Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Umpan dan Gerbang Dimensi
Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi bengkel, menyinari debu yang beterbangan di udara. Aruna duduk di sofa, menggenggam kalung kristal di lehernya yang masih mengeluarkan cahaya tipis di bagian dalamnya. Di depannya, Rian sedang sibuk menyiapkan beberapa perangkat elektronik yang ia masukkan ke dalam tas punggung hitam yang penuh dengan kantong tambahan.
"Baron menginginkan kristal ini lebih dari apa pun," ucap Aruna pelan. Suaranya yang tenang membuat Rian menghentikan kesibukannya sebentar. "Dia tidak akan berhenti sampai dia berhasil mengambil paksa kalung ini dari leherku."
Rian berhenti sejenak, lalu menatap Aruna. "Dan itu adalah kelemahannya. Keserakahannya akan kita gunakan untuk menjebaknya."
Ia menghampiri Aruna dan menunjukkan sebuah kotak hitam kecil yang penuh dengan tempelan kabel. "Baron punya teknologi pemindai suhu tubuh dan pelacak frekuensi kristal. Begitu kita keluar dari bengkel ini, dia akan langsung tahu posisi kita. Rencanaku adalah membiarkan dia menemukanmu di lokasi yang sudah kita tentukan."
Aruna terdiam sebentar, menatap Rian dengan sorot mata yang penuh keraguan. "Maksudmu, kita sengaja menyerahkan diri?"
"Bukan menyerahkan diri, tapi memancingnya masuk ke titik mati," koreksi Rian. Ia bicara seolah sudah memperhitungkan setiap langkahnya. "Aku akan memasang pengacau sinyal di sekitar lokasi jebakan. Begitu Baron dan pasukannya mengepungmu karena mengira kamu sudah terdesak, di situlah kamu membuka gerbang Hutan Sanubari."
Aruna mengangguk, mulai memahami arah pemikiran Rian. "Hutan itu ada di dalam kristal ini, Rian. Bukan tempat yang bisa kita datangi dengan motor. Jika aku memicu energinya saat Baron berada dalam radius dekat, dimensi itu akan terbuka dan menarik apa pun di depannya masuk ke dalam ruang Sanubari."
"Tepat," jawab Rian. "Di luar sini, dia punya pasukan dan senjata. Tapi begitu dia masuk ke dalam dimensi kristalmu, dia hanya akan menjadi orang asing di tempat yang kamu kuasai. Teknologinya akan mati total di sana. Dan aku akan bersamamu untuk memastikan dia nggak bisa melukaimu saat kamu sedang memproses pemindahan dimensi itu."
Aruna menatap kristal peraknya. Menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan adalah rencana yang sangat berisiko, namun itu satu-satunya cara untuk menyeret Baron ke wilayah di mana pria itu tidak akan punya kekuatan apa pun.
"Baron akan datang dengan kekuatan penuh untuk mengambil kalung ini," gumam Aruna dengan nada mantap. "Dia pikir dia sedang berburu mangsa, padahal dia sedang berjalan menuju pintu penjara yang tidak akan pernah bisa dia buka kembali."
Rian meraih kunci motornya dan memakai jaket kulitnya. "Berangkat sekarang. Sebelum dia sempat membawa bantuan lebih banyak lagi."
***
Suara motor Rian bergema di dalam bengkel, menggetarkan lantai beton di bawah mereka sebelum pintu besi bergeser terbuka. Aruna merapatkan jaketnya, duduk di belakang Rian sambil memegang erat bahu pria itu. Badannya ikut bergetar mengikuti suara mesin yang kasar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
"Pegang yang kuat," ujar Rian di balik helm hitamnya. "Kita akan menempuh jalur yang tidak menyenangkan."
Begitu mereka keluar dari bengkel, angin dingin langsung menusuk pori-pori. Rian tidak mengambil jalan utama yang mulus. Ia justru mengarahkan motornya ke gang-gang sempit di pinggiran kota, melewati tumpukan kontainer tua dan jalanan berlubang yang jarang dilewati kendaraan.
Aruna bisa merasakan kristal di balik pakaiannya mulai bergetar kencang, seolah tahu bahwa keberadaan mereka sudah terdeteksi. "Rian, dia sudah dekat," bisik Aruna di dekat telinga Rian. "Aku bisa merasakannya. Frekuensi kristalnya... dia sedang memindai kita."
Rian melirik spion. Jauh di belakang mereka, sebuah SUV hitam muncul dari balik tikungan gudang tua, diikuti oleh dua motor trail yang bergerak lincah. Baron tidak membuang waktu. Dia sudah masuk ke dalam perangkap.
"Bagus. Biarkan dia mengira kita sedang mencoba melarikan diri ke area industri," jawab Rian. Ia memutar gas lebih dalam, membuat motor mereka melesat cepat menuju sebuah kompleks pabrik baja yang sudah lama terbengkalai.
Di depan mereka, sebuah area terbuka yang dikelilingi tembok tinggi dan sisa-sisa alat berat menjadi tujuan utama. Rian melakukan pengereman mendadak, membuat ban motornya berdecit keras di atas semen berdebu. Ia segera turun dan membantu Aruna berdiri di tengah area tersebut.
"Sekarang!" perintah Rian.
Dengan gerakan cepat, Rian melemparkan tiga kotak pengacau sinyal ke sudut-sudut area tersebut. Suara berdenging halus terdengar saat alat itu aktif. Di saat yang sama, SUV hitam Baron berhenti tepat di gerbang masuk, menutup satu-satunya jalan keluar.
Baron turun dari mobil dengan tenang, tangan kanannya menggenggam tongkat perak yang berkilau di bawah cahaya matahari. Wajahnya menunjukkan senyum kemenangan yang dingin saat ia menatap Aruna yang berdiri kaku, seolah-olah mangsanya sudah benar-benar terpojok.
"Menyerahlah, Aruna," suara Baron terdengar berat dan sangat tenang, seolah ia sedang mendiktekan sebuah perintah yang tidak bisa dibantah. "Serahkan kristal itu, dan mungkin aku akan membiarkan mekanik kecilmu ini hidup."
Aruna tidak menjawab. Ia menggenggam kristal di lehernya, matanya bertemu dengan tatapan Rian yang sudah bersiap di sampingnya. Rian memberikan anggukan kecil. Sebuah sinyal bahwa semua alat pengacau sudah aktif.
"Kamu ingin kristal ini, Baron?" Aruna mengangkat suaranya, membiarkan cahaya perak mulai memancar terang dari sela-sela jarinya. "Masuklah dan ambil sendiri."
Baron melangkah maju, masuk ke dalam area yang sudah dikunci oleh alat-alat Rian. Begitu ia sampai di titik tengah, Aruna memejamkan mata dan menarik napas dalam.
"Sanubari... buka!"
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar hebat. Sebuah lubang cahaya putih yang menyilaukan muncul di depan Aruna, memutarbalikkan pemandangan di hadapannya dan mulai membawa masuk semua yang ada di sana.
***
Sekeliling mereka mendadak kalang-kabut. Pasir yang beterbangan kencang ke arah lubang cahaya yang kini membesar. Baron terseret paksa; sepatu botnya bergeser kasar di atas semen, meninggalkan bekas seretan saat tubuh besarnya ditarik ke depan. Ia segera menjatuhkan ujung tongkatnya ke celah lantai, memegang erat-erat sebagai tumpuan agar tidak ikut tertelan.
"Dimensi saku Adiwangsa..." Baron menggumam. Suaranya hampir hilang di balik berisiknya pabrik, tapi wajahnya tetap tenang, seolah semua kekacauan ini sudah dia duga. "Kalian pikir aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan, Aruna?"
Ia menekan sebuah tombol di badan tongkatnya. Kilatan merah memasuki tepat ke tengah lubang cahaya, mengunci aliran energinya hingga daya hisap dimensi itu mendadak lumpuh.
ZAP!
Cahaya putih dari kristal Aruna mendadak kacau. Aruna menjerit pelan dan jatuh ke depan, tangannya memegang lantai semen sementara paru-parunya terasa kosong dan perih. Lubang dimensi di hadapannya menutup dengan cepat, seolah udara di sekelilingnya tersedot masuk ke satu titik hingga benar-benar hilang.
"Aruna!" Rian bergerak cepat, menarik Aruna ke belakang punggungnya tepat saat lubang cahaya itu mulai mengecil secara tidak wajar.
"Kamu punya kunci gerbangnya, Gadis Kecil," ucap Baron sambil melangkah maju dengan susah payah melawan daya tarik dimensi yang kini melemah akibat alat pengacaunya. "Tapi aku punya teknologi untuk membekukan kuncinya. Jika kamu ingin menyeretku masuk, maka kamu harus ikut terseret bersamaku!"
Baron melompat ke depan dan menyambar lengan Rian. Rian mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan rasa nyeri yang menjalar sampai ke bahu. Ia mencoba menarik tangannya, tapi tenaga Baron jauh lebih besar.
"Rian!" Aruna berteriak.
Daya tarik Hutan Sanubari yang tidak stabil itu mendadak meledak. Bukannya menarik Baron masuk secara rapi, dimensi itu justru pecah dan menciptakan tarikan udara yang sangat kuat. Siapa pun dalam radius lima meter langsung terseret ke tengah-tengah lubang yang sedang hancur itu.
Dalam sekejap mata, pemandangan pabrik baja yang berkarat itu lenyap. Suara mesin motor mendadak hilang, membuat telinga Aruna terasa aneh seolah ia baru saja menyelam ke dalam air. Ia merasakan tubuhnya jatuh dan punggungnya membentur tanah yang terasa empuk seperti lumut.
Suasana mendadak menjadi sangat lembap dan beraroma tanah basah yang segar. Begitu jauh dari aroma oli bengkel. Aruna membuka matanya dengan susah payah. Di atasnya bukan lagi langit abu-abu kota yang penuh polusi, melainkan kanopi pohon-pohon raksasa dengan daun-daun berwarna perak yang berpendar redup.
"Kita... di dalam?" bisik Aruna lemah.
Ia menoleh ke samping dan melihat Rian terbaring tak jauh darinya, terbatuk-batuk sambil memegang kepalanya. Namun, jantung Aruna seolah berhenti saat ia melihat sosok lain yang berdiri beberapa meter di depan mereka.
Baron berada di sana. Berdiri tegak di tengah padang lumut Hutan Sanubari. Meskipun jas hitamnya sedikit robek dan tongkat peraknya patah menjadi dua, tatapan matanya tetap setajam silet. Ia membuang sisa tongkatnya dan mulai membuka kancing lengan kemejanya, seolah baru saja tiba untuk sebuah acara formal, bukan terjebak di dunia asing.
"Tempat yang indah," ucap Baron dingin, matanya berkeliling menatap keajaiban Sanubari tanpa rasa takut sedikit pun. "Terima kasih sudah membawaku langsung ke jantung kekuasaanmu, Aruna. Sekarang, permainan yang sebenarnya dimulai."