Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Ingin Bersama Kak Vara
Hari ini, Arga menepati janjinya. Untuk mengajak Luna keperusahan. Luna tampak bersemangat, meski tubuhnya masih sedikit lemah akibat demam yang baru saja reda.
“Luna, kamu sudah siap?” tanya Arga saat melihat keponakannya menuruni tangga.
“Sudah dong, Om,” jawab Luna ceria. Senyum di wajahnya mengembang lebar. Meski belum sepenuhnya pulih, semangatnya untuk ikut ke perusahaan tak bisa disembunyikan. Apalagi, ada seseorang yang membuatnya semakin tak sabar sampai ke sana.
“Ya sudah, cepat sarapan dulu,” ajak Arga.
Bi Rina segera menyiapkan sarapan untuk Luna. Saat ia menuangkan susu ke dalam gelas, Luna berkata sambil menyuapkan roti ke mulutnya, “Bi, seperti biasa ya. Bibi di rumah saja, nggak usah ikut.”
“Iya, Non. Bibi tidak ikut,” jawab Bi Rina sambil tersenyum. Ia sudah hafal betul, setiap kali Luna ikut ke perusahaan, gadis kecil itu selalu ingin sendiri.
Setelah sarapan selesai, Arga dan Luna segera berangkat menuju perusahaan.
Di dalam mobil, Arga sesekali melirik Luna yang duduk disebelahnya.“Kamu kenapa dari tadi Om perhatian, senyum-senyum sendiri begitu?” tanya Arga heran.
“Ada deh,” jawab Luna singkat, masih dengan senyum di wajahnya.
“Kamu ini ya, sudah mulai punya rahasia sama Om,” ucap Arga sambil tetap fokus menyetir.
Luna hanya nyengir, membuat Arga semakin penasaran, sekaligus gemas dengan keponakannya ini.
Tak sampai lima belas menit, mereka tiba di perusahaan. Luna turun dari mobil sambil menoleh ke kanan dan kiri, seolah mencari seseorang.
“Luna, ayo masuk,” panggil Arga.
“Iya, Om.” Luna segera menyusul dan menggenggam tangan Arga.
Seperti biasa, para karyawan yang berpapasan langsung memberi salam hormat.
“Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi, Nona Luna.”
Arga hanya membalas dengan anggukan singkat. Berbeda dengan Luna yang tersenyum manis kepada mereka.
Sesampainya di depan lift, Luna berdiri tanpa melepaskan tangannya dari tangan Arga. Tepat sebelum pintu tertutup, matanya berbinar.
“Kak Vara…” gumamnya pelan. “Om, tunggu! Jangan ditutup dulu!”
Arga refleks menahan pintu lift. “Kenapa, Luna?”
“Itu Kak Vara. Pasti dia juga mau naik ke atas. Tunggu Kak Vara ya, Om,” pinta Luna.
Arga menghela napas singkat. “Om kira kenapa. Ya sudah.”
“Kak Vara! Cepat, naik sama Luna!” ajak Luna antusias.
Vara yang berdiri tak jauh dari sana tampak ragu. Lift itu jelas khusus untuk jajaran penting perusahaan. Apalagi, di dalamnya berdiri pemilik perusahaan dengan aura dingin yang membuat siapa pun segan.
“Terima kasih, Luna. Kak Vara naik lift sebelah saja,” ucap Vara sopan, berharap Luna tidak memaksanya.
“Masuk,” ujar Arga singkat tanpa menoleh ke arah Vara. Suaranya datar, namun tegas.
“Iya, Kak. Ayo cepat,” bujuk Luna.
Vara akhirnya menyerah. “Nita, aku duluan ya,” ucapnya pada rekan kerjanya sebelum melangkah masuk ke dalam lift.
Nita hanya bisa terdiam, menatap tak percaya. Selama ia bekerja di sini, belum pernah ia melihat ada karyawan yang sedekat itu dengan Nona Luna.
Pintu lift tertutup. Suasana di dalamnya terasa canggung, terutama bagi Vara.
“Kak Vara turun di lantai berapa?” tanya Luna memecah keheningan.
“Lantai tujuh,” jawab Vara pelan. Napasnya terasa berat berada satu ruang dengan bosnya yang terkenal dingin.
“Ooo…” Luna menoleh ke arah Arga. “Om, Luna ikut Kak Vara ya.”
Arga langsung menoleh, namun belum sempat menjawab, Luna sudah lebih dulu melanjutkan, “Luna janji nggak bakal ganggu kerja Kak Vara. Luna cuma mau dekat Kak Vara saja. Boleh ya, Om?” rengeknya manja.
Arga melirik Vara yang berdiri kaku di samping Luna.
“Kak Vara nggak keberatan, kan?” tanya Luna penuh harap.
Vara terdiam, bingung harus menjawab apa. Sebelum ia sempat membuka suara, Arga lebih dulu berbicara.
“Boleh. Tapi Luna janji tidak mengganggu. Kalau sampai itu terjadi, Luna tidak boleh ikut Om ke perusahaan lagi.”
“Luna janji, Om!” jawab Luna cepat. Wajahnya langsung berseri-seri.
Arga mengamati keponakannya. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apa istimewanya gadis bernama Vara ini sampai Luna bisa sedekat dan seceria ini.
---
“Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?”
Arga bertanya pada Erick yang kini duduk di salah satu sofa diruang kerjanya. Wajah Arga tampak serius, sorot matanya dingin namun penuh harap.
“Sudah,” jawab Erick mantap. “Orang-orang kita menemukan seseorang yang kemungkinan besar tahu tentang kecelakaan kakakmu.”
“Di mana dia sekarang?” tanya Arga sigap.
“Sudah dibawa ke tempat biasa,” jawab Erick santai.
“Bagus. Nanti kita ke sana,” ucap Arga tegas.
Dalam hati, Arga berharap kali ini ia benar-benar akan menemukan titik terang. Kecelakaan itu terlalu banyak menyisakan kejanggalan, dan ia tak pernah percaya itu hanya musibah semata.
Di lantai tujuh, Zivara bekerja dengan Serius. Meski Luna berada di sisinya, fokus Vara tidak terganggu. Ia ingin membuktikan bahwa keberadaannya di perusahaan ini bukan karena kedekatannya dengan Luna, melainkan karena kemampuannya sendiri.
Sementara itu, Luna duduk di kursi kecil yang sengaja disediakan untuknya. Gadis kecil itu asyik menggambar dan mewarnai, sesekali bersenandung pelan. Di sela-sela kegiatannya, Luna menoleh ke arah Vara.
“Kak Vara, nanti istirahat kita makan siang di kantin ya,” ajaknya semangat.
“Iya, nanti kita ke sana. Tapi Luna izin dulu sama Om Arga,” jawab Vara lembut.
“Siap, Kak!” ucap Luna sambil mengangkat tangan ke pelipis, meniru gaya hormat.
Vara terkekeh kecil, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak terasa, waktu istirahat pun tiba.
“Ayo, Kak. Luna sudah lapar,” ujar Luna sambil berdiri dari kursinya.
“Iya, sebentar ya. Kak Vara menyusun berkas-berkas ini dulu,” jawab Vara.
Sebelum menuju kantin, Luna menarik tangan Vara menuju lantai dimana ruang kerja Om nya berada.
Begitu tiba, Luna segera membuka pintu. Luna langsung masuk dengan penuh semangat. Vara terpaksa ikut masuk karena tangannya masih digenggam erat oleh Luna.
“Om, Luna ikut Kak Vara makan siang di kantin ya,” ucap Luna.
“Kamu tidak mau makan siang dengan Om?” tanya Arga, menatap keponakannya.
“Luna mau makan siang sama Kak Vara,” jawab Luna sambil menampilkan wajah imut andalannya. “Boleh ya, Om?”
Arga menghela napas pelan. “Iya, boleh.”
Kemudian ia menoleh ke arah Vara. “Kamu, jaga keponakanku baik-baik.” seperti biasa wajah Arga terlihat datar.
“Iya, Tuan,” jawab Vara singkat. Vara merasa tidak enak karena Luna lebih memilih makan siang bersamanya.
Setelah mendapat izin, mereka segera keluar dari ruangan. Tepat di ambang pintu, Luna menoleh kembali.
“Om, Luna pergi dulu ya. Jangan lupa makan. Om Erick juga,” ucapnya ceria.
Arga hanya mengangguk, menatap kepergian mereka. Sudah lama ia tidak melihat Luna sebahagia itu.
Erick memperhatikan ekspresi Arga. “Aku perhatikan, Luna terlihat sangat bahagia saat bersama Vara,” ucapnya. “Apa kamu sepemikiran denganku?”
Arga mengangguk pelan. “Iya. Tapi aku tidak boleh lengah lagi.”
Ia menoleh tajam ke arah Erick. “Aku tidak bisa langsung percaya dan membiarkan Luna terlalu dekat dengan siapa pun. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”
“Tentu saja,” jawab Erick singkat, memahami maksud Arga tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.