Seorang gadis yang memiliki kelainan jantung sejak lahir, harus bertahan hidup sendiri membesarkan kedua adiknya.
Kerja keras dan banting tulang sanggup dia lakukan demi masa depan adik adiknya. Bahkan masa depannya sendiri tak pernah dia pikirkan.
Hingga suatu ketika keadaan memaksanya untuk menggadaikan harga diri serta hidupnya.
Dan dengan terpaksa harus menikah dengan orang yang tak pernah mencintainya.
Nah, untuk mengetahui kisah selanjutnya? Simak saja di karyaku yang terbaru berjudul
" Harga Diri Yang Tergadaikan ".
Selamat membaca, jangan lupa subscribe, like, vote, dan semua dukungan. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewidewie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 21
Dret
Terdengar sebuah notif pesan masuk, membuat pemiliknya membuka matanya perlahan.
Dengan mata masih terpejam, Erland meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan di pagi buta seperti ini.
📩 Revi : Sayang, selamat pagi. Aku kangen sama kamu Erland. Sudah hampir satu bulan kamu kok gak datang ke Jepang. Jangan jangan kamu sudah tidak merindukan aku lagi ya.
Erland nampak senyum senyum sendiri membacanya kemudian menoleh kepada Nabila yang masih terlelap di dalam pelukan malam.
✉️ Erland: Siapa bilang aku tidak merindukanmu sayang. Aku juga sangat sangat merindukanmu.Tapi memang belum ada waktu untuk ke sana, pamanku baru saja meninggal aku harus membantu mamaku mengurus perusahaan yang ditinggalkan paman. Tenanglah sebentar lagi aku pasti akan menemuimu di Jepang.
📩 Revi: Benar ya jangan bohong, aku akan menunggumu.
Erland masih menggenggam ponselnya namun kembali memejamkan matanya karena masih enggan untuk beranjak dan memilih terus memejamkan matanya dan membiarkan rasa malas menyelimutinya.
Tapi berbeda dengan Nabila yang ternyata sudah terjaga dan tanpa sengaja melihat ponsel Erland masih menyala dan berada di genggamannya namun si pemiliknya masih tertidur pulas.
Perlahan Nabila beranjak dan melangkah mendekati suaminya yang tidur terlentang di sofa dengan sangat lelapnya. Nabila berusaha mengambil ponsel yang berada di dalam genggaman Erland dan memasang selimut dengan hati hati agar tidak membangunkannya.
Namun di saat bersamaan ponsel Erland kembali berdering dan itu membuat Nabila kaget dan tanpa sengaja menginjak selimut sehingga tersandung dan tubuhnya jatuh di atas tubuh Erland yang akhirnya juga terbangun.
Keduanya saling menatap lekat dan saling mengunci.
Erland yang masih belum tersadar sepenuhnya pun berusaha mengingat dan menyentuh wajah cantik yang saat ini berada di atasnya dengan jarak yang sangat dekat.
Jantung Nabila yang tadinya tidak merasakan apa apa tiba tiba menjadi bergejolak dan berdetak sangat cepat membuat rasa nyeri yang teramat sangat menyiksa.
Nabila meringis kesakitan dan berusaha turun dari tubuh Erland. Rasa nyeri yang sangat hebat hampir membuatnya tak bisa bernafas, Erland pun menjadi khawatir dan ikut bangun kemudian memegangi kedua pundak Nabila " Bil, kamu kenapa? Apa jantung kamu kambuh lagi? " .
" Entahlah pak Erland, ach aduh sakit ach"
Nabila terus meringis kesakitan sambil memegangi dadanya sebelah kiri.
Erland segera bangkit dan menangkap tubuh Nabila yang sudah lemas kemudian merebahkannya di atas ranjang.
Erland tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia pun panik kemudian mengusap dada Nabila dan tepat mengenai tonjolan yang membuat pemiliknya menggeliat karena geli.
" Maaf Bil, aku gak sengaja. Tapi apa yang harus aku lakukan? Aduh aku bawa kamu ke rumah sakit saja ya " Erland segera mengangkat tubuh Nabila.
Nabila masih meringis menahan sakit dan berusaha mengatur nafasnya. Akhirnya Nabila teringat apa yang dilakukan Erick di saat jantungnya kambuh.
" Ah tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku masih punya harga diri, hanya Erick yang boleh menciumku. Tapi aduh bagaimana ini sakit sekali ach " Batinnya.
" Tapi aku sudah tidak kuat lagi, aku bisa mati dan aku harus hidup demi Erick dia akan menjemputku sebagai pengantinnya " Batin Nabila kembali bergejolak.
Erland yang masih mengenakan piyama tidur sudah tidak perduli lagi dan tetap menggendong tubuh Nabila menuruni anak tangga.
Nabila berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya namun tidak kuat lagi.
Cup
Nabila mendekatkan bibirnya dan meraih tengkuk kepala Erland.
Erland terdiam dan tidak menyangka, Nabila nekat melakukan itu.
" Maafkan aku pak Erland, hanya ini yang bisa dilakukan untuk mengembalikan detak jantungku, maafkan aku yang tidak punya harga diri. Tolong aku pak Erland berikan sedikit nafasmu untukku" Bisik Nabila.
Erland masih terdiam, dan perlahan duduk di antara anak tangga sambil memangku tubuh Nabila, kemudian mengusap bibir merah Nabila yang mulai pucat " Baiklah Bil aku akan menolongmu tapi ini bukan mauku tapi permintaanmu " Bisik Erland.
Nabila hanya mengangguk perlahan dan mereka pun saling menyalurkan nafasnya membuat Nabila kembali pulih dan berangsur-angsur membaik. Tapi Erland semakin menuntut dan gairah birahinya mulai terbakar. Hawa panas mulai menjalar, sesuatu yang tadinya tidur sekarang sudah berdiri tegak minta dimanjakan.
Nabila dan Erland saling berpagutan di antara anak tangga di dalam rumahnya.
Rima dan William yang saat itu keluar dari kamarnya pun hanya senyum senyum sendiri melihat kelakuan anak dan mantunya itu.
Bukan hanya Rima dan William tapi para asisten rumah tangganya pun tak luput dari pemandangan di pagi hari itu.
" Pa, sepertinya sebentar lagi kita bakalan menimang cucu" Bisik Rima sambil menyenggol lengan suaminya.
Deg
William terperanjat dan mengusap kasar wajahnya karena dia teringat pesan Erick untuk menjaga Nabila, jangan sampai Erland menyentuhnya.
" Aduh bagaimana ini? Apa aku harus merusak amanah Erick, tapi walau bagaimana pun juga Erland adalah suaminya Nabila meskipun hanya nikah kontrak tapi sah di depan hukum dan agama" Batin William mulai bergejolak.
Rima menatap Erland dan Nabila yang saling berpagutan karena niat awal menyalurkan oksigen berubah menjadi saling melumat dan menyesap.
Nabila pun seperti terhipnotis oleh Erland yang ternyata lebih pandai mengobrak abrik hasratnya.
Tiba-tiba sebuah suara menghentikan aksi mereka dan mengakhiri kegiatan saling melumatnya.
" Erland! " Panggil William sengaja menghentikan ciuman mereka.
" Pa, kenapa sih ganggu mereka. Biarkan mereka juga sudah sah menjadi suami istri sah sah saja mereka akan melakukan di mana" Gumam Rima sambil memanyunkan bibirnya.
" Tapi tidak di sini juga ma" Ucap Wiilliam sengaja mengentikan mereka yang saling berpagutan.
Sementara itu, Erland dan Nabila yang baru menyadari apa yang terjadi sama sama terdiam dan menunduk.
" Bil, kamu baik baik saja kan? " Tanya Erland sambil mengusap kepala Nabila yang hanya dijawab sebuah gelengan kecil oleh pemiliknya.
Ditambah lagi suara William yang memanggilnya membuat keduanya semakin. malu dan sama sama menunduk.