NovelToon NovelToon
Lingsir Wengi

Lingsir Wengi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Supernatural / Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Laila Al Hasany

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....

Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.

Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Aku duduk di ranjang lalu meraih handphone-ku, tetapi mataku tertuju pada kotak kecil yang tergeletak di sebelah handphone. Hadiah yang diberi Mas Lingga lewat Murni. Kubuka kotak itu, seperti biasa, entah kenapa, aku selalu merasa aneh setiap melihat liontin dari gelang itu. Ular bermata merah, dan mata itu seperti hidup. Bulu kudukku berdiri. Aku memasukkan gelang itu lagi ke dalam kotak.

Kulihat layar handphone-ku penuh dengan pesan, dan beberapa panggilan tak terjawab. Reno? Hih laki-laki itu, kenapa seperti tidak bisa melepaskanku!

Sebenarnya Reno itu laki-laki yang rupawan dan baik, dari keluarga baik-baik. Bahkan orang tuanya, adalah pasangan pengusaha sukses yang kekayaannya melimpah ruah. Aku hanya tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan dan manjanya. Tipikal anak yang dibesarkan dengan kasih sayang berlebihan. Dan gayanya yang sok romantis saat mengejarku! Bukannya terlihat manis, malah lebih sering menjengkelkan. Tapi Thalia bilang, aku seharusnya tidak bersikap keterlaluan dengan cara tidak pernah menggubrisnya, karena itu sama saja menyakitinya. Di kampus bahkan banyak gadis yang mengejarnya. Ya mau bagaimana lagi? Bukankah rasa suka atau rasa cinta itu tidak bisa dipaksakan?

Aku menghela napas. Berbeda dengan Mas Lingga, dia laki-laki yang mandiri, penuh tanggungjawab, dan selalu berkharisma. Duh! Sebenarnya aku tidak mau membandingkan mereka, hanya saja mereka berdua benar-benar berbeda karakter, walaupun sama-sama berwajah rupawan. Akan tetapi, saat teringat wajah Murni yang melihatku dengan tatapan tidak suka, aku merasa bersalah. Aku merasa seperti pihak ketiga yang hadir di tengah-tengah di antara Mas Lingga dan Murni.

Aku merasa mengantuk, sebaiknya aku tidur sebentar sebelum waktu Dzuhur. Aku menaruh handphone-ku di meja, dan merebahkan kembali tubuhku di ranjang. Dan mulai memejamkan mata.

*******

Aku berjalan di tengah sawah, tiba-tiba aku melihat sebuah gubuk kecil. Di sana aku melihat beberapa sosok tergeletak. Aku berjalan cepat untuk mendekat. Aku hampir terpekik, di sana ku lihat simbok tergeletak bersimbah darah. Lututku lemas, tubuhku gemetar, kakiku seperti sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhku, aku terjerembab dan menubruk tubuh simbok. Aku menangis sekeras-kerasnya.

"Simbok, kenapa Simbok jadi begini? Aku harus gimana Mbok?" Aku mulai mengguncangkan tubuh simbok, tapi tidak ada respon sedikit pun.

Aku berusaha mencari bantuan, tapi sungguh aneh, kenapa tidak ada seorang pun di sawah yang seluas ini? Seharusnya banyak petani di sini. Ke mana perginya mereka semua? Aku merasakan ada seseorang mendekat. Sosok itu! Laki-laki itu tertawa lebar, dan berkata.

"Aku bisa melakukan apapun yang kumau, untuk membuatmu menyerahkan dirimu padaku, dengan sukarela. Hahahaha!"

Aku tersulut emosi dan mulai berteriak,

"Dursatya jahanam! Apa yang kamu lakukan pada simbok? Hadapi aku, kalo kamu berani!!"

"Hahahaha, gadis kecil macam kamu, untuk apa aku takut?"

Dursatya melambaikan tangannya dan muncul beberapa bola api yang melesat cepat ke arahku. Aku berusaha menghindar, tapi bola api itu malah menghantam tubuh simbok.

"Mboookkkkk! Simbookkkk!! Tidak!!!"

Aku terduduk lemas dan menangis, tanganku menggapai-gapai. Terdengar suara tawa Dursatya membahana. Tapi aku mendengar suara lembut memanggilku.

"Nduk, Genduk!"

Aku membuka mata. Lagi-lagi aku hanya bermimpi!

******

Wajah simbok terlihat begitu khawatir, tapi aku malah menubruk simbok yang duduk di pinggir ranjang sementara aku masih sesenggukan.

"Sudah dzuhuran belum, Nduk? Mimpi apa Nduk tadi? sampai teriak-teriak dan menangis seperti itu?"

Aku mulai mengecek simbok.

"Simbok gak apa-apa, kan? Gak ada yang terluka kan, Mbok? Aku ... aku gak tau harus bagaimana kalo terjadi apa-apa sama Simbok."

Simbok memelukku lagi,

"Simbok baik-baik saja Nduk. Ini, masih seperti ini."

Aku menangis bahagia, lega rasanya mengetahui bahwa kejadian tadi benar-benar hanya mimpi.

Simbok masih dipinggir ranjangku dan duduk berhadapan denganku. Kemudian, simbok menggenggam kedua tanganku.

"Coba Genduk cerita sama simbok, tadi mimpi apa, sampai-sampai seperti itu?"

"Aku ... aku bermimpi, Dursatya menyerang Simbok. Simbok tergeletak bersimbah darah di dalam mimpiku. Bagaimana aku bisa tenang, Mbok?"

Simbok tersenyum lembut dan mengelus kepalaku.

"Simbok akan baik-baik saja nduk, ndak usah terlalu khawatir. Itu kan hanya mimpi nduk. Kata orang, bunganya tidur."

"iya mbok, pokoknya simbol harus baik-baik aja!"

Simbok mengangguk.

"Sudah sana Nduk, dzuhuran dulu. Simbok nyiapke makan siang dulu ya Nduk, biar nanti kalo Genduk lapar, tinggal makan, ya?"

"Iya Mbok."

Simbok berdiri dan berjalan keluar dari kamar.

Aku berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Simbok kulihat masih merapikan dapur. Setelah selesai berwudhu, aku pun menunaikan kewajibanku. Setelah selesai dan melipat mukena. Aku merebahkan badanku lagi di ranjang, kemudian meraih handphone-ku lagi. Terlihat pesan masuk dari Mas Lingga.

"Dek, gimana kabarnya hari ini? Aku bersepeda keliling desa pagi ini, tapi kenapa aku gak lihat kamu dek? Aku lewat rumah, juga sepi."

Aku membalas pesan Mas Lingga :

" Sehat mas, mas gimana? Oh , tadi aku jalan-jalan sebentar kok mas, terus pulang. Kalo pagi kan rumah emang sepi."

Sekilas, aku teringat kejadian di dekat pohon tadi pagi. Ah, masih merinding rasanya. Kulihat Mas Lingga membalas pesanku lagi.

"Aku sehat kok dek, tapi aku ngerasa gak enak. Kayak ada yang kurang, gitu dek."

"Kurang gimana maksudnya mas?"

"Rasanya ada yang kurang kalo belum liat kamu dek."

Seketika, jantungku berdegup kencang. Aku seperti tidak percaya dengan kalimat yang baru saja kubaca. Aku baca lagi dan lagi. Ya, bukan salah baca, tapi memang seperti itu lah.

"Jangan bercanda ah mas... Oh ya, ngomong-ngomong, makasih udah kasih oleh-oleh nya Mas."

Saat aku teringat Murni memiliki hadiah yang sama, aku merasa kesal, dan seperti tidak rela. Tetapi juga bukan hakku untuk melarang Mas Lingga memberi hadiah pada siapa pun kan?

Aku dikejutkan dering handphone, kulihat tertera dalam layar, Reno. Agak sungkan aku menjawab panggilan teleponnya.

"Assalamualaikum, halo?"

"Wa'alaikumsalam. Akhirnya kamu jawab telponku."

"He em, ada apa Reno?"

"Cuma pengen telpon aja. Kemarin aku ke rumahmu bareng Thalia, tapi kamu gak ada di rumah."

"Oh... aku lagi di rumah nenekku. Kenapa?"

"Aku pengen ketemu kamu aja, kangen kamu Dyah."

Entah kenapa, aku masih tidak bereaksi dengan kata-kata Reno, padahal jelas-jelas dia mengungkapkan perasaannya padaku.

"Halo, Dyah. Kok diem aja? Apa kamu kangen aku juga?"

Mendadak aku menjadi sebal.

"Gak apa-apa kok, oh iya, udah dulu ya ... aku mau beres-beres nih."

Aku mencari-cari alasan untuk mengakhiri panggilan telepon.

"Oh, ok. Yang penting aku udah denger suaramu ..."

"Ok, bye. Assalamualaikum."

Aku langsung menutup telepon, tanpa mendengar Reno menjawab salam. Memang terkesan tidak sopan, tapi aku berharap bahwa aku menjawab telpon Reno, hanya karena sungkan dan aku tidak mau memberikan harapan palsu untuknya.

Setelah menutup telepon, aku melihat di layar, sebuah balasan dari Mas Lingga.

"Aku serius dek. Hadiah yang mana?"

"Itu, yang dititipin ke Murni."

"Oh itu ...."

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarku. Kepala simbok melongok dari balik pintu yang dibukanya.

"Makan siang dulu, Nduk. Yuk!"

"Iya Mbok."

Simbok sudah menghilang dari balik pintu. Ah iya, perutku sudah mulai lapar. Aku bangkit dari ranjang dan menuju meja makan. Simbok sudah duduk di sana menungguku.

Bersambung ....

1
Nur Bahagia
Ripin 🤣
Nur Bahagia
jangan2 Sada jadi jin pendamping nya Garvi 🤩
Nur Bahagia
kubah gaib warna perak🤔
Nur Bahagia
siapa nih? 🤔
Nur Bahagia
kannn bener murni sama Rian.. 🤩
Nur Bahagia
ai mbok ga diajak kah? 🤔🥺
Nur Bahagia
sama Rian aja.. yg ketua karang taruna itu 🤗
Nur Bahagia
bisaa aja thaliaa 🤣
Nur Bahagia
Alhamdulillah pak samijan yg terpilih jadi kades nya 🤩
Nur Bahagia
wahh Pin.. Aripiinn... awakmu di senengi wong kutho ki lhoo.. wehhh bejomu lee 😅
Nur Bahagia
🥰
Nur Bahagia
🤩
Nur Bahagia
😍
Nur Bahagia
Alhamdulillah si mbok baik2 aja.. diantara semua tokoh yg ada di novel ini, cuma si mbok idolaku 🔥🥰
Nur Bahagia
ehhh begini doang
Nur Bahagia
malah ngomongin mau nikah.. iki piyee thoo.. mikir selamat aja duluu.. si mbok gimana ini si mbookkk 😭
Nur Bahagia
heettt malah ngobrol.. buruan tuh tolongin mbok Minten 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ini lagi si kenanga.. suruh jagain 24 jam, malah ngendon aja di dalam kotak.. duhh 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ya elaaahhh Thor aku kecewaaa.. kenapa harus mbok Minten 😭
Nur Bahagia
yesss akhirnya terbongkar semua kebusukan mu Senen 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!