NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Pindah

Beberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.

Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.

“Gue pamit ya gie, makasih,”

Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”

"Aku pindah yaa kak Dewi," kata Ririn kali ini menatap Kak Dewi.

Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”

Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”

Dewi mengangkat alis, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.

“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”

Ririn langsung bereaksi dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.

“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”

Anggie terkekeh kecil.

“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi, gajinya juga lumayan banget.”

Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum, senyum yang bikin Ririn nggak nyaman.

“Kenapa sih kalian senyum-senyum?” tanya Ririn curiga.

“Enggak,” jawab Anggie santai. “Cuma seneng aja liat lu dapet kerjaan yang seru,”

Dewi mengangguk. “Iya selama kamu nyaman.”

Belum sempat Ririn menanggapi, ponselnya bergetar nama Baskara muncul di layar.

Ririn mengangkatnya. “Iya, Pak?”

“Saya sudah sampai,” suara Baskara terdengar singkat.

“Oh, baik, Pak.”

Ririn mematikan telepon.

“Bos, udah sampai,” kata Ririn dengan nada berbisik.

Anggie membelalak. “Hah? Dia jemput juga?”

Belum sempat Ririn menjawab Ding dong.

Bel apartemen berbunyi mereka bertiga saling menatap.

Anggie berbisik, “Itu dia, cepet amat.”

Dewi tersenyum tipis. “Kayaknya bukan cuma jemput.”

Ririn menelan ludah, lalu melangkah ke pintu dan di balik pintu itu, seseorang sudah berdiri bukan hanya sebagai bos, tapi sebagai bagian dari rutinitas baru yang entah akan membawa Ririn ke mana.

--‐‐--------------------------------‐----

Baskara berdiri di depan pintu apartemen baru, lalu membuka kuncinya.

“Masuk.”

Ririn melangkah pelan begitu pintu terbuka, matanya langsung membesar.

Apartemen itu luas bersih. Interiornya modern, pencahayaan hangat, jendela besar menghadap kota. Jauh sangat jauh dari kata sederhana.

“Pak… ini terlalu mewah buat saya.”

Baskara tersenyum tipis. “Jangan seneng dulu tugas kamu juga makin banyak dan berat kok.”

Ririn tersenyum, tampak dipaksakan mendengar ucapan Baskara.

“Bisa aja hari sabtu minggu saya minta kamu kerja.”

Ririn agak melongo matanya berkedip beberapa kali.

"Eugh..."

“Nggak ada yang gratis Ririn,” lanjut Baskara santai. “Saya suka sama kerja kamu.”

Ririn nyengir lagi, ada rasa ngeri yang merayap di dadanya. Dia sudah bisa menebak bos brengsek ini benar-benar ingin menguras tenaganya secara maksimal.

Dan mulai hari itu, Ririn mulai pindah ke apartemen tersebut.

Kopernya dipindahkan satu per satu. Pakaian digantung rapi di lemari yang terlalu besar untuk isinya. Dapur yang lengkap itu lebih sering dia pandangi daripada dia gunakan. Setiap sudut apartemen terasa asing, bersih, dan dingin.

Apartemen itu memang nyaman terlalu nyaman untuk sekadar disebut fasilitas kerja.

Ririn berdiri di dekat jendela, menatap gedung di seberang apartemen Baskara. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah kaki.

Di dalam hatinya, Ririn menarik napas panjang mulai sekarang, hidup gue benar-benar di bawah radius bos gila itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak bekerja kembali dengannya, Ririn menyadari bukan hanya pekerjaannya yang makin dekat, tapi juga dirinya.

Di ruangan yang berbeda, di sebrang apartemen itu, Baskara tersenyum sendiri.

“Akhirnya,” gumamnya pelan. “gue bisa ngerjain dia tiap hari.”

Baskara bersandar di kursinya, menatap kosong ke arah jendela Apartemennya, Senyum itu bukan senyum bahagia lebih seperti kepuasan yang aneh, sulit dijelaskan.

Entah kenapa, mengganggu Ririn memberinya rasa bahagia yang sulit dia jelaskan.

Setiap kali dia melihat Ririn sibuk membereskan barang-barangnya, mondar-mandir membawa keperluannya, mencatat jadwalnya, menyiapkan makan untuknya ada sesuatu di dadanya yang terasa tenang.

Hal-hal yang dulu biasa dia lakukan berkencan dengan gadis-gadis cantik, perhatian dangkal, tawa kosong semuanya terasa hambar sekarang, tak lagi menarik, tak lagi memberi apa-apa.

Yang justru menarik perhatiannya adalah hal-hal sederhana itu.

Ririn yang diam-diam membereskan,Ririn yang patuh tapi menyimpan lelah,Ririn yang selalu ada, tanpa drama.

Baskara menutup matanya sejenak mungkin gue sakit, pikirnya samar tapi kenapa rasanya nyaman?

Dia tahu ini bukan sekadar soal pekerjaan bukan juga sekadar balas dendam ada sesuatu yang berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!