NovelToon NovelToon
The Mother

The Mother

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Single Mom / Epik Petualangan / Mengubah sejarah / Perperangan / Keluarga
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: TENANG

Violet, seorang alien wanita dari bangsa Elaria, dikirim ke Planet Biru untuk mencari mineral langka yang dibutuhkan bangsanya. Setelah menemukan mineral itu, dia memakannya, menyebabkan mutasi yang memberinya kekuatan luar biasa dan kemampuan untuk melahirkan anak-anak dengan kekuatan khusus. Violet memimpin peradaban baru di Planet Biru hingga suatu hari dipanggil kembali oleh bangsanya, yang memicu konflik besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TENANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Violet dan Zafir bersama tiga pahlawan legendaris, Thalor, Mirael, dan Kaelar, bersiap untuk melaksanakan rencana mereka. Zafir akan mengungsikan rakyat dan bangsawan, tiga pahlawan akan menyerbu, dan Violet akan menjadi pembuka jalan untuk Zafir.

Violet menyadari bahwa waktu kloningannya sebagai Thalassar akan segera berakhir. Dia memberi perintah kepada kloningannya untuk teleport ke lokasi mereka.

"Diriku yang lain, segera ke sini. Waktu hampir habis."

"Baik, Violet," jawab kloningannya sebelum berteleport.

Zafir, melihat kedatangan kloningan, bertanya, "Violet, apa yang kamu lakukan? Dia jenderal Thalassar!"

"Tenang saja, dia kloninganku yang menyamar menjadi Thalassar. Waktunya hampir habis, sebentar lagi dia akan menghilang. Pakailah senjata pusaka milik Thalassar dan armor lengkapnya. Ini akan membantumu," jelas Violet.

Setelah kloningannya melepas armor dan memberikannya kepada Zafir, armor itu langsung menempel pada Zafir. Violet kemudian memberikan tombak berenergi nuklir kepada Zafir.

"Tapi... ya benar, mirip sekali denganmu," ucap Zafir sambil menatap kloningan Violet.

Tak lama kemudian, kloningan Violet memudar dan menghilang.

"Tunggu, kenapa kamu menggunakan helm lagi?" tanya Zafir.

"Udara di sini kurang cocok denganku. Terlalu sesak dan kepadatan airnya tinggi," jawab Violet.

"Oh iya, kamu bukan duyung. Aku lupa," balas Zafir sambil tersenyum kecil.

Dengan persiapan selesai, mereka bersiap untuk melaksanakan rencana besar mereka, menghadapi musuh dan merebut kembali kerajaan yang telah direbut oleh Proteus.

***

Di sisi lain, Zarek sedang meneliti energi Nyxian Core untuk dimanfaatkan sebagai energi dalam armor canggih milik Proteus.

"Tuan, energi ini kurang stabil. Kita butuh katalis untuk menstabilkannya," kata Zarek.

"Menggunakan material apa itu, agar bisa menjadi katalis energi tersebut?" tanya Proteus.

"Energi pusaka yang mengandung pemurnian. Apakah raja memiliki benda seperti itu?" jawab Zarek.

"Pusaka kerajaan siapa yang memiliki itu? Aku hanya memiliki pusaka peninggalan untuk mengendalikan makhluk laut raksasa," balas Proteus.

"Coba cari bangsawan lain. Siapa tahu mereka memilikinya," usul Zarek.

"Cerdas kau, Zarek," ujar Proteus dengan senyum licik.

Dengan telepatinya, Proteus menghubungi Lyria dan Kaelus.

"Kaelus! Bawa para bangsawan kemari semuanya. Dan untuk Lyria, segera kumpulkan rakyat di ruang bawah tanah. Hentikan kerjaannya, berikan mereka makan yang layak. Sebentar lagi aku akan mengadakan pesta besar," perintah Proteus.

"Baik, pimpinan," timpal para jenderal.

Kemudian, bersama bawahannya, Kaelus membuka penjara setiap tawanan bangsawan.

"Bawa mereka," perintah Kaelus dengan suara tegas.

"Tolong ampuni aku, aku akan membayarmu berapapun kau minta," pinta salah satu bangsawan dengan suara gemetar.

"Iya, bebaskan kami," teriak yang lainnya.

Bangsawan Kael hanya menggelengkan kepala kepada rekan-rekannya, merasa putus asa dengan situasi yang mereka hadapi. Namun, Kaelus menghiraukannya dan menyeret para bangsawan menuju ruangan Proteus.

Setibanya di ruangan Proteus, Kaelus mendorong para bangsawan ke depan sang raja. "Inilah mereka, sesuai perintahmu," kata Kaelus.

Proteus tersenyum licik melihat para bangsawan di hadapannya. "Baiklah, mari kita mulai pesta besar ini," ujarnya sambil menatap Zarek yang sudah siap dengan peralatan untuk meneliti energi Nyxian Core.

***

Di sisi lain, Lyria bersama bawahannya menghentikan rakyat yang sedang bekerja dan menegur bawahannya yang terlalu kasar kepada seorang anak kecil.

"Segera hentikan pekerjaanmu dan berkumpul di dekat altar," perintah para penjaga sambil menendang seorang anak kecil.

Anak kecil itu tersungkur lemas.

"Cukup, jangan terlalu kasar," ujar Lyria dengan suara tegas.

"Bocah lemah," gumam salah satu penjaga. "Jenderal, kenapa kau sekarang melunak? Apa gara-gara adikmu terkena hukuman dari raja?"

Dengan tatapan dingin, Lyria segera menusukkan trisulanya ke penjaga itu. Dalam sekejap, tubuhnya membeku menjadi bongkahan es dan hancur.

"Jangan banyak protes dan jangan terlalu kasar. Giring mereka berkumpul," perintah Lyria.

"Terima kasih," ucap anak kecil itu dengan suara pelan.

Namun, dengan dinginnya, Lyria mengacuhkannya dan memalingkan perhatiannya, fokus pada tugas yang harus diselesaikannya.

***

Di ruang bawah tanah istana, Proteus berdiri di hadapan barisan bangsawan yang ketakutan, mata mereka penuh kecemasan. Zarek berada di sisinya, mencatat setiap detail yang terjadi. Di depan mereka, meja besar penuh dengan liontin pusaka yang dikumpulkan dari para bangsawan. Mutiara-mutiara dengan berbagai warna dan fungsi menghiasi meja itu, masing-masing memiliki sejarah dan kekuatan tersendiri.

Proteus memandang mereka dengan tatapan dingin. "Satu per satu maju dan serahkan pusaka kalian," perintahnya dengan suara yang menggema di ruangan itu. "Jangan mencoba berbohong, atau kalian akan merasakan akibatnya."

Bangsawan pertama, seorang pria tua dengan janggut panjang berwarna perak, maju dengan gemetar. Dia menyerahkan liontin dengan mutiara biru bercahaya. Proteus mengambilnya dan menatapnya sejenak sebelum menyerahkannya kepada Zarek.

"Biru, kekuatan penyembuhan. Tidak berguna untuk katalis energi," kata Zarek dengan datar.

Proteus menatap pria tua itu dengan dingin. "Kau tidak berguna," ucapnya sebelum mengisyaratkan penjaga. Dua penjaga segera menyeret pria tua itu keluar dari ruangan, teriakan ketakutannya memudar di kejauhan.

Berikutnya, seorang wanita muda maju dengan air mata mengalir di pipinya. Dia menyerahkan liontin dengan mutiara merah menyala. Proteus memeriksanya dengan seksama.

"Merah, kekuatan api. Bisa berguna," kata Zarek sambil mencatat.

Proteus tersenyum dingin kepada wanita muda itu. "Kau mungkin akan selamat untuk sementara waktu," katanya, lalu mengisyaratkan penjaga untuk membawanya kembali ke barisan.

Satu per satu bangsawan maju, menyerahkan pusaka mereka. Setiap kali mutiara yang diserahkan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, nasib pemiliknya berakhir tragis. Beberapa dipukul hingga tak sadarkan diri, yang lain ditarik keluar dengan cara yang lebih kejam.

Kemudian, seorang bangsawan muda dengan tatapan pemberani maju. Dia menyerahkan liontin dengan mutiara hijau berkilauan. Proteus mengangkatnya dan mengamatinya dengan penuh minat.

"Ah, hijau, kekuatan manipulasi alam. Ini mungkin berguna," kata Zarek.

Bangsawan muda itu menatap Proteus dengan penuh kebencian. "Kau akan membayar atas semua kekejaman ini," katanya dengan suara rendah.

Proteus hanya tertawa. "Mungkin, tapi bukan hari ini." Dia mengisyaratkan penjaga untuk membawa pemuda itu kembali ke barisan.

Akhirnya, giliran bangsawan terakhir, seorang wanita tua dengan tatapan penuh kebencian. Dia menyerahkan liontin dengan mutiara hitam yang memancarkan aura misterius. Proteus menatapnya dengan penuh minat.

"Hitam, kekuatan gelap. Ini bisa sangat berguna," kata Zarek.

Proteus tersenyum lebar. "Ini yang kita butuhkan," katanya sambil memegang liontin itu dengan erat. "Kau telah memberikan kontribusi besar untuk rencana kami," katanya kepada wanita tua itu dengan nada mengejek.

Wanita tua itu menatapnya dengan penuh kebencian. "Kau akan jatuh, Proteus. Kejahatanmu akan dihukum."

Proteus hanya tertawa. "Kita lihat saja nanti," katanya sebelum memberi isyarat kepada penjaga untuk menyeret wanita tua itu keluar.

Setelah semua pusaka terkumpul, Proteus memandang Zarek dengan penuh semangat. "Dengan ini, kita akan segera menguasai galaksi," katanya dengan senyum penuh kemenangan.

Zarek mengangguk. "Aku akan mulai meneliti dan mengintegrasikan energi dari pusaka-pusaka ini ke dalam Nyxian Core," katanya sambil mengumpulkan liontin-liontin itu.

Proteus mengangguk puas. "Lakukan secepat mungkin. Waktu kita terbatas," katanya sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan, pikirannya penuh dengan rencana penaklukan besar.

Proteus berdiri di tengah ruangan, memandangi kumpulan pusaka yang telah diserahkan. Namun, ada satu nama yang terus berputar di pikirannya. Dia memandang Zarek dan bertanya, "Tunggu, ada satu bangsawan yang kurang. Bangsawan Kael, di mana dia?"

Tiba-tiba, pintu besar di belakang ruangan terbuka dengan keras. Dua prajurit, Rakan dan Vernata, bawahannya Komandan Zira yang beroperasi di bawah Jenderal Thalassar, menyeret seorang pria yang terikat dan babak belur. Mereka berhenti di depan Proteus, memaksa pria itu berlutut.

"Ini dia, Tuan," kata Rakan dengan nada penuh hormat. "Kami menemukan bangsawan Kael mencoba bersembunyi di lorong-lorong bawah tanah."

Kael menatap Proteus dengan mata penuh kebencian, meskipun wajahnya menunjukkan bekas-bekas penyiksaan. "Kau tidak akan pernah menang, Proteus," katanya dengan suara serak.

Proteus tersenyum dingin. "Kita lihat saja nanti, Kael," katanya sebelum mengulurkan tangannya. "Serahkan pusakamu."

Kael menolak berbicara, hanya memandang Proteus dengan tatapan penuh kebencian. Proteus menghela napas dan memberi isyarat kepada Zarek. "Zarek, bantu dia mengingat."

Zarek mendekati Kael dengan alat yang berkilauan di tangannya, siap untuk menyiksa informasi keluar dari pria itu. Namun, sebelum dia bisa mulai, Kael mendesah dan mengangguk, dengan enggan menyerahkan liontin dengan mutiara berwarna ungu gelap yang memancarkan aura misterius.

Proteus mengambil liontin itu dan menatapnya dengan penuh minat. "Ungu, kekuatan penyimpanan energi. Sempurna," kata Zarek sambil mencatat.

Proteus tersenyum puas. "Terima kasih, Kael. Kau telah membuat hari ini lebih berharga." Dia memberi isyarat kepada Rakan dan Vernata. "Bawa dia ke sel yang lebih aman. Kita mungkin memerlukan dia lagi nanti."

Rakan dan Vernata menyeret Kael keluar dari ruangan, meninggalkan Proteus dan Zarek dengan koleksi pusaka yang kini lengkap.

"Kita sudah memiliki semuanya, Zarek. Mulailah penelitianmu dan pastikan Nyxian Core ini dapat dikendalikan dengan aman," kata Proteus.

Zarek mengangguk. "Saya akan segera mulai, Tuan. Dengan kekuatan ini, kita akan mampu menguasai galaksi."

Proteus mengangguk dengan senyum penuh kemenangan. "Segera, Zarek. Segera." Dia kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan, pikirannya dipenuhi dengan rencana besar untuk penaklukan yang akan datang.

Akan tetapi Zarek menyaksikan dengan saksama saat katalis-katalis hancur satu per satu, tak mampu menahan energi Nyxian Core. Ketika ia menyadari bahwa pusaka milik Bangsawan Kael ternyata palsu, ia segera mengabari Proteus. Proteus, yang tengah diliputi kemarahan, kembali ke ruangan eksperimen dan melihat serpihan pusaka-pusaka itu.

"Kemungkinan besar, liontin asli pusaka Kael sangat cocok untuk menjadi katalis energi Nyxian Core," kata Zarek dengan nada tegas.

Proteus menggeram, "Kurang ajar, beraninya dia menipuku. Seret Kael ke sini!" perintahnya kepada Rakan dan Vernata.

"Kaelus, bawa semua bangsawan kembali ke kesini, Mereka sudah tak berguna lagi," tambahnya, memandang tajam ke arah Jenderal Kaelus yang masih berdiri di sana.

Jenderal Kaelus segera membungkuk dan memerintahkan bawahannya untuk membawa kembali para bangsawan ke ruangan penelitian. Sementara itu, Rakan dan Vernata menyeret Kael, yang tampak tak berdaya namun penuh tekad, ke hadapan Proteus.

"Berani sekali kau membohongiku. Di mana pusakamu yang asli?" tanya Proteus dengan nada mengancam.

Kael hanya menatap Proteus dengan pandangan penuh kebencian. "Aku tidak akan memberitahumu!" tegasnya.

Proteus tersenyum licik. "Aku tahu pasti Zafir yang membawanya. Aku telah memerintahkan Varian untuk menangkapnya. Sebentar lagi, dia pasti tertangkap."

Panik terpancar di wajah Kael. "Jangan apa-apakan anakku!" teriaknya, nadanya penuh ketakutan dan kecemasan.

Proteus mendekat, menatap Kael dengan dingin. "Kau tidak dalam posisi untuk memerintah, Kael. Jika kau tidak ingin melihat anakmu menderita, lebih baik kau mulai bicara."

Kael gemetar, tetapi tetap bungkam, berharap bahwa Zafir berhasil melarikan diri sejauh mungkin dengan pusaka tersebut. Sementara itu, Proteus kembali mengarahkan pandangannya ke Zarek, "Siapkan semua peralatan yang kita butuhkan. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menghalangi rencanaku."

Zarek mengangguk, segera memulai persiapan yang diperlukan, sementara Kael hanya bisa berharap dan berdoa dalam diam.

***

Di sisi lain, Violet, Zafir, dan tiga pahlawan legendaris—Thalor, Mirael, dan Kaelar—bersiap untuk menjalankan rencana mereka.

Namun, tiba-tiba Varian muncul dari balik bayangan."Rupanya kau di sini! Aku akan membawamu menghadap pimpinan," ucap Varian dengan nada menakutkan.

Sebelum Zafir sempat menggerakkan pusaka tombaknya, ia terseret ke dalam bayangan Varian dan menghilang.

Violet dan ketiga pahlawan legendaris terperangah, tercengang karena kejadian itu terjadi begitu tiba-tiba.

"Zafir!" seru Violet panik, mencoba meraih tempat di mana Zafir menghilang.

"Siapa itu tadi?" ujar Thalor dengan wajah bingung.

"Zafir! Tidak...," seru Violet dengan cemas.

Melihat kekuatan bayangan itu, Violet teringat sesuatu yang pernah didengarnya dari salah satu prajurit. "Aku yakin yang tadi membawa Zafir adalah Jendral Varian," ujarnya sambil menggertakkan gigi. "Dia salah satu dari empat jendral tertinggi. Salah satu dari mereka telah kukalahkan."

"Jendral musuh kita harus segera menolongnya," ujar Thalor dengan tegas.

"Tapi kita tidak tahu lokasinya," timpal Mirael dengan nada khawatir.

Violet, dengan tenang namun penuh determinasi, berkata, "Aku sudah meletakkan pelacak di senjata Zafir."

Mirael dan Thalor saling memandang, terkejut sekaligus lega mendengar informasi tersebut.

"Bagus sekali," kata Kaelar. "Kita bisa melacaknya dan menemukan di mana mereka berada."

Violet mengaktifkan alat pelacak yang terhubung dengan senjata Zafir. Sebuah peta holografik muncul, menunjukkan lokasi Zafir berada. "Dia ada di ruang singgasana Proteus," ujar Violet.

"Ini kesempatan kita," kata Thalor. "Kita harus bergerak cepat."

Mereka berempat segera bergerak, mengikuti sinyal pelacak yang memandu mereka melalui lorong-lorong bawah tanah kerajaan Thelessia. Mereka menghadapi beberapa rintangan dan penjaga di sepanjang jalan, tetapi dengan keahlian dan kerjasama mereka, semua halangan berhasil diatasi.

***

Di sisi lain, Varian muncul dari kegelapan dan keluar di hadapan Proteus yang sedang marah menunggu liontin pusaka bangsawan Kael.

"Pimpinan, ini dia Zafir," kata Varian, menunjukkan Zafir yang terikat erat dalam bayangan yang kuat.

Proteus dan Jendral Kaelus yang sedang membawa bangsawan kembali ke ruangan penelitian terkejut melihat armor dan senjata yang dikenakan Zafir.

"Itu peralatan tempur Thalassar! Apa yang kau lakukan?!" bentak Proteus, marah.

"Sayang sekali, Thalassar telah dikalahkan oleh sahabatku," kata Zafir dengan penuh percaya diri. "Dan sebentar lagi, kau juga akan dikalahkan."

Mendengar itu, Proteus memandang ke arah Varian dengan tatapan tajam. Varian menjelaskan, "Tadi aku melihat seorang alien mengenakan pakaian lengkap dan tampaknya kuat, bersama dengan tiga pahlawan legendaris."

Proteus, kini panik, menyadari bahwa ancaman yang dia takuti selama ini sudah menyusup ke dalam kerajaannya. "Ternyata Zafir telah membangkitkan tiga pahlawan legendaris dari Thelessia!"

Proteus segera merampas liontin dari leher Zafir dan menyerahkannya kepada Zarek. "Zarek, gunakan ini secepat mungkin sebelum mereka datang."

Zarek, dengan kecepatan tangannya, menganalisis liontin dan akhirnya menyelesaikan prosesnya. Namun, dia memperingatkan Proteus, "Tuan, katalis sudah sesuai dan telah terpasang di Nyxian Core, tetapi ini masih tahap uji coba. Energi ini bisa melahapmu jika tidak dikendalikan dengan benar."

Proteus, mengabaikan peringatan itu, segera mengenakan armor canggihnya dan menanam energi Nyxian Core di dada armor. Energi gelap berkilauan di sekitar armor, dan Proteus merasakan kekuatan luar biasa mengalir ke dalam dirinya.

Sementara itu, Zafir melihat ke sekeliling dan melihat Kael, ayahnya, dalam keadaan babak belur dan tak berdaya. Melihat penderitaan ayahnya membuat Zafir semakin marah. "Ayah!!" teriak Zafir dengan penuh kemarahan.

Proteus tertawa sinis. "Sekarang, dengan kekuatan ini, aku akan menghancurkan segalanya. Tidak ada yang bisa menghentikanku!"

Zarek mengamati dengan cemas saat Proteus menyatu dengan energi Nyxian Core. Sementara itu, Violet, Thalor, Mirael, dan Kaelar semakin dekat dengan lokasi mereka, siap untuk menghadapi Proteus dan menyelamatkan Zafir serta mengatasi ancaman besar yang akan datang.

Zafir, dengan tombak berenergi nuklir pemberian Violet, meluncurkan serangan kuat ke arah Proteus, melepaskan diri dari ikatan bayangan. Tombak itu menyala dengan cahaya yang memancar, dan Zafir menyerang dengan penuh kekuatan, menembus lorong ruangan penelitian.

Dengan sigap, Kaelus dan Varian segera bergerak ke depan Proteus. Kaelus menciptakan perisai api yang berkobar, sementara Varian menggunakan kemampuan bayangannya untuk membentuk perisai bayangan. Kedua perisai ini bertabrakan dengan serangan Zafir, menciptakan ledakan cahaya dan gelombang energi yang mengguncang seluruh ruangan.

Zafir berusaha menembus pertahanan mereka dengan tombaknya yang memancarkan energi nuklir. Serangannya yang intens memaksa Kaelus dan Varian untuk bekerja sama lebih keras, Kaelus memusatkan energi api pada perisai untuk menahan dorongan dari tombak Zafir, sementara Varian terus memperkuat perisai bayangan untuk menyerap dampak dari serangan tersebut.

Proteus, di balik perisai pelindung, merasa kekuatan energi Nyxian Core semakin mengalir, menambah kekuatan armornya. Namun, dia tetap memantau pertempuran dengan mata tajam, siap untuk bertindak jika Zafir berhasil menembus pertahanan.

Proteus, dengan senyum penuh percaya diri, memandang Zafir yang terus-menerus menerjang perisai dengan tombaknya. Ledakan energi bergema di seluruh ruangan, namun Proteus tetap tenang dan memerintahkan Kaelus dan Varian untuk hanya mengamati.

“Ayo serang aku sekuat tenaga,” tantang Proteus dengan nada menantang.

Zafir, dipenuhi kemarahan dan frustrasi, melesat ke arah Proteus dengan tombaknya. Namun, Proteus dengan mudah menahan serangan itu hanya dengan tangannya dan menghancurkan tombak Zafir dengan satu gerakan.

“Lihatlah dirimu, begitu lemah di hadapanku,” kata Proteus dengan sinis, mencengkeram leher Zafir dan mengeluarkan aura energinya yang kuat, membuat armor Zafir perlahan-lahan terlepas.

Zafir yang kehabisan tenaga merasa kekuatan Proteus menekannya, dan dalam keadaan lemas, Proteus melemparkan Zafir hingga menabrak tiang di sudut ruangan. “Ayah!!” teriak Zafir dengan lirih, tubuhnya tak berdaya.

“Waktunya pesta!” teriak Proteus dengan penuh semangat, memanggil naga raksasa yang sebelumnya adalah raja dan ratu sekaligus Kaka dan Kaka iparnya.

Kedua naga raksasa itu muncul, mengeluarkan teriakan mengerikan yang menggema di seluruh ruangan. Proteus memerintahkan naga-naga itu untuk melahap para bangsawan satu per satu. Zafir hanya bisa menangis dan meratapi nasib ayahnya serta bangsawan lainnya yang sedang dimangsa oleh naga-naga tersebut.

Kaelus, Varian, Vernata, dan Rakan berdiri mematung, menyaksikan kengerian yang terjadi di depan mereka. Mereka merasa terjebak antara tugas mereka dan keputusasaan melihat kehancuran yang ditimbulkan oleh Proteus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!