kuda yang ia tunggangi di arahkan menuju ke bagian depan barisan. "Percepat langkah. Kita harus keluar dari hutan sebelum tengah malam."

"Baik," jawab serentak semua pasukan Chunji.

Langkah semakin di percepat. Namun tetap saja perintah Jenderal besar Chun Li tidak bisa terpenuhi. Rombongan masih berada di tengah hutan di saat telah melewati tengah malam.

"Berhenti." Teriak kuat Jenderal besar Chun Li. Dia keluar dari dalam kereta membawa pedang yang telah bersamanya selama puluhan tahun. Pria paruh baya itu berdiri tegap di atas kuda yang masih terikat dengan kereta.

Semua pasukan Chunji langsung waspada.

Sreee...

Di antara rimbunnya pepohonan dan kegelapan malam. Pria paruh baya yang telah terasah di medan perang itu merasakan bahaya datang kearah mereka. "Lindungi Nyonya dan Nona muda," ujar Jenderal besar Chun Li.

"Baik." Pasukan langsung merapatkan barisan kearah kereta yang di naiki Nyonya Chun dan Nona Chun Xin.

Sseeettt...

Sllppp...

Ratusan anak panah berjatuhan dari kegelapan.

Treengg...

Satu persatu prajurit terkena anak panah yang melesat cepat menembus tubuh mereka.

"Aaaaaa... Ibu." Nona Chun Xin memeluk Ibunya dengan ketakutan.

Nyonya Chun mencoba tetap tenang. "Ada Ayah mu. Dia pasti dapat mengatasinya." Meskipun begitu jantungnya berdegup sangat kuat.

Di luar kereta, Jenderal Chun Li berusaha terus menangkis anak panah yang melesat kearahnya. Juga melesat kearah kereta yang di naiki istri dan putrinya.

Dreeeeee...

Langkah kaki dari ribuan orang terdengar menggema memecah keheningan malam.

"Bunuh mereka semua," teriak kuat Jenderal besar Chun Li yang langsung melompat turun. "Aaaaaa..." Pedang di tangannya melayang searah tebasan lawannya.

Dua ribu lebih penyergap mengepung pasukan Chunji.

Sseettt...

Nyawa setiap penyergap di ambil tanpa ragu.

Ttreenggg...

Drakkk...

Tubuh pria paruh baya itu terpental kuat setelah seseorang dengan topeng di wajahnya. Datang menghadang dan melakukan perlawanan sengit.

Buurrr...

Darah segar menyembur dari mulutnya.

Dia bangkit tidak ingin mengaku kalah sebelum kematian mengambil nyawanya.

Pertempuran terus terjadi selama hampir dua jam. Setelah tujuh puluh persen pasukan Chunji di musnahkan. Jenderal besar Chun Li juga tidak lagi bisa melawan karena kedua lengannya telah di tebas habis.

Nyonya Chun dan Nona Chun Xin keluar dari kereta.

"Suamiku..." Nyonya Chun berteriak dengan air mata mengalir setelah melihat kedua tangan suaminya telah hilang. Dia berlutut di samping suaminya.

Nona Chun Xin juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memeluk Ibunya dengan tubuh bergetar hebat. "Ibu."

Di saat topeng pria di depan mereka di buka. Semua orang terkejut.

"Yang Mulia." Suara Jenderal besar Chun Li terdengar lemah. Darah terus mengalir dari luka fatal yang ia terima. "Kau tetap tidak berniat melepaskan ku."

"Jenderal Chun, aku datang untuk mengantar kepergian mu bersama keluarga mu juga pasukan mu." Kaisar Xiao Chen melangkah melewati tumpukan mayat di depannya. "Hutang nyawa harus tetap kalian bayar. Sekalipun membutuhkan waktu puluhan tahun untuk membuat mu melunasinya."

"Hahahhha... Uukkhkk..." Pria paruh baya itu tersedak darah yang menekan tenggorokannya. "Di depan Ratu Jiao Juan dan Ibu Suri Agung Bao Yu kau menjadi Kaisar boneka yang patuh. Mengikuti setiap pengaturan yang di berikan kedua wanita penuh siasat itu. Aku pikir kau benar-benar boneka yang mereka gerakkan tanpa memiliki pemikiran lain. Tapi ternyata aku salah. Hahahah..." Menatap kearah istrinya dan putrinya. "Istriku, putriku, maaf. Aku harus membawa kalian kedunia bawah secepat ini."

Pria paruh baya itu melihat kembali kearah Kaisar Xiao Chen. "Yang Mulia, tolong jangan bunuh istri dan putri hamba. Puluhan perang telah aku menangkan. Setidaknya cukup untuk menebus nyawa mereka berdua."

Tatapan Kaisar Xiao Chen sangat dingin dan menusuk. "Membebaskan mereka berdua?" Menyeringai. "Dulu di saat Permaisuri Shu Zhuan memohon agar tidak membunuh putri yang baru ia lahirkan. Kau bahkan tidak memberikannya pengampunan."

Sseetttt...

Pedang di tangan Kaisar Xiao Chen menebas cepat kearah kepala Jenderal besar Chun Li. Seketika darah menyembur deras dari leher pria paruh baya itu.

Tatapan Kaisar Xiao Chen seperti kilatan mematikan. "Aku gunakan darah mu sebagai persembahan untuk menebus kematian Pangeran Ning Qing, Permaisuri Shu Zhuan dan putri kecil mereka yang baru lahir. Juga nyawa ratusan ribu pasukan elit Shaiming."

"Aaaaaaa..."

Nona Chun Li berteriak dan meronta dengan tangisan tak terkendali. Sedangkan Ibunya sudah tidak memiliki tenaga untuk bersuara. Dia menatap kepala suaminya yang telah terpisah dari tubuhnya.

"Bereskan sisanya. Aku tidak ingin ada satu pun dari mereka yang hidup," ujar Kaisar Xiao Chen melangkah pergi. Setiap langkahnya selalu memercik darah segar yang telah menyelimuti jalur utama di tengah hutan luar Ibu Kota.

Pasukan Chunji yang tersisa di eksekusi mati bersama Nyonya Chun dan Nona Chun Xin.

Angin malam itu membawa serta bau anyir darah yang sangat pekat keseluruh hutan.

Hewan-hewan buas dengan penciuman yang tajam segera mendekat. Karena mereka akan mendapatkan mangsa tanpa perlu usaha.

"Mundur." Pengawal Zhu Wan memberikan perintah terakhir di malam itu.

"Baik." Prajurit pengawal bayangan melangkah pergi setelah selesai menjalankan tugas mereka.

Dalam kehampaan itu, puluhan hewan buas berdatangan mencabik-cabik tubuh-tubuh yang telah tidak bernyawa.

1
Dian Haerani
sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada sang selir fenomenal ini, tapi jalan mereka tidak mudah semoga kekuatan cintanya dapat meruntuhkan semua penghalang itu...
semangat dan sehat terus kak 🤲
Sri wulandari: siap kk. 🌹❤️🤗
total 1 replies
Susilawati
lanjut thor
Susilawati
kaisar benar2 sdh jatuh cinta sekarang, tapi sayang nya yg dicintai nya bukan orang yg sama.
Susilawati
wow bagus selir Yu, kalo orang lain bisa bermain licik maka bals mereka dgn kelicikan juga
Ai
ayo kaisar xiao chen yakinkan istrimu kalau km bnr2 mencintainya
Ai
bagus.. aku suka selir yu yg hebat 💪
Dian Haerani
semangat selir yu, seperti othornya selalu berusaha untuk update diantara kesibukan kehidupan nyata dan dunia halu ini /Determined//Determined/
thanks Thor, lanjut
Sri wulandari: siap kk. 🤗
total 1 replies
Susilawati
ayo lanjut lagi thor 👍
Susilawati
semangat selir Yu, tunjukkan pada ayah mu yg jahat itu kalo kamu bukan boneka yg bisa di mainkan dan atur seenaknya.
Ai
ayo selir yu kamu hrs menjadi lbh kuat gunakan otak dan latih otot mu.. 💪
Dian Haerani
hehehe jadi ingin tau mode cemburu kaisar yang mulai bucin, jika mendengar pertemuan selir tercinta dengan sang mantan /Chuckle/
Ai
ayo semakin kuat selir yu pake licik jg gpp jgn terlalu lurus 🤣
Susilawati
lanjut thor
Susilawati
apa rencan selir Yu sebenarnya
Susilawati
cie cie kaisar ternyata bisa juga cemburu
Dian Haerani
hidup adalah pilihan, apapun itu akan menghasilkan resiko yang harus dihadapi dan menjadikan kita hancur atau kuat, itulah warna kehidupan jadi tetap semangat menjalani jangan pernah menyerah juga putus asa, karena takdir itu pasti datangnya /Determined/
Susilawati
kaisar gelisah karena sedang kangen selir Yu
Ai
ayo selir yu jadilah kuat tp jgn cm mengandalkan otot.. kekuatan otot tanpa otak itu bodoh.. cerdas dan kuat itu baru top bgt💪
Ai
kalo suka tuch ngomong kaisar jgn diem diem bae salah phmkan jadinya😄
Dian Haerani
cemburu artinya cinta, meskipun istilah itu umum tetap aja jadi terasa manis saat sang penguasa begitu lemah dihadapan sang pujaan hatinya /Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!