Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28 - Setimpal
"Kami hanya teman sejak SMP, tidak ada hubungan apa pun. Waktu itu aku datang ke rumahnya untuk mampir karena baru mendengar kabar duka."
Alexa menghela nafas panjang merasa lega karena akhirnya Steven sendiri yang langsung mengumumkan itu di depan media, disiarkan langsung dan didampingi oleh kedua orang tuanya dan juga Daffa dan Pimpinan Agensi, yang mendukung pernyataan Steven.
Alexa hanya menonton siaran langsung itu dari ponselnya tepat di jam istirahat makan siangnya.
Pengakuan bahwa mereka adalah teman sejak SMP adalah kebohongan. Alexa dan Steven bertemu belum lama. Tapi itu satu - satunya cara untuk meredakan rumor itu.
"Bagaimana mengenai informasi bahwa teman SMP - mu adalah seorang—"
"Oh, soal itu." Steven memotong wartawan yang menanyainya soal Alexa.
Saat itu, Alexa menelan ludahnya—khawatir. Agensi jelas sudah melarang Steven untuk mengatakan apa pun mengenai Alexa, bahkan tentang informasi bahwa Alexa adalah seorang PSK.
"Aku mengenalnya cukup baik, namun tidak bisa bersaksi apa pun tentang informasi itu. Mungkin, jika benar dia adalah seorang PSK, akan muncul pria - pria yang pernah 'dilayani' olehnya."
Steven melanjutkan kalimatnya dengan santai menanggapi itu. Tatapannya lurus ke kamera saat mengatakan itu seolah menantang siapa pun yang membuat informasi palsu tentang Alexa itu.
Untung saja Steven juga tidak langsung menyebut nama Alexa secara gamblang. Ada beberapa teman kerjanya yang belum tahu soal rumor yang dikabarkan adalah Steven dan Alexa.
Entah karena mereka pura - pura tidak tahu atau memang tidak peduli dengan rumor yang menggemparkan itu.
"Jadi, jika tidak ada satu pria pun yang muncul dengan kejujurannya, aku rasa temanku itu berhak menuntut oknum penyebar hoax itu. Tentu aku ada dipihaknya."
Steven menutup wawancaranya dengan berjalan pergi. Namun wartawan terus mengikutinya dan terus saja menanyakan hal - hal lainnya bahkan yang tidak bersangkutan dengan rumor itu.
Tak hanya Steven, kedua orang tua Steven turut mendapatkan jatah pertanyaan mengenai rencana karier Steven yang mungkin juga mengikuti jejak ibunya yang seorang aktris terkenal.
"Aku harap, putraku tidak membuat masalah lagi. Maaf karena sudah membuat keributan." Gavin berbicara tanpa berhenti melangkah.
Tiba - tiba seseorang menarik kabel earphone yang Alexa gunakan.
Sontak Alexa mendongak dan mendapati beberapa teman kerjanya juga sesama cleaning service berdiri di sampingnya sambil mendengarkan apa yang sedang Alexa dengarkan dengan earphone - nya itu.
"Kamu nggak mau klarifikasi soal rumor itu juga?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku? kenapa aku harus klarifikasi?" balas Alexa pura - pura tak tahu apa - apa agar tak ada yang menyadari kalau Steven dirumorkan dengannya.
Earphone milik Alexa dijatuhkan dan diinjak salah satu dari mereka. Tak ada reaksi apa pun dari Alexa selain diam dan hanya menatap nasib benda kecil yang baru pertama kali dipakainya itu.
"Jangan pikir kita nggak tahu kalau cewek yang dirumorkan sama Steven itu kamu," bisiknya.
"Jadi, beneran kamu teman SMP Steven?" Yang lain turut menginterogasi.
Alexa menarik nafas dalam. Masalahnya tidak akan pernah selesai semudah itu. Dia sudah terlibat dengan Steven yang berarti harus terlibat juga dengan penggemar - penggemar fanatiknya.
Sembilan dari sepuluh orang bekerja di Fire Corp, Alexa yakin adalah penggemar NOVA. Ada yang benar - benar menikmati pekerjaan sambil nge - fangirl. Ada juga yang hanya ingin melihat idola mereka.
"Aku harus kembali bekerja." Alexa memungut earphone rusaknya.
"Kamu belum jawab pertanyaan kita loh!"
"Bukannya Steven sudah mengatakan semuanya di siaran langsung? Aku tidak mau mengatakan apa pun."
"Jadi kamu juga seorang p3lacur? Steven tidak benar - benar menyatakan kabar itu benar atau tidak loh. Masih fifty - fifty."
"Sesuai kepercayaan kalian saja." Alexa kekeh tidak mau mengatakan apa pun dan memilih untuk pergi dari sana tanpa menghabiskan makanannya.
Semakin banyak orang yang tahu hubungannya dengan Steven meski hanya sebagai teman, Alexa akan semakin dijauhi atau bahkan tidak akan pernah memiliki teman selama bekerja.
Dia tidak mungkin mendekati staf yang pekerjaannya jauh di atasnya. Meski berteman dengan Steven, Alexa juga tahu diri.
Entah sejak kapan Alexa juga menganggap Steven adalah temannya. Dia tidak berniat begitu tapi tidak sesuai dengan niatnya, dia mengakui kalau kepedulian Steven padanya membuatnya menganggap Steven sebagai teman.
"Jangan membuat masalah lagi."
Lagi - lagi Alexa tersentak kini dengan kedatangan Abi di belakangnya yang muncul tiba - tiba tanpa tanda - tanda itu.
Abi melirik Alexa sekilas kemudian kembali berbicara, "lo udah cukup menghancurkan banyak hal. Cobalah buat jaga jarak dari Steven."
"Baik." Alexa mengatakan itu dengan semangat.
Dari awal, Alexa tidak ingin terlibat terlalu jauh. Dia pikir saat memarahi Steven setelah ayahnya dibawa ke kantor polisi itu, Steven juga tidak akan muncul di hadapannya lagi.
Namun Steven bahkan datang ke makam ibunya. Setelah itu, wajah Sang Idola itu selalu muncul di mana pun Alexa berada dengan berbagai penyamaran.
"Bukan hanya Steven. Termasuk Jo dan yang lainnya. Lo itu pengaruh buruk." Abi menambah peringatan.
Alexa mengangguk kecil. Benar dugaannya. Dia tidak akan memiliki teman atau siapa pun. Hanya dirinya sendiri seperti sebelumnya.
Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti. Masih diizinkan tetap bekerja di sana saja sudah membuat Alexa bersyukur karena dia masih bisa menyambung hidup yang semakin berantakan.
"Bagus kalau lo ngerti. Memang jadi anak p3mbunuh itu harus tahu diri." Abi berlalu.
"Bisa tolong jangan ungkit tentang Ayah saya?" Alexa memberanikan diri memprotes.
Abi berhenti dan menoleh.
"Maaf. Tapi ayah saya sudah mendapatkan hukumannya setimpal dengan apa yang beliau lakukan." Alexa menunduk.
"Lalu apa yang berubah? Orang yang ayah lo bunuh, hidup lagi?" cibir Abi.
Pundak Alexa menurun dan matanya mulai sayu. Dia berusaha keras melupakan semua itu, sedang berusaha merelakan yang sudah terjadi. Berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
Tapi semuanya menjadi sia - sia jika ada yang mengungkit tentang ayahnya lagi.
"Tidak. Tapi saya juga sudah kehilangan Ayah saya." Suaranya berbisik.
Alexa tidak mengerti kenapa Abi begitu membencinya karena Alexa adalah anak seorang p3mbunuh. Memang benar ayahnya salah, tapi rasanya aneh karena Abi membencinya seolah yang Alex bun*uh adalah salah satu anggota keluarga Abi.
Abi tersenyum sinis dan mendekati Alexa lagi dengan tatapan tajam.
Mata mereka bertemu.
"Setimpal, kan? Lo kehilangan Ayah kandung lo, sama kayak gue kehilangan Ayah kandung gue yang dibun*uh Ayah lo," katanya. Mata Abi gelap tapi jelas berkaca - kaca.
Mendengar itu, Alexa melangkah mundur cukup jauh membuat jarak antara dirinya dengan Abi.
Dia tidak tahu apa pun soal itu. Abi adalah selebriti terkenal. Tidak mungkin ayahnya memiliki hubungan dengan Alex yang begitu bejat. Level mereka jauh dari segi apa pun.
"Gue nggak akan tutup mata soal itu. Bahkan bisa gue ungkit sampai tujuh turunan!"
Itu adalah kalimat terakhir Abi sebelum pergi meninggalkan Alexa yang masih mematung di tempat memikirkan fakta mengejutkan yang didapatkannya lagi. [ ]