Axeline tumbuh dengan perasaan yang tidak terelakkan pada kakak sepupunya sendiri, Keynan. Namun, kebersamaan mereka terputus saat Keynan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Lima tahun berlalu, tapi tidak membuat perasaan Axeline berubah. Tapi, saat Keynan kembali, ia bukan lagi sosok yang sama. Sikapnya dingin, seolah memberi jarak di antara mereka.
Namun, semua berubah saat sebuah insiden membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Sikap Keynan membuat Axeline memilih untuk menjauh, dan menjaga jarak dengan Keynan. Terlebih saat tahu, Keynan mempunyai kekasih. Dia ingin melupakan segalanya, tanpa mencari tahu kebenarannya, tanpa menyadari fakta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di dalam rumah mewah keluarga Reno, suasana pagi terasa tenang. Cahaya matahari menembus tirai jendela, menerangi interior elegan yang didominasi warna netral dan perabotan yang cukup mahal.
Di dalam kamarnya yang luas, Agnes berdiri di depan cermin besar, memeriksa penampilannya dengan seksama. Gaun anggun membalut tubuhnya dengan sempurna, rambutnya tertata rapi, dan riasan wajahnya memberi kesan berkelas dengan sebuah senyum yang terukir di wajahnya.
"Perfect," gumamnya sambil meraih tas mahalnya. Hari ini, ia berencana menemui Keynan lagi di perusahaan. Ia akan lebih sering muncul di sana agar semua orang yakin bahwa dirinya adalah calon nyonya muda keluarga Dirgantara.
Ketika menuruni anak tangga dengan langkah percaya diri, aroma sarapan tercium dari ruang makan. Della, yang baru saja selesai mengatur meja, menoleh dan menatap putrinya dengan alis terangkat.
"Agnes! Kau mau ke mana? Tidak biasanya pagi-pagi begini kau sudah rapi seperti ini," tanya Della dengan nada heran.
Agnes mendesah ringan. "Mommy ini bagaimana, sih? Tentu saja aku ingin menemui calon suamiku," ujarnya.
Della melipat tangannya di depan dada. "Tapi, bukankah ini terlalu pagi? Seharusnya kau pergi ke rumah mertuamu saja," ucapnya, membuat kening Agnes berkerut.
"Kenapa aku harus ke sana? Aku ingin semua orang di perusahaan itu tahu bahwa aku adalah calon nyonya muda Dirgantara, Mom," tegas Agnes dengan nada suara yang menunjukkan rasa tidak sabar.
Della tersenyum tipis, seolah menyembunyikan sesuatu di balik ucapannya. "Iya, Mommy tahu. Tapi kita juga harus memastikan persiapan yang mereka lakukan untuk pertunangan kalian nanti, bukan? Maksud Mommy, kau bisa memilih konsep yang kita inginkan. Kita harus bisa memanfaatkan kekayaan mereka dengan baik."
Mata Agnes berbinar, menangkap maksud tersembunyi dalam kata-kata ibunya. Rencana itu terdengar lebih menarik dari sekadar membangun citra di perusahaan. Dengan senyum penuh arti, ia mengangguk. "Mommy memang selalu punya ide bagus."
"Tentu saja. Kalau begitu, kau tunggu Mommy sebentar. Mommy akan siap-siap lebih dulu."
Della bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap. Sementara, Agnes duduk dengan penuh antusias, membayangkan pesta pertunangan yang mewah, sebuah perayaan yang akan membuat semua orang iri padanya. Senyum kemenangan terukir di wajahnya, seolah ia sudah bisa merasakan sorotan kagum dari para tamu yang hadir nanti.
Setelah beberapa saat, Della dan Agnes akhirnya tiba di depan rumah megah milik keluarga Dirgantara. Begitu keluar dari mobil, keduanya memandangi bangunan megah itu dengan senyum penuh arti. Rumah yang dalam waktu dekat, akan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
"Ayo kita masuk," ujar Agnes penuh semangat.
Della mengetuk pintu, dan tidak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka. Dengan ramah, ia mempersilakan keduanya masuk.
Di ruang tamu, Nayya tengah duduk dengan santai, menikmati secangkir teh sambil membaca majalah. Saat mendengar langkah kaki mendekat, ia mengangkat wajahnya dan terkejut melihat tamu yang datang.
"Selamat pagi, Nyonya Nayya," sapa Della dengan nada sopan.
Nayya menutup majalahnya dan meletakkannya di meja. "Oh, Nyonya Della. Apa kabar?" tanyanya, sekadar basa-basi. "Silakan duduk."
Della dan Agnes mengambil tempat di sofa yang berhadapan langsung dengan Nayya. Tidak lama, seorang pelayan datang membawa minuman untuk mereka.
Nayya menyesap tehnya sebelum akhirnya bertanya, "Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kalian datang pagi-pagi begini?"
Della tersenyum, menatap Nayya. "Begini, Nyonya. Seperti yang kau katakan sebelumnya, pertunangan Agnes dan Keynan harus dipersiapkan dengan baik. Karena itu, kami datang untuk membahasnya denganmu. Kita harus segera mencari tempat dan konsultan yang tepat agar acara ini berjalan sempurna," ujarnya dengan antusias.
"Oh, begitu," gumamnya, menyesap teh yang baru saja disajikan oleh pelayan. "Aku pikir, kita masih punya cukup waktu untuk membahas itu nanti."
Agnes tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya dengan anggun di sofa. "Aku dan Mommy hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar, Aunty. Bagaimanapun juga, pertunangan ini harus sempurna. Tidak boleh ada yang kurang."
Nayya mengangkat alisnya. "Tentu saja. Tapi aku juga ingin memastikan bahwa Keynan benar-benar setuju dengan semua ini," ucapnya, menyiratkan sesuatu di balik nada suaranya.
Agnes meremas jemarinya, namun tetap mempertahankan senyum manisnya. "Tentu saja Keynan setuju. Kami sudah membicarakannya," ucapnya yakin, meskipun ia sendiri tahu jika Keynan begitu membencinya.
"Oh, begitu. Tapi, aku tidak bisa memutuskan sendiri soal persiapan pertunangan ini," ujar Nayya dengan tatapan yang mengarah pada Della dan Agnes. "Maksudku, aku memang berencana membuat pesta yang megah, mengundang semua kolega, keluarga, dan teman-teman kami. Tapi, keputusan ini bukan hanya milikku. Aku harus mengumpulkan keluarga besar kami untuk membahasnya lebih lanjut. Bagaimanapun juga, Keynan adalah satu-satunya pewaris keluarga Dirgantara."
Mata Della berbinar penuh antusias. Ia membayangkan sebuah perayaan yang luar biasa, pesta yang akan menjadi sorotan semua orang. Dan yang lebih penting, dirinya akan menjadi bagian dari keluarga kaya dan terpandang ini.
"Jadi, kalian tidak perlu khawatir," lanjut Nayya dengan senyum di bibirnya. "Aku pasti akan mempersiapkan pesta pertunangan yang sangat meriah untuk Agnes dan Keynan."
Agnes menahan napas sejenak sebelum akhirnya tersenyum puas. Kata-kata Nayya membuatnya merasa begitu istimewa, seperti wanita paling beruntung di dunia yang akan membuat banyak orang iri padanya.
"Baiklah kalau begitu, kami merasa lega mendengarnya. Kapan pun Anda ingin membahasnya lebih lanjut, kami siap," ujar Della dengan nada puas.
Nayya mengangguk sambil membalas senyum Della.
"Kalau begitu, kami pamit dulu. Maaf sudah mengganggu Anda pagi-pagi begini," lanjut Della dengan sopan.
"Tidak masalah. Justru aku berterima kasih karena kau sudah mengingatkanku," sahut Nayya, tetap menjaga nada ramahnya.
Della mengangguk dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya. Dengan hati penuh rasa puas, ia dan Agnes beranjak pergi, meninggalkan rumah keluarga Dirgantara dengan perasaan menang setelah mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.
Namun, begitu pintu tertutup di belakang mereka, senyum di bibir Nayya perlahan memudar. Matanya menatap kosong ke arah pintu, pikirannya dipenuhi sesuatu yang tidak diungkapkan.
"Cih, mimpi," gerutu Nayya pelan, matanya masih terpaku ke arah pintu yang baru saja tertutup. Namun, sedetik kemudian, ekspresinya berubah. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai samar, seakan memikirkan sesuatu yang menarik.
Tangannya dengan gesit meraih ponselnya dari meja. Jemarinya lincah menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Panggilan tersambung, dan hanya dalam satu dering, suara di seberang langsung menjawab.
"Halo?"
Nayya menyandarkan tubuhnya ke sofa, dengan mata yang menyipit tajam. "Kita perlu bicara."
jadi penasaran
thor jgn lama2 up nya