Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
"Ya ampun! Ganteng banget! Itu dokter model majalah mana?"
"Sumpah, kalau dokternya kayak gitu, gue rela sakit tifus tiap bulan!"
"Mbak, tolong cubit gue! Dia senyum ke arah sini! Astaga, rahim gue anget!"
Kegaduhan di luar ruangan kaca kedap suara itu akhirnya menembus konsentrasi Alea. Dia sedang memeriksa grafik saham LQ45 yang sedang merah membara, tapi suara cekikikan karyawan perempuannya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu.
"Zahra!" teriak Alea tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Bubarin pasar kaget di luar! Saya gaji mereka buat kerja, bukan buat fangirling!"
Pintu ruangan CEO terbuka. Tapi bukan Zahra yang masuk.
Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Aroma citrus dan antiseptik yang kini sangat familiar menyapa hidung Alea sebelum dia sempat menoleh.
"Maaf mengganggu waktu mencari uangnya, Nona CEO. Waktunya layanan purna jual."
Alea memutar kursi kebesarannya dengan cepat.
Di sana, Rigel Kalandra berdiri dengan santai. Dia mengenakan kemeja biru muda yang rapi, dibalut jas dokter putih kebanggaannya yang kancingnya sengaja dibuka. Lengan jas itu digulung sedikit, memperlihatkan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Stetoskop menggantung santai di lehernya.
Penampilannya benar-benar definisi "Dokter Sultan". Aura dingin tapi mempesona menguar kuat, membuat Alea mengerti kenapa karyawan perempuannya di luar sana mendadak histeris.
"Ngapain lo ke sini?!" semprot Alea, refleks berdiri. "Ini kantor Triple A Capital. Yang berhubungan dengan orang sakit dilarang masuk, nanti nularin virus miskin ke profit gue!"
Rigel tidak menjawab. Dia malah melambaikan tangan singkat ke arah kaca pembatas, di mana puluhan karyawan wanita Alea sedang menempelkan wajah mereka di kaca sambil melongo. Rigel tersenyum tipis—jenis senyum profesional yang mematikan.
"Kyaaa! Dia dadah ke gue!" teriak suara samar dari luar.
Alea langsung menekan tombol tirai otomatis. Whuuush. Tirai menutup, memblokir pemandangan "fan service" gratisan itu.
"Jangan tebar pesona di kantor gue, Dokter Kulkas!" desis Alea. "Lo mau bikin kinerja karyawan gue anjlok karena halu?"
Rigel berjalan mendekat, meletakkan tas medis kulitnya di atas meja tamu sofa.
"Saya ke sini menepati janji. Kamu lupa? Syarat pulang paksa kemarin adalah check up rutin. Karena kamu sibuk cari duit sampai lupa kontrol, dokternya yang harus jemput bola," jawab Rigel tenang. Dia menepuk sofa empuk di sebelahnya. "Sini. Duduk. Gulung lengan baju kiri kamu."
"Gue sibuk, Rigel. IHSG lagi koreksi wajar. Gue harus pantau..."
"Satu," Rigel mulai menghitung. "Dua."
"Argh! Iya, iya! Bawel banget jadi cowok!" Alea menghentakkan kakinya, berjalan menuju sofa dengan wajah cemberut. Dia menghempaskan tubuhnya duduk di samping Rigel, lalu menyodorkan lengannya dengan kasar. "Nih! Periksa aja sepuas lo! Buruan!"
Rigel tersenyum miring melihat tingkah Alea yang seperti anak kecil tantrum. Dengan gerakan cekatan dan profesional, dia melilitkan manset tensimeter digital ke lengan atas Alea.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Saat Rigel menunduk untuk membetulkan letak stetoskop di lipatan siku Alea, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alea. Alea bisa melihat bulu mata lentik dokter itu. Dia bisa melihat pori-pori wajahnya yang mulus tanpa skincare ribet.
"Rileks," perintah Rigel pelan, suaranya berat dan rendah. "Jangan tegang. Tangan kamu kaku banget kayak kanebo kering."
"Gimana mau rileks kalau lo meriksanya deket banget begini?" protes Alea, tapi suaranya melemah. Jantungnya mulai berkhianat, berdetak dua kali lebih cepat dari normal.
"Saya cuma melakukan prosedur standar. Pikiran kamu saja yang traveling," goda Rigel tanpa menatap Alea, fokus pada angka di layar tensimeter.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk, dan Zahra masuk membawa nampan berisi dua gelas minuman. Wajah Zahra merah padam, matanya mencuri pandang ke arah Rigel terus-menerus.
"Misi, Bu... Dok... ini minumannya. Silakan, Dokter Rigel yang ganteng... eh, maksud saya, Dokter Rigel yang terhormat," ucap Zahra salah tingkah, meletakkan gelas dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Mbak Zahra," balas Rigel ramah, memberikan senyum manis yang membuat Zahra nyaris pingsan di tempat.
Alea mendelik. Rasa panas yang bukan demam menjalar di dadanya.
"Zahra! Keluar! Laporan kamu masih banyak typo! Kerjain sekarang!" usir Alea galak.
Zahra kaget. "Ba-baik, Bu!" Dia langsung kabur terbirit-birit.
"Galak amat," komentar Rigel sambil melepas manset tensimeter. "Seratus sepuluh per tujuh puluh. Lumayan. Sudah makan siang?"
"Belum. Nggak sempet," jawab Alea ketus sambil menurunkan lengan bajunya. "Puas kan? Udah diperiksa, kan? Sekarang sana balik ke rumah sakit. Karyawan gue nggak bisa fokus kerja gara-gara ada pangeran kodok nyasar di sini."
Rigel membereskan alat-alatnya dengan santai. "Saya bukan pangeran kodok. Dan kamu cemburu ya karyawan kamu naksir saya?"
"Dih? Najis! Siapa yang cemburu? PD gila lo!" Alea membuang muka, meraih gelas kopi di meja yang tadi disembunyikan di balik vas bunga. Dia butuh kafein untuk menetralkan detak jantungnya.
Baru saja bibir gelas Starbucks itu menyentuh bibir Alea, sebuah tangan besar menahan gelas itu.
Rigel menatap Alea tajam. Aura santainya lenyap, berganti mode dokter killer.
"Itu apa?" tanya Rigel datar.
"Jamu," jawab Alea asal, mencoba menarik gelasnya.
"Jamu kok logonya putri duyung ijo? Sini," Rigel menarik paksa gelas kopi itu.
"JANGAN! Rigel! Itu extra shot! Gue butuh itu buat melek!" Alea panik, mencoba merebut kembali sumber kehidupannya. Dia berdiri, berusaha menggapai gelas yang diangkat tinggi-tinggi oleh Rigel.
Karena perbedaan tinggi badan, Alea harus berjinjit dan menempelkan tubuhnya ke dada Rigel.
"Balikin! Gue ngantuk, Rigel!" rengek Alea, tangannya menarik kerah jas dokter Rigel.
Rigel tidak bergeming. Dia menatap Alea yang kini berada dalam kungkungannya. Wajah wanita itu mendongak, bibirnya mengerucut kesal, matanya berapi-api. Sangat cantik. Dan sangat menantang.
Rigel meletakkan gelas kopi itu jauh di atas lemari arsip yang tidak mungkin dijangkau Alea tanpa tangga. Lalu dia kembali menatap Alea, melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping wanita itu agar tidak jatuh karena jinjit.
"Kopi itu asam. Lambung kamu baru sembuh dua hari. Kamu mau saya rawat inap lagi?" tanya Rigel lembut tapi tegas.
"Gue harus kerja! Kalau nggak ngopi, gue marah-marah!" bantah Alea keras kepala. "Tensi gue naik nih kalau nggak ada kopi!"
Rigel menatap bibir Alea yang terus mengomel. Tanpa peringatan, dia menempelkan jari telunjuknya di bibir Alea, membungkam protes wanita itu seketika.
Mata Alea membelalak kaget. Jari Rigel terasa hangat di bibirnya.
Rigel mendekatkan wajahnya, mengikis jarak hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Tatapannya turun ke bibir Alea, lalu kembali ke matanya dengan sorot menggoda yang berbahaya.
"Sssst... jangan berisik," bisik Rigel serak.
Alea terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
"Kata siapa butuh kopi?" lanjut Rigel, seringai nakal muncul di sudut bibirnya. "Tensi kamu naik kalau marah-marah, Alea. Mau saya kasih napas buatan biar turun?"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....