Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian dua puluh delapan
"Maaf... maafkan aku, sayang. Bukan maksud ku ingin menjauhi kalian berdua. Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk Aksa. Kamu tau aku sangat menyayanginya." lirih Ryan di sela belaian di punggung Hana.
Hana terisak menangis. Ia tidak menyangka kalau perjalanan asmaranya akan selalu tersandung masalah.
"Please, Ry. Jangan seperti ini. Aku... aku merindukan mu!"
"Aku juga, sayang!" Ryan merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Hana. Di usapnya menggunakan kedua jempolnya air mata Hana yang membasahi pipinya. Perasaan bersalah menyeruak di dalam dadanya melihat betapa tersiksanya Hana akan keputusannya. Berulang kali di ciumnya kening Hana. Kemudian di peluknya lagi.
"Aku tau, aku egois. Maafkan aku. Kamu sudah makan? Apa kamu kurang tidur? Kenapa sampai ada kantung mata disini? hmmm!"
"Ya kamu egois." memukul pelan punggung Ryan. "Aku sudah tidak makan beberapa hari ini. Sangat nyenyak sekali tidur ku. Jangan tinggalin aku lagi."
"Iya, sayang!" mengecup kening Hana. "Aku janji kali ini akan selalu berada di dekat mu. Bersama kamu dan Aksa. Ayo kita pulang!" Ryan membawa Hana berdiri. Namun sebelumnya ia membereskan mejanya dan mengambil tas serta ponselnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Baiklah, aku juga lapar!"
Ryan membelokkan mobilnya ke restoran favorit mereka. Menghentikan mobil dan memarkirkannya. Ryan melepaskan sietbeltnya dan membukakan pintu untuk Hana.
"Kamu pesan apa?" tanya Ryan saat mereka sudah duduk di dalam restoran.
"Samakan saja dengan mu."
"Baiklah."
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka berdua datang. Pelayan menyajikannya di atas meja.
"Ini kenapa banyak sekali." protes Hana setelah pelayan pergi.
"Kamu kurusan. Aku pengen kamu makan banyak!"
Hana mencebik "Aku kaya gini ulah siapa?" sindir Hana.
Ryan mengambil tangan Hana dan menggenggamnya erat "Maafkan aku. Aku janji nggak akan begini lagi."
Hana mengulas senyum, tadi ia hanya bercanda saja. Entah kenapa bersama dengan Ryan, ia bisa bebas lepas mengekspresikan dirinya. Apakah itu di sebabkan ia sudah mengenal lama atau dirinya yang merasa nyaman.
"Aku bercanda. Ayo kita makan. Kamu juga kurusan." Hana mulai mengambil beberapa lauk dan sayur yang ia campur kedalam nasinya. Ia juga melakukan hal yang sama untuk Ryan karena ia tak ingin Ryan hanya menontonnya makan seperti kebiasaan-nya itu.
"Terima kasih."
Tak ada adegan romantis suap-suapan karena Ryan memang buka pria romantis tapi ia bisa membuat Hana melayang dengan segala perhatiannya yang terkadang tak di sadari Hana.
"Apa hari ini Aksa sudah sekolah?"
"Iya, dia mencari mu. Katanya kangen."
"Aksa apa mamanya?" ledek Ryan.
"Keduanya." ucap Hana. "Jangan minta maaf lagi. Hari ini sudah berulang kali kamu meminta maaf." sergah Hana cepat saat melihat perubahan raut wajah Ryan. "Kami berdua memang merindukan mu."
"Baiklah. Aku akan bersemangat. Ayo kita jemput dia."
Beberapa puluh menit membelah jalanan yang akhirnya mereka tiba di taman kanak-kanak tempat Aksa sekolah.
"Uncle!" seru Aksa dari gendongan Rico. Ia meminta di turunkan agar bisa memeluk Ryan. Ryan merentangkan tangannya bersiap menerima pelukan Aksa.
"Uncle, kenapa lama nggak main kerumah?" tanya Aksa sambil mengerucutkan bibirnya.
Ryan mencium gemas pipi Aksa "Maaf, uncle sedang banyak kerjaan makanya nggak main kerumah." ucapnya.
"Sekarang nggak sibuk lagikan, aku mau main ke playground!" pintanya.
"Baiklah, ayo kita main sepuasnya."
Sementara Ryan sibuk ikut bermain dengan Aksa, Hana dan Rico duduk melihat interksi keduanya.
"Apa kau bahagia sekarang?" tanya Rico memecah keheningan antara mereka berdua.
"Ya, aku sangat bahagia." jawab Hana tanpa mengalihkan perhatian nya kedepan. Ia tak menyadari jika Rico menatapnya denga intens.
"Apa sudah tak ada harapan lagi untuk kita kembali?"
"Maaf, harapan itu telah sirna saat kita berpisah dulu. Aku tak menyalahkan mu atas semua ini. Mungkin ini memang takdir kita harus begini."
Rico menunduk menahan amarah, malu, kesal, bercampur jadi satu. Ia mengepalkan erat tangannya merutuki kebodohannya di masa lalu.
"Tapi kau tak usah kuatir, aku tidak akan membatasi mu menemui Aksa. Kapan pun kamu mau, kamu bisa datang kesini. Karena biar bagaimana pun kamu adalah ayah kandungnya." tutur Hana seperti tanpa beban. Ya, karena ia sudah mengikhlaskan semuanya.
Bagaikan tertusuk ribuan jarum menghantam jantungnya, Rico lagi merutuk semua kesalahannya.
"Jangan meminta maaf lagi. Perbaiki semua dan tebus waktu mu dulu yang tak ada untuk Aksa. Sebagian juga salahku karena menyembunyikannya dari mu. Makanya aku tak akan menghalangi mu jika ingin bertemu dengannya."
Rico menatap wajah teduh Hana, tatapan mereka saling bertemu. Ia dapat melihat jika Hana memang bahagia sekarang terlihat jelas binar di mata coklatnya.
"Kau juga harus bahagia. Lanjutkan hidup mu. Jangan menyalahkan lagi dengan masa lalu." tutur Hana lagi.
Bersambung
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya.
Terima masukan dan kritikan untuk cerita ini.
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....